NovelToon NovelToon
Sepatu Lusuh

Sepatu Lusuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANJI DI BAWAH POHON NANGKA

Ibu membawa baskom berisi air hangat ke bawah pohon nangka. Sore itu, cahaya matahari masuk melalui daun-daun lebar dan jatuh sebagai bercak kuning di tanah. Nira duduk di bangku pendek dengan kaki diluruskan. Sepatu cokelatnya tergeletak di dekat tungku, mengeluarkan bau lumpur dan kain basah.

Aku berjongkok di depannya. Garis merah pada telapak dan tumitnya terlihat lebih jelas setelah kaki dibersihkan. Ada bagian kulit yang mengelupas, ada pula luka kecil di jari kelingking. Setiap kali Ibu menyentuhkan kain, Nira menarik napas pendek.

"Sakit?" tanya Ibu.

"Tidak terlalu," jawab Nira.

Jawabannya selalu begitu ketika ia tidak ingin membuat orang lain cemas. Aku mengenalnya cukup baik untuk melihat jemarinya mencengkeram ujung rok.

Ibu menumbuk daun bandotan dan sedikit kunyit di atas batu pipih. Tumbukan itu dicampur dengan minyak kelapa, lalu dibalurkan tipis pada bagian kaki yang lecet. Nira meringis, tetapi tidak menangis. Aku memegang betisnya agar ia tidak menarik kaki tiba-tiba.

"Seharusnya aku mengajaknya pulang," kataku.

Ibu tidak segera menjawab. Ia membungkus tumit Nira dengan kain bersih yang diambil dari ujung sarung lama. Setelah simpulnya selesai, barulah ia menatapku.

"Kau masih anak-anak, Langga. Jangan memikul semua kesalahan sendirian."

"Ayah sudah bilang jangan menyeberang kalau air tinggi."

"Kalian takut terlambat. Ibu mengerti."

Aku justru semakin merasa bersalah karena Ibu tidak memarahiku. Jika ia membentak, mungkin aku bisa menerima hukuman lalu melupakan kejadian itu. Namun, suara lembutnya membuat semua keputusan di tepi sungai terasa kembali hidup.

Nira menyentuh lenganku. "Aku yang memaksa, Kak."

"Aku kakakmu. Seharusnya aku lebih tahu."

"Tapi aku benar-benar membaca tanpa salah."

Ia mengatakan itu dengan mata yang masih berbinar. Di tengah luka dan pakaian basah, hal yang paling diingatnya adalah saat berdiri di depan kelas. Aku ingin marah karena ia menganggap membaca lebih penting daripada keselamatan. Namun, aku juga tahu mengapa ia begitu bahagia. Di rumah, tidak banyak orang yang punya waktu mendengar bacaannya. Di kelas, suara kecilnya mendapat tempat.

Ayah pulang ketika matahari hampir tenggelam. Bahunya membawa cangkul dan seikat kayu bakar. Lumpur mengering sampai lutut celananya. Begitu melihat sepatu yang dijemur dan kain pembalut di kaki Nira, langkahnya berhenti.

"Apa yang terjadi?"

Ibu menceritakan semuanya tanpa menambah atau mengurangi. Ayah meletakkan cangkul pelan-pelan, lalu duduk di tanah. Ia membuka balutan Nira sedikit untuk melihat lukanya. Rahangnya mengeras.

Aku menunggu kemarahan.

"Maaf, Yah," kataku lebih dulu. "Air belum menutup batu ketiga. Aku pikir kami masih bisa lewat."

Ayah menatapku dengan mata lurus. Ia selalu berbicara begitu ketika ingin memastikan aku mendengar seluruh katanya.

"Aturan dibuat bukan supaya kau takut dimarahi," katanya. "Aturan dibuat supaya kalian pulang dengan selamat."

Aku menunduk.

"Tetapi ini bukan salah kalian saja," lanjutnya. "Anak-anak tidak seharusnya memilih antara hadir di sekolah dan selamat menyeberangi sungai."

Saat itu aku belum sepenuhnya mengerti. Bagiku, sungai adalah bagian dari perjalanan seperti kebun kopi dan Tikungan Batu Tidur. Aku mengira semua anak harus menghadapi sesuatu untuk sampai ke sekolah. Baru ketika dewasa aku memahami bahwa kebiasaan dapat membuat bahaya terlihat wajar.

Ayah berdiri dan memandang ke arah jalan setapak yang tertutup semak. "Sebelum hujan besar datang, kita harus punya jembatan."

Ibu berhenti merapikan obat. "Jembatan dari mana?"

"Bambu. Tidak besar. Cukup untuk anak-anak berjalan satu-satu."

"Sungai akan membawanya kalau arus naik."

"Kalau ikatannya kuat, tidak mudah hanyut. Besok aku bicara dengan Pak Lurah dan para tetangga."

Aku menatap Ayah. Ketika ia mengucapkan janji, punggungnya seperti menjadi lebih tegak. Ia bukan orang yang banyak bicara. Karena itu, setiap janjinya terdengar seperti sesuatu yang benar-benar akan terjadi. Kami tahu bambu, tali, dan tenaga tidak datang tanpa biaya. Ayah masih berutang pupuk kepada pemilik kebun, sedangkan uang keripik Ibu hampir seluruhnya dipakai membeli beras dan minyak tanah. Namun, malam itu tidak seorang pun berani mengatakan bahwa jembatan mungkin terlalu mahal bagi keluarga kami.

"Aku ikut membantu," kataku.

"Kau sekolah."

"Sepulang sekolah."

Ayah mengangguk. "Kau boleh mengumpulkan tali dan memotong ranting. Yang mengangkat bambu biar orang dewasa."

Nira mengangkat tangan seperti berada di kelas. "Aku juga."

"Kau sembuhkan kaki dulu," kata Ibu.

"Aku bisa menggambar jembatannya."

Kami tertawa kecil. Itu tawa pertama sejak pulang dari sekolah.

Malamnya, setelah makan singkong rebus, Nira mengambil buku tulis. Ia berbaring tengkurap di lantai bambu dengan kaki terangkat agar luka tidak menyentuh tikar. Dengan pensil pendek, ia menggambar dua tebing, sungai, dan jembatan panjang yang memiliki pagar di kedua sisi.

"Jembatan bambu tidak seperti itu," kataku. "Ayah bilang hanya cukup untuk satu orang."

"Ini jembatan nanti. Kalau kita sudah kaya."

Di atas jembatan, ia menggambar dua anak. Anak yang lebih tinggi membawa tas berbentuk kotak. Anak yang lebih kecil mengangkat sebuah buku. Kaki mereka diberi warna hitam dengan pensil sampai mengilap.

"Sepatu kita baru?" tanyaku.

"Iya. Tidak ada lubangnya. Kalau hujan, airnya takut masuk."

Aku tertawa, tetapi ada sesuatu yang menekan dadaku. Keinginan Nira sangat sederhana: jembatan yang tidak bergoyang dan sepatu yang tidak bocor. Bagi kami, dua benda itu terasa seperti kemewahan yang hanya bisa digambar.

Ayah duduk di ambang pintu sambil memperbaiki tali dari serat bambu. Ia melihat gambar Nira cukup lama.

"Simpan baik-baik," katanya. "Nanti kalau jembatannya jadi, kita bandingkan."

"Kapan jadinya?" tanya Nira.

"Sebelum hujan besar."

"Besok?"

"Tidak secepat itu. Kita harus minta bambu, mencari orang, dan membuat tiang."

Nira mengerutkan kening. "Kalau hujannya datang duluan?"

Ayah tidak langsung menjawab. Ia menatap langit di luar rumah yang mulai gelap. Angin membawa bau tanah basah dari kebun.

"Kita kerjakan secepat yang kita bisa," katanya.

Malam semakin dingin. Ibu menyuruh kami tidur lebih awal. Nira dibiarkan tidak masuk sekolah sehari agar lukanya mengering. Aku bersiap pergi sendiri pada pagi berikutnya, tetapi tidak merasa lega. Tanpa Nira dua langkah di belakang, jalan tujuh kilometer akan terasa terlalu sunyi.

Aku hampir tertidur ketika bunyi pertama menyentuh atap seng. Satu titik, lalu dua, kemudian puluhan. Hujan turun deras tanpa peringatan. Angin mendorong air ke dinding bambu. Dari kejauhan terdengar suara panjang dan berat, seperti batu-batu besar digulingkan dalam gelap.

Aku membuka mata. Nira juga terbangun di sampingku.

"Itu sungai?" bisiknya.

Aku mengangguk meski ia mungkin tidak melihat.

Suara sungai semakin keras sampai terdengar jelas dari kamar kami. Di luar, gambar jembatan Nira masih tergeletak di dekat lampu minyak, sementara hujan pertama turun seolah ingin menguji janji Ayah sebelum satu batang bambu pun sempat dipasang.

1
Riska Noor
bagus ceritanya, realita di pelosok daerah tertentu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!