"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
"Permisi Pak, ada Pak Kenan di luar, ingin bertemu dengan Bapak." Ujar sekretaris Elang melalui interkom.
"Suruh dia masuk."
Beberapa saat kemudian, pintu ruang kerja Elang dibuka dari luar. Kenan masuk, lalu menutup pintu kembali.
"Apa tujuan lo ngajak Ilona kerjasama?" Kenan tak punya waktu untuk berbasa-basi. Kerjaannya banyak, selain ngurus kafe, juga harus ngedit video. Ia menghampiri Elang, duduk di kursi yang ada di hadapan temannya itu.
"Nyari duitlah, masa gitu aja gak faham." Elang tersenyum, meletakkan bolpoin di tangannya ke atas meja, lalu bersandar pada kursi. "Emang orang buka usaha tujuannya apa kalau bukan duit. Gue juga pengen punya usaha, bukan lo aja."
Kenan tersenyum kecut. Ini bukan jawaban dari pertanyaannya. "Kenapa harus Ilona?"
"Ya karena gue kagum sama semangat kerjanya. Dia seorang disabilitas, apa salahnya gue bantu dia."
Kali ini bukan senyuman lagi, tapi tawa sumbang yang keluar dari bibir Kenan. "Gue kenal lo lama, Lang. Nggak." Ia menggeleng. "Ini bukan gaya lo. Lo gak se peduli itu sama orang hanya karena dia penyandang disabilitas."
Elang mulai gelisah. Ia tahu jika akan sulit sekali membohongi Kenan mengingat mereka sudah terlalu lama berteman.
"Gue denger, lo juga bantuin Ilona jualan buket di taman. Gue gak salah informasikan?"
Wajah Elang pias, tenggorokannya tercekat.
"Seorang Elang, jualan buket, keliling taman, nawarin ke orang satu persatu." Kenan tersenyum simpul. "Sampai dunia kiamat pun, gue gak akan percaya elo mau ngelakuin itu cuma karena kasihan pada penyandang disabilitas. Selama gue kenal lo, elo itu termasuk manusia yang nirempati. Jangankan bantuin jualan, mau dia jatuh di hadapan lo, belum tentu juga lo mau nolong."
"Gua gak separah itu kali." Elang mendengus. Kenan terlalu melebih-lebihkan, seakan ia manusia paling jahat di muka bumi.
"Ok, mungkin soal kerjasama, lo bisa kasih alasan, meski gue gak percaya. Tapi soal Arya? Apa yang mendorong lo tiba-tiba menghajar dia. Dan ekspresi lo kelihatan banget, kalo lo marah. Lo kesel sama dia."
"Ya emang gue kesel sama dia. Laki-laki tukang selingkuh."
"Heh Lang, di sosmed noh, rame kisah viral, yang lakinya selingkuh. Lakinya ya, suaminya, bukan pacarnya. Itu lebih parah loh Lang, kenapa gak lo hajar semua tukang selingkuh itu?"
"Gue gak kenal."
"Terus Ilona, lo kenal baik gitu?" Kenan tersenyum kecut. "Enggak, kalian baru kenal. Gue yang udah kenal lama, plus jadi adik iparnya aja gak segitunya reaksi gue." Berdecak sambil geleng-geleng. "Sumpah, yang lo lakukan ke Ilona, udah gak bisa bikin gue gak mikir. Ada apa sebenarnya? Lo...gak suka kan sama Ilona."
Elang gugup, membuang pandangan, tak mau menatap Kenan.
"Enggak kan, Lang?" desak Kenan. "Gak mungkinkan?" Melihat Elang gugup, Ia jadi khawatir. Jangan-jangan benar? Tapi...rasanya mustahil. "Lang..."
Elang membuang nafas kasar, menegakkan badan, menatap Kenan yang sedang menunggu jawabannya. "Kalo iya, kenapa?"
Mulut Kenan terbuka lebar, matanya melotot. Ia merasa dunia mendadak gelap. Ini tak seperti yang ada dalam benaknya. "Enggak, gak mungkin," ia menggeleng cepat. "Gak mungkin lo suka sama Ilona."
"Kenapa tidak mungkin? Dia perempuan, sementara orientasi sek sual gue masih normal. Ya wajar gue suka sama dia."
"Ha, hahaha!" Kenan ngakak brutal sampai air matanya keluar. "Gak Lang." Ia menggeleng. "Lo bohongnya kebangetan. Ayo dong please...kasih gue alasan yang masuk akal, kenapa lo segitunya sama Ilona. Bini gue sampai gak bisa tidur mikirin kakaknya. Dan efeknya, gua ikutan gak bisa tidur, karena dia gedebak gedebuk mulu. Ayo dong Lang..." Ia berdecak kesal.
"Serah lo mau percaya atau enggak. Gue, suka sama Ilona."
"Ampun dah ni bocah. EDIAN!" Kenan membuang nafas kasar, meraup wajah dengan kedua telapak tangan. "Heh, lo punya Alisya, yang bisa dibilang, sempurna pakai banget. Dan lo tiba-tiba bilang suka sama Ilona, yang..." Ia menghela nafas panjang. "Semua orang tahu dia disabilitas. Membandingkan Alisya dan Ilona, itu gak apple to apple. Jauh, Bro. Dari segi fisik, Alisya lebih sempurna, lebih cantik juga. Dari segi finansial." Ia membuang nafas kasar. "Harta bokapnya gak habis tujuh turunan. Terus dari segi pendidikan, karier, Alisya jelas lebih sukses. Kalau baik, dua-duanya sama-sama baik menurut gue. Menangnya Ilona cuma satu. Kalau dijadiin bini, gue yakin, lebih irit daripada punya bini Alisya. Cuma itu kelebihanannya. Tapi Ilona jelas lebih merepotkan. Yang lainnya, menang Alisya semua. No debat."
Elang mendengus kesal, bisa-bisanya Kenan malah sibuk membandingkan keduanya. "Selera orang itu beda."
Kenan makin ngakak. "Gue tahu selera orang itu beda-beda. Tapi sebagai makhluk yang punya batang, rata-rata seleranya sama, Bro. Suka yang cantik, seksi, putih, mulus. Intinya kita ini makhluk visual, jatuh cinta pun pertama ya karena fisiknya. Kalau ada orang yang lebih milih yang jelek daripada yang cantik, fix, dia minder, tahu diri gak mungkin kegapai yang cantik itu. Percaya sama gue, kalau ada 10 cowok, disuruh milih antara Alisya dan Ilona, udah pasti 9 orang tanpa mikir, bakalan milih Alisya."
"Baru 9 kan? Berarti yang satunya itu gue."
"Enggak!" Elang menggeleng. "Mau lo ngomong sampai berbusa, sampai mencret, gue gak akan percaya."
"Serah!"
Kenan garuk-garuk kepala. Datang kesini bukannya dapat jawaban yang bikin ia lega, malah bikin pusing. "Lang...please... Ada apa ini? Ilona itu Kakak ipar gue. Dia gadis disabilitas. Dia udah berkali-kali patah hati, dia..." Ia sampai bingung bagaimana untuk menjelaskan. "Dia udah banyak banget dapat masalah hidup. Apa sih Lang, yang lebih menyedihkan dari pada kehilangan bagian anggota tubuh? Karena mau sekaya apapun, sebanyak apapun uang kita, kita gak bisa membelinya balik." Ia menghela nafas berat. Sejak pertama kali kenal dengan Ilona, ia kasihan dengan gadis itu.
Elang membuang pandangan ke arah lain, dadanya nyeri mendengar semua fakta yang diucapkan Kenan.
"Lo tadi bilang, lo gak suka tukang selingkuh. Lalu ini apa? Lo punya tunangan, tapi lo bilang suka sama Ilona. Ini apa, Lang?" Kenan tak habis fikir. "Apapun tujuan lo ke Ilona, gue mohon." Ia mengatupkan kedua tangan di dada. "Jangan dia, Lang. Gue gak tega kalau dia sampai tersakiti sekali lagi."
"Gue gak pengen nyakiti dia kok." Suara Elang mulai bergetar.
"Terus apa yang lo mau? Jangan deketin dia kalau lo cuma mau pengen mainin perasaan dia. Hatinya udah hancur berkali-kali, Lang. Lo udah punya Alisya, jangan maruk. Berhenti pura-pura suka sama dia. Gue takut dia baper, gue takut dia..." Ia membuang nafas kasar. "Lo sama Ilham, gak sedang taruhankan, buat bisa dapetin hati Ilona?"
Elang tersenyum kecut, tak habis fikir kenapa Kenan sampai sejauh itu mikirnya. Apa mungkin karena dulu, saat masih kuliah, mereka percaya taruhan untuk mendapatkan cewek.
"Enggakkan?" ulang Kenan.
"Gua...sayang sama Ilona."
Kenan membuang nafas kasar. "Sampai kapan mau bohong terus."
"Aku...akan mengakhiri semuanya dengan Alisya."
Sekali lagi, Kenan dibuat syok dengan ucapan Elang. "Gak, gak mungkin." Ia menggeleng cepat.
"Aku serius sama Ilona. Aku pengen...menikahinya."
"Enggak, gak mungkin. Becanda lo gak lucu, Lang."
"Bantu gue Ken. Bantu gue buat bisa bersama Ilona."
Kenan masih terus menggeleng. Menurutnya, ini sangat tidak mungkin.
"Gue pengen jagain Ilona seumur hidup gue."
"Kenapa? Hanya karena dia disabilitas? Enggakkan? Lalu Alisya? Kamu bakal nyakitin dia, sadar gak?" Suaranya mulai meninggi. "Lang, kalau lo kasihan sama kisah hidup Ilona, gak perlu sampai segininya. Ok lah, gue setuju lo kerja sama dengan dia, bantu dia bisa sukses. Tapi kalau untuk sampai menikah, enggak." Ia menggeleng cepat. "Gak perlu segitunya. Lo juga gak perlu jagain dia seumur hidup, itu bukan tanggung jawab lo."
"Itu tanggung jawab gue."
Kening Kenan mengernyit. "Maksudnya?"
"Gue..." Elang gugup, nafasnya mulai berat. Ia memejamkan mata sesaat, menarik nafas dalam. "Gue yang bikin Ilona kehilangan kakinya."