Novel ini menceritakan gadis Belanda yang jatuh hati pada pria pribumi. Pria yang begitu tampan di mata Mariana. Namun sayang pria itu bukan berasal dari keluarga bangsawan. Ketika ayah sang gadis mengetahui, ia segera memerintahkan anak buahnya untuk menangkap dan mengasingkan pria yang disukainya di suatu tempat yang jauh.
Novel ini akan membawamu kembali ke masa penjajahan Belanda ketika itu banyak yang melakukan perkawinan antara Belanda dengan pribumi. Namun, dengan akal licik penjajah, perkawinan Belanda dan pribumi dinyatakan tidak sah menurut hukum pemerintahan kolonial pada masa itu. Lalu konflik apa saja dalam cerita ini? Nantikan terus kisah terbarunya ya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon As Pamungkas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Pengasingan untuk Mariana
Di balik pintu kamar tahanan Mariana duduk termenung. Teringat jelas sewaktu Bi Yati ditembak serdadu Belanda. Sebenarnya salah apa Bi Yati sampai serdadu Belanda itu menembak. Tak terasa air mata Marliana jatuh berlinang di kulit putihnya.
Saat gadis itu larut dalam kesedihannya, hingga telinganya pun tak sampai mendengar suara ketukan pintu. Akan tetapi, Mariana tak beranjak dari duduknya. Jangankan penasaran pada orang yang datang itu, ia bahkan tak punya niat untuk menyahut ketukan pintu itu. Ia tetap meringkuk memeluk lutut di atas ranjang. Ranjang reot berukuran 1 x 2 meter yang sengaja diusulkan Donner khusus untuk putrinya. Apa yang dilakukan Donner merupakan cermin dari ketidakadilan Belanda terhadap tahanan pribumi. Bagai bumi dan langit, sel tahanan yang diperuntukkan pribumi begitu menyengsarakan. Mereka hanya tidur di atas lantai batu yang sangat menyiksa.
Lama kelamaan ketukan itu berhenti karena tidak ada jawaban dari Rossea. Dari luar Frenkie merasa harus masuk tanpa izin dari Mariana. Sebenarnya untuk penjara pribumi, serdadu Belanda bisa asal masuk tanpa mengetuk pintu. Tapi Frenkie merasa tidak enak karena ini yang ditahan putri seorang residen.
“Open de deur!” perintah Frenkie pada serdadu.
Begitu pintu terbuka, Frenkie menghampiri Mariana. Memasuki ruang tahanan yang minim cahaya dan cukup pengap. Derap langkah sepatu Frenkie terdengar menggema di ruang sempit itu.
“Gimana keadaanmu sekarang?” tanya Frenkie
Mariana tak menjawab. Pandangan matanya memandang kosong ke bawah. Melihat gerak jari-jari kakinya yang sudah lebih dari sepekan tak terawat.
Frenkie tak merasa tersinggung dengan sikap dingin Mariana. Pria itu tahu kondisi kejiwaan Mariana sedang terguncang.
“Baiklah, aku tahu perasaanmu begitu hancur atas kematian pengasuhmu. Tapi kamu harus ikhlas, Nona,” ucap Frenkie. Suara sepatunya terdengar lagi. Pendek saja dia melangkah supaya berdiri lebih dekat. “Saya datang kali ini hanya mau tanya, apa ibumu itu sewaktu menikah dengan Tuan Donner didasari rasa cinta?”
Mata Mariana terbeliak. Mengapa Frenkie bisa sampai bertanya seperti itu? Pertanyaan itu membuatnya teringat pada cerita Bi Yati. Begitu dia ingat dari semua yang telah diceritakan pengasuhnya, Mariana menggelengkan kepala.
“Tidak. Ibuku tidak pernah cinta pada ayahku,” jawab Mariana dengan nada datar tanpa melihat ke arah Frenkie.
Frenkie tersenyum. Pertanyaannya tadi berhasil memancing gadis itu bicara. Dan membuktikan ternyata dugaannya benar.
“Bi Yati telah menceritakan semuanya padaku,” lanjut Mariana. “Seseorang yang begitu dicintai ibuku menghilang tanpa bekas.”
“Oh ... begitu. Jadi Bi Yati tahu semua masa lalu keluargamu?”
“Iya.” Mariana mengangguk.
“Apakah Bi Yati tahu penyebab kematian Tuan Adipati?”
“Iya.” Mariana menggangguk lagi. “Dulu Bi Yati pernah bercerita kalau Eyang dibunuh oleh pengawal pribadinya yang bernama Kerti. Entah apa masalahnya aku tidak tahu.”
Frenkie mendengarkan dengan seksama. Tangannya bersidekap dan salah satu telapak tangannya menyangga pipi.
“Lalu apakah detik ini Kerti masih hidup?”
Mariana menggeleng.
“Apa Kerti dibunuh juga?”
Mariana mengangguk.
“Siapa yang membunuh Kerti?”
“Ibuku,” jawab Mariana.
Frenkie terkejut. Mengangkat alisnya. Bagi Frenkie masa lalu keluarga Mariana sangat menarik untuk diselidiki. Sebenarnya sih kasus Mariana sudah selesai dari Surabaya, namun entah mengapa ada dorongan yang luar biasa agar dia menyelidiki kasus kematian Tuan Adipati.
“Lalu bagaimana dengan kasusku?” tanya Mariana membuyarkan ketertegunan Frenkie.
“Kemarin pengadilan Surabaya menjatuhi hukuman lewat surat, agar kamu dibuang ke tempat terpencil. Tidak mendapat fasilitas apapun dari negara seperti yang kau dapatkan selama ini. Kau harus menjadi orang biasa di kampung terpencil.”
Mendengar penjelasan Frenkie, Mariana senyum. Mariana tak menganggap ini sebagai hukuman, justru ini adalah kebebasan yang sesungguhnya.
“Itu bagus. Berarti aku bisa hidup bebas tanpa Ayah. Karena aku telah bosan dengan sikap Ayah yang semena-mena terhadap pribumi. Ini adalah jalanku untuk berbaur dengan pribumi. Tanpa melihat lagi kekejaman dan penindasan,” tandas Mariana.
Batin Frenkie menyetujui kata Mariana. Sepertinya ini harus menjadi perhatian serius. Dia merasa harus melakukan sesuatu terhadap hidup kaum pribumi. Tapi apa yang akan dilakukannya tak boleh salah langkah. Harus memikirkan cara yang tepat. Tapi untuk sementara waktu biarlah Mariana istirahat. Dia pun segera beranjak dari sel tahanan itu. Meninggalkan Mariana.
“Sekarang istirahatlah!” ucap Frenkie sebelum menutup pintu kamar tahanan.
...*****...
“Goedemorgen, Tuan dan Nyonya Donner,” ucap Frenkie. Badannya setengah membungkuk dan mengangkat topi seraya memberi hormat.
“Goedemorgen,” sahut Tuan Donner. Pria itu sedang meminum teh di gazebo rumahnya. “Gaat u zitten!” (Silahkan duduk!)
“Pagi ini begitu cerah ya, Tuan,” gumam Frenkie sembari ikut duduk di lantai gazebo yang terbuat dari kayu jati pilihan. Sebelum duduk Frenkie melempar senyum pada Nyonya Ros yang duduk di sebrang bersebelahan dengan suaminya.
“Ya,” jawab Tuan Donner datar. Sedangkan Nyonya Ros tersenyum.
“Tuan Donner, sebelumnya saya minta maaf telah mengganggu waktu santai Tuan, sebab tujuan saya ke sini untuk memberikan surat dari Raad van Justitie. Surat ini adalah putusan hukuman untuk Nona Mariana.”
Dikeluarkannya sepucuk surat dari dalam jas panjangnya. Tuan Donner langsung menerimanya begitu surat itu disodorkan. Dengan cemas Tuan Donner membaca. Takut hukuman yang dijatuhkan pada putrinya sangat berat. Nyonya Ros memang tidak ikut membaca tapi yang pasti beliau juga ikut cemas.
“Jadi, anakku akan diasingkan?” tanya Tuan Donner. Begitu terkejut setelah membaca surat putusan itu.
“Apa? Putriku mau diasingkan?” Nyonya Ros ikut terkejut ketika mendengar isi surat itu dari mulut suaminya. Tak kuasa menahan kesedihan, wanita paruh baya itupun menangis tersedu-sedu. Karena di benaknya tempat pengasingan itu ‘kan sangat sunyi dan amat diawasi interaksinya dengan orang lain.
“Ya,” jawab Frenkie. “Menurut pihak pengadilan, sebenarnya itu hukuman yang paling ringan, karena penembakan yang dilakukan Nona Mariana tidak direncanakan sebelumnya. Tapi lebih kepada membela diri.”
“Seharusnya putriku ini jangan diasingkan di Wonogiri karena itu daerah yang sangat terpencil. Kasihan putriku,” gerutu Tuan Donner.
“Menurutku sih tidak apa-apa,” sangkal Nyonya Ros. Tangisnya terhenti setelah mendengar Wonogiri. Nyonya Ros menghela napas lega. “Syukurlah Mariana akan diasingkan ke Wonogiri. Di sana aku punya sepupu ipar, anak Adipati Bulukerto.”
“Ya kalau begitu baguslah. Kebetulan tempat yang ditinggali sebagai tempat pengasingan adalah Kadipaten Purwantoro,” timpal Frenkie.
“Tidak, saya tidak setuju!” Tuan Donner menggeram. “Hari ini juga saya akan mendatangi Raad van Justitie agar Mariana tidak diasingkan.”
Tuan Donner beranjak lalu pergi. Baginya kebijakan Raad van Justitie itu bisa mengancam kedudukannya di Madiun. Bisa jadi Ros dan kedua putrinya menyusun kekuatan untuk memberontak karena di sana Ros bisa meminta dukungan dari sepupunya. Bahkan, pernah dengar kalau sepupu ipar Rossea itu mempunyai kesaktian yang setara dengan Raden Bayu. Donner takut apa yang ia sembunyikan selama ini akan terbongkar. Kalau terbongkar dia bisa diserbu habis-habisan oleh pasukan Kadipaten Bulukerto.
Bersambung ....
Mampir juga yuk ke novel aku yang judulnya counting of love
Ditunggu komentar dan juga votenya ya...🥰😉
Author kereeen ♥
Buat yg baca jangan lupa like juga karna emg layak kok buat di like ♥
Semoga bertahan sampai akhir keseruan & penasarannya hehee