Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Konfrontasi di Kantor
Tiga hari sudah berlalu. Tiga hari Arthur mengintai kehidupan Helena dan James di Surabaya. Setiap pagi, dia duduk di kafe yang sama, memesan kopi yang sama, dan mengamati dari jendela. Dia melihat Helena berangkat kerja. Dia melihat James berangkat sekolah. Dia melihat mereka pulang, makan malam, dan menjalani hidup sederhana yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya.
Tapi tiga hari itu juga membuat Arthur semakin gelisah.
Helena tidak pernah menoleh ke arahnya. Dia tidak pernah menyadari bahwa Arthur mengawasinya. Dia menjalani hidupnya dengan tenang, seolah-olah Arthur tidak pernah ada. Dan itu membuat Arthur semakin kesal.
Kenapa dia tidak melihatku? Kenapa dia tidak peduli?
Arthur duduk di kafe, menyesap kopinya yang sudah dingin. Matanya menatap jalanan, menunggu Helena pulang dari kantor. Hari ini dia sudah memutuskan. Dia tidak bisa hanya mengintai terus-menerus. Dia harus berbicara dengan Helena. Secara langsung.
"Aldi, aku akan mendekatinya hari ini," kata Arthur tiba-tiba.
Aldi yang duduk di sebelahnya terkejut. "Pak, apa Bapak yakin? Ini bisa berisiko. Nona Helena bisa marah."
Arthur menggeleng. "Aku tidak peduli. Aku sudah menunggu tiga hari. Aku tidak bisa menunggu selamanya. Dia harus tahu aku ada di sini."
Aldi menghela napas. "Baik, Pak. Saya akan siapkan mobil. Jika terjadi sesuatu, saya akan membantu."
Arthur mengangguk. Dia berdiri, membayar kopinya, dan berjalan keluar dari kafe. Dia menunggu di dekat mobil hitam yang terparkir di dekat kantor Helena.
---
Pukul 17.30, Helena keluar dari kantor. Dia mengenakan blus putih dan celana panjang hitam, dengan tas kerja di bahunya. Wajahnya terlihat lelah setelah seharian bekerja. Dia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di area parkir karyawan.
Namun, saat dia mendekati mobilnya, dia melihat sosok yang sangat familiar berdiri di dekat mobil hitam di seberang parkiran.
Helena berhenti. Matanya membelalak. Wajah itu, postur tubuh itu, cara dia berdiri—semuanya sangat dikenalnya.
Arthur.
Helena langsung menutupi mulutnya dengan tangan. Jantungnya berdegup kencang. Kenapa dia ada di sini? Bagaimana dia tahu tempat kerjaku?
Arthur berjalan mendekati Helena, dengan langkah tenang namun penuh keyakinan. "Hel, kita perlu bicara."
Helena menatap Arthur dengan tatapan campuran antara kaget dan marah. "Arthur! Kamu... bagaimana kamu bisa ada di sini? Kamu menguntitku?"
Arthur tidak menjawab. Dia hanya menatap Helena dengan tatapan serius. "Aku sudah menunggu selama tiga hari, Hel. Aku ingin bicara denganmu. Tentang kita, tentang masa lalu, dan tentang James."
Mendengar nama James, Helena langsung panik. Dia menarik lengan Arthur, menyeretnya masuk ke dalam kantor. "Jangan bicara di sini! Masuk!" desis Helena.
Arthur tidak melawan. Dia membiarkan Helena menariknya masuk melalui pintu samping. Mereka melewati lorong kosong, melewati beberapa ruangan, sampai akhirnya Helena membuka pintu sebuah ruangan kecil—mungkin ruang istirahat karyawan—dan mendorong Arthur masuk.
Helena menutup pintu, lalu menguncinya. Dia berbalik menghadap Arthur, dengan napas yang tersengal-sengal. "Arthur, apa yang kamu lakukan di sini? Kamu tidak boleh ada di sini! Ini kantorku! Orang-orang bisa melihatmu!"
Arthur tetap tenang. Dia menatap Helena dengan tatapan yang tidak bisa dihindari. "Aku tidak peduli jika orang melihatku. Aku datang ke sini untuk bicara denganmu. Helena, aku sudah tahu. Aku sudah melihat James. Aku sudah mengawasi kalian selama tiga hari."
Helena membelalak. "Apa? Kamu... kamu menguntitku? Kamu menguntit James?"
Arthur mengangguk. "Aku hanya ingin melihat anakku, Hel. Aku ingin tahu bagaimana dia hidup. Aku ingin tahu apakah dia bahagia. Aku ingin tahu apakah dia tahu tentang aku."
Helena menangis. Air matanya mulai mengalir. "Arthur, kamu tidak bisa melakukan ini. James tidak tahu tentangmu. Dia tidak tahu aku punya masa lalu denganmu. Jika dia tahu, dia akan bingung. Dia akan marah. Dia bisa membenciku."
Arthur mendekat, mengulurkan tangannya, dan mengusap air mata Helena. "Hel, aku tidak ingin merusak hidup James. Aku hanya ingin mengenalnya. Aku ingin menjadi ayahnya. Tapi aku tidak akan melakukan apa pun tanpa persetujuanmu."
Helena menunduk, menangis lebih keras. "Arthur, aku takut. Aku takut jika kamu mengenal James, kamu akan membawanya pergi dariku. Aku takut keluarga Fernando akan mengejar dia. Aku takut dia akan terluka."
Arthur memeluk Helena perlahan. "Tidak ada yang akan membawa James darimu, Hel. Aku janji. Aku akan melindungi kalian berdua. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kalian. Tapi aku tidak bisa terus mengintai dari jauh. Aku ingin menjadi bagian dari kehidupan James. Perlahan, jika kamu mengizinkan."
Helena terdiam dalam pelukan Arthur. Dia merasakan kehangatan Arthur, merasakan ketulusan dalam kata-katanya. Dia tidak tahu apakah dia harus percaya pada Arthur. Tapi di sisi lain, James berhak mengenal ayahnya.
"Arthur, aku butuh waktu," kata Helena akhirnya, suaranya masih serak. "Aku butuh waktu untuk memikirkan ini. Aku tidak bisa langsung memberi tahu James bahwa dia punya ayah."
Arthur melepaskan pelukannya, menatap Helena. "Aku mengerti, Hel. Aku akan menunggu. Tapi tolong, jangan membuatku menunggu terlalu lama. Aku sudah kehilangan lima belas tahun. Aku tidak ingin kehilangan lebih banyak lagi."
Helena mengangguk. "Aku berjanji. Aku akan memikirkan ini. Tapi untuk sekarang, tolong jangan datang ke kantorku lagi. Dan jangan mengintai James. Beri aku waktu."
Arthur tersenyum tipis. "Baik, Hel. Aku akan percaya padamu. Tapi ingat, aku akan selalu ada di dekatmu. Jika kamu butuh aku, aku akan datang."
Helena mengangguk, lalu menatap Arthur. "Sekarang, kamu harus pergi. Sebelum ada yang melihatmu."
Arthur mengangguk. Dia mencium kening Helena dengan lembut, lalu membuka pintu dan berjalan keluar. Helena menatap punggung Arthur yang menghilang di balik pintu, dan dia menghela napas panjang.
Di dalam mobil hitam, Aldi sudah menunggu. Arthur masuk, dan Aldi langsung bertanya, "Pak, bagaimana? Apa Nona Helena marah?"
Arthur tersenyum tipis. "Dia marah. Tapi dia juga setuju untuk memberi aku waktu. Sekarang, kita tunggu. Dan kita berdoa agar dia mengambil keputusan yang tepat."
Aldi mengangguk. "Baik, Pak. Saya akan tetap di Surabaya untuk mengawasi situasi."
Arthur menatap kantor Helena dari balik jendela mobil. Di dalam hatinya, dia berdoa agar Helena segera memberikan keputusannya. Dan dia berdoa agar James bisa menerima keberadaannya.