NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN SANG PEWARIS SAKTI

KEBANGKITAN SANG PEWARIS SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Selama tiga tahun, Ye Chen hidup sebagai menantu benalu di keluarga Su. Dia mencuci pakaian, memasak, dan menerima setiap hinaan tanpa melawan demi melindungi istrinya yang dingin namun cantik jelita, Su Yuhan. Semua orang memanggilnya anjing pecundang, tanpa tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah keluarga paling berkuasa di ibu kota.
​Ketika sebuah konspirasi mengancam nyawa istrinya dan mertuanya memaksanya untuk bercerai demi menikahkan Yuhan dengan tuan muda kaya, sebuah liontin giok peninggalan ibunya menyerap darah Ye Chen dan membangkitkan Warisan Tabib Naga Sakti. Di saat yang sama, iring-iringan Rolls-Royce hitam dari ibu kota tiba di depan rumahnya.
​Mulai hari ini, sang naga telah membuka matanya. Mereka yang pernah menghinanya harus berlutut!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Eksekusi di Jalan Tol dan Runtuhnya Penghianat

​Di dalam Presidential Suite Hotel Grand Hyatt, kepanikan meledak bagaikan sarang semut yang disiram air mendidih.

​Su Wenyuan, yang biasanya tampil rapi dan penuh wibawa, kini terlihat seperti gelandangan gila. Ia menjejalkan pakaian, jam tangan Rolex, dan dokumen-dokumen penting ke dalam koper secara serampangan.

​"Cepat! Siapkan mobil! Kita berangkat ke jalan tol sekarang juga!" teriaknya kepada dua pengawal pribadi yang berjaga di depan pintu.

​"T-Tuan Muda, sarapan Anda belum—"

​"Persetan dengan sarapan! Jika kita tidak keluar dari kota terkutuk ini sekarang, kita yang akan jadi sarapan!" Su Wenyuan meraung, matanya merah membelalak penuh teror.

​Sambil menyeret kopernya, ia mengeluarkan ponsel dan menelepon Su Zheng, ayahnya sekaligus Kepala Keluarga Utama Su di Provinsi Jiangbei.

​"Wenyuan? Apakah misi Pasukan Bayangan Darah sudah selesai? Di mana resep salep itu?" Suara berat dan serakah ayahnya terdengar dari seberang.

​"Ayah! Tamat! Semuanya tamat!" Su Wenyuan nyaris menangis. "Pasukan Bayangan Darah mati semua! Ye Chen... menantu sampah itu adalah monster! Ayah harus mengirim helikopter! Aku harus keluar dari Jiangcheng sekarang!"

​Terdengar suara dentingan cangkir teh yang jatuh di seberang sana. "Apa kau bilang?! Tiga Master Qi Dalam dibantai? Siapa yang melindungi Ye Chen?!"

​"Tidak ada! Dia melakukannya sendiri! Ayah, dia mengirimi ku kotak berisi topeng mereka berlumuran darah! Aku sedang menuju jalan tol se—"

​Bip. Bip. Bip.

​Sinyal tiba-tiba terputus. Ponsel elit milik Wenyuan menunjukkan layar mati total tanpa jaringan.

​"Sialan! Kenapa sinyalnya hilang?!" Su Wenyuan memaki, lalu berlari menuju lift khusus VIP, diapit oleh pengawalnya.

​Dalam waktu sepuluh menit, iring-iringan tiga mobil Mercedes-Benz S-Class lapis baja melesat keluar dari basement hotel, membelah jalanan pagi Kota Jiangcheng menuju Gerbang Tol Utara yang menghubungkan kota itu dengan Provinsi Jiangbei.

​Di dalam mobil tengah, Su Wenyuan terus menoleh ke belakang, napasnya memburu. Keringat dingin merembes dari dahinya.

​Setengah jam kemudian, papan penunjuk jalan berwarna hijau bertuliskan [Gerbang Tol Utara - 1 KM] terlihat. Wenyuan akhirnya bisa menghembuskan napas lega. Selama ia melewati gerbang tol itu, ia akan masuk ke wilayah kekuasaan Keluarga Utama. Di sana, Ye Chen tidak akan berani menyentuhnya.

​"T-Tuan Muda..." Sopir di depan tiba-tiba bersuara dengan nada bergetar. "Ada... ada seseorang di tengah jalan."

​Su Wenyuan tersentak dan melihat ke depan.

​Jalanan menuju gerbang tol itu sangat lengang pagi ini. Dan tepat di tengah-tengah aspal, berdiri sesosok pemuda dengan kemeja kasual dan tangan di dalam saku celana. Angin jalanan meniup rambutnya dengan lembut. Ia berdiri tegak layaknya patung dewa kematian yang menanti mangsanya.

​Itu Ye Chen!

​"T-Trak dia! Tabrak sampai mati! Injak gasnya penuh!" raung Su Wenyuan histeris.

​Sopir itu menggertakkan gigi, menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai. Mesin V8 Mercedes itu mengaum buas, melesat dengan kecepatan 120 km/jam langsung ke arah Ye Chen. Mobil seberat dua ton itu siap menghancurkan tubuh manusia manapun menjadi bubur darah.

​Jarak semakin dekat.

50 meter.

20 meter.

10 meter.

​Ye Chen tidak bergeser satu inci pun. Ia hanya perlahan mengangkat kaki kanannya, lalu menghentakkannya ke aspal dengan kekuatan penuh.

​BOOOOOM!!!

​Aspal di bawah kaki Ye Chen meledak seolah terkena ranjau anti-tank! Gelombang kejut dari True Qi merobek jalanan, menciptakan parit dadakan selebar satu meter tepat di depan mobil yang melaju kencang itu.

​Ban depan Mercedes menghantam parit tersebut. Kecepatan 120 km/jam seketika berubah menjadi bencana fatal.

​Mobil lapis baja itu terpelanting ke udara, berputar dua kali, sebelum menghantam aspal dengan suara decitan besi yang memekakkan telinga. Dua mobil pengawal di belakangnya berusaha mengerem mendadak, saling bertabrakan, dan menabrak pembatas jalan tol hingga ringsek.

​Asap tebal mengepul dari kap mesin Mercedes yang terbalik.

​Pintu belakang mobil itu ditendang terbuka dari dalam. Su Wenyuan merangkak keluar dengan wajah berlumuran darah akibat benturan. Tangan kirinya patah, tergantung tak berdaya. Ia terbatuk-batuk, berusaha menyeret tubuhnya menjauh dari mobil yang terbakar.

​Tap... Tap... Tap...

​Suara langkah kaki yang pelan dan teratur terdengar mendekat dari balik kepulan asap.

​Su Wenyuan mendongak. Ujung sepatu Ye Chen kini berada tepat di depan hidungnya.

​"P-Pangeran ini... pangeran ini tidak boleh mati..." Su Wenyuan meracau, kewarasannya mulai hancur. Ia mendongak menatap Ye Chen dan mulai bersujud, membenturkan kepalanya ke aspal panas. "Tuan Ye! Kakek Ye! Leluhur Ye! Ampuni saya! Saya bersedia menyerahkan seluruh aset saya! Saya akan menjadi anjing Anda!"

​Ye Chen menatap pewaris angkuh itu dengan tatapan sedingin gletser utara.

​"Tadi malam, kau mengancam akan membuat istriku berlutut di ranjangmu, bukan?" suara Ye Chen sangat pelan, namun menusuk tulang.

​"I-itu hanya omong kosong! Saya buta! Saya tidak akan pernah berani menatap Nyonya Su lagi!" Wenyuan menangis tersedu-sedu.

​"Aku percaya padamu," ucap Ye Chen.

​Sebelum Wenyuan sempat bernapas lega, kaki Ye Chen melesat seperti cambuk, menendang selangkangan pemuda itu dengan kekuatan mengerikan.

​Prakk!

​"AAAAAAARRRGGGGGHHH!!!"

​Jeritan Su Wenyuan terdengar seperti babi yang disembelih hidup-hidup. Rasa sakit yang melampaui batas kewarasan manusia membuat matanya nyaris melompat dari rongganya. Sesuatu di antara kedua kakinya hancur berkeping-keping. Pangeran playboy dari Provinsi Jiangbei itu baru saja dikebiri secara permanen!

​Wenyuan meringkuk layaknya udang kering, memuntahkan empedu dari mulutnya.

​Namun, siksaan Ye Chen belum selesai. Ye Chen berjongkok, menempelkan dua jarinya ke dada Wenyuan. Seutas Qi Sejati berwarna emas yang sangat tajam disuntikkan paksa ke dalam tubuh pewaris keluarga Su itu.

​Qi itu bergerak brutal layaknya pisau cukur, memutuskan seluruh meridian utama di lengan dan kaki Wenyuan. Wenyuan kejang-kejang sesaat, lalu tubuhnya seketika lemas total bagaikan boneka tanpa tulang.

​"Aku tidak akan membunuhmu hari ini," bisik Ye Chen di telinga Wenyuan yang nyaris pingsan. "Mati terlalu mudah untukmu. Mulai sekarang, kau bukan hanya kasim, tapi kau juga cacat seumur hidup. Kau hanya bisa menghabiskan sisa usiamu berbaring di tempat tidur dan makan melalui selang."

​Ye Chen berdiri, menatap tubuh Wenyuan yang terus berkedut.

​"Pulanglah ke Provinsi. Beritahu ayahmu dan Keluarga Utama Su: Kota Jiangcheng adalah wilayah terlarang bagi anjing Keluarga Su. Jika ada satu orang lagi dari keluargamu yang berani menginjakkan kaki di kota ini..."

​Niat membunuh Ye Chen meledak hingga membuat burung-burung di pepohonan sekitar jalan tol jatuh pingsan.

​"...Aku, Ye Chen, akan mendatangi Provinsi Jiangbei dan mencabut keluarga kalian sampai ke akar-akarnya!"

​Tanpa menoleh lagi, Ye Chen berbalik dan berjalan menghilang ke dalam kabut pagi, meninggalkan pangeran cacat yang meratap dalam keputusasaan absolut.

​Sementara itu, di Kantor Pusat Grup Kosmetik Su.

​Suasana sangat kontras dengan pembantaian di jalan tol. Lobi perusahaan dipenuhi karangan bunga ucapan selamat. Telepon di meja resepsionis tidak berhenti berdering oleh para investor yang berebut menelepon.

​Di ruang rapat eksekutif, Su Yuhan baru saja menandatangani tiga kontrak distribusi senilai dua ratus juta yuan. Wajahnya berseri-seri. Kalung Giok Hetian pemberian Ye Chen menyentuh dadanya, memberinya rasa tenang dan fokus yang luar biasa.

​Saat Yuhan sedang merapikan dokumen, pintu ruang rapat didorong terbuka secara kasar.

​Su Jian dan Su Ming—paman dan sepupunya yang licik—masuk dengan wajah sepucat kertas dan rambut acak-acakan. Mereka tidak lagi memiliki kesombongan yang biasa mereka tunjukkan.

​Bruk!

​Kedua ayah dan anak itu langsung berlutut di depan meja Yuhan.

​"Yuhan! Keponakanku tersayang! Tolong selamatkan kami!" Su Jian meratap, memegang kaki meja dengan putus asa.

​Yuhan mengerutkan dahi, aura Ratu Esnya kembali menyala. "Paman, apa yang kau lakukan? Bangunlah, ini memalukan."

​"K-kami tidak akan bangun sebelum kau memaafkan kami!" Su Ming menyeka air matanya. "Yuhan, Keluarga Utama Su menghentikan semua subsidi ke perusahaan cabang kami pagi ini! Bank-bank juga membekukan aset kami karena mereka dengar kami memusuhimu dan Nyonya Besar Song! Kami bangkrut, Yuhan! Perusahaan kami akan disita sore ini!"

​Mereka memang menuai apa yang mereka tabur. Semalam, demi menjilat Su Wenyuan, mereka memutus semua hubungan bisnis dengan Yuhan dan menginvestasikan seluruh aset mereka ke proyek bodong milik Keluarga Utama. Begitu Su Wenyuan kabur, Keluarga Utama langsung memotong kerugian mereka dengan mengorbankan cabang kecil di Jiangcheng ini.

​Su Yuhan menatap dua kerabat darahnya itu dengan tatapan dingin. Tiga tahun lamanya, ia ditindas. Tiga tahun lamanya, ia dikhianati dan ditusuk dari belakang oleh mereka.

​"Paman, Sepupu..." Yuhan bersuara, nadanya datar tanpa empati. "Saat perusahaanku hampir disita oleh bank beberapa hari lalu, apakah kalian membantuku? Tidak. Kalian menertawakanku dan memaksaku menyerahkan jabatanku."

​"I-itu masa lalu, Yuhan! Kita ini keluarga! Darah lebih kental dari air!" bantah Su Jian panik.

​"Keluarga?" Yuhan tersenyum sinis. Tangannya menyentuh giok di dadanya, teringat bagaimana Ye Chen melindunginya di saat 'keluarganya' sendiri ingin menjualnya pada Su Wenyuan. "Keluargaku yang sebenarnya hanyalah ibu dan suamiku. Kalian bukan keluargaku."

​Yuhan menekan tombol interkom di mejanya. "Satpam, tolong naik ke lantai eksekutif. Ada dua orang gelandangan yang menerobos masuk."

​"YUHAN! KAU ANAK DURHAKA! KAU MAU MELIHAT KAMI MATI KELAPARAN?!" Su Ming berteriak histeris, bangkit berniat menerjang Yuhan.

​Namun, sebelum Su Ming bisa menyentuh meja, pintu terbuka dan empat satpam berbadan tegap langsung menyergap mereka berdua, memelintir tangan ayah dan anak itu ke belakang.

​"Seret mereka keluar. Dan hapus nama mereka dari daftar pemegang saham sisa. Mulai hari ini, Grup Kosmetik Su tidak memiliki hubungan apa pun dengan Su Jian dan Su Ming," perintah Yuhan dengan otoritas mutlak.

​Saat paman dan sepupunya diseret keluar sambil berteriak memaki, Yuhan menghela napas panjang. Beban berat yang menekan pundaknya selama bertahun-tahun akhirnya sirna. Perusahaannya kini utuh, sepenuhnya berada di tangannya.

​Tepat pada saat itu, pintu ruang kerjanya terbuka kembali.

​Ye Chen melangkah masuk sambil membawa sekotak dim sum hangat di tangannya. Senyumnya begitu cerah dan tulus, seolah ia baru saja pulang dari pasar pagi, bukan dari membantai pembunuh dan melumpuhkan pangeran konglomerat.

​"Pekerjaan sudah selesai, Nyonya CEO?" goda Ye Chen, meletakkan kotak dim sum di meja. "Kau belum sarapan dengan benar tadi pagi."

​Melihat wajah suaminya, benteng es di hati Yuhan benar-benar runtuh. Ia bangkit dari kursinya, berlari kecil, dan langsung menghambur ke pelukan Ye Chen.

​Ye Chen sedikit terkejut. Tubuhnya menegang sesaat sebelum akhirnya ia tersenyum, melingkarkan tangannya yang kokoh di pinggang ramping Yuhan, membalas pelukan istrinya dengan erat.

​"Terima kasih, Ye Chen..." bisik Yuhan di dada suaminya, menghirup aroma maskulin yang menenangkan. "Terima kasih telah membantuku membersihkan semuanya."

​Ye Chen mengelus rambut Yuhan dengan lembut. "Masalah kecil di Jiangcheng sudah selesai. Tapi Yuhan, kau harus bersiap. Setelah ini, Grup Su pasti akan berekspansi ke Ibu Kota Provinsi. Dan di sana, badai yang sesungguhnya baru akan dimulai."

​Dan jika Keluarga Utama Su berani menyentuhmu saat kita tiba di sana, batin Ye Chen dingin, aku akan meratakan seluruh Provinsi Jiangbei menjadi abu.

1
yos helmi
sdh banyak cerita seperti alur ini.. tp semua ng pernah tamat.. cerita ciplakan/saduran.. jd jgn harap tamat
Marthen
dari teknik bela diri penakluk naga apakah ada sutra naga penyerap energi agar kultivadinya naik lagi kan sayang energi musuh yg terbuang....?
Arinto Ario Triharyanto
mantap ini😎
Marthen
banjir darah mewarnai pesta ulangtahun
Arinto Ario Triharyanto
tegas lugas gak pake lama... mantul 😎
Marthen
seru sekaLi.....
Marthen
keren....suka dgn jalan ceritanya.....
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Asosiasi bela diri sampai ke akar akarnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai semua musuhnya sampai ke akar akarnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai su zheng bikin dia menyaksikan sendiri pas yechen bantai semua klan su sampai ke akar akarnya bikin su zheng mengutuk putranya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!