NovelToon NovelToon
Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:935
Nilai: 5
Nama Author: Ricca Rosmalinda26

Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.

Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan

“Jangan bergerak.”

Suara itu terdengar begitu dekat hingga bulu kudukku berdiri.

“Diam.”

Aku ingin berteriak.

Namun sebelum suara itu sempat keluar dari tenggorokanku, tubuhku didorong ke dinding.

Punggungku membentur permukaan kayu bilik dengan lembut, tetapi cukup untuk membuatku terkejut. Sebuah tangan segera menutup mulutku.

Aku membeku.

Pria itu berdiri sangat dekat denganku.

Punggungnya membelakangi cahaya yang masuk dari celah tirai, membuat wajahnya hampir seluruhnya tertutup bayangan. Aku hanya dapat melihat garis rahangnya dan sepasang mata yang samar di dalam kegelapan.

Aku mencoba melepaskan diri.

Percuma. Cengkeramannya begitu kuat.

“Dengar,” bisiknya. “Kau dalam masalah.”

Apa yang dia katakan?

Siapa sebenarnya dia?

Jantungku berdetak begitu keras hingga aku takut dia dapat mendengarnya.

“Phantom telah tertarik kepadamu.”

Aku menahan napas.

Phantom?

“Jika kau meninggalkan gedung opera sekarang,” lanjutnya, “mungkin masih ada kesempatan bagimu untuk menyelamatkan diri.”

Mataku membesar.

Tertarik kepadaku?

Bagaimana pria ini tahu? Dan apa hubungannya dengan Phantom?

Aku masih berusaha melepaskan tangannya.

Namun setelah beberapa detik, aku menyadari sesuatu.

Dia tidak sedang berusaha menyakitiku.

Cengkeramannya memang kuat, tetapi tidak kasar. Ia hanya menahanku agar aku tidak mengeluarkan suara.

Dan ketika kulitku bersentuhan dengan tangannya, aku merasakan sesuatu yang justru semakin membingungkanku.

Hangat. Tangannya hangat.

Aku menatapnya dalam kegelapan.

Jadi, dia manusia.

Bukankah Phantom seharusnya terasa dingin seperti mayat?

Ini jelas manusia. Berdarah dan berdaging.

Seolah dapat membaca pikiranku, pria itu berkata,

“Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan.”

Ia menatapku. “Siapa aku tidak penting.”

Aku ingin membantah. Tentu saja itu penting.

Namun sebelum aku sempat melakukan apa pun, pandangannya tiba-tiba berubah.

Ia menoleh ke sudut bilik.

Tubuhnya menegang.

Aku mengikuti arah tatapannya.

Tidak ada apa-apa.

Hanya tirai tua dan bayangan gelap.

Namun pria itu tampak sedang mendengarkan sesuatu.

Sesuatu yang tidak dapat kudengar.

“Dia datang.” Suaranya berubah menjadi bisikan.

“Tidak ada waktu.” Ia kembali menatapku.

“Dengar baik-baik. Tinggalkan tempat ini.”

“Apa?”

“Selamatkan dirimu.”

“Tunggu!”

Tangannya terlepas dari mulutku.

“Siapa yang datang?”

Namun pria itu telah mundur. Ia mengangkat satu jari ke bibirnya.

“Diam.”

Kemudian ia berbalik dan menghilang di balik tirai.

Aku mengejarnya.

“Tunggu!” Aku berlari keluar dari Bilik Nomor Lima.

Namun koridor di luar kosong. Tidak ada siapa pun. Pria itu telah menghilang.

Aku berdiri terpaku. Napas terengah-engah. Mataku menyapu setiap sudut koridor.

Tidak ada pintu yang terbuka. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara.

Seolah-olah pria itu tidak pernah berada di sana.

Aku mengepalkan tangan.

Aku sudah muak.

Aku sudah muak dengan semua ini.

Sejak pertama kali datang ke gedung opera, aku terus menemukan rahasia demi rahasia.

Orang-orang berbicara dengan suara pelan.

Para pekerja takut.

Polisi tidak melakukan apa pun.

Manajemen berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

Dan semua orang menyebut satu nama dengan ketakutan yang sama.

Phantom.

Tetapi tidak seorang pun berani menghadapinya.

Mereka hanya berpura-pura semuanya akan baik-baik saja selama mereka tidak membicarakannya.

Selama mereka tidak memikirkannya.

Selama mereka menutup mata.

Aku menghela napas panjang.

Pria itu pasti tahu sesuatu.

Tetapi kepada siapa aku harus bercerita?

Aku memikirkan Meg.

Lalu menggeleng.

Tidak.

Meg mungkin akan lebih ketakutan.

Kemudian sebuah nama muncul dalam pikiranku.

Raoul.

Aku teringat percakapan kami.

Raoul mengatakan bahwa ia sedang menyelidiki Phantom.

Ia bahkan datang ke Paris karena ingin mengetahui kebenaran tentang apa yang terjadi di gedung opera.

Mungkin pria aneh tadi adalah petunjuk yang selama ini dia cari.

Mungkin Raoul dapat membantuku.

Aku segera berbalik.

Aku harus menghubunginya sesegera mungkin.

Aku melangkah cepat menyusuri koridor.

...----------------...

Aku menemukan Meg tidak lama kemudian.

Ia sedang membawa beberapa pakaian pertunjukan ketika aku menghampirinya.

“Meg.”

Ia menoleh, “Christine?”

“Aku ingin bertanya sesuatu.”

“Apa?”

“Raoul.”

Alisnya langsung terangkat, “Raoul?”

“Ya.”

Aku mencoba mengabaikan ekspresinya.

“Aku perlu menghubunginya.”

Meg tersenyum lebar, “Oh?”

“Meg...”

“Kau mencari Viscount Chagny?”

“Ya.”

Ia tertawa kecil, “Aku tahu.”

“Terima kasih. Aku tidak akan tahu bagaimana menemukan Raoul tanpa bantuanmu.”

Meg menggeleng-gelengkan kepala.

“Oh? Jadi kau tidak akan memintaku berhenti membicarakanmu dan Raoul, bukan?”

“Aku—bukan itu yang aku—”

Aku menghela napas, “Oh, Meg.”

Ia tertawa, “Baiklah. Aku tahu kau malu.”

Ia kemudian menepuk lenganku.

“Kau harus keluar lebih sering, Christine. Jangan hanya berlatih di gedung opera sepanjang hari.”

“Aku tidak punya banyak waktu.”

“Hampir semua orang di Paris tahu di mana Count Chagny tinggal.”

“Benarkah?”

“Tentu.”

Aku berpikir sejenak, “Kalau begitu... bisakah aku mengirimkan surat kepadanya?”

“Bisa.”

“Tapi kurasa keamanan di kediamannya cukup ketat.”

Meg mengangguk.

“Sebagian besar pengantar surat mungkin tidak diperbolehkan masuk. Tetapi aku bisa mencoba berbicara dengan penjaga.”

Ia menatapku, “Kau bilang surat itu penting, bukan?”

“Ya.”

“Kalau begitu aku akan mengantarkannya sendiri.”

Aku tersenyum lega.

“Meg...”

Ia mengambil kertas dan pena.

“Aku hanya perlu mencari cara agar surat ini sampai ke tangannya.”

Sementara Meg mulai memikirkan bagaimana cara mengantarkan surat itu, entah mengapa awan gelap yang sejak tadi menggantung di hatiku perlahan menipis.

Aku menyentuh rambutnya dengan lembut.

“Meg sayang, aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepadamu.”

Ia menatapku sambil tersenyum, “Jangan bodoh.”

Ia meraih tanganku, “Kita berteman.”

Senyumnya semakin lebar.

“Bukankah memang seperti itu gunanya seorang teman?”

Aku tertawa kecil, “Ya.”

Namun ketika Meg mulai menulis alamat di atas amplop, pikiranku kembali tertuju pada pria misterius itu.

Mungkin agak tidak pantas mengirim surat seperti ini.

Namun waktu adalah segalanya, dan ini satu-satunya cara yang kupunya.

Aku mengambil pena dan mulai menulis.

Raoul,

Aku minta maaf karena tiba-tiba mengirimkan surat kepadamu. Ketika terakhir kali kita bertemu, kau mengatakan bahwa kau sedang menyelidiki Phantom. Aku berhasil mendapatkan informasi baru.

Jika kau memiliki waktu, tolong datang ke gedung opera. Ada sesuatu yang harus kuceritakan kepadamu.

Temanmu,

Christine.

Aku menyerahkan surat itu kepada Meg.

“Jangan sampai hilang.”

Meg mengangkat surat itu, “Aku akan menjaganya.”

Kemudian ia pergi.

Sebelum berbelok di ujung koridor, ia menoleh dan melambaikan tangan kepadaku dengan penuh keyakinan.

Aku membalas lambaian itu.

Dan untuk sesaat, aku merasa sedikit lebih tenang.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Sebuah suara lembut terdengar di belakangku.

“Apakah sesuatu yang tidak terduga terjadi padamu hari ini, Christine?”

Tubuhku menegang. Aku mengenal suara itu.

Malaikat Musik. Aku menoleh ke arah cermin.

“Malaikat...” Suaraku bergetar.

“Akhirnya kau kembali.”

Aku menatap bayanganku sendiri.

“Ku kira...”

Aku menelan ludah, “Ku kira kau tidak akan pernah datang lagi.”

“Aku akan selalu berada di sisimu selama kau membutuhkanku.”

Mataku terasa panas, “Aku membutuhkanmu.”

Aku tersenyum getir, “Tentu saja aku membutuhkanmu.”

Aku menundukkan kepala, “Kau tahu betapa tidak berdayanya aku tanpa dirimu?”

Aku menyentuh dadaku, “Kebersamaanmu memberiku kekuatan.”

“Kalau begitu,” katanya lembut, “maukah kau menceritakan kepadaku apa yang terjadi hari ini?”

Aku terdiam, “Kau tahu?”

“Aku adalah malaikatmu.”

Suaranya terdengar tenang, “Aku tahu segalanya.”

Aku memandang cermin.

“Aku selalu memperhatikanmu.”

Kemudian nada suaranya berubah.

“Aku melihatmu mendekati sesuatu yang berbahaya.”

Aku mengerutkan kening, “Pria aneh itu?”

“Ya.”

“Aku tidak menginginkannya.”

Aku buru-buru menjelaskan, “Aku tidak mencarinya. Aku hanya—”

“Kau mendekatinya.”

“Aku tidak punya pilihan.”

“Apakah kau mengatakan aku telah menuduhmu?”

Aku terdiam.

“Tapi aku...”

“Kau tampaknya tidak membutuhkanku hari ini.”

Suara itu menjadi semakin dingin.

“Mungkin aku seharusnya memberimu kebebasan.”

Aku merasa dadaku sesak, “Malaikat musik...”

Ia tidak menjawab.

Aku mencoba menjelaskan. Namun ia terus berbicara seolah-olah tidak mendengar apa pun yang kukatakan.

Malaikat yang paling kupercayai. Satu-satunya sosok yang selama ini menjadi tempatku bersandar.

Kini justru bersikeras salah memahami diriku.

“Aku tidak bermaksud begitu.” Suaraku bergetar.

“Aku sungguh tidak bermaksud membuatmu kecewa.”

Tidak ada jawaban.

Aku menggigit bibir.

Air mata mulai menggenang di sudut mataku.

Aku mencoba menahannya.

Namun sia-sia.

Satu tetes jatuh.

Kemudian satu lagi.

“Aku...” Aku menarik napas dengan susah payah, “Aku tidak ingin kehilanganmu.”

“Jadi, apakah kau mengakuinya sekarang?”

Aku menggeleng cepat, “Tidak.”

Suara tangisku semakin sulit kutahan.

“Tidak, tidak. Aku mohon... jangan seperti ini.”

Keheningan menyelimuti ruangan.

Kemudian—

“Christine?” Nada suaranya berubah.

Aku mendengar kepanikan di dalamnya.

“Apakah kau menangis?”

Aku menutup mulut agar isakku tidak terdengar.

“Malaikat musik...”

“Christine.” Suaranya kini jauh lebih lembut.

“Maafkan aku.”

Aku mengangkat wajah.

“Tolong jangan menangis.”

Ia terdiam sejenak, “Aku hanya...”

Suaranya terdengar rapuh, “Aku hanya berharap pada musik.”

Aku tidak menjawab.

“Kau dan aku.”

Suaranya menjadi semakin lembut.

“Musik kita.”

Ia menarik napas panjang.

“Kita akan mencapai puncak yang belum pernah dicapai siapa pun sebelumnya.”

Aku mengusap air mataku.

Namun sesuatu dalam perkataannya membuatku merasa tidak nyaman.

“Kau sedang terganggu.”

Nada suaranya kembali serius.

“Dunia fana terlalu memengaruhimu.”

Aku mengerutkan kening.

“Dan itu akan mengancam perjalanan musik kita.”

Aku menatap cermin, “Perjalanan musik kita?”

“Namun mungkin bukan kau yang sedang melewati batas.”

Aku terdiam.

“Melainkan sesuatu yang lain. Kegelapan yang merusakku.”

“Apa maksudmu?”

Tidak ada jawaban.

“Kegelapan apa?”

Aku mendekati cermin.

“Malaikat musik?”

Hanya terdengar sebuah helaan napas panjang.

“Malaikat Musik?”

Aku memanggilnya sekali lagi.

Tidak ada jawaban.

“Jangan pergi.”

Keheningan.

“Malaikat musik...”

Tetap tidak ada jawaban.

Aku berdiri sendirian di hadapan cermin.

Bayanganku sendiri menatap balik kepadaku.

apakah Malaikat Musik benar-benar sedang melindungiku?

Atau justru...

dialah yang sedang takut kehilangan diriku?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!