menginjak usia pernikahan ke tahun ke lima. aku dan suamiku masih tinggal dirumah orang tua dari suamiku.
bersama dengan dua saudara ipar yang setiap hari tiada henti nya merengek pada suamiku untuk memenuhi gaya hidup mereka.
padahal mereka tau suami ku hanya seorang buruh pabrik yang gajinya tidak seberapa, bahkan uang dapurpun aku hanya diberi separuh dari gajinya. itu pun masih untuk jajan anak anak kami juga untuk membeli listrik.
mau tau gimana kelanjutannya, ikutin terus ceritanya yaa .
terus dukung outhornya dengan like dan komen ya readers😋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14.
"mas, hiks,, hiks,, " jawab ku sambil terisak setelah telepon di angkat oleh mas Radit.
"hei ada apa sari, kenapa suara mu terdengar sedang menangis?" kata mas Radit disebrang telepon.
"aku,,,,," kataku terputus setelah telpon genggamku direbut paksa oleh ibu mertua dia pun melempar handphone itu ke atas kasur dengan keras.
aku mengalihkan pandanganku pada ibu mertua yang menatapku dengan tajam.
"keterlaluan kamu ya sari, mau apa kamu mengadu pada Radit hah?!" kata ibu mertua dengan membentak.
"kenapa memangnya, ibu takut kalo anak ibu tau gimana perlakuan ibu pada anak dan istrinya. iya?!" kataku tak mau kalah.
"dasar menantu kurang ajar! menyesal aku membiarkan Radit menikah dengan mu!!!" kata ibu mertua berteriak, kata-katanya membuatku sangat sakit hati pada ibu mertua.
setelah puas ibu mertua pun pergi meninggalkan aku dengan Aska dikamar, dengan masih raut wajah yang sangat tajam.
aku dan Aska pun hanya bisa berdiam dikasur karna perlakuan ibu mertua pada kami pagi ini, aku bertekad untuk mengemas barang ku hari ini dan akan aku pindahkan kerumah sewa secepatnya agar tidak terus-terusan diperlakukan semena-mena oleh ibu mertua.
"Aska, Aska sekarang tolong bantuin mama beresin semua mainan Aska ya. aska bisa kan?" kataku pada Aska yang diberikan anggukan olehnya.
"iya bisa ma" jawab Aska.
"sekarang ya nak, biar nanti siang kita bisa bawain barang-barang ini kerumah kontrakan kita. mama cari kardus dulu ya, kamu kumpulkan dulu saja mainan kamu ya nak biar nanti ga susah masukin kekardusnya lagi" kataku pada Aska.
"iyaa ma" jawab Aska , dia pun mulai mengumpulkan mainan yang dia miliki yang memang sengaja aku pajang di tempat-tempat ya ada sela kosong didalam kamar.
kemudian aku pun mencari kardus sekalian aku ingin bertanya pada Mpok Juleha orang yang bisa membantu membawakan barang-barang ku kerumah kontrakan ku di blok i.
aku pun keluar dari rumah tak melihat ibu mertua ataupun kedua adik iparku, mungkin Meraka sudah berangkat kesolah sedangkan ibu mertua entah kemana.
aku pun jalan menuju rumah Mpok Juleha, setelah beberapa menit pun sampai.
"assalamualaikum Mpok" kataku setelah melihat Mpok Juleha yang sedang menyapu lantai diteras rumahnya.
"waalaikumsalam sari, wajah ada apa nih tumben pagi-pagi udah mampir kesini" kata mpok Juleha dengan senyum merekah.
"hehe iyaa nih Mpok, aku mau cari kardus sama mau tanya kira-kira siapa ya yang bisa dimintain tolong untuk angkut barang-barang dari rumah ibu mertua ke kontrakan ku yang baru" kataku pada Mpok Juleha.
"kardus kosong mah kamu tanya aja sama warung diujung gang sana sar, dia pasti punya namanya juga warung kan yaa meski ga gede-gede banget sih tapi lumayan lah" kata mpok Juleha yang ku angguki perkataanya.
"terus kalo orang yang bisa bantu angkutin barang ku gimana Mpok?" tanyaku lagi pada Mpok Juleha.
"nah kalo itu coba kamu tanya sama pak Soleh sar, dia pasti tau karna biasanya dia yang suka cariin tukang angkut barang kalo ada orang yang mau pindahan" kata mpok Juleha lagi memberiku saran.
"oh gitu Mpok, yaudah kalo gitu aku mau kerumah pak Soleh dulu ya mpok sekalian mau kewarung yang diujung jalan. oh iyaa titip Aska ya mpok, dia ada dirumah lagi beresin mainannya soalnya ibu mertua aku gatau kemana" kataku pada Mpok Juleha lagi yang dia berikan anggukan.
"iyaa beres itu sar, selesai ini aku temani Aska dirumah mertua mu. emang kamu mau pindah sekarang sar? katanya nanti Sabtu" tanya mpok Juleha, aku pun langsung memasang muka masam mendengar pertanyaan Mpok Juleha karna teringat dengan perkelahian ku dengan ibu mertua saat sarapan tadi.
"iyaa Mpok, biar sekarang aja. lebih cepat lebih baik kan?" kataku pada Mpok Juleha dengan menampilkan senyum terbaikku.
"iyaa toh terbaik banget, aku loh kalo punya mertua koyo mertuamu ya wes emoh aku tinggal seomah Karo deke" kata mpok Juleha menggunakan aksen Jawa yang amburadul.
"heheh yaudah Mpok ya, aku kesana dulu biar cepat selesai cepat pindah juga aku" kataku pada Mpok Juleha.
"yowes, aku juga lak kerumah mertua mu Yo. aku tunggu neng omah Kono" kata mpok Juleha.
"iya Mpok, assalamualaikum" kataku berpamitan pada Mpok Juleha sambil tersenyum
"waalaikumsalam" jawab Mpok Juleha membalas senyumanku.
aku pun melangkahkan kaki meninggalkan rumah Mpok Juleha menuju rumah pak Soleh yang berbeda sebrang beberapa rumah dari rumah Mpok Juleha.
"assalamualaikum" kataku setelah sampai depan gerbang rumah pak Soleh.
"waalaikumsalam" terdengar suara sahutan depan pintu yang ternyata dibuka oleh istri dari pak Soleh.
"eeehh kamu sar, apa apa nih" kata Bu Soleh menyapa ku hangat.
"ini Bu, bapak ada?" tanyaku pada Bu Sholeh setelah dia mendekat kearahku, kemudian aku pun menyalami tangan Bu Sholeh dengan sopan.
"adaaa, didalam. mari masuk dulu sini" kata Bu Sholeh mempersilahkan masuk kedalam rumahnya.
"ayok duduk dulu sini, ibu panggilan bapak dulu dikamar" lanjut Bu Sholeh, aku menganggukkan kepala dan tersenyum terhadap Bu Sholeh.
Bu Sholeh pun masuk kedalam kamar, tak lama dia pun kembali keluar bersama pak Sholeh. aku pun menyalami tangan pak Soleh dengan hikmat.
"ada apa sari? tumben cari bapak?" tanya pak Soleh.
"begini pak, saya mau minta tolong Carikan tukang pengangkut barang" kataku pada pak Soleh.
"oohh gitu, tapi untuk apa? apa kamu mau pindahan?" tanya pak Soleh yang seketika membuat Bu Soleh melebarkan matanya.
"bener kamu mau pindah sar? kemana?" tanya Bu Soleh dengan raut wajah penasaran.
"iyaa Bu, pak. rencananya saya dan mas Radit juga Aska akan belajar mandiri pak. kami mengontrak rumah di blok i pak, Bu" kataku pada bapak dan ibu Soleh.
"loh loh, apa ibu mertua mu tidak keberatan dengan kamu pindah dari rumah itu?" tanya Bu Sholeh dengan heran.
"sudah lah Bu, kamu ini kebanyakan sekali nanya itu urusan pribadi mereka. jadi kamu mau cari pikc up sekaligus yang menagkat barang-barang ya sar, untuk kapan?" tanya pas Sholeh lagi.
"iya pak, kalo bisa sih hari ini juga pak" kataku pada pak Soleh yang membuatnya terkejut.
"untuk hari ini? kenapa tidak bilang dari kemarin-kemarin, sebentar bapak tanya dulu supir pikc up ada yang kosong atau tidak ya. kamu tunggu dulu disini" kata pak Sholeh yang seketika membuat ku lega. semoga ada, pikirku.
kemudian pas Sholeh pun melangkahkan menuju kamarnya untuk menghubungi rekannya yang menjadi tukang angkut barang, tak lama pak Soleh pun kembali.
"bagaimana pak?" kataku pada pak Soleh.
"mobil ada kosong tapi tidak ada supirnya sar, biar nanti bapak yang ambil ya. kamu mau jam berapa pindahannya?" kata pak Soleh padaku.
"jam dua siang aja bagaimana pak? setelah Zuhur juga sebelum asar kayanya waktunya pas, jadi ga ketinggalan sholat dikedua waktu itu" kataku pada pak Sholeh.
"boleh, boleh nanti bapak kesana ya" kata pak Soleh.
"baik pak terimakasih sebelumnya, untuk ongkosnya bagaimana pak?" tanyaku pada pak Soleh.
"yaampun sari sebanyak apa sih barang kamu, santai saja kamu kasih uang bensin untuk mobilnya aja" kata pak Sholeh dengan melebarkan senyumnya. aku dan Bu soleh pun seketika ikut tersenyum.
"iyaa sar, nanti ibu ikut loh pak. nanti biar ibu bawa motor sendiri saja kalo bapak bawa mobil" kata Bu Sholeh.
"aduuh kaya mau kemana aja ini saya Bu" kataku sambil tertawa garing dihadapan bapak dan ibu Sholeh.
"tenang aja sari, kan biar sekalian ibu tau kamu ngontrak dimana. kali aja ibu bisa main nanti hihihi" kata Bu Sholeh yang membuat kami tersenyum.
"iyaa iyaa boleh Bu, yaudah pak Bu kalo gitu saya pamit. harus beres-beres barang dulu" kataku berpamitan pada tuan rumah.
"iyaa sar, hati-hati" kata Bu Sholeh.
"assalamualaikum" kataku setelah berada diluar rumah pak Sholeh
aku pun terus melangkahkan kaki kewarung yang ada diujung gang untuk membeli kardus, kemudian aku pun kembali pulang kerumah ibu mertua.
setelah sampai aku mendengar suara mpok Juleha yang sedang beradu mulut dengan ibu mertua.
"dasar mertua tak tau diuntung, beruntung sari sudah mendapat kontrakan yang jauh lebih bagus dari rumah ini. biar saja, rasakan susahnya nanti jika gaada sari disini. rasain kamu!" kata mpok Juleha yang aku dengar memprovokasi ibu mertua.
"eh jngan asal ngomong, biar aja mereka pindah daripada terus nyusahin disini. sukur jadi kebutuhanku ga terlalu banyak" kata ibu mertua yang membuatku tertohok.
ternyata begitu sebenrnya ibu mertua menganggap kami benalu didalam rumahnya, padahal selama ini kami yang membiayai kebutuhan hidupnya. sengaja aku berdiam diri diluar rumah sambil mendengarkan dan merekam percecokan antara ibu mertua dan mpok Juleha.
"halaaah, memang siapa selama ini yang membiayai kehidupan kamu kalo bukan Radit. bisa apa emang kamu tanpa dia, Bu jngan suka membolak balikkan fakta. dikasih bulanan sama Radit aja masih suka minjem uang orang apalagi ngga dapat jatah bulanan" kata mpok Juleha, seketika muka ibu pias mendengar perkataan Mpok Juleha.
"siapa bilang, aku bisa membiayai hidup ku sendiri. Radit hanya memberikan uang yang pas Pasan makanya aku berhutang. jngan asal ngomong kamu leha!" kata ibu mertua dengan angkuhnya.
"baiklah terserah kamu saja, kalo aja Radit dan sari mendengar perkataanmu ini mungkin sari akan berpikir beribu kali untuk memberikan uang bulanan mu. pasti sangat sakit hatinya, apa lagi Radit" kata mpok Juleha yang semakin membuat ibu mertua tak bisa berkata-kata.