Sinopsis
Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Makan Siang Paksa di Ruang CEO
Keesokan harinya, Sarah bangun dengan perasaan sedikit lebih segar. Mungkin karena semalam ia tidur lebih awal, atau mungkin karena perhatian Samudra yang masih terngiang di kepalanya. Ia sudah tidak bisa memungkiri lagi: pria itu mulai mengganggu pikirannya.
Pukul 08.30, Felix sudah tiba di apartemennya. Seperti janji Samudra, Felix membawa sekotak besar makanan sarapan: oatmeal dengan potongan buah-buahan segar, susu almond, dan sepotong roti gandum panggang. Felix juga membawa satu buket kecil bunga aster putih.
"Ini dari Bos," kata Felix sambil menyodorkan bunga itu. "Katanya buat penyemangat hari pertama kamu masuk kerja setelah cuti."
Sarah menatap bunga itu. Tangannya sedikit ragu menerimanya. "Bos... ngasih bunga?"
Felix mengangkat bahu, tersenyum miring. "Aneh, kan? Bos yang dingin kayak es batu, sekarang malah jadi tukang bunga. Mungkin efek hamil kali ya, jadi makin lembut."
Sarah memukul lengan Felix pelan. "Jangan ngaco, Fel. Ini mungkin hanya bentuk tanggung jawab dia sebagai pemilik kontrak."
"Iya, iya, terserah kamu mau bilang apa," jawab Felix sambil terkekeh. "Ayo, kita berangkat. Bos minta kamu sudah ada di meja kerja jam sembilan tepat."
Sarah pun bergegas. Ia menyusun bunga aster itu di vas kecil di sudut meja makannya, lalu mengikuti Felix keluar. Mobil meluncur menuju kantor pusat Samudra yang terletak di salah satu gedung pencakar langit megah di pusat kota Milan. Udara pagi Italia terasa dingin, tapi Sarah merasa hangat di dalam hatinya.
Setibanya di kantor, Sarah disambut oleh meja kerjanya yang sudah beres. Namun, begitu ia duduk dan membuka laptop, matanya langsung membelalak. Tumpukan dokumen setinggi gunung menantinya di sisi kiri meja. Ada laporan keuangan kuartal kedua, proposal kerja sama dari klien Jerman, dan berkas-berkas pengadaan barang yang harus ditandatangani.
"Astaga, ini kok menumpuk banyak banget?" keluh Sarah pelan.
Seorang rekan kerja, Luna—wanita asal Italia yang menjadi teman dekat Sarah di kantor—menghampiri meja Sarah. "Ah, Sarah! Selamat datang kembali! Kamu cuti cukup lama ya. Bos jadi super sibuk, semua kerjaan numpuk di meja kamu."
"Luna, ini semua harus selesai kapan?" tanya Sarah, membolak-balik berkas.
"Kata Felix, deadline beberapa dokumen ini hari Jumat. Tapi tenang, aku bantu kamu kerjakan yang bagian proposal," tawar Luna.
Sarah menghela napas. Ia membuka dokumen pertama, mencoba fokus. Tapi di tengah-tengah mengetik, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Samudra.
"Sudah sarapan?"
Sarah tersenyum tipis, lalu membalas: "Sudah, Pak. Felix mengantar oatmeal."
"Bagus. Jangan lupa minum susu."
Sarah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Luna yang melihatnya langsung menaikkan alisnya.
"Wah, siapa yang bikin Sarah tersenyum-senyum sendiri? Jangan-jangan ada yang spesial?" goda Luna.
Sarah buru-buru menaruh ponselnya di atas meja. "Tidak ada. Ini cuma... dari klien."
Luna tertawa kecil. "Dari klien, ya? Baiklah, kalau kamu bilang begitu."
Pukul 12.30, bel istirahat makan siang berbunyi. Sarah sudah menyelesaikan hampir setengah dari tumpukan dokumen. Ia meregangkan punggungnya yang agak pegal dan melirik Luna.
"Luna, mau makan siang di kantin? Aku lapar," ajak Sarah.
"Boleh. Aku juga mau," jawab Luna.
Mereka berdua bangkit dan berjalan menuju lift. Namun, saat mereka melewati area resepsionis, mereka berpapasan dengan Marco—sekretaris pribadi Samudra yang masih muda, berusia sekitar 28 tahun, dengan gaya rambut undercut yang rapi dan kemeja lengan pendek. Marco memang seumuran dengan Felix, dan sering terlihat bergaul santai di kantor.
"Eh, Sarah! Mau ke mana?" sapa Marco ramah.
"Mau makan siang di kantin," jawab Sarah.
Marco tersenyum tipis. "Oh, kalau gitu, tunggu dulu. Baru saja Bos minta aku panggil kamu. Katanya ada yang mau dibicarain soal proposal Jerman. Dia minta kamu masuk ke ruangannya sekarang."
Sarah dan Luna saling pandang. Luna tersenyum sinis. "Wah, dipanggil bos nih. Aku duluan ke kantin ya, tungguin. Jangan lupa pesen pasta buat aku!" Luna melambai lalu melangkah pergi menuju lift.
Sarah mengangguk pada Marco, lalu berjalan menuju ruang eksekutif. Ia mengetuk pintu dua kali, lalu mendengar suara bariton Samudra dari dalam.
"Masuk."
Sarah membuka pintu dan melangkah masuk. Samudra sedang berdiri di dekat jendela, memandangi pemandangan kota Milan. Di atas mejanya, sudah terhampar dua porsi makanan mewah. Ada pasta truffle dengan jamur, seporsi daging sapi panggang, dan salad sayuran organik. Semua terlihat sangat lezat dan rapi.
"Pak, ada apa? Marco bilang Bapak mau bahas proposal Jerman?" tanya Sarah.
Samudra berbalik. "Proposal Jerman itu bisa nanti. Sekarang, aku pesan makan siang untuk kita berdua. Kamu pasti lapar. Duduklah."
Sarah menatap makanan itu, lalu menatap Samudra. "Pak, saya sudah janji mau makan siang bersama Luna di kantin."
Samudra mengerutkan kening. "Kantin? Sarah, makanan kantin tidak higienis. Terutama untuk kondisimu sekarang. Kamu butuh asupan gizi yang terjaga, bukan makanan olahan murah yang penuh pengawet."
Sarah ingin membantah. "Tapi Pak, Luna sudah menunggu saya di kantin. Kalau saya batal, dia kecewa."
Samudra menatap Sarah dengan tatapan tegas. "Ini demi kesehatanmu. Dan demi kesehatan anak itu." Ia menunjuk kursi di depannya. "Duduk. Aku sudah memesan untuk dua orang. Makanan ini khusus dibuat oleh koki pribadiku, jauh lebih sehat daripada kantin. Kamu tidak perlu khawatir soal Luna, nanti Marco akan bawakan makanan untuk Luna ke kantin juga."
Sarah membuka mulutnya, ingin berkata sesuatu. Tapi melihat tatapan Samudra yang tidak bisa ditawar, ia akhirnya mengalah. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat pada Luna.
"Maaf, Lun. Ada urusan dengan bos. Tapi Marco akan bawakan makanan buat kamu ke kantin kok."
Luna membalas dengan emoji wajah tersenyum sinis, lalu Sarah menaruh ponselnya dan duduk di kursi yang telah disediakan.
Samudra duduk di seberangnya. Ia mengambil garpu dan mulai menyantap makanannya. Sarah mengikuti. Pasta truffle itu terasa sangat lezat. Rasanya mewah, dengan sentuhan keju Parmesan parut di atasnya. Ini jauh lebih enak daripada makanan kantin.
"Bagaimana?" tanya Samudra setelah melihat Sarah mengunyah dengan lahap.
"Enak, Pak," jawab Sarah jujur.
"Bagus. Kalau kamu suka, aku bisa memesankannya setiap hari," kata Samudra datar.
Sarah menatap Samudra. "Pak, saya sebenarnya tidak perlu diperlakukan spesial begini. Bapak sudah membayar saya dengan kontrak yang besar. Makan siang biasa saja sudah cukup."
Samudra meletakkan garpunya perlahan. "Sarah, kontrak memang mengatur uang. Tapi di luar kontrak, aku juga punya tanggung jawab moral terhadapmu. Kamu bukan hanya asistenku, tapi juga wanita yang sedang mengandung anakku. Aku tidak mau mengabaikan itu."
Sarah terdiam. Ada kehangatan di dadanya. Di tengah kesibukan Samudra sebagai CEO perusahaan multinasional, ia masih punya waktu untuk memesan makanan sehat buatnya. Ini lebih dari sekadar tanggung jawab. Ini adalah perhatian.
Mereka pun melanjutkan makan. Di tengah-tengah, Samudra membuka laptopnya dan memutar beberapa data ke arah Sarah.
"Oh iya, soal dokumen yang ada di mejamu. Ada proposal kerja sama dari perusahaan tech Jerman. Aku ingin kamu baca dulu sebelum aku tandatangani. Beri pendapatmu," ujar Samudra, beralih ke mode kerja.
Sarah mengangguk, mengambil tabletnya dan mulai membaca. Mereka berdiskusi tentang angka-angka, potensi keuntungan, dan risiko. Sarah memberikan beberapa masukan cerdas yang membuat Samudra mengangguk setuju.
"Masukanmu bagus," puji Samudra. "Aku akan masukkan ke revisi."
Sesi makan siang itu berlangsung sekitar 45 menit. Tidak hanya membahas pekerjaan, sesekali mereka juga saling melempar candaan ringan. Saat Sarah menceritakan tentang kejadian kocak Luna yang salah mengirim email ke klien, Samudra tertawa kecil—sesuatu yang sangat jarang terjadi.
Mereka menghabiskan makanan bersama, dan Sarah merasakan ada kedekatan yang perlahan mulai terbentuk. Pria yang dulu ia kenal hanya sebagai bos dingin dan kaku, kini mulai terlihat lebih manusiawi. Dan ia tidak bisa berhenti tersenyum.
Setelah makan siang selesai, Sarah berdiri. "Terima kasih, Pak. Makan siangnya sangat lezat."
Samudra mengangguk. "Besok, makan siang juga di sini."
Sarah ingin menolak, tapi ia tahu Samudra tidak akan memberi opsi. Ia hanya tersenyum. "Baik, Pak."
Saat Sarah melangkah keluar ruangan, ia mendengar suara Samudra memanggilnya dari belakang.
"Sarah."
Ia berbalik. "Ya, Pak?"
Samudra menatapnya dengan tatapan yang dalam. "Pastikan kamu tidak terlalu capek. Kalau ada pekerjaan yang terlalu berat, bilang pada Felix atau Marco. Aku akan atur ulang jadwalnya."
Sarah mengangguk. "Terima kasih, Pak. Saya akan menjaga diri."
Ia melangkah keluar, menutup pintu. Di balik pintu, Sarah tersenyum lebar. Dan di dalam ruangan, Samudra menatap pintu yang tertutup, menghela napas panjang.
"Aku terlalu peduli padanya," gumamnya pelan. "Dan itu berbahaya."
Namun, ia tidak bisa menghentikannya. Karena setiap kali ia melihat Sarah, kontrak itu perlahan kehilangan artinya. Dan digantikan oleh sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.