Namaku Tamara umur dua puluh satu tahun,aku tidak pernah menyangka jika kebaikan ku malam itu menolong seorang pria menjadi petaka dalam hidupku,dimana pria itu mengambil kehormatan ku secara paksa dan yang mengakibatkan aku hamil,dan inilah awal dari penderitaan yang aku alami.
Ikuti cerita ini dan jangan lupa memberi dukungan terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustina Pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14 ~ hannya teman ~
Abian kembali ke apertemen saat malam sudah mulai larut,dia melonggarkan dasinya yang seakan mencengkram lehernya,dia membuka pintu apertemen dan suasana masih sangat sepi dan gelap itu artinya Tamara belum juga kembali.
"Kerjanya sudah seperti orang yang memiliki gaji tinggi,bagaimana bisa dia belum pulang sampai jam segini,aku sengaja tidak makan dari luar agar aku bisa makan masakannya,seharusnya aku tidak mengijinkan dia untuk bekerja lagi," Sungut Abian dia meletakkan leptop dan berkas yang di bawanya dari kantornya,dia ingin menyelesaikan semua di apertemenya sendiri.
Setelah berganti pakaian,Abian memutuskan untuk menunggu Tamara,memasak dia tidak mau memesan dari luar lagi karena dia menyukai masakan Tamara.Sudah menunggu satu jam Tamara belum juga kembali membuat Abian meradang sendirian di apertemenya.
"Kemana sih dia,sepertinya aku harus lebih tegas kepada wanita itu,jangan-jangan dia bermain pria di luar sana." Ucap Abian,dia beberapa kali membanting berkas yang ada di mejanya karena perutnya sudah sangat lapar.Pada saat itu dia mendengar suara pintu,
"Lama sekali kamu pulang sudah jam berapa ini,kamu tidak memikirkan orang menunggumu disini kelaparan?" Belum juga sempat menyapa Abian sudah memaki Tamara,hingga membuat Lena yang ikut bersamanya takut sendiri.
"Siapa suruh kamu tidak makan,"
"Jangan menjawab sekarang ke dapur dan memasak untukku,aku hampir saja mati kelaparan disini." Tamara merasa heran entah mulai kapan pria itu menyukai masakannya bahkan menunggunya pulang,padahal dia sudah kelaparan sejatinya dia bisa memesan makanan dari luar."
"Tuan,ini teman saya namanya Lena,dia mengantarku pulang."
"Cepatlah masak sana,aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama." Tamara mengabaikan Lena yang masih berdiri di sampingnya dia langsung bergegas menuju dapur lalu memasak makanan yang ada adanya.
"Kamu ngapain masih berdiri disitu,kamu tidak niat membantu istriku?" Lena kaget mendengar ucapan abian,Lena sangat takjub,di balik penampilannya yang sederhana ternyata Tamara memiliki suami kaya raya bahkan sangat tampan.
"Kok bisa Kaka itu memiliki suami kaya seperti ini,dan wajahnya juga sangat tampan,kalau aku punya suami seperti ini,mungkin aku bisa memamerkan kepada semua orang-orang di kampung ku." Lena hanyut dalam lamunannya hingga dia tidak menyadari abian sudah ada di dekatnya,
"Anda memikirkan apa,aku menyuruhmu membantu istriku,tapi ya sudah anda itu seorang tamu di sini silahkan duduk." Ucap abian,dia bergegas ke dapur menemui Tamara yang sedang memasak untuknya.
"Masih lama belum aku sudah lapar banget."
"Sebentar tuan,ini juga udah mau siap."
Abian menari kursi,lalu duduk,dia terus memperhatikan Tanara yang sibuk memasak untuknya,Abian tersenyum kecil saat melihat Tamara yang sudah mulai kepanasan.
"Mulai besok jangan memanggilku tuan,panggil aku mas,aku tidak ingin orang luar tau kalau kita sedang tidak baik-baik saja." Ucap Abian,Tamara mengabaikan ucapan Abian,dia sibuk memindahkan masakannya dari wajan ke tempatnya.
"Lena....Lena,kamu mau makan sini kita makan bareng." Tamara sudah menghidangkan semua di atas meja,Lena datang menghampiri mereka ke dapur,lagi-lagi dia kaget melihat perabotan dapur yang super mewah.Abian mengabaikan tatapan Lena,dia menyantap makanan dengan begitu lahapnya,Tamara sangat bangga kali ini,karena ternyata pria itu menyukai masakannya.
Setelah mereka selesai makan,Tamara membawa semua piring kotor lalu membersihkannya,Abian merasa ada yang aneh dengan teman istrinya karena dia selalu menatap aneh kepadanya.
"Mas,kita belum kenalan?"
"Kamu bisa menanyakan namaku, kepada istriku,dan satu lagi besok-besok kamu tidak perlu datang menemani istriku." Ucap Abian,setelah mengucapkan kata-katanya dia meninggalkan mereka berdua di dapur.Lena merasa malu sendiri karena Abian selalu menghindarinya.
Keesokan harinya,Abian juga bangun pagi,setelah selesai mandi dan berpakaian rapi dia menemui istrinya di dapur,yang sedang sibuk membersihkan rumah.
"Mulai hari ini aku tidak mengijinkan kamu untuk bekerja lagi,aku akan membayar gaji mu lebih dari yang kamu dapatkan dari tempat kerjamu setiap bulan.Berikan aku kopi."
Tamara langsung menyuguhkan segelas kopi untuk suaminya,kali ini mereka benar-benar seperti pasangan suami istri pada umumnya,Tamara tidak menyangka jika Abian memiliki sikap yang sedikit lembut,cuma dia sedikit heran sudah beberapa Minggu ini dia tidak melihat pacar suaminya datang ke apertemen milik suaminya.
"Mas,jika kamu tidak mengijinkan aku bekerja lagi,maka kamu harus memberikan aku uang setiap bulannya lima juta rupiah,karena aku butuh uang untuk biaya keluargaku di kampung."
"Baiklah,aku akan memberikannya,aku tidak ingin setiap hari kamu keluyuran di luaran sana,dan wanita itu segera usir dari apertemen ini,sepertinya dia bukan wanita baik-baik."
"Iya mas."
Lena segera keluar dari dalam kamar,dia menghampiri mereka berdua,Lena selalu berusaha memberikan tatapan menggoda kepada Abian,tapi sayang Abian mengabaikannya.
"Lena,mulai hari ini aku sudah tidak bekerja lagi,kamu bisa pulang sendirian kan,dan aku minta tolong katakan kepada ibu kalau aku sudah tidak masuk lagi,kapan-kapan aku akan mengunjungi kalian semua." Ucap Tamara,terlihat wajah tidak suka Lena saat dia mendengar ucapan Tamara.
"Aku berangkat." Abian meninggalkan Lena,dan Tamara,karena dia masih banyak pekerjaan di kantor.Melihat abian sudah berangkat lebih dulu akhirnya Lena bergegas untuk keluar dari apertemen,rasanya dia masih penasaran kepada Abian,
Tamara berlari menghampiri Abian yang sedang masuk kedalam mobilnya dengan cepat dia membuka pintu samping lalu duduk di samping Abian.
"Apa yang kamu lakukan di mobilku,keluar!!"
"Maafkan aku tuan,tolong antar aku pulang,aku tidak punya uang sama sekali untuk ongkos pulang,please." Abian sangat kesal melihat Lena yang begitu lancang sudah masuk ke dalam mobilnya,hari ini abian menolak Leo untuk menjemputnya,karena dia tidak ingin Leo selalu bertemu dengan Tamara.
Saat Abian mengambil dompetnya,dan ingin memberikan uang kepada wanita itu,sayangnya dia tidak punya kas,dia hannya ada beberapa yang sepuluh ribuan,akhirnya dengan berat hati Abian mengantar Lena ke tempat kerjaanya.
Abian merasa ada yang aneh dengan tubuhnya,setelah Lena menyemprotkan parfum ke tubuhnya tiba-tiba saja abian merasa tubuhnya kepanasan,keringatnya mulai menetes,dan konsentrasinya hilang begitu saja,Abian menepikan mobilnya,
"Ada apa tuan,aahh...ayolah antar aku." Suara Lena yang begitu menggoda membuat konsentrasi Abian semakin hilang,apalagi di saat lena menyentuh pahanya dengan tangannya membuat Abian semakin kehilangan kendali.
Melihat mangsanya yang sudah mulai jatuh,Lena menyeringai jahat,entah kenapa pandangan pertama sudah membuatnya jatuh cinta.
**** Bersambung***
sejauh ini alurnya bagus 👍 semangatttt