Wen Sekar tidak pernah suka dengan keramaian.
Di usia 26 tahun, dia hanyalah karyawan administrasi biasa di Kota Angin — gaji pas-pasan, tidak punya teman dekat, dan lebih memilih menghabiskan waktu sendirian di kamar kos-nya. Satu-satunya kenangan berharga adalah kasih sayang Kakek dan Nenek Wen yang membesarkannya sejak bayi, setelah ia ditemukan di pinggir jalan oleh mereka.
Suatu malam, tusuk konde mutiara peninggalan Nenek tiba-tiba memberikannya kemampuan luar biasa: sebuah ruang penyimpanan ajaib di mana waktu berhenti, dan mimpi-mimpi yang menunjukkan bencana dahsyat yang akan melanda dunia.
Sekar tidak menunggu. Dia mulai menimbun — beras, minyak goreng, obat-obatan, alat pertanian, senapan berburu, empat buku panduan bertahan hidup. Semua disimpan dalam ruang ajaibnya. Ketika orang lain masih tertawa, Sekar sudah siap.
Dan bencana datang. Satu per satu: banjir besar, gempa dahsyat, pandemi global, dan akhirnya — letusan Supervulkan Yellowstone yang menyelimuti bumi dalam musim dingin vulkanik selama sepuluh tahun.
Sendirian di dataran tinggi Pulau Karang, lalu di kedalaman Hutan Damai di Kalimantan, Sekar bertahan. Dia belajar menanam singkong, berburu babi hutan, membuat tempe, membangun rumah dengan tangannya sendiri. Dia menghadapi perampok, binatang buas, dan kesunyian yang tak berujung — dan menang.
Tapi kisah ini bukan hanya tentang bertahan hidup.
Di usia 46 tahun, Sekar menemukan seorang bayi perempuan yang dibuang di depan gerbang kota. Dan saat itu, dia teringat dirinya sendiri — bayi yang pernah dibuang di pinggir jalan, lalu diselamatkan oleh cinta tanpa syarat.
Sekar mengambil bayi itu dan menamainya Anin.
Dari seorang gadis pendiam yang bertahan sendirian, Sekar menjadi seorang Mama — meneruskan warisan cinta yang dulu diterimanya dari Kakek dan Nenek Wen.
Ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang tidak membutuhkan siapa pun untuk hidup — tetapi menemukan alasan untuk hidup demi seseorang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 013
Perempuan di Ujung Jalan
Di ujung jalan kecil, seorang perempuan asing berdiri bersama seorang anak laki-laki, menatap rumah tua itu seolah sudah lama menunggu pintunya terbuka.
Sekar tidak bergerak.
Jarak di antara mereka mungkin hanya lima puluh langkah, tapi rasanya seperti jarak dari masa kini ke sesuatu yang dikubur terlalu lama. Perempuan itu memakai blus kusam, rok panjang gelap, dan sandal jepit yang talinya hampir putus. Rambutnya diikat rendah, beberapa helai putih terlihat di dekat pelipis. Di sampingnya, anak laki-laki berusia belasan tahun berdiri dengan wajah kesal, satu tangan memegang ponsel, tangan lain menggaruk leher.
"Kamu kenal?" tanya Bu Sari pelan.
Sekar menggeleng. "Tidak."
Tapi ada sesuatu di dadanya yang menolak jawaban itu.
Perempuan itu mulai berjalan mendekat. Langkahnya ragu, tapi matanya tidak lepas dari wajah Sekar. Semakin dekat ia datang, semakin jelas garis-garis di wajahnya. Bukan wajah yang Sekar kenal. Bukan wajah yang pernah memeluknya. Bukan wajah yang pernah muncul di foto keluarga.
Namun nama yang pernah diucapkan Nenek bertahun-tahun lalu tiba-tiba naik dari ingatan seperti duri.
Sumiati.
Sekar menelan ludah.
Bu Sari berdiri satu langkah di depan pagar, tubuhnya sedikit menyamping seolah tanpa sadar menahan jalan.
"Cari siapa, Bu?" tanya Bu Sari.
Perempuan itu melihat Bu Sari, lalu kembali menatap Sekar. "Saya mencari Wen Sekar."
Suara itu serak. Ada nada lelah, juga sesuatu yang terlalu cepat ingin dianggap dekat.
Sekar menegakkan punggung. "Saya Sekar."
Mata perempuan itu langsung basah.
"Ya ampun." Ia menutup mulut dengan tangan. "Benar kamu. Kamu sudah besar sekali."
Sekar tidak menjawab.
Anak laki-laki di samping perempuan itu mendengus pelan. "Bu, panas. Lama amat."
Perempuan itu menoleh tajam. "Diam dulu, Doni."
Doni.
Nama kedua itu seperti mengunci sesuatu di tempatnya.
Bu Sari memandang Sekar, lalu memandang perempuan itu lagi. Wajahnya berubah, tidak lagi bingung saja. Ada kekhawatiran yang lebih tua di sana.
"Sumiati?" tanya Bu Sari hati-hati.
Perempuan itu tampak lega karena dikenali. "Iya, Bu. Saya Sumiati."
Udara di depan rumah tua itu mendadak berat.
Sekar mendengar suara daun mangga bergesek. Mendengar motor lewat jauh di jalan utama. Mendengar napasnya sendiri yang menjadi terlalu pelan.
Nama itu nyata.
Sumiati.
Nama yang dulu Nenek ucapkan hanya sekali, ketika Sekar berusia enam belas tahun dan bertanya kenapa tidak ada foto orang tuanya di rumah. Nenek tidak menangis saat itu. Nenek hanya duduk di tepi ranjang, memegang tangan Sekar, lalu mengatakan bahwa ada seorang perempuan bernama Sumiati yang melahirkannya, tapi tidak membawanya pulang.
"Kakek menemukanmu di pinggir jalan dekat pasar lama," kata Nenek waktu itu. "Kamu masih merah, masih kecil sekali. Kami bawa pulang karena tidak mungkin membiarkan bayi sendirian."
Sekar bertanya apakah perempuan itu akan kembali.
Nenek diam lama sebelum menjawab.
"Kalau suatu hari dia datang, kamu tidak wajib memberi apa pun yang tidak ingin kamu beri."
Ingatan itu membuat tulang belakang Sekar terasa dingin.
Sumiati mengambil satu langkah lagi. "Sekar, Ibu..."
"Berhenti di situ," kata Sekar.
Suaranya tidak keras, tapi cukup membuat Sumiati berhenti.
Bu Sari meliriknya. Doni juga menatap Sekar dengan alis naik, seolah tidak menyangka perempuan pendiam di depannya bisa memotong pembicaraan ibunya.
Sumiati menurunkan tangan dari mulut. Air mata yang tadi menggenang belum jatuh. "Kamu marah?"
Sekar tidak tahu harus tertawa atau mundur.
Marah?
Kata itu terlalu kecil untuk sesuatu yang sudah menjadi lubang sejak ia belum bisa bicara.
"Apa keperluan Ibu mencari saya?" tanya Sekar.
Ia sengaja memakai `Ibu` sebagai sapaan umum, bukan pengakuan. Lidahnya terasa pahit setelah mengucapkannya.
Sumiati tampak menangkap jarak itu. Wajahnya berkedut sebentar, lalu ia memaksakan senyum.
"Ibu dengar kamu pulang ke rumah Kakek Wen. Ibu sudah lama mencari kamu."
Doni mendengus lagi. "Katanya mau cepat, Bu."
"Doni!" Sumiati memarahi, tapi nada marahnya lembek. Ia segera menoleh pada Sekar dengan wajah sedih yang dipasang kembali. "Dia adikmu. Namanya Doni."
Sekar melihat anak laki-laki itu. Doni balas menatap tanpa sopan santun, matanya cepat menilai rumah, motor, pagar, lalu kembali ke wajah Sekar.
Adik.
Kata itu jatuh di tanah dan tidak tumbuh apa-apa.
"Saya tidak punya adik," kata Sekar.
Wajah Sumiati berubah. "Sekar..."
Bu Sari menarik napas kecil. Ia tidak ikut bicara, tapi posisinya tetap di dekat Sekar. Kehadiran itu seperti pagar yang tidak terlihat.
Sumiati mengusap sudut matanya. "Ibu tahu kamu sakit hati. Ibu tahu. Tapi waktu itu hidup Ibu susah sekali. Ibu masih muda. Tidak punya apa-apa. Orang-orang bicara macam-macam. Ibu tidak punya pilihan."
Sekar memandangnya.
Tidak punya pilihan.
Kakek dan Nenek juga tidak kaya. Mereka hanya pasangan tua Tionghoa di desa, hidup dari kebun kecil, menerima bayi asing yang ditinggalkan tanpa surat, tanpa nama, tanpa janji siapa pun akan membantu.
Mereka tetap memilih membawa pulang bayi itu.
Sekar menggenggam sisi pagar sampai jari-jarinya memutih.
"Kakek dan Nenek sudah meninggal," katanya.
Sumiati mengangguk cepat. "Ibu dengar. Ibu ikut sedih."
Kata-kata itu terlalu ringan. Seperti daun kering jatuh di atas batu.
Bu Sari akhirnya bicara. "Sumiati, kamu datang dari mana?"
"Dari kota sebelah, Bu. Jauh. Perjalanan susah." Sumiati langsung menjawab pada Bu Sari, mungkin karena suara Bu Sari lebih mudah dihadapi. "Saya dengar Sekar pulang. Saya pikir... sudah waktunya kami bertemu."
Bu Sari tidak mengangguk. Tangannya justru memegang pagar lebih erat. Sekar melihat rahang perempuan itu mengeras, seperti ada banyak hal lama yang ia ingat tetapi memilih tidak ia ucapkan di depan jalan desa.
Doni menggeser berat badan dari satu kaki ke kaki lain. "Bu, aku lapar."
Sumiati mengelus bahu Doni dengan cepat. "Sebentar, Nak."
Sekar memperhatikan gerakan itu.
Lembut. Terbiasa. Otomatis.
Sesuatu di dalam dadanya mengeras.
Sumiati melihat perubahan wajah Sekar, lalu suaranya makin melunak. "Sekar, kamu boleh benci Ibu. Tapi kamu tetap lahir dari rahim Ibu."
Sekar merasa Bu Sari menegang di sebelahnya.
Hujan belum turun, tapi udara mendadak berbau tanah basah. Dari ruang penyimpanan ajaib yang tidak terlihat, semua zona yang baru ia tata terasa berdiri diam di belakang pikirannya. Makanan, obat, alat, pertahanan. Semua itu untuk bencana yang akan datang.
Ia tidak menyangka bencana pertama yang mengetuk pagar rumah Kakek Nenek memakai wajah seorang perempuan yang mengaku punya hak atas dirinya.
Sumiati mengangkat tangan, seolah ingin menyentuh pipi Sekar dari jauh.
"Aku ibumu, Sekar."
Sekar tidak mundur.
Tapi di dalam dirinya, pintu yang tidak pernah dibuka itu tertutup lebih keras.