NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: Pisau Pukul Tiga

Dan untuk pertama kalinya, ia mulai mengerti beratnya hidup yang dulu ia anggap remeh.

Malam kedua di Villa Teluk lebih sunyi daripada malam pertama.

Keira bekerja sampai lewat tengah malam di ruang baca lantai dua. Sutanto Corp sedang dibedah satu per satu, dari kontrak vendor sampai pengeluaran rumah tangga yang selama ini disamarkan sebagai biaya relasi. Setiap halaman membuatnya makin yakin, keluarga itu bukan hanya kejam kepadanya. Mereka juga ceroboh terhadap perusahaan sendiri.

Rayhan menunggu di luar ruang baca dengan nampan teh hangat.

"Masuk," kata Keira tanpa menoleh.

Rayhan meletakkan teh di sisi meja. "Teh jahe. Tidak terlalu manis."

Keira menyesap sedikit. Kali ini rasanya benar.

"Kau boleh pergi."

"Baik, Bu Keira."

Ia keluar, tetapi tidak langsung kembali ke kamar pelayan di lantai bawah. Ia berdiri beberapa saat di lorong, memandang pintu ruang baca yang tertutup.

Pertanyaan dari laporan Sinar berputar di kepalanya.

Keluarga Liem pernah kehilangan anak perempuan bungsu. Status publiknya dinyatakan meninggal. Usianya cocok. Waktu hilangnya cocok. Setelah itu, Keira muncul sebagai anak panti yang diangkat Almarhum Kong Kong Sutanto.

Jika Keira benar Keira Liem, mengapa ia menyembunyikan diri selama tiga tahun?

Jika ia bukan mata-mata, mengapa ia memiliki kemampuan bertarung, jaringan hukum, dan ketahanan mental yang tidak masuk akal?

Rayhan tidak lagi ingin menuduh sembarangan. Namun kebiasaan bertahun-tahun sebagai pemimpin bisnis yang hidup di antara intrik membuatnya sulit menerima kebetulan.

Pukul tiga lewat sedikit, Villa Teluk gelap.

Keira tidur di kamar utama, pintu tidak dikunci. Bukan karena percaya pada Rayhan, melainkan karena seluruh rumah memiliki sistem keamanan Liem dan dua pengawal di luar.

Rayhan masuk tanpa suara.

Di tangannya ada pisau buah kecil dari dapur.

Ia tidak berniat melukai.

Ia hanya ingin tahu apakah tubuh Keira akan bereaksi seperti orang terlatih saat ancaman mendekat. Mata-mata profesional biasanya tidak benar-benar tidur saat berada di tempat baru. Mereka menghitung langkah, suara napas, perubahan udara.

Keira tidur menyamping, rambutnya jatuh di bantal. Wajahnya dalam gelap tampak lebih muda, lebih lelah. Bekas luka kecil di pelipisnya dari kecelakaan pesawat masih samar.

Rayhan berhenti.

Untuk sesaat, ia merasa sangat hina.

Perempuan ini hampir mati karena kebohongan orang-orang di sekitarnya. Ia baru saja mengambil alih hidupnya kembali. Dan Rayhan masih datang membawa pisau, meski hanya untuk menguji.

Namun ia tetap maju satu langkah.

Pisau itu baru berjarak satu jengkal dari sisi ranjang ketika mata Keira terbuka.

Gerakannya lebih cepat daripada pikiran.

Dalam satu putaran, selimut terangkat menutup pandangan Rayhan. Pergelangan tangannya dipukul dari bawah, pisau terlepas dan jatuh ke karpet. Lutut Keira menekan perutnya, lalu sikunya berhenti tepat di tenggorokan Rayhan.

Rayhan membeku.

Keira berada di atasnya, napasnya stabil, matanya dingin sepenuhnya terjaga.

"Kau bosan hidup?" tanyanya.

Rayhan menelan ludah. Siku Keira hanya perlu turun sedikit untuk membuatnya sulit bernapas.

"Aku tidak akan menusukmu."

"Semua orang yang membawa pisau ke kamar perempuan tidur pasti punya kalimat indah."

"Aku hanya ingin memastikan sesuatu."

Keira menatapnya lebih lama. "Memastikan aku apa? Pembunuh? Mata-mata? Atau monster yang cukup pantas untuk kau benci?"

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada sikunya.

Rayhan tidak menjawab.

Keira bangkit, mengambil pisau dari karpet, lalu melemparkannya ke meja kecil. Suaranya kecil, tetapi di kamar gelap itu terdengar seperti vonis.

"Berlutut."

Rayhan duduk perlahan.

"Keira..."

"Bu Keira."

Ia terdiam.

Keira berdiri di depannya dengan piyama sutra gelap, rambut sedikit berantakan, tetapi tatapannya membuat ruangan terasa seperti ruang interogasi.

"Berlutut," ulangnya.

Rayhan turun dari ranjang dan berlutut di lantai.

Lututnya menyentuh marmer dingin. 023 membuat sendinya terasa lebih sakit daripada seharusnya, tetapi ia tidak bersuara.

Keira duduk di tepi ranjang.

"Sekarang jelaskan."

Rayhan menunduk. "Aku menerima laporan tentang keluarga Liem. Tentang anak perempuan yang hilang dua belas tahun lalu."

Mata Keira tidak berubah, tetapi jari-jarinya menegang di sisi ranjang.

Rayhan melihat itu.

"Aku mulai curiga kau bukan sekadar anak panti."

"Lalu kau membawa pisau?"

"Aku ingin melihat reaksimu."

"Selamat. Kau melihatnya." Keira tersenyum tanpa hangat. "Apa kesimpulanmu?"

Rayhan mengangkat kepala sedikit. "Kau bukan mata-mata."

"Kenapa?"

"Karena mata-mata akan menahan serangan untuk menyembunyikan kemampuan. Kau tidak peduli aku tahu. Kau hanya peduli bertahan hidup."

Keheningan jatuh.

Kalimat itu terlalu dekat dengan kebenaran.

Keira berdiri. "Aku tidak perlu menjelaskan masa laluku kepadamu."

"Aku tahu."

"Kau tidak tahu apa-apa."

Rayhan menunduk lagi. "Maka biarkan aku mencari tahu tanpa menyakitimu."

Keira tertawa kecil. "Permintaanmu selalu datang setelah lukanya jadi."

Ia berjalan ke meja, mengambil pisau buah itu, lalu meletakkannya di depan Rayhan.

"Mulai besok, semua pisau dapur dihitung sebelum dan sesudah kau bekerja. Kalau satu hilang, kau tidur di luar."

"Baik, Bu Keira."

"Dan malam ini, kau berlutut di sini sampai aku tertidur lagi."

Rayhan mengangkat wajah.

Keira sudah kembali ke ranjang, menarik selimut, dan memejamkan mata seolah tidak ada pria berlutut di lantai kamarnya.

Namun ia tidak langsung tidur.

Rayhan tahu dari cara napasnya masih terlalu teratur.

Ia tetap berlutut.

Sepuluh menit pertama, ia masih bisa menjaga punggung tetap lurus.

Setengah jam kemudian, lututnya mulai mati rasa. Keringat dingin turun dari pelipis ke rahang. 023 membuat tubuhnya tidak mampu berbohong. Otot yang dulu terbiasa latihan keras kini bergetar hanya karena posisi diam terlalu lama.

Di atas ranjang, Keira membuka mata dalam gelap.

Ia mendengar napas Rayhan yang mulai berat. Dulu, saat ia dihukum Bu Fenny berdiri di halaman hujan, Rayhan tidur di kamar hangat tanpa tahu. Malam ini, ia bisa membiarkan pria itu merasakan sedikit saja dari dingin yang pernah ia telan.

Namun ketika suara napas Rayhan tersendat, jari Keira mencengkeram selimut.

Jangan peduli.

Ia mengulang kalimat itu dalam hati.

Jangan peduli pada pria yang baru belajar sakit setelah semuanya terlambat.

Tetap saja, ia akhirnya berkata tanpa menoleh, "Kalau pingsan, kau membersihkan lantainya sendiri besok."

Rayhan menahan senyum pahit. "Baik, Bu Keira."

Beberapa saat kemudian, Keira melempar bantal kecil ke dekat lututnya.

"Bukan untukmu," gumamnya. "Agar lantainya tidak lecet."

Rayhan menatap bantal itu, mata perlahan memanas.

Marmer dingin menusuk lututnya, 023 membuat punggungnya berkeringat dingin, dan rasa bersalah membuat dadanya lebih sesak daripada semua itu.

Di luar jendela, laut PIK gelap tanpa suara.

Untuk pertama kalinya, Rayhan memahami bahwa Keira tidak hanya membangun tembok untuk menolaknya.

Ia membangun benteng untuk bertahan hidup.

1
Diah Susanti
ini salah satu keahlian orang Indonesia, bisa mengetahui kehadiran seseorang yang dikenal dari suara kendaraannya. bahkan dari langkah kaki juga batuk/dehemannya😄😄😄
Tri Septi
pembalasan ya.....maaf aku kurang sreg😔🙏
Tri Septi
ayo nyalakan apinya 🔥🔥🔥🔥🔥 semangat 💪💪💪
Tri Septi
satu per satu kesalahan harus dipertanggung jawabkan 😇
Tri Septi
semoga keira selamat😯
Tri Septi
sudah terlambat ray🔥🔥🔥
Tri Septi
wah, keira 👍 lanjutkan Thor, makasih 🙏🙏
Tri Septi
taktik Rayhan setelah tahu keira siapa .... telat bro! 🔥
Tri Septi
ini baru permulaan 😆😆😆
Tri Septi
ternyata jago beladiri😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....orang kaya mah bebas ya, lanjut thor👍
Tri Septi
en in en......gimana kelanjutannya, tunggu episode berikut....😁🤣🤣🤣
Tri Septi
ayo mulai babak baru 👍😍
Tri Septi
lanjut Thor 👍 suka' 😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....teh hijau sudah muncul🤔
Tri Septi
selamat datang kembali menuju kehidupan baru keira 😍😍😍
Tri Septi
aku mampir thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!