NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Pewari

Menikahi Sang Pewari

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Kehidupan Berdua

Pagi itu, Rayhan meninggalkan Wijaya Mansion sebelum Senja turun sarapan.

Di meja makan, kursi di ujung sudah kosong. Kopi hitamnya juga tidak ada. Hanya ada bubur ayam tanpa taburan kacang, buah potong, dan satu piring kecil telur rebus.

Pak Hadi berdiri di samping meja. "Tuan muda ada rapat penting di SCBD."

Senja mengangguk. "Biasanya memang sepagi ini?"

"Kadang lebih pagi."

Kata itu membuat Senja diam sebentar. Dia membayangkan Rayhan berangkat saat langit masih gelap, mengenakan jas, wajah dingin, masuk ke mobil tanpa perlu mengucapkan apa pun kepada siapa pun.

Orang seperti itu mungkin memang tidak membutuhkan rumah untuk terasa hangat.

"Nyonya akan ke sanggar siang ini?"

"Iya. Tapi sebelumnya aku harus mengambil kostum dari laundry."

Pak Hadi mencatat di tablet kecilnya. "Baik. Mobil akan disiapkan."

Senja hampir berkata dia bisa mengurus sendiri, lalu menahan diri. Perdebatan yang sama sudah terjadi dua kali dan selalu berakhir dengan jawaban tidak dari Pak Hadi, yang jelas-jelas membawa perintah Rayhan.

Setelah sarapan, seorang asisten rumah datang tergesa ke ruang keluarga membawa amplop cokelat.

"Nyonya, maaf. Ini dokumen Tuan muda tertinggal di ruang kerja. Pak Hadi sedang menerima telepon dari vendor. Katanya dokumen ini harus sampai sebelum rapat pukul sepuluh."

Senja melihat jam. Pukul sembilan lewat lima belas.

"Antarkan saja dengan driver."

"Driver utama mengantar bahan dapur sesuai instruksi alergi Nyonya. Driver cadangan belum tiba."

Senja menatap amplop itu. Di sudut kanan tertulis Wijaya Group, Confidential.

Dia tidak suka menyentuh urusan kerja Rayhan. Tetapi jika dokumen itu terlambat karena rumah sibuk menyesuaikan kebutuhan alerginya, dia akan merasa bersalah.

"Aku antar," katanya akhirnya.

Pak Hadi muncul tepat saat dia mengambil tas. Setelah mendengar situasinya, pria itu tidak setuju.

"Nyonya tidak perlu repot. Saya akan..."

"Pak Hadi, rapatnya pukul sepuluh." Senja memegang amplop dengan dua tangan. "Aku hanya mengantar ke resepsionis. Setelah itu langsung ke sanggar."

Pak Hadi ragu, lalu menghela napas kecil. "Kalau begitu saya ikut."

Perjalanan ke SCBD terasa berbeda dari perjalanan ke sanggar. Mobil melewati jalan-jalan yang lebih lebar, gedung kaca yang lebih tinggi, dan lobi-lobi yang dijaga satpam dengan earphone kecil. Wijaya Tower berdiri di salah satu sudut terbaik kawasan itu, namanya terpampang dalam huruf logam yang berkilau di bawah matahari.

Begitu mobil berhenti, seorang petugas keamanan langsung mengenali platnya dan membuka pintu.

"Selamat pagi, Nyonya."

Senja belum terbiasa orang asing mengenalnya. Dia tersenyum kaku dan mengikuti Pak Hadi masuk.

Lobi Wijaya Tower dingin dan harum. Marmer gelap memantulkan langkah mereka. Di meja resepsionis, dua staf perempuan berdiri lebih tegak saat melihat Pak Hadi.

"Dokumen untuk Pak Wijaya," kata Pak Hadi.

Salah satu staf menerima amplop itu dengan kedua tangan. "Baik, Pak. Rapat beliau sedang berlangsung di lantai empat puluh dua."

Senja merasa tugasnya selesai. Dia baru hendak berpamitan ketika lift eksekutif terbuka dan seorang pria muda bersetelan abu-abu keluar dengan wajah pucat, memegang map yang hampir terlepas dari tangannya.

Di belakangnya, suara Rayhan terdengar.

"Kalau kamu tidak bisa membedakan laporan proyeksi dan laporan realisasi, jangan duduk di meja strategi."

Langkah Senja berhenti.

Rayhan keluar dari lift bersama dua direktur dan seorang asisten. Wajahnya seperti biasa: tenang, dingin, tidak memberi ruang bagi orang lain untuk bernapas lega. Tetapi suasana di sekitarnya berbeda. Orang-orang menunduk. Bahkan staf resepsionis tidak berani bergerak terlalu cepat.

Pria muda tadi mencoba bicara. "Pak Wijaya, saya bisa revisi dalam satu jam."

"Kamu sudah punya satu minggu."

"Saya minta kesempatan sekali lagi."

Rayhan berhenti tepat di tengah lobi. Suaranya tidak keras, tetapi cukup jelas sampai Senja bisa mendengarnya.

"Kesempatan bukan kompensasi untuk ketidakmampuan."

Wajah pria itu memerah. "Pak..."

"Serahkan proyek itu ke Clara. Kamu turun dari tim per hari ini."

Tidak ada teriakan. Tidak ada kata kasar. Namun kalimat itu menjatuhkan seseorang di depan banyak mata.

Senja merasakan perutnya mengencang.

Ini sisi Rayhan yang dibicarakan orang-orang. Pewaris Wijaya yang tidak memberi ampun. Pria yang bisa memotong karier seseorang dengan satu kalimat sambil tetap terlihat rapi.

Rayhan baru menyadari keberadaannya saat berbalik.

Tatapannya berhenti pada Senja, lalu pada amplop cokelat yang kini sudah ada di tangan staf resepsionis.

"Kenapa kamu di sini?"

Pertanyaan itu tidak terdengar senang.

Pak Hadi langsung menjawab, "Maaf, Tuan muda. Dokumen Anda tertinggal di rumah. Nyonya membantu mengantar karena..."

"Aku bertanya padanya."

Pak Hadi menutup mulut.

Senja menelan ludah. Semua mata di lobi kini terasa bergerak ke arahnya.

"Dokumenmu tertinggal," katanya. "Aku hanya mengantar."

"Kamu seharusnya minta Pak Hadi."

"Pak Hadi sedang sibuk. Aku pikir ini mendesak."

"Berpikir bukan berarti mengambil keputusan sendiri."

Kalimat itu memukul lebih keras daripada yang seharusnya.

Senja tahu Rayhan mungkin berbicara begitu kepada semua orang. Kepada direktur, asisten, sopir, staf. Namun mendengarnya di depan lobi, setelah melihat dia menjatuhkan seorang karyawan, membuat telapak tangan Senja dingin.

Dia mengangguk. "Maaf."

Rayhan menatap wajahnya.

Ada sesuatu yang berubah. Mungkin dia melihat cara Senja mundur setengah langkah. Mungkin dia menyadari staf-staf di sekeliling mereka terlalu banyak mendengar.

"Naik," katanya.

Senja mengangkat wajah. "Apa?"

"Ke ruanganku. Aku akan tanda tangan dokumen, lalu Pak Hadi mengantarmu ke sanggar."

Dia tidak menunggu jawaban dan berjalan kembali ke lift eksekutif.

Pak Hadi memberi Senja isyarat halus. Senja mengikuti, membawa tubuh yang terasa lebih kaku daripada saat pertama masuk gereja.

Di dalam lift, hanya ada mereka bertiga. Angka lantai bergerak naik tanpa suara.

Rayhan berdiri di depan, punggung tegak, menatap pintu lift. Senja berdiri di belakangnya, sedikit ke samping. Dari jarak itu, dia bisa mencium aroma kayu cendana yang sama seperti malam pertama.

Pak Hadi menunduk, memilih menjadi bayangan.

Lift berhenti di lantai empat puluh dua.

Ruang kerja Rayhan jauh lebih besar daripada ruang kerja di mansion. Dinding kaca memperlihatkan Jakarta dari ketinggian, meja hitam panjang dipenuhi dokumen, dan layar besar menampilkan grafik saham serta proyek properti.

Asisten menerima amplop dari resepsionis yang naik bersama mereka, lalu meletakkannya di meja. Rayhan membuka dokumen, menandatangani tiga halaman, dan menyerahkan kembali.

Semua berlangsung dalam waktu kurang dari dua menit.

Senja berdiri di dekat pintu, merasa seperti barang yang salah letak.

"Kamu takut?" tanya Rayhan tiba-tiba.

Senja terkejut. "Tidak."

"Kamu mundur tadi."

Dia tidak menyangka Rayhan memperhatikan.

"Aku hanya..." Senja mencari kata yang tidak terdengar menuduh. "Aku belum pernah melihatmu bekerja."

"Sekarang sudah."

"Apakah kamu selalu seperti itu?"

Rayhan bersandar di tepi meja. "Seperti apa?"

"Keras."

Ruangan hening.

Pak Hadi, yang berdiri di dekat pintu, tampak ingin menghilang.

Rayhan menatap Senja lama. "Orang yang bekerja denganku tahu konsekuensinya."

"Dia terlihat sangat takut."

"Dia hampir membuat keputusan yang merugikan perusahaan puluhan miliar."

"Tapi menurunkannya di lobi..."

"Agar semua orang tahu aku serius."

Senja menunduk. "Aku mengerti."

"Tidak, kamu tidak mengerti." Suara Rayhan tetap datar. "Di tempatku, kesalahan kecil bisa menjadi kerugian besar. Aku tidak punya kemewahan untuk terlihat lembut."

Kalimat itu masuk ke kepala Senja, tetapi tidak sepenuhnya masuk ke hatinya.

Dia tahu dunia bisnis berbeda dari ruang latihan. Di sanggar, salah langkah bisa diulang. Di perusahaan sebesar Wijaya, salah langkah mungkin memakan banyak orang. Namun tetap saja, ada sesuatu yang membuatnya sulit bernapas ketika melihat orang dipermalukan di depan umum.

"Kalau begitu aku tidak akan datang lagi tanpa izin," katanya.

Rayhan mengerutkan kening tipis. "Itu bukan maksudku."

"Tapi itu aturanmu, kan?"

Kali ini Rayhan diam.

Senja mengangkat wajah. Tatapannya tidak melawan, hanya lelah.

"Aku tahu aku Nyonya Wijaya sekarang. Aku tahu ada banyak hal yang harus dijaga. Tapi kalau setiap langkahku salah, tolong tulis saja di daftar. Aku lebih mudah mematuhi sesuatu yang jelas."

Setelah mengucapkan itu, Senja baru sadar betapa beraninya kalimat tersebut.

Atau betapa putus asanya.

Rayhan menatapnya, ekspresi sulit dibaca.

Pak Hadi menahan napas.

Ponsel Rayhan berbunyi, memecah keheningan. Dia melihat layar, lalu menolak panggilan itu.

"Pak Hadi," katanya tanpa melepaskan pandangan dari Senja, "antar dia ke sanggar."

"Baik, Tuan muda."

Senja menunduk sedikit. "Aku permisi."

Dia berbalik menuju pintu. Saat tangannya hampir menyentuh gagang, suara Rayhan kembali terdengar.

"Senja."

Dia berhenti.

"Lain kali, kalau ada dokumen tertinggal, biarkan orang kantor mengambil. Bukan karena kamu salah datang."

Senja menoleh pelan.

Rayhan melanjutkan dengan suara yang lebih rendah, "Karena tempat ini tidak perlu melihatmu ketakutan."

Kalimat itu bukan permintaan maaf.

Tetapi juga bukan teguran.

Senja tidak tahu harus menjawab apa. Jadi dia hanya mengangguk dan keluar bersama Pak Hadi, meninggalkan Rayhan di ruangan tinggi yang penuh kaca, kekuasaan, dan kesendirian yang belum bisa dia pahami.

1
D..
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!