Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Jadwal Ujian
Setelah status administrasi Raka berubah menjadi `Memenuhi Syarat`, rumah gadang ikut berubah menjadi markas kecil persiapan ujian.
Nenek Sari menempel kalender baru di dekat kulkas. Datuk Harun memperbaiki kursi ruang belajar agar tidak goyang. Ayu mencetak kartu peserta sementara dan menaruhnya di map transparan bersama fotokopi dokumen penting. Raka, yang biasanya paling rapi, justru beberapa kali mengecek ulang map itu seperti takut dokumennya tiba-tiba menghilang.
"Kak Raka sudah cek tiga kali," kata Ayu.
"Empat."
"Itu bukan prestasi."
"Ini kecemasan administratif."
Ayu tertawa, lalu mengambil map dari tangannya. "Saya simpan di laci kasir. Kalau hilang, berarti satu rumah ikut salah."
"Itu tidak membuat saya lebih tenang."
"Bagus. Sedikit panik membuat manusia teliti."
Raka menatapnya. "Pelatih Ayu punya teori untuk semua hal."
"Tentu."
Dua hari kemudian, jadwal resmi SKD keluar.
Lokasi: Bukittinggi.
Tanggal: tiga minggu lagi.
Sesi pagi.
Raka membaca detail itu dengan wajah diam. Ayu berdiri di sebelahnya, ikut membaca. Tiga minggu terdengar lama kalau dihitung seperti menunggu tamu check-in. Tapi untuk ujian yang menentukan langkah hidup, tiga minggu terasa seperti waktu yang bisa habis dalam sekali kedip.
"Sesi pagi berarti berangkat subuh," kata Ayu.
"Saya bisa naik travel."
"Tidak. Saya antar."
Raka menoleh. "Mbak Ayu tidak perlu."
"Perlu. Saya yang tahu jalannya, dan saya tidak mau Kak Raka datang ke ujian dengan wajah habis debat dengan sopir travel."
"Saya bisa berangkat sendiri."
"Bisa. Tapi tidak akan."
Raka membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Nenek Sari yang mendengar dari dapur langsung menyahut, "Kalau Ayu sudah bilang antar, diantar. Jangan melawan orang yang memegang sarapan."
Sejak jadwal keluar, latihan Raka semakin terarah. Pagi hari ia mengerjakan simulasi lengkap dengan timer. Siang ia menulis satu bab novel agar pendapatan dan pembaca tidak tertinggal. Sore ia membantu ringan di restoran jika Ayu mengizinkan. Malam mereka review kesalahan.
Nilainya naik perlahan.
Tidak setiap hari. Ada hari ketika TIU kembali membuatnya ingin membenturkan kepala ke meja. Ada hari ketika TKP menjebaknya dengan pilihan yang semuanya terasa benar. Ada hari ketika TWK memaksanya menghafal pasal dan sejarah yang sudah lama tidak ia sentuh.
Tapi grafiknya bergerak.
Suatu malam, Raka menunjukkan hasil simulasi ke Ayu.
"Ini sudah lewat passing grade," kata Ayu.
"Lewat sedikit."
"Sedikit tetap lewat."
"Formasi pengadilan kompetitif."
"Berarti naik lagi. Tapi malam ini, kita akui dulu bahwa Kak Raka sudah lewat."
Raka menatap layar, lalu mengangguk pelan. "Baik, Pelatih."
Ayu menahan senyum.
Di sela latihan, hidup tidak berhenti. Restoran menerima dua pesanan baralek kecil dan satu acara keluarga di Bukittinggi. Ayu harus pergi ke pasar lebih sering. Raka kadang ikut, membawa daftar belanja dan kalkulator kecil di ponsel. Para pedagang mulai mengenalnya.
"Ini yang penulis itu, kan?" tanya seorang penjual cabai.
Raka tersenyum sopan. "Iya, Bu."
"Sekarang ikut belanja cabai juga?"
Ayu menjawab sebelum Raka. "Pelatihan lapangan."
Penjual itu tertawa. Raka menatap Ayu dengan wajah pasrah.
Pada malam yang tidak terlalu sibuk, mereka memasak untuk keluarga, bukan untuk restoran. Ayu mengajari Raka membuat sambal lado hijau yang aman untuk lidah Jakarta. Raka memotong cabai dengan jarak wajah terlalu jauh, membuat Nenek Sari menggeleng.
"Nak Raka, cabai itu tidak menggigit kalau belum dimakan."
"Saya menghormati cabai dari jarak aman, Nek."
Ayu tertawa sampai sendoknya hampir jatuh.
Sambal buatan Raka tidak buruk. Kurang garam, kurang pedas, dan teksturnya terlalu halus, tapi ia mencicipnya dengan wajah bangga yang membuat Ayu tidak tega mengkritik terlalu keras.
"Lumayan," kata Ayu.
"Lumayan berarti bisa dimakan?"
"Bisa, kalau ada nasi panas dan niat baik."
"Itu nilai berapa?"
"Passing grade."
Raka tertawa, kali ini lebih lepas.
Malam itu, setelah makan, mereka duduk di halaman belakang. Langit bersih. Nenek dan Datuk sudah masuk. Luna tidur di dekat kaki Ayu, sementara Angin masih sesekali mengecek kandang ayam. Raka membawa buku soal, tapi tidak membukanya.
"Tiga minggu," katanya.
"Takut?"
"Iya."
Ayu menghargai kejujuran itu.
"Tapi takutnya beda dari tryout pertama," lanjut Raka. "Dulu saya takut karena merasa tidak mungkin. Sekarang saya takut karena ada kemungkinan."
Ayu menatapnya. "Kemungkinan memang lebih menakutkan daripada gagal dari awal."
"Mbak Ayu pernah merasa begitu?"
Ayu memikirkan malam saat angka lima puluh miliar muncul di layar ponselnya, hari ketika ia menandatangani pembelian apartemen, saat ia melihat rumah gadang berubah menjadi restoran.
"Pernah," jawabnya. "Waktu sadar hidup saya bisa benar-benar berubah, saya juga takut."
"Lalu?"
"Saya pulang."
Raka menatapnya lama.
Tidak ada yang mereka katakan setelah itu, tapi diamnya tidak kosong.
Ponsel Ayu berbunyi memecah malam.
Dian.
`Yu, weekend ini aku dan Arif mau ke sana. Jangan bilang penuh. Aku harus inspeksi calon PNS dan calon... ya pokoknya aku datang.`
Ayu membaca pesan itu, lalu merasakan firasat kuat bahwa ketenangan tiga minggu ke depan baru saja mendapat gangguan baru.
Raka melirik wajahnya. "Ada apa?"
Ayu mengangkat ponsel.
"Dian mau datang."
Raka, yang belum tahu sepenuhnya kemampuan Dian dalam membuka rahasia orang, hanya berkata, "Oh. Bagus, kan?"
Ayu menatapnya dengan kasihan.
Raka mulai terlihat ragu.
"Kak Raka belum kenal Dian kalau bilang begitu."