NovelToon NovelToon
Kebangkitan Permaisuri Yang Terbuang

Kebangkitan Permaisuri Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Bluetherine

Shen Ran adalah definisi dari kesialan. Sebagai Permaisuri dari Kekaisaran Yan, ia memiliki segalanya di atas kertas, namun tidak di dunia nyata. Dikhianati oleh keluarga sendiri, diabaikan oleh Kaisar yang kejam, dan menjadi bahan tertawaan para selir di Istana Belakang. Puncaknya, ia dijebak dan dibiarkan membeku hingga tewas di Istana Dingin yang terpencil.

Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap. Saat mata itu terbuka kembali, tubuh rapuh Shen Ran telah diambil alih oleh Clara, seorang pengacara korporat jenius sekaligus ahli strategi perang bisnis dari abad ke-21. Clara tidak tahu apa itu tunduk, dalam kamus hidupnya tidak mengenal kata tunduk dan mengalah.

"Kalian menginginkan boneka yang bisa diinjak? Maaf, kalian salah membangunkan jiwa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Bluetherine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Duapuluh Sembilan

Pintu Aula Agung tertutup rapat, menyisakan gemuruh bisik-bisik ketakutan di antara pejabat istana yang tertinggal. Keberangkatan Long Tianqi secara terburu-buru meninggalkan kekosongan kekuasaan yang sangat mencolok di ibu kota, sebuah jurang dalam yang telah disiapkan Shen Ran sejak awal.

Perdana Menteri Chu dan para menteri faksi sayap kanan menyunggingkan senyum lega, meyakini bahwa mereka telah berhasil mengalihkan perhatian sang Kaisar dan menyelamatkan posisi mereka. Namun, napas lega itu terhenti seketika saat Shen Ran berbalik menghadap majelis. Senyum tipis yang tadi menghiasi wajah sang Permaisuri kini berganti menjadi tatapan dingin selaksa es, memancarkan aura dominasi mutlak yang membekukan seluruh isi ruangan.

"Perdana Menteri Chu, Anda mengira dengan memancing Kaisar keluar dari ibu kota, penataan ulang Istana Barat dan investigasi penyitaan aset akan terhenti?" suara Shen Ran mengalun tenang, namun gema pualam di Aula Agung membuatnya terdengar bagai vonis eksekusi.

Wajah tua Perdana Menteri Chu memucat seketika. "P-Permaisuri... Kaisar baru saja pergi untuk memimpin pasukan negara! Saat ini, stabilitas negara harus diutamakan, bukan perselisihan internal..."

"Stabilitas negara justru terancam oleh tikus-tikus istana yang menggerogoti kas kekaisaran saat prajurit kita kelaparan di perbatasan," potong Shen Ran tanpa memberi ampun. Keterampilan bertahun-tahun Clara dalam membedah ruang sidang di kehidupan sebelumnya berpadu sempurna dengan keanggunan seorang Permaisuri.

Ia mengangkat tangan kanan, memberi isyarat kepada Pengawal Bayangan klan Shen yang langsung mengepung seluruh pintu keluar Aula Agung. Senjata terpaut, berkilat dingin di bawah pancaran sinar matahari dari jendela tinggi.

"Mulai detik ini, atas nama stempel Permaisuri Kekaisaran Yan dan demi menjaga keamanan ibu kota selama ketidakhadiran Yang Mulia, ibu kota berada di bawah masa darurat. Seluruh pejabat faksi sayap kanan dilarang meninggalkan kediaman masing-masing. Aset Klan Chu dan seluruh kroninya resmi dibekukan untuk diaudit secara menyeluruh," tegas Shen Ran.

Pekikan histeris dan protes keras meletup seketika dari faksi sayap kanan, namun gertakan itu pupus oleh derap langkah pasukan penjaga istana yang kini sepenuhnya berada di bawah kendali perintah Shen Ran. Tanpa Kaisar yang paranoid untuk memanipulasi keadaan, para menteri itu tak ubahnya serangga tanpa pelindung.

Di sudut lain, Lian'er menunduk hormat dengan cepat. "Hamba akan segera mengirimkan merpati pembawa pesan tercepat ke perbatasan Selatan, Yang Mulia. Pangeran Sembilan akan menerima kabar ini sebelum pasukan Kaisar melintasi perbatasan provinsi tengah."

"Bagus," sahut Shen Ran sambil mengibaskan jubah Phoenix emasnya, melangkah perlahan menuju Takhta Naga yang kini kosong. Ia tidak duduk di atasnya, belum saatnya, namun ia berdiri tepat di samping takhta tersebut, memandang rendah ke arah para pejabat yang berlutut gemetar.

"Kaisar pergi mengejar ego, sementara kita akan membereskan rumah ini," bisik Shen Ran pada dirinya sendiri. Matanya menembus cakrawala luar istana, membayangkan Long Tianqi yang memacu kudanya menuju Selatan tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang diambilnya makin mendekatkannya pada kehancuran total.

Keheningan mencekam menyelimuti Aula Agung saat para pengawal kekaisaran menyeret Perdana Menteri Chu dan kroni-kroninya keluar dari ruangan. Teriakan frustrasi sang Perdana Menteri tua bergema pendek sebelum akhirnya lenyap di balik pintu gerbang utama yang berat.

Menteri-menteri yang tersisa, terutama dari faksi netral dan faksi sayap kiri, menunduk semakin dalam, tak satu pun berani menatap langsung mata Permaisuri. Shen Ran berbalik menghadap pejabat yang masih tersisa di aula. Tatapannya menembus barisan dengan ketajaman analitis seorang praktisi hukum berpengalaman.

"Menteri Keuangan," panggil Shen Ran datar.

Seorang pria paruh baya bertubuh agak kurus melangkah maju dengan lutut gemetar, lalu berlutut di atas pualam dingin. "H-Hamba hadir, Yang Mulia Permaisuri."

"Hitung seluruh aset yang disita dari kediaman Klan Chu dan Istana Barat hari ini. Alokasikan tujuh puluh persen langsung ke jalur logistik perbatasan Selatan melalui jalur perdagangan klan Shen, bukan melalui birokrasi istana yang lambat," perintah Shen Ran tanpa ragu.

"Sisa tiga puluh persen dimasukkan ke dalam kas cadangan ibu kota untuk menjaga stabilitas harga pangan. Jika ada selisih satu keping perak saja dari catatan audit, Lehermu yang akan menggantikannya."

"Hamba... hamba terlaksana dengan penuh kesetiaan!" jawab Menteri Keuangan bersujud penuh ketakutan sekaligus rasa lega karena nyawanya masih diampuni.

"Menteri Keadilan," lanjut Shen Ran. "Buka kembali seluruh dokumen perdagangan lima tahun terakhir terkait faksi sayap kanan. Siapkan dakwaan pengkhianatan dan penyalahgunaan wewenang negara. Saat Kaisar, atau siapapun yang memimpin nanti, kembali, pengadilan kekaisaran harus sudah siap."

Setelah membagikan instruksi yang terstruktur rapi dan efisien, Shen Ran mengibaskan jubah Phoenix emasnya dan melangkah keluar dari Aula Agung, diikuti oleh Lian'er dan Mei'er. Langkah kakinya terdengar mantap di sepanjang koridor Istana Dalam.

Di Jalur Perjalanan ke Perbatasan Selatan

Deretan panji-panji kekaisaran berkibar tertimpa angin kencang. Long Tianqi memacu kuda hitamnya dengan kalap, dikelilingi oleh ribuan pasukan elit Kekaisaran Yan. Dadanya membusung oleh rasa bangga yang dangkal. Dalam pikirannya, ia membayangkan momen ketika ia tiba di perbatasan, mengambil alih komando, dan memaksa Feng Muye berlutut di hadapannya di depan seluruh tentara.

Namun, ketakutan yang menggerogoti pikirannya tidak pernah benar-benar hilang. “Apakah aku terlihat lemah? Tidak! Aku adalah Kaisar!”

batinnya terus berseru, membakar semangat impulsif yang membawanya masuk makin dalam ke wilayah luar ibu kota. Ia tidak menyadari bahwa di balik bukit-bukit batu yang sejajar dengan jalur perjalanannya, bayangan-bayangan pengintai berpakaian serba hitam terus mengawasi pergerakan pasukannya. Setiap penghentian, setiap kecepatan laju, dan perkiraan waktu tiba sang Kaisar telah dicatat dan dikirimkan ke depan melalui burung elang pemangsa.

1
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mampir kak
Murni Dewita
seharusnya shen ran memiliki ruang dimensi thor
Emily
keren ceritamu thour
Fajar Fathur rizky
cepat bantai long tianqi
Fajar Fathur rizky
bikin shen ran sendiri yang membunuh long tianqi
Fajar Fathur rizky
tidak sabar long tianqi mati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!