NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10 Bidak Tersembunyi

"Waktu kita tinggal tiga hari."

Garuda masih berlutut ketika kalimat itu selesai bergema di ruang kerja.

Arjuna tidak terlihat panik. Justru karena itu, semua orang di ruangan ikut menahan napas lebih dalam. Ia mengambil arang kecil dan membagi peta menjadi empat bagian: gudang, jalur pasar, Pengadilan Kerajaan, dan Kadipaten Kertanegara.

"Kita tidak butuh tiga hari," katanya. "Kita butuh satu malam untuk membuat mereka percaya tiga hari itu masih milik mereka."

Adi mengangkat kepala. "Perintah Yang Mulia?"

"Pertama, jangan hentikan pembakaran catatan yang terlihat."

Wulan yang berdiri di belakang Anindya hampir bersuara, tetapi menahannya.

Arjuna melihat reaksi itu. "Catatan yang mereka bakar adalah catatan yang mereka rela korbankan. Buku asli tidak akan ada di dekat api."

Anindya menatap peta. "Mereka akan memindahkan buku asli saat mengira semua mata tertuju pada gudang yang terbakar."

"Benar."

Satu kata itu kini tidak lagi membuat Anindya terkejut. Ia mulai memahami cara Arjuna berpikir. Bukan mengejar orang yang berlari paling keras, melainkan menunggu orang yang membawa barang paling penting.

Arjuna menoleh pada Garuda. "Pasukan Garuda mengawasi tiga pintu gudang. Jangan menangkap siapa pun kecuali pembawa buku atau peti tersegel cap Kertanegara."

"Siap."

"Darmawan mengurus pasar. Aku ingin buruh gudang, kusir gerobak, dan penjaga pos yang pernah menerima uang perak diamankan sebelum subuh. Bukan ditahan secara resmi. Disembunyikan."

Adi mencatat cepat.

"Lalu Pengadilan Kerajaan?" tanya Anindya.

Arjuna menatapnya. "Di situlah aku membutuhkan bantuanmu."

Anindya tidak menyangka kalimat itu diarahkan padanya. "Hamba?"

"Raden Harsa adalah sepupumu. Ia bekerja di Pengadilan Kerajaan. Jika aku memanggilnya langsung, orang akan bertanya mengapa Pangeran Mahkota mendadak membutuhkan pejabat hukum. Jika kau mengirim pesan keluarga, itu wajar."

Anindya mengerti. Harsa tidak boleh datang sebagai pejabat yang dipanggil istana. Ia harus datang sebagai saudara yang mengunjungi Putri Mahkota baru.

"Apa yang harus hamba tulis?"

"Minta ia datang membawa salinan aturan penyitaan barang kerajaan yang memakai segel palsu. Jangan tulis kata Kertanegara."

"Baik."

Wulan segera menyiapkan kertas. Anindya duduk di meja kecil, menulis dengan tangan stabil. Tidak ada kata berlebihan. Hanya salam keluarga, alasan rindu, dan permintaan agar Harsa membawa bahan hukum karena ia ingin belajar aturan rumah tangga keraton. Alasan itu terdengar polos. Justru karena polos, ia aman.

Arjuna membaca pesan itu sekali, lalu mengangguk. "Sempurna."

Pujian itu singkat. Namun bagi Anindya, kata itu lebih lama tinggal di dada daripada yang seharusnya.

***

Menjelang malam, bidak-bidak mulai bergerak.

Di Pasar Sentosa, Darmawan menutup kedai rempah lebih awal. Orang-orang mengira ia sakit perut karena terlalu banyak minum wedang. Padahal di belakang kedai, tiga buruh gudang sudah duduk dengan wajah pucat, masing-masing diberi makanan hangat dan peringatan lembut.

"Makanlah," kata Darmawan sambil tersenyum. "Orang yang lapar mudah salah bicara. Aku ingin kalian bicara dengan benar."

Salah satu buruh gemetar. "Kami tidak tahu itu barang gelap."

"Tentu. Karena itu kalian masih makan, bukan tidur di sungai."

Di sisi lain Kota Raja, dua anggota Pasukan Garuda menyamar sebagai penjaga gerobak. Mereka melihat gudang selatan Kertanegara mulai mengeluarkan asap hitam dari cerobong belakang. Orang-orang di dalam berteriak seolah panik. Namun dari pintu kecil di samping, sebuah peti ramping justru dipindahkan ke gerobak sayur.

Tidak ada yang menghentikan gerobak itu.

Mereka hanya mengikuti.

Sementara itu, Raden Harsa tiba di Puri Timur menjelang petang dengan pakaian sederhana dan senyum saudara yang lama tidak bertemu.

"Gusti Putri," katanya sambil memberi hormat pada Anindya, "Eyang Jaya mengirim pesan agar kau tidak terlalu kurus di Puri Timur."

Anindya hampir tertawa. "Eyang selalu mengirim pesan seperti itu."

Arjuna yang berdiri di sampingnya menunduk sopan. "Raden Harsa."

Harsa segera memberi hormat lebih dalam. "Yang Mulia Pangeran Mahkota."

"Di sini kau datang sebagai keluarga Putri Mahkota. Tidak perlu terlalu kaku."

Harsa mengangkat mata sekilas. Ia cukup cerdas untuk menangkap bahwa kalimat itu bukan basa-basi. Pangeran Mahkota sedang membuka pintu, tetapi juga menutup telinga orang luar.

Mereka masuk ke ruang kecil di samping perpustakaan. Begitu pintu tertutup, Harsa mengeluarkan gulungan dari lengan bajunya.

"Aturan penyitaan barang kerajaan yang memakai segel palsu," katanya. "Jika barang membawa benang Badan Upacara tetapi tidak tercatat di daftar resmi, Pengadilan Kerajaan berhak menahan barang dan memeriksa pemilik segel."

"Tanpa titah raja?" tanya Arjuna.

"Jika barang mengatasnamakan upacara kerajaan, cukup perintah Pangeran Mahkota sebagai penanggung jawab keamanan Puri Timur dan saksi dari Pengadilan."

Adi mengembuskan napas lega.

Harsa menatap Anindya. "Kau benar-benar baru menikah beberapa hari, tapi sudah meminta aturan penyitaan?"

Anindya menjawab datar, "Aku belajar cepat."

Harsa menahan senyum. "Itu baru sepupuku."

Arjuna memperhatikan interaksi itu. Ada kehangatan keluarga yang lama hilang dari hidupnya. Ia juga melihat bagaimana Anindya sedikit lebih rileks di hadapan orang yang ia percaya. Catatan kecil itu ia simpan dalam hati.

Pintu diketuk tiga kali. Adi membuka, lalu Garuda masuk dengan langkah cepat.

"Gerobak sayur bergerak ke arah Kadipaten Kertanegara, lalu berbelok ke rumah kosong milik seorang bendahara kecil. Peti dipindahkan ke ruang bawah tanah. Orang kami melihat cap burung hitam."

Harsa langsung serius. "Jika peti masih di sana saat aku datang sebagai saksi Pengadilan, mereka tidak bisa menyangkal."

"Mereka akan menyangkal," kata Arjuna. "Tapi mereka tidak akan punya waktu menyusun cerita."

Ia menunjuk peta. "Harsa masuk dari pintu depan sebagai tamu keluarga. Garuda menutup pintu belakang. Darmawan mengamankan saksi pasar. Adi menyiapkan kereta Puri Timur. Anindya tetap di Puri Timur."

Anindya menatapnya.

Arjuna tahu tatapan itu. Ia menambahkan sebelum ia bertanya, "Bukan karena aku meragukanmu. Malam ini belum waktunya kau terlihat di bagian gelapnya."

Anindya menahan napas. Aneh, kalimat itu justru lebih mudah ia terima daripada larangan kosong.

"Baik," katanya. "Tapi hamba ingin membaca peti itu begitu tiba."

"Kau akan membacanya sebelum aku."

Kali ini Harsa benar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Namun ia tidak berkomentar.

Malam turun sepenuhnya. Di halaman Puri Timur, beberapa kereta tanpa lambang sudah siap. Para abdi dalem yang dipilih Adi bergerak cepat, tidak bertanya. Dari Pasar Sentosa, kabar datang bahwa saksi-saksi sudah aman. Dari gudang, mata-mata memberi tanda bahwa api yang dibakar Kertanegara hanya memakan kertas palsu.

Arjuna berdiri di depan peta. Satu per satu titik yang tadi ia buat mulai tertutup tanda hitam.

Garuda berlutut dengan satu tangan di dada.

"Yang Mulia," katanya, suaranya rendah dan mantap, "semua bidak sudah berada di tempatnya. Kami hanya menunggu satu perintah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!