Kebahagiaan yang belum lengkap akan membuat hidup terlihat hampa. Rasa cinta yang tumbuh akan membuat kehampaan ini sirna tak tersisa.
Salva yang awalnya merasa begitu hancur karena gagal dalam kisah percintaan, siapa sangka datang seorang dokter cinta untuk mengobati goresan luka dihatinya.
Akankah mereka bahagia dalam jalinan asmara dalam ikatan halal itu?
Mampukah Arya menutupi goresan luka dihati Salva?
IKUTI KISAH MEREKA!
Kisah ini sambung dari cerita, Goresan hati yang terluka. Sebelum membaca kisah ini lebih baik saudara semua baca dulu GHYT.
Terimakasih, dan jangan lupa follow me
Ig:@ara putri 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ara putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan masih panjang
Kabar kehamilan Salva tidak hanya disambut bahagia keluarga di Jakarta. Di Bandung pun ibu dan ayah Arya merasa senang mendengar sebentar lagi akan menjadi seorang nenek, lagi.
Ibu mertua Salva sebenarnya ingin membawa kembali menantunya, ia ingin ikut adil merawat Salva dan calon cucunya dengan tangannya sendiri. Tapi tentu saja ide ibu Mala langsung ditolak Arya, pria itu juga ingin istri dan anaknya selalu disisinya. Lagi pula Arya akan kembali ke apartemen mereka, ia tidak ingin menyusahkan ibu mertuanya, karena ia ingin merawatnya istrinya sendiri.
Masa tugas Arya juga akan berakhir satu bulan lagi, setelah itu ia bisa kembali ke Bandung seperti permintaan keluarganya. Mendengar itu Ibu mala terdengar sangat bahagia, wanita tua itu tidak sabar menunggu hari itu akan datang.
"Mas?" Panggil Salva saat terbangun dari tidurnya.
Salva melihat jam di dinding, terlihat hari sudah jam dua pagi. Entah mengapa ia terjaga dan sangat menginginkan sesuatu. Saat ini mereka sudah kembali ke apartemennya, meskipun bunda melarangnya tetap saja mereka kembali, mereka merasa lebih baik jika berada dirumah sendiri, terasa lebih nyaman untuk melakukan apapun.
Salva kembali mengganggu tidur suaminya yang terlihat begitu nyenyak
"Mas... Ayo bangun," Rengek Salva sambil mengucang tubuh Arya.
Arya yang merasa terganggu dengan berat hati ia ikut bangun, ia menatap istrinya dengan bingung. "Ada apa, Dek? Kok bangun jam segini?"
"Entahlah... Aku merasa lapar, dan sangat ingin makan sesuatu."
Arya mengerti ini pasti hormon kehamilan istrinya, jadi dengan sigap pria itu mengangguk. "Katakan... Istriku ini ingin makan apa?"
"Aku hanya ingin bubur ayam," Pinta Salva. "Aku ingin mas Arya saja yang memasaknya,"
Arya menganguk setuju, mungkin itu lebih mudah untuk ia lakukan dari pada disuruh mencari yang jual malam seperti ini.
Salva ikut kedapur dengan penuh semangat. Malam itu mereka lalui dengan banyak tingkah aneh dari bumil itu. Tidak hanya satu permintaan ia bahkan tidak membiarkan suaminya tidur lagi sampai pagi tiba.
******
Pagi-pagi sekali Nana sudah disibukkan dengan kegiatan kuliahnya, pagi ini ia kembali akan menemui dosen bimbingan untuk skripsi yang belum juga lolos.
"Bun, Ayah... Nana pergi ya!" teriak gadis itu sambil berlari keluar dari kamar.
"Kok pagi banget Na?" tanya ayah bingung.
"Gak tau yah, tuh dosen cuma punya waktu sekarang katanya, setelah ini sang dosen ada waktu seminar." Ucap Nana sambil terburu-buru memakan sarapannya, tak lupa sebelum pergi ia mencium tangan kedua orang tuanya.
Gadis itu dengan semangat memacu motornya menuju kampus, ini hari terakhir untuk ia mengumpulkan skripsinya setelah ini ia tinggal menunggu untuk wisuda.
Tak terasa akhirnya motor yang dikendarainya sampai didepan kampus, setelah memarkirkan motornya ia melangkah masuk kedalam kampus yang masih terlihat sepi, hanya ada beberapa orang yang memiliki urusan yang sama sepertinya yang datang.
Setelah mengetuk pintu raungan, Nana masuk langsung disambut dengan wajah killer sang dosen tua.
"Assalamualaikum, pak. Pagi ..." Sapa Nana agak kikuk, padahal ia tidak terlambat tapi kenapa sang dosen terlihat galak?
"Waalaikum salam... Ayo cepat serahkan skripsi mu, saya tidak punya banyak waktu, masih banyak siswi yang lain," Ucap dosen galak.
Dengan cepat gadis itu memberikan skripsi untuk sang dosen pembimbing. Jantung gadis itu sudah benar-benar ketar ketir, hanya takut untuk kali ini tidak lolos lagi. Mungkin dia akan memilih nikah saja, dia tidak akan sanggup mengulang lagi. Tapi kalau nikah dengan siapa?
Nana mengutuk dirinya sendiri, bisa-bisanya ia masih berpikir jodoh disaat genting seperti ini. Ia melihat dosen yang sudah keriput itu membolak-balik kertas yang disebut Hasil skripsinya beberapa bulan ini.
Waktu berlalu terasa begitu lambat bagi Nana. Setelah satu jam berlalu gadis itu keluar dari ruangan itu dengan senyum bahagianya, dari senyuman itu semua orang pasti akan tau hasil dari usahanya selama ini.
Terimakasih ya Allah, kau sudah mempermudahkan ku dalam perjuangan itu. Ucap Nana penuh haru. Akhirnya harapannya terkabulkan untuk lulus di tahun ini.
Meskipun tugasnya belum selesai, masih banyak yang harus dilakukan seperti melakukan revisi dan bertemu dengan dosen pembimbing dan dosen penguji. Ya Allah... ternyata perjalanannya masih sangat panjang, ia belum bisa berbahagia dulu karena perjuangannya akan berlanjut sampai waktu wisuda akan datang.
Kau harus semangat Nana... Kamu tidak boleh lemah, Allah akan selalu bersamamu. Ucap gadis itu untuk menyemangati dirinya sendiri.
*****
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak 😘😘