NovelToon NovelToon
Takdir Kejam Sang Duda

Takdir Kejam Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Giarty gia

"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."

Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.

Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.

kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.

Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Kehangatan yang Tersembunyi.

***

Suara lengkingan bel panjang sebanyak tiga kali bergema nyaring, memutus seluruh rangkaian kegiatan belajar-mengajar di SMA Pelita Bangsa sore itu. 

Dalam hitungan menit, kompleks sekolah yang tadinya fokus langsung berubah riuh oleh derap langkah para murid yang berhamburan menuju gerbang keluar.

Rendy berjalan mendekati meja Freya sembari menggendong tas ranselnya di satu bahu. "Frey, aku balik duluan ya. Ada latihan futsal di luar sekolah sore ini. Kamu langsung pulang, jangan kelayapan". Ucap Rendy lembut, memberikan senyuman hangat dengan lesung pipitnya yang khas.

"Iya, Ren. Hati-hati di jalan ya". Balas Freya mengulum senyum tulus. 

Setelah Rendy melesat pergi dengan motor sport merahnya, Freya dan Sella berjalan beriringan menuju area lobi depan dekat pos satpam. Sebuah mobil sedan putih mewah tampak sudah berhenti di area drop-off.

"Frey, supir Gue udah jemput tuh". Seru Sella, menunjuk mobilnya dengan dagu. "Yuk, ikut bareng Gue aja. Kita mampir beli camilan dulu di mall depan."

Namun, belum sempat Freya membuka mulut untuk menjawab ajakan sahabatnya, ponsel pintar di dalam saku rok abu-abunya mendadak bergetar konstan. Sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar. 

Nama kontaknya sengaja Freya kasih nama 'Singa Galak'.

['Keluar ke gerbang depan sekarang. Saya sudah di jalan menjemputmu. Jangan membuat saya menunggu.']

Freya menghembuskan napas panjang dengan pasrah, jiwanya merutuk kaku. "Aduh, Sell, kayaknya gue gak bisa ikut. Kak Galen udah otw jemput gue."

Sella mengerucutkan bibirnya kecewa, namun tetap mengangguk paham. "Yah, udah di jemput Kaka Lo ya?  Ya udah, Gue duluan ya, Frey. Hati-hati!"

"Iya, Sell. Sampai ketemu besok!".

Setelah mobil Sella bergerak menjauh meninggalkan pekarangan, Freya memilih untuk duduk di atas bangku taman beton di dekat koridor luar lobi. 

Suasana sekolah perlahan-lahan mulai berangsur sepi. Sebagian besar guru, staf, dan murid lainnya sudah pulang ke rumah masing-masing, menyisakan embusan angin sore yang mulai terasa sejuk.

Namun, ketenangan semu Freya tidak bertahan lama, tiba-tiba….

BYUUUR!

Sebuah hantaman cairan dingin berwarna cokelat  dari minuman es kopi susu mendadak mendarat di atas bahu dan bagian depan seragam putih Freya. Cairan lengket itu merembes cepat, mengotori kain seragamnya hingga mencetak noda besar yang menjijikkan.

"Ups! Sorry, sengaja". Sebuah kekehan sinis dan bernada mengejek terdengar dari arah samping.

Freya tersentak kaget. Ia langsung berdiri tegak dari duduknya dengan tubuh yang gemetar hebat menahan pasokan syok. Begitu ia menoleh, sepasang mata bulat indahnya mendapati sosok Raisa—musuh bebuyutannya yang tadi siang menguncinya di toilet—sedang berdiri bersama tiga orang gadis anggota gengnya sembari memegang gelas plastik yang sudah kosong.

"Raisa! Apa-apaan kalian, hah?!". Sentak Freya, sepasang matanya berkilat memancarkan amarah yang teramat pekat.

Freya tahu persis, tindakan tadi siang dan siraman sore ini murni karena Raisa sengaja ingin merundungnya. Selama ini Freya selalu diam dan memilih positive thinking, namun sore ini, di bawah siraman air lengket ini, sisa kesabaran keras kepalanya pecah total.

"Kenapa? Marah?". Tantang Raisa melangkah maju satu tapak, melipat kedua tangannya di depan dada dengan pandangan meremehkan. "Gue cuma mau kasih pelajaran buat siswi caper kayak Lo, Freya. Sok kecantikan dan kecentilan banget sih jadi cewek! Menjijikkan tahu gak!".

"Gue gak pernah mengusik hidup Lo, Raisa! Pikiran Lo aja yang terlampau picik dan iri melihat keberhasilanku!". Balas Freya lantang, menolak mundur satu senti pun menghadapi geng pembully di hadapannya.

"Heh, berani Lo menjawab ya!". Pekik salah satu teman Raisa, mencoba mendorong bahu Freya.

Terjadilah peristiwa berantem dan adu suara yang luar biasa sengit di sudut koridor yang sepi itu. 

Freya tidak ingin terlihat sebagai gadis rapuh yang bisa diinjak-injak. Ketika Raisa mencoba menarik rambutnya, Freya dengan gerakan kilat membalas mencengkeram rambut Raisa, menariknya kuat-kuat hingga mereka berdua saling dorong dan berteriak histeris menumpahkan makian bersahut-sahutan.

Bruk! Srak!

Setelah beberapa menit baku hantam yang menguras tenaga, mereka akhirnya terpisah dengan napas yang memburu pendek. 

Keadaan Freya terlihat begitu berantakan; seragam sekolahnya basah kuyup oleh es kopi susu dan rambut hitam indahnya sedikit kusut. Namun, kondisi Raisa jauh lebih mengenaskan. Rambut badai milik Raisa sudah acak-acak tidak berbentuk akibat tarikan brutal jemari Freya tadi.

"Sungguh sial sekali nasibku hari ini... mimpi apa aku semalam". Rutuk Freya di dalam batinnya, meraba seragamnya yang lengket dan basah.

Namun, Freya tidak ingin keluar sebagai pihak yang kalah sore ini. Matanya mendadak menangkap segelas es cokelat penuh yang sedang dipegang oleh salah satu teman geng Raisa yang sedang bengong ketakutan. 

Tanpa memberikan aba-aba, Freya bergerak nekat. Ia merebut paksa minuman tersebut dari tangan gadis itu, lalu dengan satu ayunan mantap...

BYUUUR!

"Ahhhh! Freya berengs3k!". Jerit Raisa histeris saat cairan cokelat pekat kini berganti mengalir deras membasahi seluruh wajah dan seragam OSIS ketat miliknya hingga basah kuyup.

Tepat saat geng Raisa hendak merangsek maju untuk membalas dendam, sebuah klakson mobil Mercedes-Benz hitam yang teramat akrab di telinga Freya berbunyi nyaring di depan gerbang utama.

Tiinnnnn tiiiinnn

Melihat mobil Galen sudah bersiap di depan gerbang dengan kaca film gelap yang mengintimidasi, Freya tidak ingin memperpanjang drama remajanya. Sembari menggendong tasnya erat-erat, Freya langsung kabur melarikan diri, berlari kencang meninggalkan Raisa yang masih menjerit-jerit histeris di belakang sana.

Freya membuka pintu penumpang bagian depan mobil Mercedes-Benz hitam itu dengan sentakan kasar, langsung merosot masuk ke dalam kursi kulit mewah kabin depan, lalu membanting pintu di belakangnya dengan keras.

Brak.

Galen Danendra yang sedang duduk di balik kemudi secara refleks menoleh. Saat sepasang mata elangnya menangkap kondisi Freya dari atas ke bawah, tubuh tegap sang duda berumur dua puluh sembilan tahun itu seketika tersentak kaget. Alis tebalnya menukik tajam, tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

"Apa yang terjadi dengan tampilan sampahmu ini, Freya?!". Bentak Galen, suaranya yang bariton rendah langsung bergaung dingin memotong keheningan kabin mobil yang kedap suara.

Freya yang emosinya masih membumbung tinggi akibat tindakan Raisa tadi, langsung menolehkan wajahnya dengan kilat amarah yang membara. 

"Bukan urusan Kak Galen! Jalankan saja mobilnya!".

Mendengar sahutan pembangkangan dari mulut manis Freya, rahang tegas Galen mengetat begitu rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang. Ia menginjak pedal gas dengan sentakan kasar, membawa mobil mewahnya melesat membelah jalanan sore yang basah.

"Kau berkelahi seperti binatang jalanan di sekolah, lalu berani membentak saya di dalam mobil saya sendiri, hm?". Desis Galen, suaranya merendah menjadi bisikan yang teramat kejam dan dipenuhi intimidasi yang menusuk tulang. "Kau benar-benar tidak tahu malu, Freya Anindita. Seragam basah kuyup, rambut acak-acakan... Kau sengaja bertingkah menjijikkan seperti ini agar mendapatkan perhatian lebih dari cowok-cowok di sekolahmu, begitu?".

"Aku bilang diam, Kak Galen! Aku tidak sedang ingin berdebat!". Teriak Freya frustrasi, menenggelamkan wajah kacau dan basahnya di antara kedua telapak tangannya.

Sialnya, pendingin ruangan (AC) di dalam mobil mewah Galen dirancang dengan teknologi dual-zone yang sore ini suhunya terpasang sangat dingin.

Sementara Freya, tadi pagi karena terburu-buru dan kesal, ia lupa tidak membawa jaket atau hoodie andalannya. Seragam putih-abu-abunya yang basah kuyup akibat siraman kopi kini melekat ketat di kulitnya, menyerap hawa dingin AC dengan sangat cepat.

Hanya dalam waktu lima menit perjalanan, tubuh Freya mulai bergetar hebat. Kedua lengan mungilnya bergerak memeluk dadanya sendiri, bibir ranumnya memucat, dan giginya mulai gemertak menahan dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Galen yang sejak tadi mempertahankan wajah datarnya, sesekali melirik dari balik sudut matanya. Melihat bagaimana tubuh kecil Freya meringkuk kaku, bergetar hebat menahan dingin dengan wajah yang teramat malang di sampingnya, ada sejenis gejolak asing—rasa tidak tega dan insting protektif dewasanya yang liar mendadak merayap naik merusak sisa dendamnya.

Galen menggeram dalam hati pada dirinya sendiri, merutuki kelemahan hatinya yang terusik hanya karena melihat gadis di sampingnya menderita kedinginan.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan tanpa mengalihkan pandangan matanya dari jalanan di depan, tangan kiri Galen bergerak menjangkau ke arah kursi penumpang bagian belakang. Dengan satu gerakan kaku dan kasar, Galen meraih jas kerja hitam mahalnya yang tersampir di sana, lalu langsung melempar jas tersebut ke arah tubuh Freya.

PLAK.

Jas kain premium yang tebal dan masih mengalirkan sisa kehangatan tubuh maskulin Galen itu mendarat dengan telak membungkus tubuh bergetar Freya. Aroma parfum mahal miliknya seketika mengepung seluruh indra penciuman Freya dari balik kain jas tersebut.

"Pakai itu dan tutup tubuh menjijikkanmu itu!". Desis Galen, kalimat pedas yang keluar dari mulutnya terdengar sangat kaku dan tanpa belas kasihan. "Saya tidak sudi jok kulit mobil mewah saya ternoda oleh air kopi kotor dari seragammu. Dan jangan pernah berpikir saya peduli padamu, Freya. Saya hanya tidak mau Mama mengamuk pada saya jika melihat parasitnya pulang ke rumah dalam keadaan sakit."

Freya tertegun sesaat di balik bungkusan jas tebal tersebut. Meskipun mulut pria di sampingnya tetap melontarkan racun yang menyakitkan hati, rasa hangat dari jas milik Galen perlahan mulai menjalar mengikis hawa dingin di tubuhnya. 

Freya meremas kerah jas hitam itu erat-erat didepan dadanya, memalingkan wajahnya lurus ke arah jendela kaca luar dengan sisa kejengkelannya yang membisu, menyadari betapa rumit dan tak terduganya takdir kejam yang mengikat napasnya bersama sang duda posesif tersebut.

***

1
Alissia
gengsi amat bang kalau bilang suka🤭🤭
Giarty gia: duda satu ini pokoknya gengsi nya yang di gedein. 😄
total 1 replies
Giarty gia
hai... jangan lupa tinggalkan jejak ulasan dan bintang 🌟 nya ya guyss di kolom ulasan. supaya saya juga semangat update bab setiap hari. karena bab selanjutnya akan banyak kejutan. happy reading 🥰
Alissia
awas lo galen,jangan gengsi di gedein ayo nyatain pereasan dong 🤭🤭
Alissia
udah jatuh cinta sama freya tapi gengsi setinggi langit dan keras kepala 🤭🤭🤭
Giarty gia: Ahahaha ketahuan banget ya gengsinya setinggi langit! Freya deket sama Rendy udah ketar-ketir tuh si duda, cuma gengsi aja gak mau ngaku. Siap-siap liat si duda makin tersiksa sama perasaannya sendiri ya! 🤣 Dudanya lagi mode denial maksimal
total 1 replies
Giarty gia
Terima kasih banyak ya, teman-teman, sudah membaca kisah ini! Kalau cerita ini berhasil menghibur atau menyentuh hati kalian, yuk dukung author dengan memberikan ulasan terbaik dan rating bintang 5. Setiap dukungan dari teman-teman adalah energi luar biasa bagi saya untuk terus berkarya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!