NovelToon NovelToon
Cemara Juga Punya Luka

Cemara Juga Punya Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Teen / Balas Dendam
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Sifanursiami

Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

babak baru

Alarm kecil di samping tempat tidur bergetar pelan, menunjukkan pukul 02.45 dini hari. Di luar jendela, langit masih sepenuhnya diselimuti pekatnya malam. Bahkan semburat tipis pertanda fajar pun belum tampak. Dunia masih terlelap, tetapi Haseena sudah membuka matanya.

Sejak Ibu pergi dan Kak Husna tak pernah kembali, pagi menjadi miliknya seorang.

Ia duduk beberapa saat di tepi ranjang, menghela napas panjang sebelum melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Air wudu yang dingin menyentuh kulitnya, menyadarkan tubuh yang sebenarnya masih meminta istirahat.

Usai menunaikan salat malam dan Subuh, Haseena tidak kembali ke kamar.

Hari-harinya kini selalu dimulai dengan rutinitas yang sama.

Menyapu ruang tamu.

Mengepel lantai.

Mencuci piring yang semalam belum sempat dibersihkan.

Menyiram tanaman yang mulai layu.

Kemudian bergegas menuju dapur.

Suara minyak yang mulai mendesis memecah sunyi rumah. Aroma bawang putih dan bawang merah perlahan memenuhi ruangan.

Dulu...

Semua itu dilakukan oleh Ibu.

Sesekali Kak Husna ikut membantu sambil mengeluh karena aroma bawang membuat matanya perih. Kini, suara itu tinggal menjadi kenangan yang sesekali datang tanpa permisi.

Tanpa sadar, Haseena sedang mengambil alih hampir seluruh peran yang pernah dijalankan dua perempuan paling penting dalam hidupnya.

Bukan karena ia ingin.

Melainkan karena memang tidak ada lagi yang bisa menggantikannya.

---

Setelah memastikan masakan hampir matang, Haseena membawa langkahnya menuju kamar sang Abah.

Pintu kayu itu diketuk pelan.

"Bah..."

Tak ada jawaban.

Haseena membuka pintu perlahan.

"Assalamu'alaikum..."

Rayyan masih duduk di atas sajadahnya. Kedua tangan bertumpu di atas paha, sementara tatapannya kosong mengarah ke jendela yang masih gelap.

Seolah tubuhnya berada di kamar...

Namun pikirannya entah sedang berjalan ke mana.

"Wa'alaikumsalam..." jawab Rayyan lirih.

Haseena menghampiri.

"Abah belum tidur lagi?"

Rayyan hanya tersenyum tipis.

Senyum yang lebih mirip usaha menyembunyikan sesuatu.

"Abah cuma lagi kepikiran."

Haseena memperhatikan wajah ayahnya lebih saksama.

Kulitnya tampak pucat.

Mata yang biasanya teduh kini terlihat sembap.

Bahkan napasnya terdengar lebih berat daripada biasanya.

"Abah sakit?"

Rayyan menggeleng pelan.

"Cuma masuk angin."

Namun Haseena tahu...

Jawaban itu bohong.

Sejak kepergian Ibu, Abah memang lebih sering diam. Ia masih menjalankan salat seperti biasa, masih mengaji, masih tersenyum di depan Haseena.

Tetapi...

Tatapannya tak pernah benar-benar kembali.

Seolah sebagian jiwanya ikut hilang bersama seseorang yang tak pernah pulang.

"Abah istirahat dulu ya."

"Nanti Haseena ambilin obat sama sarapan."

Rayyan mengangguk kecil.

"Makasih, Nak."

---

Tak lama kemudian Haseena kembali ke dapur.

Ia menuangkan bubur hangat ke dalam mangkuk, mengambil segelas air putih, lalu mencari obat yang biasa diminum Abah.

Semua ia lakukan hampir tanpa berpikir.

Tangannya sudah hafal.

Namun...

Saat hendak mengambil sendok, ia mendadak terdiam.

Pandangannya kosong beberapa detik.

Lalu tersenyum pahit.

"Aku capek ya..."

bisiknya lirih.

Hanya sebentar.

Beberapa detik kemudian Haseena kembali bergerak seperti tidak terjadi apa-apa.

Ia sudah terlalu terbiasa menyembunyikan lelahnya.

---

"Bah..."

Haseena kembali masuk ke kamar sambil membawa nampan.

"Ini makan dulu ya."

Rayyan berusaha bangkit.

"Oh iya..."

"Hari ini kan acara perpisahan Zafran."

"Abah siap-siap dulu."

Belum sempat berdiri, Haseena buru-buru menahan lengannya.

"Jangan dulu, Bah."

"Abah istirahat aja."

"Lagian... Abang juga belum pulang dari semalam."

Rayyan mengernyit.

"Belum pulang?"

"Iya."

"Teleponnya juga nggak diangkat."

Wajah Rayyan berubah.

"Bener-bener tuh anak..."

Ada nada kesal.

Namun lebih banyak rasa khawatir yang ia sembunyikan.

Haseena hanya mengangguk pelan.

Dalam hati, ia juga mulai bertanya-tanya.

Ke mana sebenarnya Zafran pergi?

Sudah beberapa hari terakhir, ia sering menghilang tanpa kabar.

Dan setiap kali pulang...

Tatapannya terasa semakin asing.

Seolah lelaki yang tinggal satu rumah dengannya itu perlahan berubah menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!