Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angka-Angka yang Berbicara
Informasi yang diberikan Broto datang bertahap, sedikit demi sedikit, sesuai kesepakatan yang kami buat—ia tidak sepenuhnya percaya pada kami, sama seperti kami tidak sepenuhnya percaya padanya. Setiap potongan info yang ia berikan, kami verifikasi dulu lewat jalur lain sebelum menganggapnya valid.
Sari menjadi orang yang paling sibuk selama masa ini, menyusun setiap nama, angka, dan tanggal yang diberikan Broto ke dalam catatan yang semakin lama semakin tebal, dibantu sesekali oleh Mira yang menggunakan keahlian jurnalistiknya untuk memverifikasi informasi lewat catatan publik yang bisa diakses.
"Ini lebih besar dari yang kita kira, Rangga," kata Sari suatu malam, menunjukkan diagram sederhana yang ia buat di atas kertas—kotak-kotak yang saling terhubung dengan garis, menggambarkan aliran uang dari setoran pedagang kecil di Karang Wetan, naik ke Broto, lalu ke Baskoro, dan dari sana bercabang ke beberapa arah yang mengejutkan.
---
"Lihat ini," lanjut Sari, menunjuk salah satu kotak yang berada di bagian atas diagramnya. "Sebagian uang dari proyek revitalisasi ini nggak cuma masuk ke kantong Hardian atau keluarganya. Ada aliran yang mengarah ke seseorang di tingkat provinsi—kemungkinan buat 'melancarkan' izin-izin yang harusnya butuh persetujuan lebih tinggi."
Aku menatap diagram itu lama, merasakan beban baru yang jauh lebih besar dari yang kubayangkan sebelumnya. "Berarti ini bukan cuma soal satu bupati korup di satu kota."
"Bukan," jawab Sari, wajahnya serius. "Ini kayak jaringan yang lebih luas. Broto bilang, dia denger dari salah satu rekannya yang lebih senior, kalau pola kayak gini—proyek 'revitalisasi' yang sebenarnya cuma kedok buat rampas tanah rakyat kecil dengan kompensasi murah—udah terjadi juga di beberapa kota lain."
Kata-kata itu membuatku terdiam lama. Selama ini aku fokus pada pertarungan kami melawan Broto, Baskoro, dan Hardian sebagai kejahatan yang spesifik terjadi di Karang Wetan. Tapi kalau benar ini bagian dari pola yang lebih luas, artinya musuh kami jauh lebih besar daripada yang pernah kami bayangkan, dan pertarungan ini mungkin tidak akan pernah benar-benar selesai hanya dengan menjatuhkan satu bupati di satu kota.
---
Malam itu, aku mengumpulkan Yanto, Ujang, dan Sari untuk mendiskusikan implikasi dari temuan ini.
"Kalau ini beneran sebesar itu," kata Yanto, mengusap wajahnya yang lelah, "kita harus mikir ulang strateginya. Kita nggak bisa cuma fokus jatuhin Hardian sama Baskoro doang. Kalau ada yang lebih tinggi lagi di belakang mereka, mereka bisa aja diganti sama orang baru yang main pola yang sama."
Aku mengangguk, mencoba berpikir jernih di tengah beratnya informasi baru ini. "Tapi kita juga nggak bisa langsung nyerang semuanya sekaligus. Kita harus fokus dulu, selesaiin apa yang ada di depan mata—Hardian, Baskoro, proyek ini. Baru setelah itu, kita pikirin gimana caranya nyambungin ini ke pola yang lebih besar, mungkin lewat Mira dan jaringan wartawan yang lebih luas di kota-kota lain."
Ujang, yang selama ini lebih banyak diam mendengarkan, akhirnya bicara. "Bang, kalau ini emang sebesar itu, kita nggak akan bisa lawan sendirian selamanya. Mungkin ini saatnya kita mikirin, gimana caranya Lentera bisa nyambung sama kelompok-kelompok lain di kota lain yang mungkin ngalamin hal yang sama."
---
Ide itu terasa begitu besar hingga sejenak membuatku merasa kewalahan. Selama ini, aku sudah menganggap perjalanan dari menjaga satu gang menjadi jaringan empat kawasan sebagai pencapaian besar. Tapi memikirkan kemungkinan menghubungkan diri dengan gerakan serupa di kota-kota lain, terasa seperti melangkah ke dunia yang jauh lebih luas daripada yang pernah kubayangkan waktu masih jadi anak tukang sol sepatu di Karang Wetan.
"Satu langkah dulu," kataku akhirnya, mencoba menenangkan diriku sendiri sekaligus yang lain. "Kita selesain dulu apa yang di depan mata. Kita kumpulin bukti yang cukup kuat soal Hardian dan Baskoro, kita pastiin semua ini sampai ke tangan yang bisa memprosesnya secara hukum, atau minimal ke publik dengan cara yang nggak bisa mereka bantah atau tutup-tutupi lagi."
Sari mengangguk, menutup catatannya untuk malam itu. "Broto bilang, dia masih punya beberapa dokumen fisik yang bisa jadi bukti kuat—salinan catatan setoran yang katanya disimpan sebagai 'asuransi' kalau-kalau dia sendiri dikhianati suatu saat. Dia belum mau kasih semuanya sekarang, tapi katanya dia bakal kasih kalau kita bisa jamin keselamatan dia."
Aku menghela napas panjang, menyadari betapa rumit dan berbahayanya jalan yang masih harus kami tempuh. Tapi di tengah semua kerumitan itu, ada satu hal yang membuatku tetap merasa yakin melangkah maju: untuk pertama kalinya, kami tidak lagi hanya bertahan dari serangan mereka. Kami mulai punya alat untuk benar-benar menyerang balik, dengan bukti, bukan cuma dengan keberanian semata.
---
*(Bersambung ke Bab 30)*