NovelToon NovelToon
Can I Stay? | By Shea

Can I Stay? | By Shea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cintapertama / Ketos
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Shea Alicia

Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.

Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.

Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

"Wajah kamu kenapa ditekuk gitu? Kamu ada masalah?" tanya cewek rambut coklat yang terurai itu dengan suara lembutnya.

Alvin menggeleng, menatap cewek itu seolah tidak ada objek lain yang menarik untuk ditatap selama ini, membuat cewek bernama Nara Erlinda itu salah tingkah.

"Kamu kenapa sih ngelihatinnya gitu banget? Penampilan aku hari ini aneh, ya?"

Raut wajah cewek yang akrab disapa Nara itu berubah lesu, ia sudah berusaha berpenampilan sebaik mungkin agar Alvin tidak malu saat jalan dengannya. Nara memang tidak berasal dari kalangan berada seperti Alvin, ia sering minder saat jalan dengan cowok yang sudah menjadi pacarnya selama tiga bulan itu.

"Jangan bilang gitu lagi, Ra, kamu cantik," ujar Alvin, lalu menoleh ke arah jendela kaca kafe ini.

Ia tidak sanggup melihat senyum manis yang kini muncul di bibir ranum Nara, padahal senyum itu adalah favoritnya. Alvin hanya takut, suatu saat ia akan membuat senyum itu hilang dan berganti dengan kesedihan. Alvin takut membuat cewek itu terluka.

"Alvin, kalau kamu ada masalah, cerita sama aku, ya? Jangan diem aja, aku jadi bingung," ujar Nara, membuat Alvin kembali menatap cewek itu. "Aku tau kamu nggak suka bahas masalah kamu sama orang lain, tapi—"

"Kamu pacar aku, Ra, bukan orang lain,' potong Alvin, tidak suka dengan pemilihan kata yang Nara gunakan untuk mewakili dirinya.

Nara tersenyum. "Iya, maaf."

Alvin menghela napas, ia ingin menceritakan semua pada Nara, semua yang kini ada di benaknya dan membuatnya gelisah. Tapi Alvin tetap Alvin, ia bukan tipe orang yang suka orang lain mengetahui masalah apa yang sedang dihadapinya.

"Maaf, Ra, aku belum bisa."

Alih-alih menampilkan raut kecewa, Nara malah tersenyum. Cewek itu meraih tangan Alvin yang berada di atas meja, lalu mengusap punggung tangan cowok itu dengan ibu jarinya.

"Aku nggak maksa, aku cuma mau bilang kalau aku bakal selalu ada saat kamu butuh teman cerita masalah kamu."

Nara tersenyum tulus, senyuman yang selalu bisa membuat perasaan Alvin membaik. Inilah yang membuat Alvin memutuskan untuk mendekati Nara padahal banyak cewek yang berusaha menarik perhatiannya. Nara tidak berusaha menarik perhatian Alvin, tapi Alvin yang tertarik dengan cewek itu.

Si cewek rambut coklat yang bergabung dengan tim paduan suara, Alvin pertama kali bertemu Nara saat kelasnya mendapat tugas mengisi penampilan paduan suara untuk perpisahan kelas XII, kebetulan Nara ikut melatih. Sejak saat itu Alvin sering memerhatikan Nara, si manis yang sangat murah senyum.

Banyak yang kaget saat kabar hubungan keduanya menyebar, bahkan teman-teman Alvin banyak yang tidak setuju. Banyak yang bilang kalau Alvin dan Nara tidak sepadan, namun Alvin tidak peduli. Alvin sudah berhasil mendapatkan Nara, cewek itu telah menjadi miliknya sekarang, Alvin tidak akan melepaskannya.

Alvin tetap memegang prinsip itu sampai beberapa hari lalu Papanya memberi kabar yang menjadi badai untuk keteguhannya. Sekarang ada rasa tidak yakin di benak Alvin kalau dia bisa menjaga Nara lebih lama, Alvin sangat mengerti sifat Papanya yang tidak jauh berbeda dengannya. Sekali memutuskan, akan sulit mengusik atau bahkan membantahnya.

Alvin hanya takut akan melukai Nara nanti, perempuan yang sangat ia cintai setelah Rita, Ibunya.

"Aku sayang kamu, Alvin."

Alvin jauh lebih sayang Nara, walau sampai sekarang ia tidak pernah mengatakannya secara langsung. Alvin si dingin dan kaku ini lebih banyak bertindak daripada berkata-kata.

Di meja lain tak jauh dari dua remaja itu, seorang cewek bermata biru menarik ujung bibirnya. Ia tersenyum miris, merasa sakit namun tidak bisa berbuat apa-apa. Apa yang pernah ia takutkan akhirnya terjadi, ia sangat takut akan kehilangan hal yang sangat berarti di masa kecilnya. Tapi sekarang, hal itu telah menjadi orang asing. Lagi.

Michelle langsung membuang muka saat melihat adegan yang seharusnya tidak ia lihat, cewek bersurai cokelat itu tersenyum miris. Ia mengikuti Alvin sampai ke tempat ini, di sebuah kafe remaja dekat taman, Michelle sangat penasaran dengan sosok 'dia' yang dimaksud Rita. Dan sekarang Michelle tahu, si dia ini adalah pacar Alvin.

Michelle kembali menatap dua remaja yang duduk di meja berseberangan dengan tempatnya duduk, ia iri dengan tatapan Alvin pada cewek itu yang terlihat tulus. Sementara tadi, Alvin bahkan terkesan enggan menatap Michelle saat mereka berhadapan.

Michelle menatap Nara, menilai cewek itu dari atas sampai bawah, dalam hati tidak percaya kalau tipe seorang Alvin Erlangga seperti itu. Rasanya Michelle ingin menghampiri cewek itu dan mengatakan keras-keras kalau Alvin adalah miliknya.

Alih-alih melakukan apa yang ada di dalam benaknya, tubuh Michelle bereaksi lain. Cewek itu beranjak setelah meninggalkan selembar uang di atas meja, lalu berjalan cepat keluar dari kafe saat sensasi aneh menjalar di dadanya. Michelle tidak kuat jika harus di sini lebih lama.

"Hei, awas!"

Michelle mengerjap berkali-kali saat melihat sebuah motor melintas beberapa senti di depannya, motor itu baru berbelok memasuki area halaman kafe, dan hampir menyerempet Michelle.

"Woi! Bawa motor hati-hati dong!" ujar suara berat yang tadi menarik Michelle mundur di waktu yang tepat. "Lo nggak apa-apa?"

Michelle menoleh perlahan, tatapannya kosong, masih shock. "M-makasih, ya," ucap Michelle setelah berhasil mengembalikan kesadaran.

Cowok berjaket denim itu melepaskan tangannya dari bahu Michelle, menatap cewek itu tidak yakin.

"Tunggu di sini," ujar cowok itu, lalu pergi meninggalkan Michelle di halaman kafe.

Michelle mengusap dadanya, hampir saja ia celaka karena keteledorannya yang melamun saat sedang berjalan. Kejadian hampir terserempet ini bukanlah yang pertama kali untuk Michelle, tapi yang tadi benar-benar memberikan efek yang membuat Michelle langsung terlihat seperti orang linglung.

Kedua mata Michelle memanas saat merasakan sesak yang semakin menjadi di dadanya, dan beberapa saat kemudian cewek itu terisak, air mata perlahan luruh melewati pipi putihnya.

"Ini minum—loh? Lo nangis?"

Michelle menunduk, malu karena menangis di depan umum. Tangan cewek itu bergerak mengusap air mata yang membasahi pipinya.

"Sini minggir dulu, duduk." Cowok itu menunjuk bangku panjang yang ada di luar kafe. "Udah jangan nangis, ini minum dulu, lo pasti shock."

Michelle duduk agak jauh di samping cowok itu, menerima sebotol air mineral yang disodorkan cowok berjaket denim itu, lalu meminumnya sampai tinggal separuh.

Cowok itu terkekeh. "Lo haus apa kekeringan?"

Michelle hanya melirik, lalu kembali meneguk sisa air di botol itu sampai habis, membuat cowok bersurai hitam agak berantakkan itu menatapnya heran.

"Makasih," ucap Michelle, lalu beranjak.

Michelle melemparkan botol plastik yang sudah kosong ke tempat sampah tidak jauh dari tempatnya berdiri, dan langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa pun.

Cowok berjaket denim itu hanya menatap punggung Michelle yang semakin menjauh, ia tertawa kecil melihat cewek aneh yang terus menggerutu sepanjang jalan itu.

...☆☆☆...

"Kak Alvin."

Michelle beranjak saat melihat Alvin melewati pintu rumah, cowok itu hanya meliriknya sekilas lalu melanjutkan langkah tanpa menoleh. Lagi dan lagi Michelle hanya bisa menghela napas, ia terus meyakinkan diri mungkin Alvin seperti ini karena belum terbiasa dengan kembalinya Michelle setelah delapan tahun meninggalkan negara ini.

"Michelle, di luar ada motornya Alvin, dia udah pulang?"

Rita mendekat dengan beberapa kantung belanjaan, wanita paruh baya itu memang sempat keluar untuk membeli bahan makanan, rencananya akan ada makan malam spesial menyambut kedatangan Michelle.

"Sini Tante, biar Michelle bantuin," tawar Michelle, mengambil alih beberapa kantung belanjaan yang dibawa Rita.

Rita tersenyum. "Baik banget calon mantu Tante Rita," ujar wanita itu, membuat Michelle tersenyum malu.

"Ma, tadi ada yang masuk kamar Alvin?"

Perhatian Michelle dan Rita teralih saat Alvin menuruni tangga dengan terburu-buru dan bertanya dengan nada menahan kesal.

"Iya, tadi Mama ajak Michelle--"

"Kenapa?" tanya Alvin. "Kenapa Mama nggak izin dulu, apalagi ajak dia?" Cowok itu melirik Michelle, membuat Michelle langsung menunduk.

Alvin bahkan tidak menyebutkan namanya dan mengganti dengan panggilan 'dia' yang terdengar kasar.

"Alvin," tegur Rita.

Alvin menatap Michelle dengan kedua tangan terkepal, lalu mengerang kesal dan kembali menaiki tangga menuju kamarnya. Terdengar suara pintu dibanting beberapa saat setelah itu, membuat Michelle terlonjak. Rita hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan putranya, perhatiannya teralih pada Michelle yang masih menunduk.

"Michelle," panggil Rita, membuat Michelle langsung menegakkan wajah menatap wanita itu. "Maafin Alvin, ya? Dia kayaknya lagi capek makanya ngomel-ngomel."

Michelle berusa menarik kedua ujung bibirnya.

"Nggak apa-apa kok Tante, aku cuma kaget aja, baru pertama kali lihat Kak Alvin semarah itu." Dan mendengar kalimat kasar Alvin yang terasa seperti tertuju padanya, Michelle tidak pernah mengira itu sebelumnya.

"Ya udah, mau bantu Tante masak?" tawar Rita mengalihkan topik obrolan yang sepertinya mulai tidak menyenangkan.

Michelle mengangguk antusias dengan senyum lebar, membuat Rita juga ikut tersenyum.

...☆☆☆...

Alvin melirik sekilas cewek yang sekarang duduk berseberangan dengannya, berbatas meja makan. Ia merasa tidak nyaman karena kehadiran Michelle di makan malam keluarganya hari ini.

"Alvin, mau ke mana kamu?" tanya Rita saat Alvin beranjak.

"Mau makan di luar, Ma," jawab Alvin sambil memakai jaketnya.

"Nggak ada makan di luar." Suara berat diiringi suara langkah yang mendekat membuat tiga orang di ruang makan itu lantas menoleh.

"Kamu makan di rumah."

Alvin menghela napas, sekeras kepalanya dia, Alvin tidak pernah membantah ucapan Papanya. Cowok itu kembali duduk setelah melepaskan jaket cokelatnya.

Jordan yang baru pulang dari kantor langsung duduk di kursinya, pria paruh baya dengan rambut mulai memutih itu tersenyum saat melihat Michelle berada di antara mereka.

"Bagaimana kabarmu, Michelle?"

Michelle tersenyum, cewek itu beranjak untuk salim dengan Jordan, lalu kembali ke kursinya.

"Baik, Om. Daddy titip salam, belum bisa ikut ke Indonesia."

Jordan tertawa kecil. "Allan memang selalu sibuk, dia bahkan tidak datang di acara reuni sekolah dua tahun berturut-turut," ujar pria itu.

Perhatian Jordan teralih pada Alvin yang tampak ogah-ogahan menatap makanan di depannya, sementara Michelle sesekali mencuri pandang pada cowok itu.

Ada rasa kesal di benak Jordan melihat Alvin mengabaikan Michelle, padahal alasan Michelle diizinkan tinggal di rumah ini selain karena cewek itu di Indonesia seorang diri adalah agar Alvin dan Michelle semakin dekat, agar nantinya pertunangan mereka tidak didasari oleh penolakan dari salah satu mau pun keduanya.

Jordan memang sengaja menjodohkan keduanya karena mereka sangat dekat saat kecil, seperti Jordan dan Allan, Ayah Michelle. Walau pun Jordan melihat kalau Alvin belum mencintai Michelle, tapi Jordan percaya rasa itu akan tumbuh perlahan. Dulu ia dan Rita juga dijodohkan, dan dulu Jordan juga menolak.

Tapi sampai dua puluh tahun pernikahan, mereka tetap bertahan walau dulu tidak jarang terjadi kesalahpahaman, bukankah itu wajar?

Lambat laun Alvin pasti bisa menerima Michelle, apalagi tampaknya Michelle sudah menerima Alvin, itu akan menjadi lebih mudah.

1
Alzen
typo lagi yang
Alzen: ini aja po dulu 2 tahun 😓
total 3 replies
Alzen
cepat updateee
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: iyaaaaa
total 1 replies
Alzen
ceroboh banget/Shame/
Alzen
padahal yang kemarin juga bagus novelnya
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: eh iyaa 😓
total 3 replies
🥑⃟Hati Yang Kau Sakiti●⑅⃝ᷟ◌ͩ
selamat berkarya 🙏
Baby
Devis aja /Grin//Grin/
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: 2in /Bye-Bye/
total 1 replies
Baby
jadi Michelle kasian, jadi Alvin kasian, jadi Nara kasian, jadi pembaca sekarat /Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!