NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Cinta setelah menikah / Ibu Tiri
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Tetangga Baru

Rayhan belum menjawab pertanyaan Nadhira sampai minggu kedua pernikahan mereka dimulai.

Ia kembali bekerja dengan jadwal panjang. Nadhira pun tidak mengejar. Rumah baru itu sudah memberinya cukup banyak hal untuk dipelajari, termasuk bel pintu yang berbunyi pada Sabtu pagi ketika tiga perempuan dari kompleks datang membawa kotak kue.

Perempuan paling depan tersenyum lebar. "Assalamualaikum. Saya Wulan dari rumah nomor dua belas. Ini Bu Ratna dan Bu Mega. Kami mau menyambut tetangga baru."

"Waalaikumsalam. Silakan masuk."

Bu Wulan baru melangkah dua kaki ke ruang tamu ketika pertanyaannya mulai mengalir.

"Benar nikahnya mendadak? Anak yang satu dari suami lama, ya? Dulu tinggal di mana? Maaf, saya memang suka bertanya. Kalau tidak mau jawab, bilang saja."

Kejujuran terakhir membuat Nadhira tidak bisa benar-benar tersinggung.

"Alif anak kandung saya. Arkan anak kandung Rayhan. Kami sedang belajar jadi keluarga. Sebelumnya saya tinggal di Tangerang."

Bu Mega mengangguk hangat. "Anak-anak pasti butuh waktu. Di sini ada grup WhatsApp orang tua. Kalau Ibu mau, nanti saya masukkan."

Bu Ratna memandang sofa, tangga, lalu pakaian rumah Nadhira yang sederhana. "Tangerang bagian mana?"

"Perumahan Mekar Jaya."

"Oh." Bibirnya membentuk senyum kecil. "Perumahan subsidi, ya? Pantas gaya bicaranya masih sederhana."

Bu Wulan terbatuk. Bu Mega menurunkan kotak kue sedikit terlalu keras.

Nadhira hanya menuangkan teh. "Iya, saya pernah tinggal di rumah yang cicilannya harus dihitung setiap bulan. Karena itu saya tidak suka makanan dibuang dan pintu dibiarkan terbuka. Kebiasaan berguna tidak perlu ditinggalkan hanya karena alamat berubah."

Bu Ratna tidak menemukan jawaban yang cukup halus untuk menyerang lagi.

Alif berlari dari ruang bermain membawa bola kecil. Ia berhenti ketika melihat tamu, lalu bersembunyi di balik kursi Nadhira.

Bu Mega berjongkok tanpa mendekat. "Halo, Alif. Anak-anak di luar sedang main. Kalau mau lihat dari pagar dulu juga boleh."

Alif memandang ibunya.

"Boleh," kata Nadhira. "Mama ikut."

Sebelum para tetangga pulang, Nadhira mengundang mereka datang sore hari bersama anak-anak. Ia tidak meminta koki menyiapkan pesta mewah. Hanya pisang goreng, pastel, teh manis, potongan buah, serta sayur asem dan nasi untuk siapa pun yang ingin makan lebih lama.

"Makanan kampung," komentar Bu Ratna ketika melihat meja di taman.

Bu Wulan sudah menggigit pastel. "Kalau makanan kampung seenak ini, saya mau jadi orang kampung tiap sore."

Tawa beberapa ibu memecah kekakuan.

Nadhira tidak berusaha memamerkan rumah. Ia duduk bersama mereka di bawah kanopi, menanyakan jadwal pengajian, aturan sampah, nomor darurat kompleks, dan arisan lingkungan. Pertanyaan praktis membuat Bu Wulan senang bercerita dan Bu Mega menawarkan bantuan memasukkan Nadhira ke grup.

Bu Ratna lebih banyak mengamati. Ketika seorang ibu lain memuji tempe buatan koki, ia berkata cukup keras, "Enak, sih. Tapi istri Pak Rayhan pasti sebentar lagi bosan dengan menu begini. Dunia konglomerat beda."

"Saya yang meminta menu ini," jawab Nadhira. "Kalau saya bosan, saya akan bilang. Tidak perlu menunggu gosip memberi tahu."

Bu Mega menahan senyum di balik cangkir.

Di halaman, Alif mulai bermain bola dengan beberapa anak tetangga. Awalnya ia berlari kembali kepada Nadhira setiap beberapa menit. Setelah merasa aman, ia berani mengejar bola sampai dekat pohon palem.

Satu tendangannya meleset dan mengenai kaki meja. Gelas teh jatuh, pecah di lantai teras.

Alif langsung membeku. Kedua tangannya menutup kepala, gerakan yang terlalu cepat untuk sekadar takut dimarahi karena gelas.

"Maaf, Mama," katanya berulang. "Maaf."

Percakapan para ibu berhenti.

Nadhira mendekat tanpa meninggikan suara. "Lihat Mama, Nak. Ada yang kena kakimu?"

Alif menggeleng, masih menutup kepala.

"Gelas bisa diganti. Kaki Alif tidak. Mundur dulu karena ada pecahan."

Ia meminta staf membawa sapu, lalu memberi Alif kain kering setelah lantai aman. "Bantu Mama lap airnya. Pelan-pelan."

Alif menurunkan tangan. Ia mengelap satu sudut meja dengan serius, lalu kembali bermain setelah Nadhira memastikan tidak ada serpihan menempel di sandalnya.

Bu Wulan mengembuskan napas. "Anak sekecil itu sampai refleks melindungi kepala."

Nadhira tidak membuka luka keluarga lama sebagai bahan obrolan. "Dia pernah tinggal di rumah yang suaranya terlalu keras. Sekarang dia sedang belajar bahwa kesalahan kecil tidak selalu diikuti bentakan."

Bu Mega menyentuh lengannya singkat. "Kalau butuh teman antar anak atau sekadar minum teh, chat saya."

Bahkan Bu Ratna tidak menyela.

"Anakmu cepat akrab," kata Bu Wulan.

"Dia sedang belajar lagi."

Nadhira menoleh ke jendela lantai dua. Arkan berdiri di balik kaca, memegang boneka beruang. Sejak acara dimulai, ia hanya melihat. Setiap kali seorang anak berteriak, bahunya terangkat.

Nadhira tidak memanggilnya turun.

Ia hanya memindahkan satu kursi kecil ke dekat pintu taman dan meletakkan air minum di atasnya. Pintu dibiarkan terbuka.

Matahari mulai turun. Para ibu sibuk membicarakan jadwal arisan ketika bola Alif menggelinding masuk ke ruang keluarga.

Alif mengejarnya, lalu berhenti.

Arkan sudah berada di bawah tangga.

Tak ada yang melihat kapan ia turun. Bocah itu berdiri tanpa boneka, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Alif mengambil bola dan mengangkatnya.

"Main?"

Arkan tidak menjawab. Ia menatap halaman, lalu kursi kecil dekat pintu.

Nadhira menahan diri untuk tidak bangun.

Arkan melangkah keluar.

Ia hanya berdiri di tepi rumput pada awalnya. Kemudian Alif menggulirkan bola pelan ke kakinya. Arkan menendang terlalu lemah. Bola bergerak satu meter dan mengenai sandal Bu Wulan.

Bu Wulan pura-pura terkejut, mengangkat kedua kaki tinggi-tinggi. "Waduh, penyerang hebat!"

Anak-anak tertawa.

Arkan menatap wajah mereka. Sudut bibirnya bergerak, lalu suara tawa kecil keluar, jernih dan singkat.

Itu pertama kalinya Nadhira mendengar Arkan tertawa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!