Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.
Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.
Narendra tak pernah repot membantah.
Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.
Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.
Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.
Bukan sekadar ingin menyentuhnya.
Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.
Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.
“Katanya kamu tidak bisa?”
Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.
“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6
Ini Bukan Rumahku
Pukul sebelas lewat dua puluh, suara motor Pak Slamet berhenti di depan rumah.
Sekar belum tidur.
Dari balik pintu kamar, ia mendengar Bu Warni menjelaskan pertengkaran dengan suara terisak. Yuni menyela berkali-kali. Anton mengatakan Sekar hendak mempermalukan keluarga dengan menuntut uang yang sudah dipakai membeli rumah.
Tidak ada yang menyebut Pak Herman pergi tanpa membayar.
Tidak ada yang menyebut kamar Sekar sudah diberikan kepada bayi yang belum lahir.
Lima menit kemudian, pintunya diketuk keras.
"Sekar, keluar. Bapak mau bicara."
Sekar menyimpan ponsel dan membuka pintu.
Pak Slamet masih mengenakan jaket kerja. Wajahnya kusam setelah shift panjang, tetapi ia duduk di kursi kepala meja seperti seorang hakim. Bu Warni berada di kanan, Anton dan Yuni di kiri.
Empat lawan satu.
"Bapak sudah dengar semuanya," kata Pak Slamet. "Uang muka rumah itu bukan utang. Itu bakti anak kepada orang tua."
"Waktu transfer, Mas Anton bilang pinjam."
"Kamu punya rezeki lebih. Wajar membantu keluarga. Rumah ini juga buat kamu."
Sekar melirik lorong menuju kamarnya. "Tapi kamar itu akan diberikan kepada anak Mas Anton."
Pak Slamet menghela napas. "Kamu perempuan. Nanti ikut suami. Jangan hitung-hitungan begini."
"Kalau aku belum menikah?"
"Makanya jangan terlalu pilih-pilih. Kerjaanmu juga nggak jelas. Jahit kebaya, ikut pameran, pulang malam. Lebih baik menikah, ada yang menanggung."
Sesuatu di dalam diri Sekar runtuh tanpa suara.
Bapaknya tidak tahu nama klien-kliennya. Tidak tahu berapa lama satu pola dibuat. Tidak pernah bertanya mengapa tangannya sering diperban. Namun setiap bulan, uang dari pekerjaan yang `nggak jelas` itu diterima tanpa keberatan.
"Baik," kata Sekar.
Bu Warni segera menyela. "Nah, dengarkan Bapak. Besok minta maaf ke Pak Herman."
"Bukan itu maksudku."
Sekar berdiri lebih tegak. "Seratus juta itu anggap saja lunas untuk biaya Mamah dan Bapak membesarkanku. Aku tidak akan menagih lagi sekarang. Tapi mulai hari ini, kita tidak punya utang budi yang bisa dipakai untuk memaksaku. Aku tetap pindah."
"Kurang ajar!" Anton bangkit.
"Duduk," bentak Pak Slamet, tetapi tegurannya ditujukan pada keributan, bukan pada kesalahan anak lelakinya.
Yuni berbisik cukup keras untuk didengar, "Dasar perawan tua nggak tahu diri."
Sekar menatapnya. "Semoga anak Mbak nanti tidak pernah diperlakukan seperti alat pembayaran."
Wajah Yuni memerah.
Sekar kembali ke kamar sebelum siapa pun menjawab. Begitu pintu terkunci, suara debat di luar menjadi samar.
Ini tidak pernah menjadi rumahku.
Kesadaran itu menyakitkan, tetapi juga membuat napasnya lebih lega.
Ia membuka aplikasi sewa lagi. Dua kamar yang disimpan sudah hilang. Satu apartemen meminta deposit tiga bulan. Satu kos putri melarang penghuni pulang setelah pukul sembilan malam, tidak mungkin untuk jadwal pesanan sanggar.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Bu Laksmi masuk.
Sekar, ada tambahan enam kebaya dan batik. Komisi kamu Rp3,6 juta, akhir bulan Ibu transfer. Sabtu siap untuk Pameran Wastra?
Sekar menatap angka itu lama. Tiga juta enam ratus ribu bukan mukjizat, tetapi cukup untuk deposit kamar sederhana.
Ia membalas.
Siap, Bu. Terima kasih.
Tiga titik muncul, lalu pesan lain masuk.
Ibu dengar dari Bulik Sri kamu mau pindah. Besok buka rekening baru. Komisi disimpan diam-diam di sana, jangan beri tahu keluarga. Perempuan harus punya pegangan sendiri.
Mata Sekar terasa panas.
Orang yang tidak melahirkannya justru menjadi orang pertama yang memikirkan bagaimana ia bisa berdiri sendiri.
Sekar mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.
Maaf merepotkan Ibu Guru.
Balasan Bu Laksmi datang cepat.
Kamu bukan merepotkan. Kamu sedang belajar menjaga dirimu.
Sekar membuka laman sebuah bank digital dan memulai pendaftaran rekening. Ia memotret identitas, melakukan verifikasi wajah, lalu membuat PIN yang tidak berkaitan dengan tanggal lahir siapa pun di rumah ini.
Rekening baru berhasil dibuat pukul 00.07.
Saldo masih nol.
Namun untuk pertama kalinya, angka nol itu terasa seperti ruang kosong yang hanya menjadi miliknya.
Sekar mengambil satu koper dari atas lemari. Ia belum punya alamat tujuan, tetapi mulai memilih barang yang tidak boleh tertinggal: laptop, buku pola pemberian Bu Laksmi, kotak benang, dua kebaya buatannya sendiri, mukena, dokumen identitas, dan map bukti transfer rumah. Pakaian lain bisa menyusul. Barang yang paling penting harus bisa dibawa dalam sekali jalan.
Di dasar lemari, ia menemukan celengan kaleng yang sudah lama tidak dibuka. Isinya uang pecahan dua puluh dan lima puluh ribu, hasil menyisihkan ongkos setiap kali mendapat tumpangan dari teman sanggar. Setelah dihitung, jumlahnya Rp740.000.
Sekar tertawa kecil. Tidak banyak, tetapi cukup untuk biaya kendaraan pindahan dan makan beberapa hari.
Ia memindai kembali iklan kos. Kali ini ia tidak hanya melihat harga. Ia memeriksa ulasan penghuni perempuan, kamera keamanan, jarak ke transportasi umum, dan apakah pemilik tinggal di lokasi. Pesan Bu Laksmi terngiang jelas: jangan menghemat dengan mengorbankan keselamatan.
Sekar berdiri di depan cermin kecil. Wajahnya pucat, matanya merah, tetapi bahunya tidak lagi jatuh.
"Mulai sekarang aku sayang diriku sendiri," bisiknya.
Ia kembali membuka pesan Bu Laksmi dan menjawab pertanyaan yang tadi belum sepenuhnya ia jawab.
Pamerannya sudah siap, Bu.
Jarinya menekan kirim.
Di layar tertera satu centang, lalu dua.
Hidup barunya belum dimulai, tetapi malam ini Sekar sudah membuat tempat pertama yang tidak bisa direbut keluarganya.
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰