Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28
Cium di Sini, Baru Aku Setuju
Tatapan Sebastian berubah sedingin lantai studio setelah hujan.
Vivi masih duduk menyamping di pangkuannya ketika suara sekretaris terdengar dari ponsel.
“Tim forensik menemukan percakapan yang belum sempat dihapus dari perangkat pelaku, Pak. Nomor pengirim terdaftar menggunakan identitas palsu, tetapi pembayaran masuk melalui perusahaan pemasaran yang sama dengan transfer kepada Wulan.”
Lengan di pinggang Vivi mengeras.
“Lanjutkan.”
“Direktur perusahaan itu pernah menjadi manajer kampanye digital The Sweet Ballerinas. Ada tiga transfer lain dari rekening operasional yang dikendalikan asisten Nadya. Berkas awal sudah dikirim kepada pengacara.”
Sekretaris itu melanjutkan, “Laboratorium juga mengirim hasil pendahuluan dari bubuk dalam botol. Bukan obat pencahar. Campurannya dapat menurunkan kesadaran, mengganggu kendali tubuh, dan meningkatkan kebingungan. Dosis pastinya masih dianalisis.”
Vivi merasakan telapak tangannya mendingin. Jadi Wulan memang dibohongi, tetapi tujuan sebenarnya jauh lebih keji daripada membuatnya bolak-balik ke toilet. Seseorang ingin ia kehilangan kendali di depan kamera, persis seperti hasil yang pernah menghancurkan namanya.
“Masukkan hasil itu ke berkas yang sama,” kata Sebastian. “Jangan biarkan satu salinan pun keluar tanpa pencatatan.”
Jadi kamera, bubuk putih, dan serangan di studio bertemu pada jalur uang yang sama.
“Apakah cukup untuk menghubungkan Nadya secara langsung?” tanya Vivi.
Sekretaris itu terdiam sesaat, mungkin baru menyadari panggilan didengar oleh orang lain. “Belum sepenuhnya, Bu Vivian. Namun pesan pelaku menyebut nama panggilan yang cocok dengan Nadya, dan waktu transfer berdekatan dengan rapat timnya. Kami sedang mencari bukti instruksi langsung.”
“Cari sampai tidak ada celah,” kata Sebastian.
“Baik, Pak.”
“Setelah itu, buat dia hilang selamanya.”
Udara di ruang makan seakan turun beberapa derajat.
Sekretaris tidak langsung menjawab. “Apakah maksud Bapak kami menyerahkan seluruh temuan kepada penyidik dan...”
“Kamu dengar perintahku.”
“Sebas.” Vivi memotong.
Pria itu menurunkan ponsel. “Apa?”
“Tutup dulu panggilannya.”
Sebastian memberi instruksi agar sekretaris menunggu, lalu mematikan mikrofon. “Kamu tidak perlu memikirkan ini.”
“Justru aku yang diserang.”
“Karena itu aku yang akan mengurusnya.”
“Mengurus atau menghilangkan?”
Tatapan mereka bertemu. Sebastian tidak menyangkal.
Sisa ketakutan dari ruang ganti bergerak di bawah kulit Vivi. Ia teringat wajah penyerang yang berlumur darah, jari-jarinya yang ditekuk sampai menjerit, dan ketenangan Sebastian saat mengaku mungkin tidak akan berhenti.
“Tidak,” katanya.
“Vivi.”
“Aku tidak membela Nadya. Aku ingin dia membayar semuanya.” Vivi menggeser tubuh agar menghadap Sebastian lebih jelas. “Tapi bukan dengan menghilangkannya diam-diam.”
Rahang pria itu menegang. “Dia mengirim seseorang membawa palu kepadamu.”
“Dan kita punya saksi, rekaman, transfer, kamera, serta barang bukti. Gunakan itu.”
“Proses hukum memberi waktu baginya untuk menyerang lagi.”
“Kalau dia mati atau lenyap sekarang, semua orang akan menganggapnya korban. The Sweet Ballerinas tetap memakai karya Miss Regina. Orang-orang akan membicarakan skandal, bukan pencurian koreografi dan serangan yang dia lakukan.”
Sebastian menatapnya tanpa berkedip.
Vivi melanjutkan, “Aku ingin menyelesaikan festival. Aku ingin mengalahkannya di panggung, di depan Mr. Kovalenko dan semua orang yang dia pakai untuk membangun nama. Setelah itu, serahkan bukti kepada polisi. Bekukan jalur uangnya. Putus kontraknya. Tuntut dia sampai tidak bisa bersembunyi di balik pengikutnya.”
“Kamu masih ingin kembali ke studio setelah kemarin?”
Pertanyaan itu lebih pelan daripada kalimat-kalimat sebelumnya.
“Bukan studio yang menyerangku.”
“Kamu hampir...” Sebastian berhenti. Tangan kirinya mencengkeram pinggang Vivi. “Aku mendengar pintu itu pecah.”
Vivi meletakkan telapak tangan di dadanya. Jantung di balik kemeja berdetak terlalu keras.
“Aku juga mendengarnya. Aku takut. Tapi kalau aku berhenti sekarang, Nadya tetap berhasil mengusirku dari panggung.”
“Aku bisa menghancurkan panggung itu dan membangunkan yang baru untukmu.”
“Itu bukan kemenangan. Itu renovasi dengan masalah kemarahan.”
Sebastian menatapnya seolah kalimat tersebut tidak pantas dijawab. Vivi hampir tertawa, tetapi situasinya terlalu serius.
Ia menarik ujung lengan kemeja Sebastian dengan hati-hati agar tidak mengenai tangan yang terluka.
“Sebas, kumohon.”
Pria itu membeku.
Vivi jarang meminta dengan nada seperti itu. Ia sendiri merasa aneh mendengarnya. Namun jika kelembutan dapat menghentikan sebuah keputusan yang lebih gelap, ia rela menanggung malu.
“Tunggu sampai festival selesai,” katanya. “Sementara itu, kumpulkan bukti dan lindungi semua orang di studio. Tidak ada tindakan di luar hukum.”
“Tidak.”
“Sebas.”
“Kamu kembali ke tempat itu tanpa perlindungan penuh, lalu meminta aku membiarkan orang yang mengirim penyerang tetap bebas.”
“Aku tidak meminta dia bebas. Aku meminta kamu tidak menjadi algojo.”
Sebastian terdiam.
Vivi menimbang satu cara terakhir, kemudian memajukan wajah dan mencium pipinya.
Hanya satu sentuhan cepat.
Saat ia mundur, mata Sebastian telah berubah. Bukan lagi sepenuhnya dingin. Ada panas yang bergerak lambat di baliknya.
“Tunggu sampai pertandingan selesai,” ulang Vivi. “Setelah itu kita jalankan semuanya melalui polisi dan pengacara.”
Sebastian menunjuk bibirnya sendiri dengan jari telunjuk kiri.
“Cium di sini, baru aku setuju.”
Vivi menatapnya. “Kamu sedang menawar perkara pidana dengan ciuman?”
“Kamu yang memulai.”
“Itu di pipi.”
“Tidak cukup.”
Wajahnya tetap serius, seolah sedang menilai kontrak bernilai miliaran. Vivi ingin marah, tetapi telinga yang memanas mengkhianatinya.
“Kamu harus berjanji dulu.”
“Semua bukti diserahkan kepada penyidik. Nadya tidak disentuh sampai festival selesai, kecuali dia kembali menyerangmu.”
“Dan tidak ada orang suruhan yang membuatnya hilang.”
“Tidak ada.”
“Aku juga tetap latihan setelah dokter mengizinkan.”
“Dengan pemeriksaan masuk, makanan tersegel, dan pengawal di setiap akses.”
“Pengawal perempuan di dalam area privat.”
“Setuju.”
“Baik.”
Vivi mendekat dan menyentuhkan bibirnya ke bibir Sebastian. Ia berniat berhenti setelah satu detik.
Ketika ia mundur, tangan kiri Sebastian menahan pinggangnya.
“Tidak lulus,” katanya.
“Apa?”
“Terlalu singkat.”
“Kesepakatannya hanya cium.”
“Aku menentukan standar kelulusannya.”
Vivi mengangkat alis. “Kalau aku bilang tidak?”
Pegangan di pinggangnya langsung longgar. “Aku tidak akan memaksa.”
Jawaban itu datang tanpa tawar-menawar.
Vivi memandang perban putih di tangan kanannya, lalu wajah yang masih menyimpan sisa ketakutan akan kehilangan. Jantungnya berdebar, tetapi bukan karena ingin lari.
“Boleh,” bisiknya. “Sekali lagi.”
Sebastian menunduk.
Ciuman kedua tidak singkat. Bibirnya menekan perlahan, lalu lebih dalam ketika Vivi mencengkeram bahu kirinya. Ia menjaga tangan yang terluka tetap jauh, tetapi lengan satunya menarik tubuh Vivi rapat sampai tidak ada ruang bagi udara dingin di antara mereka.
Vivi membalas dengan malu-malu. Saat ujung lidah Sebastian menyentuh bibirnya, napasnya pecah. Panas merambat dari wajah ke leher, membuat jari-jarinya mengerat pada kain kemeja.
Ketika ciuman berakhir, Sebastian masih menempelkan dahi ke dahinya.
“Sekarang lulus?” tanya Vivi terengah.
“Hampir.”
“Pembohong.”
Vivi turun dari pangkuannya sebelum pria itu sempat menaikkan standar lagi. Ia berjalan cepat menuju pintu dengan wajah terbakar.
Di belakangnya, Sebastian mengaktifkan kembali mikrofon panggilan.
“Kumpulkan seluruh bukti,” katanya kepada sekretaris. “Kita tunggu sampai festival selesai.”
Vivi tidak menoleh, tetapi langkahnya melambat.
Setidaknya malam ini, monster itu memilih mendengarkannya.