NovelToon NovelToon
Bayangan Penguasa

Bayangan Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
​Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Pembantaian di Gerbang Obsidian

​Waktu istirahat lima menit berlalu dengan sangat cepat. Bagi Yoo Ji-Ah, waktu sesingkat itu nyaris tidak cukup untuk mengatur detak jantungnya yang masih berpacu liar. Namun, melihat Han Do-Yoon sudah bangkit dan memanggul tombak petirnya, gadis itu tahu ia tidak punya kemewahan untuk bersantai.

​Ia kembali menggendong Ji-Hye di punggungnya, mengikat adiknya itu erat-erat dengan sobekan kain dari kemeja seragamnya agar tidak terlepas saat bertarung.

​Mereka mulai berjalan menyusuri daratan yang dipenuhi retakan magma. Udara di dalam Gerbang Merah ini terasa semakin mencekik seiring langkah mereka mendekati pusat labirin. Abu vulkanik berjatuhan dari langit buatan bagaikan salju kelabu yang membawa hawa kematian.

​"Do-Yoon," panggil Ji-Ah ragu-ragu di tengah perjalanan, memecah keheningan yang hanya diisi oleh suara letupan lahar. "Bagaimana kau bisa setenang ini? Maksudku... baru beberapa jam yang lalu kita berada di kampus. Duduk di kelas. Dan sekarang, dunia kiamat, dewa-dewa menonton kita, dan sihir itu nyata. Tidakkah kau merasa gila?"

​Do-Yoon tidak menghentikan langkahnya. Ia menatap lurus ke depan, ke arah istana obsidian yang menjulang tinggi di lereng gunung berapi.

​"Kewarasan adalah barang mewah yang tidak bisa kau beli di dunia ini, Yoo Ji-Ah," jawab Do-Yoon tanpa menoleh. "Orang-orang yang mencoba mempertahankan kewarasan dari dunia lama adalah orang-orang yang mati pertama kali. Jika kau ingin melindungi adikmu, buang jauh-jauh sisa kemanusiaanmu yang naif. Anggap saja kau terlahir kembali hari ini sebagai pemangsa."

​Mendengar jawaban dingin itu, Ji-Ah terdiam. Pria di depannya ini memiliki sorot mata yang melampaui usianya. Sorot mata seseorang yang telah melihat neraka, merangkak melaluinya, dan kembali untuk menaklukkannya.

​Setengah jam kemudian, mereka tiba di kaki tangga raksasa yang mengarah langsung ke gerbang utama istana obsidian. Tangga itu terbuat dari batu hitam yang licin, membelah lereng gunung berapi.

​Di ujung tangga, sebuah alun-alun luas membentang, dijaga oleh barisan pasukan monster yang membuat darah Ji-Ah kembali berdesir ngeri.

​Setidaknya ada seratus ekor Iblis Kerdil bersenjatakan gada berduri, dipimpin oleh selusin Prajurit Iblis—makhluk berkulit merah seukuran manusia dewasa dengan tanduk panjang dan pedang baja yang menyala-nyala. Mereka berdiri dalam barisan yang rapi, menjaga gerbang masuk menuju ruang takhta.

​[Peringatan! Pasukan Penjaga Istana telah mendeteksi penyusup!]

​Suara terompet dari cangkang tulang melengking tajam di udara, ditiup oleh salah satu Prajurit Iblis. Ratusan pasang mata kuning menyala serentak menatap ke arah bawah tangga, mengunci pandangan pada dua manusia yang berani menantang wilayah mereka.

​"Mereka... jumlah mereka terlalu banyak," bisik Ji-Ah, cengkeramannya pada gagang parang berkaratnya mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.

​Do-Yoon mengangkat tombak bergeriginya, memutar senjata itu dengan santai hingga percikan listrik merah berderak di ujung bilahnya.

​"Pasukan di sisi kiri tangga adalah milikmu," perintah Do-Yoon datar. "Ada sekitar empat puluh Iblis Kerdil dan tiga Prajurit Iblis. Jangan gunakan sabetan lebar yang membuang banyak tenaga. Fokus pada kelemahan mereka: persendian leher dan lutut. Kelas Tingkat Pahlawan milikmu memberikan pemulihan stamina yang lebih cepat dari manusia biasa, manfaatkan itu."

​Ji-Ah menoleh dengan panik. "E-empat puluh?! Aku harus melawan empat puluh monster sekaligus sambil menggendong adikku?!"

​"Jika kau gagal, kalian berdua mati. Sesederhana itu." Do-Yoon menatapnya tajam, membekukan segala bentuk protes di tenggorokan Ji-Ah. "Buktikan padaku bahwa aku tidak membuang waktu dengan menyelamatkanmu."

​Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Do-Yoon melesat maju bagaikan bayangan hitam yang terlepas dari rantainya.

​Melihat penyusup berani menyerang lebih dulu, barisan sebelah kanan pasukan iblis meraung dan menerjang turun seperti air bah berwarna merah darah.

​"Uji coba keahlian," gumam Do-Yoon dengan senyum buas. "Gunakan keahlian: Langkah Petir Hitam."

​[Menggunakan Energi Sihir: 30 Poin.]

[Langkah Petir Hitam diaktifkan!]

​Dalam sekejap mata, tubuh Do-Yoon memudar menjadi kabut bayangan. Suara gemuruh petir yang memekakkan telinga meledak di udara, memancarkan kilatan listrik berwarna hitam pekat yang menyambar lereng gunung.

​Kecepatannya meningkat ke tahap yang mustahil ditangkap oleh mata telanjang. Bagi monster-monster di barisan depan, Do-Yoon seolah-olah menghilang dari pandangan dan tiba-tiba muncul tepat di tengah-tengah kerumunan mereka.

​WUSSH! CRAT! CRAT! CRAT!

​Tombak bergerigi di tangan Do-Yoon menari dengan ganas. Setiap sabetan dan tusukannya tidak hanya merobek daging, tetapi juga meninggalkan jejak listrik hitam yang menyambar dan menghanguskan monster-monster di sekitarnya.

​Hanya dalam kurun waktu tiga detik durasi keahlian tersebut, tubuh Do-Yoon telah berpindah dari satu titik ke titik lain dengan lintasan zig-zag mematikan. Saat durasi keahlian itu berakhir dan sosok Do-Yoon kembali terlihat jelas, ia sudah berdiri di ujung atas tangga, membelakangi puluhan monster yang tadi menerjangnya.

​Hening sejenak.

​Lalu, secara bersamaan, tiga puluh kepala Iblis Kerdil terlepas dari leher mereka. Darah menyembur layaknya air mancur mengerikan, mewarnai tangga batu hitam itu menjadi lautan merah. Mayat-mayat bergelimpangan ke bawah tangga tanpa perlawanan.

​[Anda telah melakukan Pembantaian Massal!]

[Poin Pengalaman meningkat pesat!]

[Tingkat Anda telah naik!]

[Tingkat Anda telah naik!]

[Rasi Bintang 'Dewa Perang Tanpa Nama' berdiri dari singgasananya, merinding melihat teknik pergerakan Anda!]

[Rasi Bintang 'Raja Serigala Pemakan Bangkai' melolong histeris! Ia memberikan sumbangan 1.000 Koin Bintang!]

​Di sisi lain tangga, Ji-Ah yang baru saja menangkis serangan pertama dari kelompok monsternya menyempatkan diri melirik ke arah Do-Yoon. Rahangnya nyaris jatuh melihat pembantaian dalam hitungan detik tersebut. Kesenjangan kekuatan di antara mereka begitu lebar bak jurang tak berdasar.

​"Apa yang kau lihat, Yoo Ji-Ah?!" suara dingin Do-Yoon menggema dari atas alun-alun, membuyarkan keterkejutannya. "Fokus pada musuhmu!"

​Teguran itu menyelamatkan nyawa Ji-Ah. Seorang Prajurit Iblis mengayunkan pedang api ke arah lehernya. Ji-Ah segera menunduk, mengayunkan parangnya ke atas dengan mengalirkan energi angin secara penuh.

​SYUUT!

​Bilah angin tak kasat mata memotong pergelangan tangan Prajurit Iblis itu dengan bersih. Makhluk itu melolong kesakitan, dan Ji-Ah tidak membuang momentum. Ia melompat maju, menusukkan ujung parangnya ke dada makhluk tersebut.

​Di saat yang sama, Do-Yoon yang sudah mencapai alun-alun istana tidak repot-repot menonton pertarungan Ji-Ah. Ia mempercayai potensi gadis itu. Target utamanya kini adalah gerbang ganda raksasa setinggi sepuluh meter yang terbuat dari logam gelap.

​Enam Prajurit Iblis elit yang menjaga pintu itu gemetar mundur melihat pembantaian rekan-rekan mereka. Mereka adalah makhluk dengan kecerdasan yang cukup untuk mengenali bahwa manusia di hadapan mereka adalah sesuatu yang tidak wajar. Anomali murni.

​"M-mundur! Lindungi Tuan Baron!" teriak salah satu Prajurit Iblis dalam bahasa dimensi mereka.

​Sayangnya, pemahaman Do-Yoon dari kehidupan sebelumnya membuatnya mengerti bahasa tersebut. Ia menyeringai sinis.

​"Tidak ada yang akan melindungi tuan kalian," ucap Do-Yoon dalam bahasa iblis yang fasih.

​Mata hitamnya memancarkan aura membunuh yang sedingin es. Ia melemparkan tombak bergeriginya ke udara, membiarkannya melayang sejenak, lalu ia menendang pangkal tombak itu dengan seluruh kekuatan fisiknya.

​Tombak beraliran listrik itu melesat secepat meteor merah.

​JLEB! BOOM!

​Senjata itu menembus dada Prajurit Iblis elit yang berdiri di tengah, menyeret tubuh makhluk itu ke belakang, dan menghantam gerbang raksasa istana dengan kekuatan ledakan yang luar biasa.

​Gerbang logam setinggi sepuluh meter itu hancur berkeping-keping, menciptakan kepulan debu dan asap yang pekat. Suara engsel baja yang putus bergema ke seluruh penjuru labirin. Sisa penjaga yang berdiri di dekat pintu hancur tertimpa puing-puing gerbang.

​Perlahan, kepulan debu di depan pintu masuk istana mulai menipis.

​Do-Yoon melangkah santai melintasi reruntuhan gerbang, memasuki ruang takhta yang sangat luas dan remang-remang. Dindingnya diterangi oleh obor-obor yang menggunakan tengkorak manusia sebagai wadahnya.

​Di ujung ruangan, di atas sebuah takhta yang terbuat dari susunan tulang belulang berlapis magma, sesosok makhluk raksasa duduk menatapnya dengan amarah yang mendidih. Makhluk itu memiliki tinggi lima meter, dengan sayap naga di punggungnya, dan mahkota api yang menyala di atas kepalanya. Hawa panas dari tubuhnya cukup untuk membakar paru-paru manusia normal yang bernapas di dekatnya.

​[Penguasa Labirin: Baron Iblis Api (Tingkat C) menatap keangkuhan Anda dengan amarah!]

[Kehadiran absolut mengunci ruang takhta.]

[Misi Pemusnahan dimulai!]

​Do-Yoon merentangkan tangan kanannya ke samping. Bayangan pekat keluar dari telapak tangannya, memadat dan membentuk sebuah pedang panjang berwarna hitam legam hasil manipulasi Energi Sihirnya.

​[Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api' mencibir. Ia menantikan kematian Anda.]

​Do-Yoon memiringkan kepalanya, menatap layar biru dari dewa picik tersebut, lalu beralih menatap Baron Iblis Api di atas takhta. Senyum buas sang predator kembali menghiasi wajahnya.

​"Satu penguasa tingkat C tidak cukup untuk menahan langkahku. Kemarilah, peliharaan sialan, biarkan aku mengulitimu," tantang Do-Yoon santai.

1
Alia Chans
Hadir kak 💪


jangan lupa hadir juga 😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!