"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."
Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.
Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.
Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.
Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.
Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.
Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16 Khawatir Pada Sang Istri
Tak lama kemudian, langkah mereka terhenti di depan sebuah galeri properti eksklusif yang memamerkan maket-maket rumah mewah berskala elit. Desain interior galerinya saja sudah meneriakkan kata mahal.
Seorang staf pemasaran langsung menyambut mereka. Awalnya matanya sedikit ragu melihat dua wanita dengan tangan penuh kantong belanja, namun ia tetap tersenyum ramah.
"Selamat siang, Nona. Ada yang bisa saya bantu? Apakah sedang mencari referensi hunian?"
"Aku tidak cari referensi. Aku ingin melihat rumah yang siap huni. Ready stock, hari ini juga," ucap Kirana.
Staf itu sedikit terkejut. "Ah, baik, Nona. Untuk budget nya sendiri, anda mencari di kisaran berapa?"
Vanessa langsung menyela dari belakang, merasa sedikit minder. "Eh mbak, sebenarnya kami cuma mau lihat-lihat modelnya dulu—"
Belum sempat Vanessa menyelesaikan kalimatnya, bunyi pelan terdengar di atas meja kaca.
Kirana lebih dulu mengeluarkan sebuah kartu kredit eksklusif yang hanya dimiliki oleh segelintir konglomerat dan meletakkannya dengan anggun di atas meja.
"Aku tidak suka membuang waktuku. Tunjukkan rumah terbaik yang kalian punya. Anggap saja budget tidak terbatas," ucap Kirana dengan tenang.
Mata staf pemasaran itu langsung membulat sempurna melihat kartu elit di depannya. Sikapnya seketika berubah 180 derajat, menjadi jauh lebih hormat dan sedikit gemetar.
"Ba-baik, Nona! Silakan duduk di ruang VIP. Saya akan bawakan katalog premium kami dan menyajikan minuman!"
Hanya butuh beberapa menit, berbagai brosur tebal berisi rumah-rumah mewah yang memukau telah memenuhi meja kaca di depan Kirana.
Berbeda dengan orang kaya baru yang biasanya hanya menunjuk rumah paling mahal dan paling besar, Kirana melihat semuanya dengan sangat teliti. Ia bukan sekadar melihat harga. Ia membolak-balik halamannya, menganalisis dengan pandangan tajam.
Vanessa yang duduk di sebelahnya menyesap teh melati perlahan sambil memperhatikan sahabatnya dengan pandangan kagum yang tak disembunyikan.
"Kamu benar-benar berubah, Rana. Kamu kelihatan seperti CEO sekarang," puji Vanessa jujur.
Kirana mengangguk pelan, tanpa mengalihkan pandangannya dari brosur.
"Dulu otakku cuma dipakai untuk berpikir bagaimana membuat pakaian Ardy rapi, apa menu sarapannya, dan bagaimana membuatnya bahagia."
Ia membalik satu halaman lagi. "Sekarang, aku sadar. Aku harus memakai otakku untuk memastikan masa depanku sendiri tetap aman."
Tiba-tiba, tatapannya membeku. Jarinya berhenti membalik kertas. Pandangannya jatuh pada sebuah foto rumah bergaya modern tropis dengan halaman rumput yang cukup luas.
Rumah itu tidak terlalu besar dan arogan seperti kediaman keluarga Ardy. Namun dari foto itu, rumah tersebut memancarkan aura yang hangat. Dan yang paling penting, jaraknya puluhan kilometer, sangat jauh dari jangkauan keluarga Ardy.
"Yang ini."
Kirana menunjuk brosur itu dengan ujung telunjuknya. Suaranya terdengar sangat mantap, tanpa keraguan sedikit pun.
"Ini indah sekali," gumam Kirana. Matanya melembut menatap gambar rumah itu. "Kalau nanti aku benar-benar harus pergi meninggalkan rumah itu..."
Kirana menelan ludah, membayangkan dirinya duduk di teras rumah baru ini sambil minum teh sendirian.
"Aku ingin memulai hidup baru di tempat seperti ini."
Di saat yang sama, untuk kesekian kalinya, ponsel di dalam tasnya kembali bergetar tanpa henti. Getarannya sampai terdengar di atas meja. Nama Ardy kembali memenuhi layar, menuntut perhatiannya..
Kirana hanya melirik layar itu sekilas. Tidak ada lagi rasa panik. Tidak ada lagi debar jantung ketakutan. Lalu, dengan senyum tipis yang mematikan, ia meraih ponselnya dan menekan satu tombol.
Blokir sementara.
Layar seketika gelap. Getaran itu berhenti seketika. Hening. Damai.
Kirana meletakkan ponsel itu dengan posisi tengkurap, lalu menatap Vanessa dan staf pemasaran bergantian dengan senyum penuh kemenangan.
"Mulai hari ini, yang menentukan hidupku, bahagia atau sedihku, rumahku atau jalanku, bukanlah mas Ardy lagi," gumamnya pelan.
*
*
"Di blokir?!" Ardy menatap layar ponselnya dengan mata membelalak, seolah benda pipih canggih itu baru saja mengkhianatinya.
Ia menekan tombol panggil sekali lagi, merapatkan ponsel ke telinganya dengan napas memburu. Namun, alih-alih mendengar nada sambung, suara operator yang dingin kembali mengudara.
"Brengsek!" umpat Ardy dengan rahang mengeras.
Dengan emosi yang sudah memuncak hingga ke ubun-ubun, ia melempar ponsel mahal itu dengan kasar ke atas sofa.
Pria itu kemudian menjatuhkan tubuhnya, menyandarkan punggung yang terasa kaku sambil memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Seharian penuh di kantor, pikirannya sama sekali tidak bisa fokus bekerja. Bukan hanya karena rentetan notifikasi pemotongan kartu kredit bernilai fantastis yang tanpa henti, tetapi juga karena sikap Kirana yang benar-benar di luar nalar.
Wanita yang selama tiga tahun ini selalu menunduk patuh padanya, hari ini berani mengabaikannya.
Bahkan, berani memblokir nomornya!
"Mas..." Sebuah suara lembut nan manja membuyarkan lamunan Ardy.
Siska, dengan gaun tidur yang mencetak lekuk tubuhnya, berjalan mendekat. Aroma parfum mawar yang manis menguar saat wanita itu berdiri tepat di belakang sofa. Dengan jemari lentiknya yang terawat, Siska mulai memijat pelan bahu Ardy yang tegang.
"Kamu kenapa, sih? Baru pulang kerja kok sudah marah-marah dan banting hape begitu?"
Ardy mengembuskan napas panjang, berusaha meredakan emosinya. Tatapannya menyapu seluruh penjuru ruang tamu yang sepi.
"Kirana belum pulang?" tanyanya dingin.
Pertanyaan singkat itu membuat gerakan tangan Siska terhenti seketika. Senyum manis di wajahnya langsung luntur, digantikan oleh rasa kecewa. Dadanya mendadak terasa sesak dan panas.
Sejak Ardy melangkah masuk ke rumah ini, bukan pelukan atau ciuman untuk Siska yang pria itu cari. Melainkan keberadaan Kirana.
"Belum, Mas," jawab Siska lirih. Ia berjalan memutari sofa dan duduk di samping Ardy, menatap pria itu dengan sorot mata terluka. "Lagi pula, memangnya Mas sebegitu khawatirnya ya, sama mbak Kirana sampai uring-uringan begini?"
Ardy mengusap wajahnya kasar, menyugar rambutnya yang mulai berantakan. "Iya. Sangat khawatir."
Siska menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan isakan. Jawaban jujur Ardy barusan terasa bagaikan pisau tak kasatmata yang menghujam telak ke ulu hatinya.
Kekhawatiran Ardy sendiri sama sekali bukan karena rasa takut kehilangan sang istri. Melainkan karena kartu kreditnya yang berada di tangan Kirana entah sudah digesek berapa miliar lagi di luar sana.
"Halah! Khawatir apa?!" sahut Sarah dari arah ruang makan. Wanita paruh baya itu berjalan menghampiri mereka sambil membawa secangkir teh hangat.
"Biarkan saja perempuan tidak tahu diuntung itu. Namanya juga wanita kampung yang baru pegang uang banyak. Kalau lagi asyik bersenang-senang menghamburkan hartamu, pasti dia lupa jalan pulang dan lupa sama suaminya!"
Sarah kemudian duduk di sofa tunggal di seberang Ardy sembari melipat tangan di dada dengan angkuh.
"Mama kan sudah berkali-kali bilang padamu, Ardy. Ceraikan saja Kirana! Untuk apa istri benalu seperti dia terus dipertahankan di rumah ini?"
Ardy mengangkat kepalanya yang terasa berat. "Perceraian tidak semudah membalikkan telapak tangan, Ma."
"Kenapa tidak?! Dia itu sudah berubah total! Kurang ajar. Berani melawan orang tua. Bahkan hari ini dia berani menguras uangmu. Masih saja kamu bela perempuan seperti itu?!"
Ardy menggeleng pelan. "Aku bukan membela Kirana."
"Lalu apa namanya kalau bukan membela?!"
Ardy menatap ibunya dan Siska bergantian. "Aku memang tidak punya niat menceraikan Kirana."
Pernyataan itu bagaikan petir di siang bolong. Siska membelalakkan matanya dengan tubuh gemetar.
mau lihat gimana si siska setelah ardy bangkrut dan pasti itu bukan anaknya ardy