Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Angin malam bertiup semakin kencang, membawa aroma tanah basah dan bau busuk yang samar. Di tengah kegelapan, lonceng hitam di pinggang pria berjubah hitam bergoyang pelan.
Ting...
Suaranya terdengar begitu lembut dan jernih. Namun, begitu gema lonceng itu memotong keheningan, belasan boneka mayat di sekeliling mereka serentak mengangkat kepala. Sepasang mata mereka yang semula kosong mendadak menyala kemerahan, dipenuhi insting membunuh yang liar.
Guru Tian langsung berseru memperingatkan dari dalam liontin. "Jangan dengarkan suara lonceng itu! Lindungi kesadaranmu!"
Arga dengan cepat bereaksi, menyelimuti kedua telinganya dengan lapisan Qi tipis untuk meredam gelombang suara terkutuk tersebut. Namun di sampingnya, Nara terlambat.
Gadis itu tertegun, tatapan matanya perlahan-lahan berubah menjadi kosong dan kehilangan fokus. Jemarinya melemas, membuat busur panah yang sejak tadi didekapnya perlahan terlepas dan jatuh ke tanah.
"Nara!" Arga mengguncang kuat bahu gadis itu, mencoba menyadarkannya. Namun, Nara sama sekali tidak memberikan respons dan hanya berdiri mematung layaknya boneka tak bernyawa.
Pria berjubah hitam itu tertawa pelan, dipenuhi rasa puas. "Sayang sekali. Teman perjalananmu ternyata memiliki pertahanan jiwa yang sangat lemah. Mulai sekarang... dia sepenuhnya menjadi milikku."
Ting...
Lonceng kecil itu kembali berdentang.
Di bawah pengaruh suara tersebut, gerakan Nara berubah kaku. Ia perlahan merogoh pinggangnya, mencabut sebuah belati kecil yang tajam, lalu mengarahkannya tepat ke lehernya sendiri.
Wajah Arga seketika pucat pasi. "Nara! Hentikan!"
Guru Tian berbicara dengan nada cepat dan tegas di benak Arga. "Jangan mendekatinya secara langsung, Arga! Hancurkan lonceng di pinggang bajingan itu! Selama lonceng itu masih berbunyi, semua usahamu untuk membebaskan gadis itu akan sia-sia!"
Arga langsung menangkap perintah sang guru. Ia mempererat genggamannya pada gagang Pedang Penjaga Langit, lalu melesat maju.
Pria berjubah hitam itu hanya tersenyum meremehkan. "Hanya dengan kekuatan sekecil itu, kau pikir bisa menembus pertahananku?"
Mengikuti perintah tak kasat mata, belasan boneka mayat langsung bergerak serempak, mengadang jalur pergerakan Arga.
Brak! Brak! Brak!*l
Arga terpaksa menebas membabi buta untuk membuka jalan di antara kepungan makhluk-makhluk mengerikan itu. Setiap ayunan pedangnya berhasil memotong lengan atau kaki boneka mayat yang mendekat. Namun, makhluk-makhluk itu tidak mengenal rasa sakit ataupun takut; mereka tetap merangkak dan bangkit menyerang meski tubuh mereka telah terkoyak.
"Dasar makhluk menyebalkan!" Arga mulai terengah-engah, tenaganya terkuras cepat karena jumlah musuh yang terlalu timpang. Di saat yang sama, ia melirik ke belakang dan melihat mata pisau belati Nara sudah tinggal beberapa sentimeter lagi dari kulit lehernya.
Guru Tian menggertakkan giginya erat-erat. "Arga! Percayalah pada keteguhan hati temanmu! Fokus pada targetmu!"
Arga terdiam sejenak, lalu memejamkan matanya rapat-rapat di tengah kepungan musuh. Ia menarik napas dalam-dalam, mengabaikan seluruh cakar dan erangan boneka mayat di sekelilingnya. Fokusnya kini menyusut drastis, hanya tertuju pada satu objek: lonceng hitam itu.
Saat ia membuka matanya kembali, dunia di sekitarnya seolah bergerak melambat. Suara langkah kaku mayat hidup, hembusan angin malam, hingga kilatan cahaya bulan yang memantul di permukaan logam—semuanya terlihat begitu jelas di mata Arga.
"Itu dia..."
Arga melangkah dengan presisi yang luar biasa. Ia menekuk tubuhnya untuk menghindari satu cakar maut, memutar tubuh melewati hunjaman tombak berkarat, lalu melompat tinggi memanfaatkan bahu salah satu boneka mayat sebagai pijakan.
Dengan seluruh sisa tenaga yang berhasil dikumpulkannya, Arga meluncur turun dan menusukkan ujung Pedang Penjaga Langit lurus ke arah lonceng hitam di pinggang lawan.
Pria berjubah hitam itu baru menyadari niat asli Arga, namun segalanya sudah terlambat. "Tidak!"
Clang!
Bilah pedang legendaris itu menghantam telak permukaan lonceng hitam.
Krakkk....
Sebuah garis retakan kecil muncul di permukaan pusaka tersebut. Wajah pria berjubah hitam itu seketika berubah drastis. "Ini mustahil! Lonceng ini adalah pusaka tingkat tinggi yang—"
Krak!
Retakan itu melebar dengan sangat cepat, hingga akhirnya...
PRAANG!
Lonceng hitam itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan tak berguna.
Dalam sekejap mata, belasan boneka mayat di sekeliling desa langsung berhenti bergerak dan tumbang ke tanah seperti boneka kayu yang putus talinya. Di saat yang sama, tatapan mata Nara kembali jernih. Belati di tangannya terlepas dan berdenting jatuh ke atas tanah.
"A-apa yang baru saja terjadi?" bisik Nara kebingungan sembari memegangi kepalanya yang pening.
Di sisi lain, pria berjubah hitam itu mendadak berlutut dan memuntahkan seteguk darah segar. Hancurnya pusaka yang telah terikat dengan jiwanya memberikan serangan balik yang sangat fatal pada meridian tubuhnya.
Tatapannya yang terarah pada Arga kini tidak lagi dipenuhi oleh rasa keserakahan, melainkan kebencian murni yang mendalam. "Bagus... Luar biasa, Bocah. Jika begitu caranya... aku sendiri yang akan mencabik-cabik tubuhmu dengan tanganku sendiri!"
Buumm!
Gelombang Qi hitam yang pekat dan berbau busuk meledak hebat dari tubuh pria itu. Tanah di bawah pijakan kakinya seketika berubah menghitam, dan rerumputan di sekitarnya layu lalu mati dalam hitungan detik.
Melihat perubahan drastis tersebut, Guru Tian langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat serius di dalam alam kesadaran Arga.
"Arga, berhati-hatilah... Pria ini bukan lagi seorang kultivator di Alam Pemurnian Qi seperti yang kita duga. Dia sudah berhasil melangkah masuk ke dalam Alam Fondasi."
Mendengar hal itu, jantung Arga berdegup kencang. Perbedaan tingkat kekuatan di antara mereka kini kembali terbentang lebar, bagaikan sebuah jurang dalam yang tidak terlihat dasarnya.