" Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku " ucap Arasya menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa restoran masih dengan stelan jas kerjanya .
......
Sean Brisbane menjadi terheran-heran memikirkan gadis yang sudah beberapa hari ini selalu mengejar nya bahkan berusaha mendekati nya tanpa ragu .
" Sangat centil " ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi .
" Kenapa? apa aku terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatapku memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstik nya yang di jatuhkan Sean .
" Cantik?" ulang Sean dengan tatapan geli nya pada gadis kepedean itu.
" Ayolah Kak jadi pacar Ara aja , Ara suka sama Kak Sean, ganteng !" gemas Ara dengan tampang cegil nya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.
next
yuk baca cerita Ara , sicegil Bang Sean
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 Sangat menyayangi pacar kecil
"Baby, kenapa baru bilang sekarang?" suara lesu Sean yang sudah melakukan banyak persiapan.
"Daddy baru mengatakannya ketika pulang dari kantor," jawab Ara.
"Tapi Ara udah izin sama Daddy untuk menemani Ayang menghadiri acara pesta malam nanti," kata Ara lagi.
"Bilang apa sama Daddy izinnya?" pertanyaan Sean.
"Ketika Ara izin, Daddy nanya nama Ayang, terus pas Ara jawab, Daddy mengatakan kalau dia sudah kenal Ayang sejak lama," cerita Ara dengan polos.
"Lalu apa lagi yang Daddy katakan?" ucap Sean semakin deg-degan.
"Daddy bertanya apakah hubungan kita ada masalah? Terus Ara bilang baik-baik saja," Ara menjawab setiap pertanyaan yang Sean tanyakan lalu tidak lama menutup telepon.
"Bim, bagaimana ini?" kata Sean dengan wajah cemasnya.
"Maaf, Tuan Muda, tapi sepertinya Daddy Non Ara merasa Tuan Muda menomorduakan anaknya," kata Bimo mengatakan pendapatnya.
"Iya kan, aku merasa Daddy Ara melihat aku bersama kedua orang tuaku dan Shania di acara kemarin sehingga dia merasa kalau aku menomorduakan Ara dengan membawa Shania ke acara bisnis," ucap Sean yang juga berpikiran sama.
"Tapi, Bim, aku tidak ada maksud begitu," resah Sean.
"Mungkin beliau merasa Tuan Muda memanfaatkan kepolosan dan cinta Non Ara," ucap Bimo.
"Memanfaatkan?" ulang Sean.
"Karena Non Ara mencintai Tuan Muda, maka Tuan Muda bisa mengendalikan, termasuk membohonginya dengan beberapa alasan, apalagi dia masih polos," jelas Bimo.
"Salah satu ketika acara bisnis kemarin, Non Ara itu masih kuliah dan belum tahu apa-apa. Makanya Tuan Muda mengajak Nona Shania untuk menghadiri acara bergengsi seperti semalam," Bimo menjelaskan tentang apa yang dipikirkan orang tua Ara.
"Tidak, Bim. Bahkan tidak pernah terbesit di pikiranku untuk melakukan itu. Malah aku ingin mengajarinya," jujur Sean yang sangat menyayangi pacar kecilnya.
"Aku tidak ingin Ara sampai berpikir begitu. Itu akan sangat menyakiti perasaannya," ucap Sean yang bahkan tidak bisa membayangkan jika Ara merasa begitu.
"Tapi sepertinya kedua orang tua Non Ara berpikir begitu," pendapat Bimo.
"Jadi aku harus bagaimana?" bingung Sean.
"Tuan Muda harus menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang di hadapan publik padanya," saran Bimo.
"Aku memang tidak pernah menutupi hubungan kami dari publik, Bim. Apa aku perlu melakukan konferensi pers untuk memperjelas status kami?" ucap Sean.
"Kalau untuk konferensi pers, rasanya belum perlu karena hanya sebatas berpacaran, belum tunangan," Bimo menggelengkan kepalanya.
"Apa aku nikahi saja dia, Bim?" kata Sean yang sudah siap mental dan materi.
"Non Ara kan masih kecil, belum terlalu dewasa, dan juga masih kuliah," pendapat Bimo.
"Aku akan menjadi suami yang melindungi dan mengayominya, Bim," kata Sean yang jadi ingin menikahi Ara segera.
"Tuan Muda memang sudah siap mental maupun materi, tapi bagaimana dengan Nona Ara? Selain mental, bersamaan dengan itu dia akan menjadi Nyonya Besar keluarga Brisbane, dan itu tanggung jawabnya tidak sedikit." Sean jadi berpikir dua kali mendengar ucapan Bimo.
"Iya juga, kasihan pacar kecilku. Dia masih ingin bermain dan jalan-jalan dengan bebas di masa remajanya," ucap Sean menatap foto Ara yang kini menjadi wallpaper layar ponselnya.
"Huhhhh, kenapa istriku harus menjadi Nyonya Besar keluarga Brisbane? Jika tidak, pasti walaupun sudah menikah, Ara tetap bisa bebas mengikuti semua keinginannya. Bahkan sebagai suami, aku akan memberikan kebebasan tanpa harus mengekangnya," ucap Sean yang sangat menyayangi Ara.
"Harus, bagaimanapun Tuan Muda terlahir sebagai pewaris tunggal keluarga Brisbane dan bersamaan dengan itu, istri Tuan Muda kelak adalah Nyonya Besar selanjutnya dari keluarga Brisbane," ucap Bimo.
"Menjadi Tuan Muda seperti kutukan saja," ucap Sean menarik napas berat.
"Kutukan sekaligus kenikmatan hakiki," sambung Bimo yang menjadi saksi betapa mewah dan terjaminnya hidup Sean dari dulu.
......
Malam harinya, Sean menjemput Ara ke rumahnya.
"Ayang!" teriak Ara berlari memeluk Sean yang baru keluar mobil.
" Cantiknya pacarku," senyum lebar Sean mengelus kepala Ara yang cantik sekali memakai gaun biru tua pilihannya.
"Cantik dong, kan gaunnya Ayang yang pilih," kata Ara kesenangan melepaskan pelukannya dan tanpa terduga mengecup pipi Sean.
Seluruh bodyguard rumah Ara maupun pengawal Sean langsung balik badan melihat adegan tiba-tiba itu.
"Ayang juga ganteng banget," kata Ara mengusap sedikit bekas lipstiknya di pipi Sean.
"Ohhhh iya, terima kasih. Ayang, pakaian sama perhiasannya bagus," kata Ara tersenyum lebar, sangat menyukai satu set pakaian yang Sean hadiahkan untuknya.
"Sama-sama, Baby," ucap Sean mengecup pucuk kepala Ara yang berdiri di hadapannya.
"Daddy dan Mommy sudah pergi dari tadi?" tanya Sean menatap ke dalam rumah Ara karena mereka masih berdiri di depan pintu.
"Mereka sudah pergi 10 menit yang lalu," kata Ara berpamitan pada kepala pelayan yang sepertinya pengasuh Ara sejak kecil karena Ara sangat hormat dan sayang padanya.
Di perjalanan.
"Ayang tahu, Mommy bilang selera Ayang bagus," cerita Ara yang duduk memeluk sebelah lengan Sean di sampingnya.
"Bagus apanya?" gelagapan Sean yang masih teringat tatapan sinis Mommy Ara yang melihatnya bersama Shania di acara kemarin lewat rekaman CCTV yang baru dia dapatkan sore tadi.
"Semua yang Ayang pilihkan bagus, mulai dari baju, perhiasan, jepit rambut, heels, dan juga tas," kata Ara menyebutkan semua yang dikomentari Mommy-nya.
"Tas?" ulang Sean yang tidak memberikan Ara tas.
"Ehhhh, iya. Ini kan tas Mommy yang beliin untuk Ara. Kenapa Mommy puji tas bagus, ya?" ucap Ara jadi kepikiran memandang tas genggam mahal di tangannya.
"Hmmm, Bos, ada email masuk?" kata Bimo yang duduk di samping kemudi memberikan ponselnya pada Sean.
"Sebentar, ya, Baby," kata Sean yang diangguki Ara yang masih berpikir itu.
Mata Sean melotot begitu melihat berita yang menyorot tas yang dipakai Shania di acara kemarin adalah edisi khusus dari perusahaan Sinta Brisbane.
"Ayang, sepertinya Mommy lupa kalau tas yang Ara pakai ini dia yang membelikan. Mungkin karena senada dengan gaun ini, jadi dia berpikir Ayang yang membelikan," kata Ara setelah beberapa saat yang diangguki Sean.
"Bim, ini ponselnya," kata Sean memberikan ponsel Bimo dengan tatapan sendunya.
"Baby, geser ke sini, biar aku peluk," kata Sean yang sangat menyayangi pacar kecilnya, namun kenapa kesalahpahaman seperti terus tercipta di tengah keluarga mereka?
"Kan kata Ayang nggak boleh manja, harus anggun," kata Ara dengan polos malah memperbaiki posisi duduknya agar lebih baik dan sopan.
"Itu kalau di hadapan publik. Kalau bersamaku, boleh manja dan sesuka hati kamu," pernyataan Sean menarik Ara agar duduk lebih dekat dengannya.
"Tapi kan ada mereka?" ucap Ara menatap sopir dan juga Bimo.
"Tidak apa-apa, lagian kita hanya berpelukan," ucap Sean.
"Baby, cepatlah."