NovelToon NovelToon
THE 13TH FLOOR

THE 13TH FLOOR

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:221
Nilai: 5
Nama Author: Putri CS

1. "THE 13TH FLOOR"

Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist

Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.

Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.

Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10 senyum mereka

Jam digital masih menunjukkan angka 00.13.

Suara "Ding..." dari arah lift kembali menggema di seluruh lantai. Suaranya lebih panjang dari biasanya, membuat bulu kuduk Alea berdiri.

Tatapan semua orang tertuju padanya.

"Kamu nggak boleh pergi sendirian," kata Keanu tegas.

"Kalau ini jebakan gimana?" sambung Dimas.

Raka mengangguk. "Kita pergi sama-sama."

Alea menunduk menatap surat itu sekali lagi.

«Datang sendirian.»

Entah mengapa, ada perasaan aneh di dalam dirinya. Seolah-olah seseorang benar-benar sedang meminta bantuannya, bukan ingin mencelakakannya.

"Aku harus ke sana," ucap Alea pelan.

"Lea!"

"Aku nggak akan masuk lift. Aku cuma mau lihat siapa yang ngirim surat ini."

Naya langsung menggenggam tangan sahabatnya.

"Kalau kamu tetap mau pergi... aku ikut."

Alea tersenyum tipis.

"Kali ini jangan."

Ia membuka pintu kamar sebelum sempat dicegah.

Koridor tampak kosong.

Lampu-lampu menyala redup, memantulkan bayangan panjang di lantai marmer.

Dengan langkah pelan, Alea berjalan menuju lift.

Setiap langkahnya terdengar begitu jelas.

Tok... Tok... Tok...

Semakin dekat.

Semakin dingin udara di sekitarnya.

Saat ia tiba di depan lift, pintunya sudah terbuka.

Di dalamnya berdiri seorang gadis berusia sekitar lima belas tahun.

Rambutnya sebahu.

Seragam sekolahnya penuh abu.

Namun wajahnya...

Sangat berbeda dengan hantu-hantu yang pernah Alea lihat.

Gadis itu tampak seperti manusia biasa.

"Apa... kamu Maya?" tanya Alea.

Gadis itu mengangguk pelan.

"Aku tidak punya banyak waktu."

Suaranya lembut, tetapi dipenuhi kesedihan.

"Kalian sedang diawasi."

"Siapa yang mengawasi kami?"

Maya tidak langsung menjawab.

Ia justru menyerahkan sebuah kalung perak berbentuk angka 13 kepada Alea.

"Jangan sampai benda ini jatuh ke tangan resepsionis."

"Kenapa?"

Karena panik, Maya menoleh ke belakang lorong lift.

Wajahnya mendadak pucat.

"Dia datang..."

Tiba-tiba lampu lift berkedip.

Krek... Krek...

Maya mundur beberapa langkah.

"Alea, dengarkan aku baik-baik."

"Lantai 13 bukan tempat paling berbahaya di hotel ini."

Alea membelalak.

"Lalu?"

Maya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Yang paling berbahaya..."

"...adalah orang yang masih hidup."

Belum sempat Alea bertanya lebih jauh..Terdengar suara langkah kaki dari ujung koridor.

Tok... Tok... Tok...

Bukan langkah kecil seperti gadis itu.

Langkah ini berat,Mantap,Dan semakin mendekat.

Maya langsung panik.

"Pergi!"

"Pergi sekarang juga!"

Pintu lift perlahan mulai menutup sendiri.

Sebelum benar-benar tertutup, Maya berteriak sekuat tenaga.

"JANGAN PERCAYA GURU PENDAMPING KALIAN!"

BRAK!

Pintu lift menutup rapat.

Panel angka langsung bergerak sendiri.

13.

Di saat yang sama, seseorang menepuk bahu Alea dari belakang.

"Alea..."

Suara itu begitu dikenalnya.

Suara salah satu guru pendamping.

Namun ketika Alea perlahan menoleh...Ia melihat sesuatu yang membuat darahnya seakan berhenti mengalir.

Di belakang guru itu...Berdiri belasan sosok hangus terbakar Mereka semua tersenyum.

Dan menatap Alea tanpa berkedip.Napas Alea tercekat.

Belasan sosok hangus itu berdiri diam di belakang guru pendampingnya, Pak Bima. Tubuh mereka gosong, pakaian sekolah yang mereka kenakan robek di sana-sini, dan aroma asap memenuhi koridor.

Anehnya...Pak Bima tampak sama sekali tidak menyadari keberadaan mereka.

"Alea?"

Pak Bima mengernyit.

"Kamu ngapain sendirian di sini malam-malam?"

Alea tidak mampu menjawab. Tatapannya masih tertuju pada para sosok di belakang guru itu.

Mereka tidak bergerak,Tidak berbicara,Hanya tersenyum.

Senyuman yang terasa begitu kosong.

"Alea?" panggil Pak Bima sekali lagi.

Tiba-tiba, salah satu sosok hangus mengangkat tangannya perlahan.

Jari telunjuknya mengarah ke arah Pak Bima.

Lalu ia menggeleng pelan.

Seolah sedang memperingatkan Alea.

Jangan percaya dia.

Seketika ucapan Maya kembali terngiang di kepalanya.

"Yang paling berbahaya adalah orang yang masih hidup."

Dan...

"Jangan percaya guru pendamping kalian!"

"Alea, kamu pucat sekali," kata Pak Bima sambil melangkah mendekat. "Apa kamu sakit?"

Refleks, Alea mundur selangkah.

Pak Bima berhenti.

Ekspresinya berubah heran.

"Kenapa? Kamu takut sama Bapak?"

"Bukan... saya cuma..."

Belum sempat Alea menyelesaikan kalimatnya, suara pintu kamar terbuka terdengar dari ujung koridor.

"Lea!"

Naya, Raka, Keanu, Dimas, dan Liora berlari menghampirinya.

"Syukurlah kamu nggak kenapa-kenapa," ujar Naya sambil memeluk Alea.

Pak Bima tersenyum tipis.

"Lain kali jangan berkeliaran tengah malam. Ini hotel yang asing."

"Baik, Pak," jawab Keanu.

Pak Bima pun pergi meninggalkan mereka.

Namun saat tubuhnya melewati para sosok hangus itu...

Satu per satu sosok tersebut ikut berjalan di belakangnya.

Seolah mereka selalu mengikuti setiap langkah sang guru.

Alea memandangi mereka hingga menghilang di ujung lorong.

"Lea," bisik Keanu, "kamu ketemu siapa?"

Alea membuka telapak tangannya.

Di sana masih tergenggam kalung perak berbentuk angka 13 yang diberikan Maya.

"Aku ketemu Maya."

Semua terdiam.

"Apa?" tanya Raka pelan.

"Dia bilang... lantai 13 bukan tempat paling berbahaya."

"Lalu?"

Alea menarik napas panjang.

"Yang paling berbahaya... adalah orang yang masih hidup."

Keheningan menyelimuti mereka.

Belum sempat ada yang berbicara, terdengar suara pengeras suara hotel yang tiba-tiba menyala sendiri.

"Perhatian kepada seluruh tamu..."

Suara perempuan itu terdengar serak.

"Mohon jangan keluar kamar setelah pukul 01.00..."

"Karena... penghuni lantai 13 akan mulai mencari pengganti."

Suara pengeras itu mendadak terputus.

Lampu koridor berkedip.

Dan di ujung lorong...Sesosok gadis kecil bergaun putih kembali muncul.

Kali ini...Ia tidak sendirian Di belakangnya berdiri enam siswa berseragam gosong.

Salah satu dari mereka perlahan mengangkat wajahnya.

Raka langsung membeku.

"Mustahil..."

Karena wajah siswa itu...Sama persis dengannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!