NovelToon NovelToon
Mahkota Mawar

Mahkota Mawar

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.

Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.

Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."

Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.

Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.

Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?

Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.

Tapi sudah terlambat.

Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.

Dan dia tidak akan melepaskannya.

🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 032

Ajakan ke Dufan

"Bukan, Bu. Pak Susanto sudah lama sekali memesan model ini."

Kalimat itu mengikuti Louisa sampai keluar dari butik.

Pacific Place tetap ramai. Orang-orang berjalan melewati etalase, membawa paper bag, kopi dingin, dan percakapan ringan tentang makan siang. Tidak ada yang tahu bahwa di tangan Louisa, satu fakta kecil baru saja mengubah susunan banyak ingatan.

Nathanael sudah memesan Coisíní jauh sebelum ia menabung untuk Kevin.

Bukan setelah melihatnya gagal membeli.

Bukan karena kasihan.

Bukan untuk mengambil benda yang ia inginkan.

Ia sudah memilih jam itu lebih dulu.

Louisa duduk di bangku dekat instalasi tanaman indoor, meletakkan paper bag kertas cat air di sampingnya. Ia membuka ponsel, lalu menutupnya lagi. Ia ingin mengirim pesan kepada Nathanael, tetapi tidak tahu harus menulis apa.

Kamu pesan jam itu sejak kapan?

Kenapa tidak bilang?

Apa lagi yang kamu simpan?

Semua pertanyaan itu terasa terlalu besar untuk WhatsApp.

Jadi ia hanya duduk, mendengar suara langkah orang lewat, sampai ponselnya bergetar.

Nathanael:

Kamu sudah makan siang?

Louisa menatap pesan itu.

Di antara semua hal yang bisa ia tanyakan, Nathanael tetap bertanya soal makan.

Louisa:

Belum.

Balasan datang cepat.

Nathanael:

Makan dulu. Jangan cuma beli kertas.

Louisa menggigit bibir.

Ia hampir bertanya dari mana Nathanael tahu ia membeli kertas. Lalu ingat bahwa tadi pagi ia memang menyebut ingin ke toko art supplies. Ada hal-hal yang Nathanael tahu karena ia memperhatikan saat ini. Ada hal-hal yang ia tahu karena sejak lama ia sudah melihat.

Dua jenis pengetahuan itu mulai bercampur di kepala Louisa.

Malamnya, Nathanael pulang tidak terlalu larut. Louisa sedang menyusun kertas cat air baru di meja kerja. Coisíní tidak terlihat karena lengan kemejanya turun sampai pergelangan, tetapi justru karena tidak terlihat, Louisa semakin sadar ia tahu benda itu ada di sana.

"Aku beli kertas," katanya, hanya untuk membuka percakapan.

"Aku lihat paper bag."

"Aku juga ke butik jam lagi."

Nathanael berhenti di depan pintu kamarnya.

Tidak pura-pura tidak mengerti.

Tidak bertanya butik apa.

Louisa menghargai itu, meski diamnya membuat ruangan terasa lebih sempit.

"Mereka menemukan catatan lama," lanjutnya.

Nathanael menatapnya. "Apa yang mereka bilang?"

"Bahwa Pak Susanto sudah lama sekali memesan model itu."

Kalimat itu akhirnya berada di antara mereka.

Nathanael tidak menyangkal.

"Benar," katanya.

Satu kata.

Satu kata yang mengunci semua pintu keluar.

Louisa ingin bertanya kenapa. Namun begitu melihat wajah Nathanael, pertanyaan itu tertahan. Ia tidak terlihat seperti seseorang yang bangga menyimpan kejutan. Ia terlihat seperti seseorang yang sudah siap disalahpahami sejak lama.

"Aku belum tahu harus merasa apa," kata Louisa jujur.

"Tidak apa-apa."

"Kamu selalu bilang tidak apa-apa."

"Karena kalau kamu belum tahu, aku tidak mau memaksakan jawaban."

Louisa menatap gulungan kertas di tangannya. "Kamu juga tidak menjawab."

"Aku akan jawab kalau kamu tanya."

"Aku tahu." Ia menarik napas. "Tapi kalau aku tanya sekarang, mungkin aku cuma akan marah karena bingung."

Nathanael menerima kalimat itu tanpa defensif. "Kalau begitu jangan tanya sekarang."

Hening sesaat.

Lalu, di luar dugaan, ia berkata, "Sabtu ini kamu ada rencana?"

Louisa mengangkat kepala. "Sabtu?"

"Iya."

"Tidak. Kenapa?"

"Mau ke Dufan?"

Louisa memandangnya seolah ia baru saja mengusulkan rapat komisaris di tengah wahana putar.

"Dufan Ancol?"

"Ada Dufan lain?"

"Kamu mau ke taman bermain?"

"Kalau kamu mau."

"Kamu suka taman bermain?"

Nathanael diam sebentar. "Aku belum tahu."

Jawaban itu begitu serius sampai Louisa hampir tertawa.

"Orang biasanya sudah tahu dia suka atau tidak."

"Berarti aku perlu mencari tahu."

Louisa menyipitkan mata. "Ini ide siapa? Stella?"

"Stella punya banyak ide buruk. Yang ini bukan dari dia."

Ponsel Louisa bergetar tepat setelah kalimat itu.

Stella:

Ci Lou, Sabtu jangan pakai sepatu cantik ya. Pakai yang nyaman.

Louisa mengangkat layar ke arah Nathanael.

Nathanael membaca pesan itu dan untuk pertama kalinya malam itu tampak sedikit kalah.

"Dia tahu," kata Louisa.

"Dia menebak."

Pesan berikutnya masuk.

Stella:

Dan sunscreen. Jangan percaya Ko Nath kalau bilang panasnya biasa aja.

Pesan ketiga menyusul sebelum Louisa sempat membalas.

Stella:

Topi juga. Jangan bawa tas berat. Ko Nath kalau panik biasanya tetap sok tenang, jadi kamu yang harus realistis.

Louisa menatap Nathanael.

"Menebak?"

Nathanael mengalihkan pandangan. "Mungkin aku sempat tanya soal tiket."

"Dan sunscreen?"

"Aku bertanya cuaca."

"Dan topi?"

"Itu informasi tambahan yang tidak kuminta."

Rasa berat di dada Louisa tidak hilang sepenuhnya. Coisíní masih ada di antara mereka. Pertanyaan lama masih menunggu. Tetapi melihat Nathanael yang biasanya bisa menghadapi investor, media, dan Jason dengan wajah datar, kini tersudut oleh dua pesan Stella, membuat sesuatu di dalam dirinya melunak.

"Baik," katanya.

Nathanael kembali menatapnya.

"Baik apa?"

"Sabtu. Kita ke Dufan."

Di layar, Stella mengirim satu pesan lagi.

Stella:

Aku tidak ikut. Ini bukan family trip. Jangan bikin aku malu, Ko Nath.

Louisa membacanya, lalu akhirnya tertawa.

Nathanael menutup mata sebentar, seperti seseorang yang menyesal pernah punya adik.

Untuk pertama kalinya sejak mendengar catatan Coisíní, Louisa merasa pertanyaan berat itu bisa menunggu satu hari lagi.

Tanpa Kevin. Tanpa kantor.

Sabtu ini, mereka akan pergi ke Dufan Ancol.

1
Rara Salsa
bagus bangettt ceritanya ngena bangetttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!