NovelToon NovelToon
Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.

"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."

Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.

Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.

Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.

Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.

Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.

Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 005

Spidol hitam berhenti di udara.

Dosen Teori Visual, Pak Darma, berdiri di depan papan tulis dengan alis berkerut. Di layar proyektor, sebuah studi kasus desain ruang publik tampil bersama tiga pertanyaan analisis. Selama lima menit terakhir, ruang kelas hanya dipenuhi suara pendingin ruangan dan gesekan pulpen yang ragu-ragu.

"Tidak ada yang mau mencoba?" tanya Pak Darma.

Tidak ada yang mengangkat tangan.

Biasanya Meiran juga tidak.

Di kehidupan sebelumnya, kelas seperti ini hanya latar belakang baginya. Ia duduk di kursi dekat jendela, menggambar profil Hafeng di pinggir buku, lalu menunggu waktu istirahat agar bisa pura-pura kebetulan bertemu dengannya. Nilainya tidak buruk karena ia cerdas, tetapi tidak pernah cukup tajam untuk membuat orang berhenti meremehkannya.

Pagi ini, pipi kirinya masih menyimpan sisa panas tamparan kemarin.

Itu membuatnya lebih mudah fokus.

Meiran menutup buku catatan yang halaman terakhirnya tidak lagi berisi wajah Hafeng, melainkan tabel materi ujian. Ia mengangkat tangan.

Beberapa kepala langsung menoleh.

Pak Darma terlihat sedikit terkejut. "Ya, Lim Meiran?"

"Saya boleh menggunakan papan, Pak?"

Bisikan langsung bergerak dari baris belakang.

"Sejak kapan dia serius?"

"Mungkin mau cari perhatian lagi."

"Hafeng ada di kelas gabungan hari ini, kan?"

Meiran mendengar semuanya. Ia berdiri tanpa menoleh. Sepatunya mengetuk lantai pelan saat berjalan ke depan.

Di baris kanan belakang, Lo Hafeng duduk bersama Tee Chiko. Kelas gabungan Teori Visual memang mempertemukan mahasiswa seni dan arsitektur dua kali seminggu. Hafeng tidak melihat ke arahnya, setidaknya tidak secara terang-terangan. Namun tangan pria itu berhenti membalik halaman ketika Meiran mengambil spidol dari Pak Darma.

Chiko menyikut Hafeng pelan. "Feng, perempuan jahatmu maju."

"Bukan punyaku," jawab Hafeng datar.

"Kemarin kamu tanda tangan."

Hafeng menatap Chiko.

Chiko langsung pura-pura membaca buku.

Di depan kelas, Meiran menggambar tiga kotak besar di papan.

Alur manusia.

Titik tekanan visual.

Ruang jeda.

Tulisan tangannya tegas. Tidak manis, tidak berlebihan. Ia lalu menarik garis dari pintu masuk denah menuju area duduk, memecahnya menjadi beberapa jalur, dan menandai bagian yang membuat ruang terasa sesak.

"Masalah utama desain ini bukan warna," kata Meiran. "Bukan juga ukuran kursi. Masalahnya ada pada ritme pergerakan. Semua jalur dipaksa bertemu di titik yang sama, sementara objek visual paling kuat justru diletakkan di sudut mati."

Kelas menjadi lebih sunyi.

Pak Darma melipat tangan. "Lanjutkan."

Meiran mengganti spidol hitam dengan merah.

"Kalau targetnya ruang publik untuk pengunjung baru, titik informasi harus terlihat dalam tiga detik pertama setelah masuk. Tapi kalau semua elemen berebut perhatian, orang akan berhenti di tengah. Ruang menjadi macet, bukan hidup."

Ia menggambar ulang denah dengan cepat.

"Pindahkan meja informasi ke sisi kanan, buat jalur melengkung, sisakan ruang kosong di tengah. Bukan semua ruang kosong harus diisi. Kadang bagian kosong justru membuat manusia berani bergerak."

Kalimat terakhir membuat beberapa mahasiswa mengangkat kepala.

Pak Darma diam beberapa detik, lalu mengambil spidol biru dan menambahkan tanda di salah satu garis Meiran.

"Analisis yang bagus. Kamu membaca referensi dari mana?"

"Buku Kevin Lynch dan catatan kuliah Bapak minggu lalu."

"Kamu ingat catatan minggu lalu?"

"Saya menulisnya."

Seseorang di baris belakang berbisik, "Serius?"

Meiran meletakkan spidol. "Tapi solusi ini masih perlu diuji dengan pola pengguna. Kalau hanya bagus di denah, itu belum desain. Itu dekorasi yang pura-pura pintar."

Pak Darma tertawa pendek. "Pedas, tapi benar."

Suasana kelas berubah.

Bisikan yang semula mengejek berganti menjadi rasa ingin tahu. Beberapa mahasiswa mulai memotret papan, bukan wajah Meiran. Bagi Meiran, itu kemenangan kecil yang lebih bersih daripada seratus kali mengejar Hafeng di koridor.

**【Sistem Predator】Perubahan persepsi lingkungan terdeteksi. Reputasi akademik Host mulai terkoreksi.**

Meiran kembali ke tempat duduk.

Saat melewati baris kanan, ia merasakan tatapan Hafeng akhirnya jatuh padanya. Bukan tatapan jijik seperti kemarin. Bukan juga lembut. Lebih seperti seseorang melihat benda yang selama ini dianggap rusak, lalu menemukan bahwa mesin di dalamnya masih bekerja.

Nilai Cinta belum muncul.

Tetapi perhatian sudah ada.

Itu cukup untuk hari ini.

Pak Darma melanjutkan kuliah dengan memakai sketsa Meiran sebagai contoh. Setiap kali ia menyebut "analisis Lim Meiran", beberapa orang menoleh lagi. Wanyu tidak ada di kelas gabungan itu, tetapi Meiran tahu berita kecil seperti ini akan sampai kepadanya lebih cepat daripada jadwal ujian.

Ketika kelas selesai, beberapa mahasiswa mendekati papan untuk memotret lebih jelas. Seorang mahasiswi yang kemarin membantunya memungut sketsa menghampiri.

"Meiran, kamu punya catatan materi minggu lalu?" tanyanya. "Aku boleh pinjam foto?"

"Boleh." Meiran membuka tabletnya. "Tapi jangan sebarkan tanpa konteks. Aku pakai singkatan sendiri."

"Iya. Makasih."

Mahasiswi itu menurunkan suara. "Dan soal video kemarin... kamu baik-baik saja?"

Meiran memasukkan pulpen ke tas. "Pipiku masih ada. Jadi cukup baik."

Mahasiswi itu tersenyum canggung, lalu tertawa kecil. "Kamu beda banget hari ini."

"Kemarin juga beda."

"Iya, tapi hari ini lebih... keren."

Meiran tidak menjawab. Pujian seperti itu dulu akan membuatnya terbang. Sekarang ia hanya menyimpannya sebagai data. Reputasi adalah modal. Modal harus dipakai, bukan diminum seperti madu.

Sebelum pergi, dua mahasiswa lain ikut meminta foto catatannya. Salah satu dari mereka bahkan menghapus pesan ejekan yang sempat ia tulis di grup angkatan. Meiran melihat gerakan itu dari sudut mata dan pura-pura tidak tahu.

Perubahan kecil tetap perubahan.

Di pintu kelas, Hafeng berhenti sebentar.

Chiko berjalan di sampingnya sambil menahan senyum. "Bro, kalau dia benar-benar pintar, kamu bisa kalah."

"Diam."

"Aku cuma bilang. Tadi analisanya rapi. Dosen sampai senyum begitu."

Hafeng melirik papan yang masih penuh tulisan Meiran. "Satu jawaban bagus tidak membuktikan apa pun."

"Tapi membuktikan dia bukan cuma penggambar wajahmu."

Hafeng tidak menjawab.

Meiran mendengar percakapan itu dari jarak beberapa langkah. Ia sengaja tidak menoleh. Kadang umpan paling baik adalah berpura-pura tidak tahu ikan sudah mendekat.

Ia berjalan keluar kelas menuju koridor terbuka. Udara Jakarta terasa panas meski hari belum siang. Di layar ponselnya, grup angkatan sudah ramai.

Video kemarin masih menjadi pembicaraan.

Namun di antara pesan-pesan itu, satu foto papan tulis mulai menyebar.

`Analisis Meiran di kelas Pak Darma. Gila, ternyata dia bisa serius.`

`Kalau gini Hafeng bisa kalah dong?`

`Taruhan mereka beneran?`

Meiran menyimpan ponsel.

**【Sistem Predator】Nilai Cinta target berubah.**

Langkahnya berhenti.

Panel muncul di udara.

Nilai Cinta: -95.

Masih merah. Masih sangat rendah.

Tetapi bukan -100 lagi.

Di balik pilar koridor, Hafeng berdiri dengan ponsel di tangan. Ia rupanya melihat foto papan tulis yang sama. Ketika mata mereka bertemu, Hafeng langsung mematikan layar.

Terlambat.

Meiran tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya, Lo Hafeng diam-diam memperhatikannya bukan karena ia mengejar, melainkan karena ia mulai terlihat seperti lawan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!