Namanya Felicia. Hidupnya biasa-biasa saja — sampai dia terbangun di tubuh orang lain, di sebuah mansion yang lebih besar dari kampusnya, dengan cincin pernikahan di jari manisnya.
Suaminya? Kevin Surya — pewaris nomor tiga Surya Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Wajah tampan yang tersembunyi di balik bekas luka. Tatapan sedingin freezer. Mulut yang tidak pernah mengucapkan lebih dari dua kalimat sekaligus.
Pernikahan mereka adalah kontrak. Tiga tahun. Tidak ada cinta, tidak ada harapan, tidak ada masa depan.
Tapi Felicia punya senjata rahasia — Sistem Kepo, AI misterius yang bersarang di otaknya dan memberinya informasi, obat-obatan ajaib, dan misi-misi gila.
Misi utama: Bantu Kevin Surya merebut kendali Surya Group. Deadline: 3 tahun. Gagal = konsekuensi fatal.
Dan Kevin? Dia punya rahasia sendiri.
Dia bisa membaca pikiran Felicia. Setiap. Kata. Yang. Dia. Pikirkan.
Termasuk saat Felicia berpikir:
"Abs-nya... ada berapa ya? Satu, dua, tiga— YA TUHAN DIA LIHAT AKU MENGHITUNG"
"Pasti gay. Pasti. Tidak mungkin cowok setampan ini straight."
"Kalau aku lempar Bola ke dia, dia bakal teriak kayak cewek tidak ya?"
"Kenapa... pelukan cowok ini sehangat ini..."
Di antara intrik mertua jahat (Madam Liem yang ingin menyingkirkan Kevin), adik tiri bermuka dua (Stella yang ingin mencuri segalanya), dan musuh dari luar negeri yang mengincar kehancuran keluarga Surya — Felicia harus bertahan, melawan, dan... jatuh cinta?
Padahal ini cuma kontrak. Kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Rapat Keluarga, Perebutan Warisan
"Baiklah, Om Hendra. Kita lihat permainanmu."
Permainan Hendra belum sempat Felicia pahami ketika permainan Brandon lebih dulu bergerak.
Malam setelah pertemuan singkat di SCBD, akun anonim yang dipantau Adi mulai melempar potongan narasi.
Istri muda pewaris Surya mendadak aktif di balik layar. Siapa dia sebenarnya?
Kevin Surya dikenal tertutup sejak lama. Apakah ia benar-benar memegang kendali, atau dikendalikan orang baru?
Felicia membaca tangkapan layar di ruang kerja kecil The Residence, lalu tertawa tanpa suara.
"Mereka pintar memilih kata."
Adi berdiri di seberangnya. "Belum viral besar, Bu. Tapi akun ini sering dipakai untuk memancing media lain."
Rina duduk di sofa, menggigit keripik. "Aku bilang, hajar saja."
"Kita hajar dengan data."
Kevin masuk tepat saat Felicia berkata begitu.
"Hendrik memanggil rapat keluarga besok," katanya.
Felicia mengangkat wajah. "Karena rumor?"
"Karena rumor, video Brandon, dan audit proyek."
Jason yang baru datang lima menit lalu langsung duduk lebih tegak. "Jadi akhirnya board kecil?"
Kevin mengangguk.
Felicia melihat semua orang di ruangan. "Madam Liem akan pakai rapat itu untuk bilang Kevin tidak stabil dan saya memengaruhinya."
"Kemungkinan," kata Kevin.
"Brandon akan menawarkan solusi supaya dia terlihat masih berguna."
Jason menunjuk Felicia. "Aku makin yakin kenapa Om Hendra suka kamu."
Rina menendang kaki kursinya. "Fokus, tukang makan gratis."
Keesokan pagi, Surya Mansion tidak terasa seperti rumah. Ruang meeting keluarga di sisi barat sudah disiapkan dengan layar besar, meja panjang, folder tebal, dan tempat duduk yang jelas menunjukkan hierarki. Hendrik duduk di ujung. Madam Liem di sisi kanan. Richard dan beberapa tetua Liem di belakang Brandon. Kevin duduk di sisi kiri, Felicia di sebelahnya.
Beberapa pasang mata langsung jatuh pada cincin berlian di tangan kanan Felicia.
Madam Liem melihatnya juga.
Senyumnya menjadi lebih dingin.
"Felicia ikut rapat?" tanya Richard tanpa basa-basi.
Kevin menjawab, "Ya."
"Ini rapat keluarga dan bisnis."
Felicia tersenyum sopan. "Saya akan diam jika tidak diperlukan."
*Tapi kalau kalian mulai bodoh, aku sulit janji.*
Kevin menurunkan mata ke folder agar tidak bereaksi.
Hendrik mengetuk meja. "Mulai."
Pak Agus membagikan laporan audit awal. Angka-angka Brandon tidak cantik. Ada proyek tertunda, pengeluaran tidak jelas, dan beberapa vendor terkait nominee yang sedang diperiksa. Wajah Brandon mengeras, tapi ia jelas sudah menyiapkan serangan balik.
"Pa," kata Brandon, berdiri sebelum diskusi berjalan terlalu jauh. "Aku mengakui ada kekurangan administrasi. Tapi situasi ini dibesar-besarkan karena video party dan rumor. Yang harus kita lakukan sekarang bukan saling menyalahkan, tapi menunjukkan ke publik bahwa Surya Group tetap solid."
Madam Liem mengangguk pelan. "Brandon benar. Keluarga harus tampak kompak."
Brandon menekan remote. Layar menampilkan proposal proyek baru: Surya Lifestyle District, pengembangan mixed-use di pinggir Jakarta dengan mall, apartemen, dan area hiburan.
"Proyek ini bisa menjadi sinyal positif. Kalau disetujui cepat, media akan menulis tentang ekspansi, bukan masalah internal."
Beberapa tetua tampak tertarik. Gambar render di layar memang cantik. Gedung kaca, taman hijau, keluarga muda tersenyum, semua hal yang biasa membuat investor merasa aman.
Felicia membaca cepat angka di halaman proyeksi.
*Cantik di render, busuk di cashflow.*
Kevin menoleh sedikit.
Brandon melanjutkan, "Aku sudah bicara dengan beberapa vendor. Jika keluarga memberi lampu hijau, kita bisa launch dalam tiga bulan."
Hendrik bertanya, "Pendanaan?"
"Kombinasi internal cash dan bridging loan."
Kevin akhirnya bersuara. "Tidak."
Satu kata itu membuat ruangan berhenti.
Brandon tersenyum tipis. "Tentu Kevin menolak. Dia selalu menolak apa pun yang bukan idenya."
Kevin menggeser folder ke tengah meja. "Lahan yang kamu pilih masuk zona banjir dua puluh tahunan. Biaya mitigasi tidak ada di proposal. Vendor utama terkait PT Bintang Samudra. Bridging loan memakai bunga variabel yang akan naik jika rating internal turun. Ini bukan ekspansi. Ini lubang."
Ruang meeting sunyi.
Felicia menatap Kevin.
*Dia sudah cek semua? Kapan? Pria ini kalau diam ternyata bukan bengong, tapi mengubur bom data.*
Kevin tetap menatap Brandon.
Brandon tertawa kaku. "Kamu membesar-besarkan risiko."
Felicia mengangkat tangan pelan. "Boleh saya bertanya?"
Richard mendengus. "Katanya akan diam."
Hendrik menatap Felicia. "Bicara."
Felicia membuka foldernya. "Saya bukan orang properti, jadi saya membaca ini sebagai orang awam. Di halaman dua belas, estimasi occupancy retail tahun pertama ditulis delapan puluh lima persen. Dasarnya apa?"
Brandon menegang. "Benchmark mall keluarga Surya."
"Mall yang mana?"
"Beberapa."
"Karena kalau memakai data mall lama di pusat kota, tidak cocok untuk area pinggir yang belum punya akses transportasi stabil."
Beberapa tetua mulai saling pandang.
Felicia melanjutkan, suaranya tetap lembut. "Lalu di halaman tujuh belas, biaya marketing hanya dua persen dari total proyek. Untuk launch tiga bulan dan mengubah narasi media nasional, angka ini terlalu kecil. Artinya proposal ini tidak benar-benar disusun untuk menyelamatkan reputasi. Ini disusun agar terlihat cepat."
Kevin menatapnya.
Ia tahu Felicia pintar melihat angka, tapi cara ia membongkar proposal sambil tetap terdengar sopan membuat beberapa direktur senior mulai menunduk membaca ulang halaman yang sama.
Madam Liem berkata dingin, "Felicia, kamu baru masuk keluarga. Jangan terlalu percaya diri."
Felicia menunduk sedikit. "Tentu, Mama. Karena itu saya hanya bertanya."
*Pertanyaan yang membuat meja terbakar kecil, tapi tetap pertanyaan.*
Jason, yang berdiri di belakang Kevin sebagai tamu penasihat nonformal, pura-pura batuk.
Kevin mengambil alih. Ia menekan remote. Layar berganti ke proposal lain.
"Alternatif. Tunda proyek lifestyle. Alihkan dana ke tiga hal: audit vendor terbuka, percepatan proyek logistik yang sudah profitable, dan Surya Foundation scholarship campaign."
Hendrik mencondongkan tubuh.
Kevin melanjutkan, "Rumor menyebut aku dikendalikan istri dan tidak stabil. Kita jawab bukan dengan render mall, tapi dengan governance. Audit memperlihatkan kontrol. Logistik memberi angka. Foundation memberi narasi publik bahwa keluarga tidak berantakan, tapi sedang membersihkan diri dan berinvestasi pada generasi baru."
Felicia menahan napas.
Ini Kevin yang jarang ia lihat. Bukan pria dingin yang menjawab satu kata. Bukan suami kontrak yang menghindari pembicaraan hati. Ini Kevin Surya sebagai strategist.
Tenang.
Tajam.
Mematikan.
*Gila. Ini bukan cowok es batu. Ini freezer industri dengan sistem laser.*
Kevin berhenti sepersekian detik.
Hampir saja ia kehilangan fokus.
Hendrik membaca slide angka. "Proyek logistik mana?"
"Koridor Jawa Timur. Ada aset lama yang bisa dihidupkan kembali. Jika akuisisi bersih, margin lebih cepat daripada proyek properti baru."
Felicia menatapnya.
Jawa Timur.
Hartono.
PT Bintang Samudra.
Kevin tidak menyebutnya langsung, tapi ia membuka jalan.
Brandon sadar terlambat. "Kamu mau membawa isu Hartono ke proyek Surya?"
Kevin menatapnya. "Aku mau membawa aset yang benar-benar menghasilkan."
Madam Liem berkata, "Terlalu berisiko. Kevin baru saja terkena rumor. Jangan mengambil langkah agresif."
Hendrik diam lama.
Seluruh ruangan menunggu.
Akhirnya ia berkata, "Proposal Brandon ditunda. Kevin, siapkan detail alternatif dalam tujuh hari. Pak Agus, bentuk tim kecil. Felicia boleh ikut bagian Foundation dan reputasi publik."
Madam Liem menoleh tajam. "Hendrik."
"Keputusanku jelas."
Brandon menggenggam remote sampai buku jarinya putih.
Felicia menunduk, menyembunyikan senyum.
*Satu langkah kecil untuk manusia, satu tendangan elegan untuk ego Brandon.*
Kevin berdiri. "Baik."
Rapat selesai dengan wajah-wajah tegang. Para tetua yang tadi memandang Felicia sebagai aksesori baru Kevin kini melihatnya dengan cara berbeda. Bukan hangat, belum. Tapi menghitung ulang.
Di luar ruang meeting, Hendrik memanggil Kevin.
Felicia berhenti beberapa langkah di belakang.
Hendrik menatap putranya cukup lama. "Kamu menyiapkan data itu sejak kapan?"
"Sejak Brandon mulai bicara dengan vendor."
"Kenapa tidak lapor lebih cepat?"
"Belum waktunya."
Hendrik terdiam, lalu mengangguk perlahan. "Kamu lebih siap daripada yang mereka kira."
Kevin tidak menjawab.
Hendrik melirik Felicia. "Dan istrimu tidak seperti yang mereka katakan."
Felicia menunduk sopan. "Terima kasih, Pak Hendrik."
Untuk pertama kalinya, tatapan Hendrik padanya tidak hanya berisi penilaian.
Ada sedikit rasa ingin tahu.
Mungkin juga harapan.
Di ujung koridor, Madam Liem melihat semua itu. Senyumnya tidak muncul lagi.
Brandon berdiri di sampingnya, wajah gelap.
Rumor belum meledak, tapi panggung keluarga hari itu sudah direbut.
Dan Hendrik Surya mulai melihat Kevin dengan mata seorang ayah yang terlambat menyadari anaknya mungkin memang pewaris terbaik.