"Bukan Laknat, namaku Rahmat."
Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."
15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.
Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.
Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.
Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?
"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: "Wen-Wen"
Mata Wenny langsung terbuka.
Selama beberapa detik, ia tidak bergerak.
Kamar gelap. Hanya garis tipis cahaya bulan masuk dari sela tirai, jatuh di lantai seperti pita perak yang dingin. Suara hujan sudah berhenti. Villa yang biasanya penuh langkah kru dan tawa peserta kini sunyi, terlalu sunyi sampai detak jantungnya sendiri terdengar keras di telinga.
Wenny menahan napas.
Mungkin ia salah dengar.
Mungkin itu hanya sisa mimpi.
Mungkin pikirannya yang terlalu penuh nama Rahmat membuat suara apa pun terdengar seperti panggilan.
Lalu suara itu muncul lagi dari arah koridor.
"Wen-Wen..."
Lebih pelan.
Lebih serak.
Lebih hancur.
Tubuh Wenny membeku.
Panggilan itu bukan `Wen`. Bukan `Wenny`. Bukan panggilan manis yang bisa dipelajari dari potongan wawancara atau komentar fans. Itu `Wen-Wen`, nama kecil yang dipakai keluarganya ketika tidak ada kamera, ketika ia sakit, ketika ia masih anak perempuan yang tertidur di sofa setelah pulang syuting.
Papa memanggilnya begitu saat ia menangis diam-diam karena komentar netizen pertama.
Mama memanggilnya begitu ketika menyisir rambutnya sebelum acara penghargaan.
Winson memanggilnya begitu saat ingin meledek, tetapi ujung suaranya selalu terlalu sayang untuk benar-benar terdengar jahil.
Di depan publik, nama itu hampir tidak pernah keluar. Dalam wawancara, keluarganya memanggilnya Wenny. Di akun resmi, semua caption ditulis rapi oleh tim. Bahkan saat video lama masa kecilnya diunggah ulang fans, bagian rumah dan keluarga selalu dipotong pendek, dijaga supaya kehidupan pribadinya tidak menjadi konsumsi sembarangan orang.
REYN bisa tahu makanan favoritnya dari majalah lama.
REYN bisa tahu filmografinya dari internet.
REYN bisa tahu alerginya kalau ia benar-benar mengumpulkan semua berita kecil tentang Wenny Santoso.
Tetapi `Wen-Wen` bukan data.
Itu kebiasaan rumah.
Itu suara orang-orang yang pernah berdiri di dekat ranjang rumah sakitnya, memanggilnya dengan panik, membujuknya tetap sadar, menyebut nama kecilnya berulang-ulang agar ia tidak tenggelam dalam sesak napas.
Dan dulu, di suatu kamar rumah sakit yang samar, ada anak laki-laki yang mendengar nama itu berkali-kali dari mulut orang dewasa yang panik.
Wenny duduk perlahan.
Selimut jatuh dari bahunya.
Udara malam menyentuh kulit lengannya, tetapi ia tidak merasa dingin. Semua darahnya seperti bergerak terlalu cepat ke dada, membuat napasnya pendek dan telapak tangannya basah.
"Wen-Wen..."
Kali ini, ia yakin.
Suara itu bukan dari mimpinya.
Itu suara REYN.
Wenny turun dari ranjang tanpa menyalakan lampu. Kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin. Ia hampir mencari sandal, tetapi tubuhnya sudah lebih dulu bergerak. Ponsel di meja bergetar pelan karena notifikasi malam, namun ia tidak menoleh.
Tidak ada lagi waktu untuk menunggu.
Tidak ada lagi ruang untuk pura-pura belum pasti.
Kotak bekal kuning bisa dianggap kebetulan oleh orang yang ingin menipu dirinya sendiri. Stiker matahari bisa dianggap metafora. Gelang persahabatan bisa disembunyikan di balik jam. Bahkan lagu bisa dikunci dengan alasan seni.
Tetapi nama kecil ini tidak bisa.
Tidak ada yang tahu cara mengucapkannya seperti itu kecuali orang yang pernah berada di tempat paling dekat dengan masa kecilnya.
Wenny membuka pintu kamar sedikit.
Koridor villa terbentang sepi. Lampu dinding dibiarkan redup untuk keamanan, memantulkan cahaya kuning pucat ke lantai. Di ujung sana ada kamera pengawas produksi yang ditutup kain kecil saat area pribadi dinyatakan off-record. Tidak ada kru. Tidak ada peserta lain. Hanya suara angin yang menyentuh kaca dan napas seseorang yang tersesat dalam tidur.
Kamar REYN berada beberapa pintu dari kamarnya.
Pintunya tidak tertutup rapat.
Celah kecil di sisi bawah mengeluarkan cahaya lampu meja, tipis dan hangat.
Wenny melangkah ke luar.
Lantai koridor terasa lebih dingin daripada lantai kamarnya. Ia baru sadar ia tidak memakai alas kaki ketika telapak kakinya menyentuh bagian ubin dekat jendela. Tapi rasa dingin itu tidak cukup untuk menahannya.
Ia berjalan cepat.
Lalu lebih cepat.
Ketika suara itu keluar lagi, Wenny hampir berlari.
"Wen-Wen... jangan..."
Jantungnya seperti diremas.
Jangan apa?
Jangan pergi?
Jangan sakit?
Jangan lupa?
Setiap kemungkinan menusuknya dengan cara berbeda. Ia membayangkan anak laki-laki sembilan tahun yang berdiri di ambang pintu kamar rumah sakit, tidak berani masuk. Membayangkan ia membawa kotak bekal kuning yang belum sempat ditutup. Membayangkan pergelangan kiri kurus dengan gelang warna-warni. Membayangkan ia ditarik pergi sebelum sempat berjanji lebih banyak.
Di ingatan yang semula selalu buram, kini ada garis yang mulai jelas.
Seorang anak laki-laki di balik pintu kaca.
Mata yang terlalu gelap untuk anak seusianya.
Jari yang mencengkeram tutup kotak bekal sampai buku-bukunya memutih.
Suara Mama yang memanggil, "Wen-Wen, lihat Mama."
Suara Papa dari telepon yang disambungkan perawat, gemetar tetapi tetap mencoba tegas.
Dan mungkin, dari sudut ruangan yang tidak diperhatikan siapa pun, anak itu mendengar semuanya.
Menyimpan semuanya.
Membawanya sampai menjadi lagu, tatapan, dan mimpi buruk lima belas tahun kemudian.
Lima belas tahun.
Selama itu, mungkin nama Wenny tidak pernah benar-benar meninggalkan mimpinya.
Wenny berhenti sejenak di tengah koridor karena dadanya terlalu sesak. Ia menekan telapak tangan ke dada, mencoba bernapas. Tapi semakin ia berusaha tenang, semakin jelas suara REYN di telinganya.
Wen-Wen.
Itu bukan panggilan seorang idol kepada rekan acara.
Itu panggilan seseorang yang menyimpan rumah di dalam nama orang lain.
Air mata naik begitu cepat sampai Wenny harus menggigit bibir. Ia tidak ingin menangis di depan pintu. Tidak sekarang. Jika ia menangis, ia takut tangannya gemetar dan tidak bisa memegang gagang pintu.
Ia maju lagi.
Pintu kamar REYN tinggal beberapa langkah.
Di balik celahnya, ada bayangan gerak. Mungkin REYN membalik badan dalam tidur. Mungkin ia sedang bermimpi buruk. Mungkin ia menggenggam pergelangan kiri seperti malam sebelumnya.
Wenny bisa saja memanggil namanya dari luar.
REYN.
Nama itu milik panggung, milik sorotan, milik jutaan orang yang menunggu ia tersenyum walau hanya sedikit.
Ia juga bisa saja memanggil nama yang baru semalam ia tulis berkali-kali di buku catatan.
Rahmat.
Nama itu milik anak laki-laki yang pernah ia beri harapan.
Namun lidahnya tidak bergerak. Dua nama itu sama-sama benar, dan justru karena itu, Wenny merasa ia harus melihat wajahnya sebelum memilih nama mana yang akan keluar lebih dulu.
"Wen-Wen..."
Suara itu nyaris pecah.
Wenny sampai di depan pintu.
Ia berdiri tanpa alas kaki di atas lantai yang disinari bulan dari jendela koridor. Rambutnya berantakan, napasnya tidak stabil, dan jari-jarinya gemetar di sisi tubuh. Di balik pintu, pria yang seluruh Indonesia kenal sebagai REYN sedang memanggil nama kecilnya dengan suara anak yang belum pernah berhenti mencari jalan pulang.
Tidak ada lagi keraguan.
Tidak ada lagi mungkin.
REYN adalah Rahmat.
Rahmat adalah REYN.
Anak laki-laki itu ada di balik pintu ini.
Wenny mengangkat tangan.
Ia hampir mengetuk.
Sopan. Aman. Memberi jarak.
Tetapi malam ini jarak sudah mengambil terlalu banyak dari mereka.
Tangannya turun ke gagang pintu.
Selama satu detik, ia masih bertanya pada dirinya sendiri.
Ketuk, atau langsung masuk?
Wenny memejamkan mata.
Lalu ia memilih yang kedua.