Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.
Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.
Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.
Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.
Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.
"Sayang, kamu kembali."
Kembali? Kiara baru saja tiba.
Atau... benarkah?
Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.
"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."
Kiara tahu dia harus takut.
Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 014
Bakat Tersembunyi
Pembacaan naskah resmi Gerbang Majapahit dimulai minggu berikutnya di studio Jakarta.
Kiara datang tiga puluh menit lebih awal.
Ia tidak ingin memberi siapa pun alasan untuk berkata bahwa ia hanya masuk karena Rayhan Purnawan. Maka sebelum kru lain memenuhi ruang baca, ia sudah duduk di sudut dengan naskah penuh catatan kecil. Perban di pergelangan tangannya sudah dilepas, tapi ia masih membawa botol air hangat dan obat sesuai pesan dokter.
Santi duduk di sampingnya, berbisik, "Kak, semua orang lihat ke sini."
"Biarkan."
"Aku yang gugup."
"Aku juga."
Santi menoleh. "Kak Kiara kelihatan tenang."
Kiara tersenyum kecil. "Itu namanya akting pertama hari ini."
Santi hampir tertawa, lalu cepat-cepat menutup mulut saat Gunawan masuk.
Om Gunawan tidak memberi sambutan panjang. Ia berdiri di depan ruangan, memegang naskah seperti senjata, lalu menatap seluruh pemain dan kru.
"Gerbang Majapahit bukan proyek untuk orang yang cuma mau terlihat cantik di poster. Kalau kalian ingin viral karena kostum, silakan keluar sekarang. Kalau ingin bekerja, buka halaman satu."
Ruangan langsung senyap.
Kiara menyukai cara itu.
Keras, tapi jelas.
Di meja seberang, Rio Siregar duduk sebagai salah satu pemeran penting. Ia aktor muda yang sudah punya reputasi baik, wajahnya ramah, sikapnya tidak dibuat-buat. Ketika mata mereka bertemu, Rio mengangguk sopan.
Kiara membalas dengan anggukan kecil.
Pembacaan dimulai dari adegan istana awal. Beberapa aktor senior membaca dengan suara berat. Beberapa aktor muda masih terdengar seperti membaca teks lomba pidato. Gunawan sesekali memotong, mengomel, lalu menyuruh ulang.
"Jangan jadi museum berjalan. Kalian manusia. Bangsawan juga punya napas."
Saat giliran Kiara tiba, ruang baca kembali sedikit menegang.
Semua orang ingin tahu apakah gadis yang dilindungi Rayhan itu benar-benar bisa berakting.
Kiara menunduk sebentar pada naskah.
Adegan itu bukan dialog besar seperti saat audisi. Hanya Putri Mahkota memasuki balairung setelah mendengar kabar pasukan kalah. Ia harus bertanya tiga kalimat, lalu duduk di samping raja.
Mudah jika dibaca sekilas.
Sulit jika dipahami.
Karakter itu belum boleh panik. Belum boleh menunjukkan cinta pada rakyat. Ia masih berada di awal perjalanan, masih terikat tata krama istana.
Kiara menarik napas pelan.
Saat membaca kalimat pertama, suaranya tenang, tetapi bukan kosong. Ada lapisan dingin tipis yang membuat beberapa kru mengangkat kepala.
"Berapa gerbang yang masih bertahan?"
Jeda.
Matanya tidak bergerak liar. Ia hanya menatap satu titik, seolah di sana berdiri panglima yang membawa kabar buruk.
"Jangan beri aku angka yang sudah kau poles untuk menyenangkan Ayahanda. Beri aku angka yang membuatmu takut."
Rio yang membaca lawan adegannya sempat berhenti sepersekian detik, lalu masuk dengan respons lebih hidup daripada sebelumnya.
Adegan pendek itu selesai tanpa tepuk tangan.
Tapi keheningannya berbeda.
Gunawan mengetuk meja dengan ujung pulpen.
"Kamu baca lagi. Kali ini, setelah kalimat kedua, tahan napas sedikit lebih lama."
Kiara mengangguk.
Ia mengulang.
Hasilnya lebih tajam.
Gunawan tersenyum seperti anak kecil menemukan mainan mahal.
"Nah. Itu. Kamu mengerti jeda."
Salah satu pelatih gerak yang duduk di belakang bertanya, "Kiara pernah belajar tari klasik?"
"Tidak formal," jawab Kiara.
Itu bukan bohong sepenuhnya. Di dunia asalnya, ia pernah menonton banyak rekaman tari Jawa dan diskusi film sejarah karena suka membongkar detail cerita. Pengetahuan itu dulu hanya hobi. Sekarang, di dunia ini, hobi itu mendadak menjadi senjata.
Pelatih itu memintanya mencoba posisi tangan dasar untuk adegan istana.
Kiara berdiri.
Gerakannya belum sempurna, tapi ia mengerti prinsipnya. Siku tidak jatuh sembarangan. Jari tidak terlalu kaku. Leher tidak menunduk seperti pelayan, tapi juga tidak mendongak arogan. Tubuhnya kecil, namun ketika ia berdiri dengan garis bahu yang benar, kesan rapuh itu berubah menjadi anggun.
Bisik-bisik mulai terdengar.
"Dia cepat tangkap."
"Kirain cuma cantik."
"Pantas Om Gunawan pilih."
Kiara mendengar semuanya, tapi tidak membiarkan wajahnya berubah.
Gunawan bertepuk tangan sekali. "Cukup. Jangan terlalu dipuji nanti besar kepala."
Rio tertawa kecil. "Om, kalau semua orang dimarahi, kapan kami tahu kami benar?"
"Kalau aku tidak melempar naskah, berarti belum hancur."
Ruangan akhirnya tertawa.
Gunawan lalu menunjuk Kiara dengan pulpennya. "Kenapa tadi kamu tidak menunduk waktu bertanya jumlah gerbang?"
Kiara berdiri masih dengan posisi latihan. "Karena Putri Mahkota belum merasa bersalah di adegan itu. Dia takut, tapi dia tetap pewaris tahta. Kalau dia menunduk terlalu cepat, nanti perubahan di babak kedua tidak terasa."
Ruangan kembali diam, kali ini bukan karena tegang.
Gunawan menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum puas. "Nah. Akhirnya ada yang membaca karakter, bukan cuma dialog."
Ketegangan yang sejak pagi menempel pada Kiara perlahan mencair. Saat istirahat makan siang, beberapa kru yang sebelumnya hanya menatap dari jauh mulai menyapanya. Bukan menjilat karena Rayhan. Bukan takut. Lebih seperti mereka baru saja melihat alasan yang bisa mereka terima.
Itu terasa lebih berharga.
Santi datang membawa kotak makan, wajahnya antara bangga dan ingin menangis.
"Kak, tadi keren banget."
"Jangan lebay."
"Aku serius. Tadi semua orang lihat Kakak beda."
Kiara membuka kotak makan, lalu berhenti.
Di dalamnya bukan makanan katering studio, melainkan bubur hangat, lauk lembut, dan obat yang ditata rapi. Ada kertas kecil di atasnya.
Makan pelan-pelan. Jangan lupa obat.
Tidak ada nama.
Tidak perlu.
Kiara menoleh ke pintu.
Rayhan berdiri di luar ruang baca bersama Adi. Entah sejak kapan ia datang. Ia tidak masuk, mungkin karena ancaman Gunawan sebelumnya, tetapi matanya tetap mencari Kiara lebih dulu.
Gunawan yang melihatnya dari ujung ruangan langsung berteriak, "Rayhan! Aku bilang jangan tiap hari muncul!"
Rayhan menjawab tenang, "Aku tidak masuk."
"Kakimu sudah di studio!"
"Aku mengantar makan."
"Kamu punya asisten!"
"Aku ingin lihat sendiri."
Beberapa kru menahan tawa.
Kiara cepat menunduk, pipinya panas. Namun kali ini, rasa malunya berbeda. Bukan malu karena dianggap tidak mampu, melainkan karena seseorang begitu terang-terangan memperhatikannya sampai seluruh ruangan ikut tahu.
Rio duduk tidak jauh darinya, tersenyum sopan.
"Kelihatannya kamu dijaga ketat."
Kiara mengaduk bubur. "Aku juga sedang belajar menghadapi itu."
"Setidaknya kamu memang bisa akting. Itu membuat semua rumor jadi kurang menarik."
Kiara menatap Rio, lalu tersenyum kecil.
"Terima kasih."
Di depan papan jadwal, staf produksi menempel daftar pemeran terbaru.
Putri Mahkota: Kiara Tanuwijaya.
Untuk pertama kalinya, melihat namanya tertulis di ruang kerja profesional tidak membuat dada Kiara sesak.
Ia memegang sendok, menatap nama itu, lalu merasakan sesuatu yang kecil dan hangat tumbuh di dalam dirinya.
Kariernya belum aman.
Jalannya masih panjang.
Tapi hari itu, kru Gerbang Majapahit mulai melihatnya bukan sebagai gadis yang dilindungi Rayhan Purnawan.
Mereka mulai melihatnya sebagai aktris.