Bebas dari tuduhan konspirasi penculikan yang dirancang mantan kekasihnya, Michaela Hokked (24) memilih mati demi melepaskan diri dari masa lalu yang busuk.
Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam.
Pelariannya menuju Los Angeles hancur bersama taksi yang ia tumpangi dalam kecelakaan maut yang meremukkan wajahnya.
Enam bulan koma dan melewati enam
Kali operasi wajah, Michaela terbangun dengan rupa baru: wajah cantik milik Cecilia Lynch, wanita bermata teduh yang kecelakaan bersamanya.
Kini, Michaela terjebak sebagai 'Cecilia' di hadapan Killian Vale-Knight (28 th) pria berkuasa yang mengaku sebagai kekasih jarak jauh Cecilia.
Tanpa kecurigaan, keluarga miliarder itu menghujaninya dengan kasih sayang yang tak pernah ia miliki.
Namun, kenyataan pahit menghantam: Cecilia asli tewas dalam keadaan hamil, Mencuri identitas Cecilia adalah tiket kebebasannya, atau justru awal dari labirin misteri yang mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
005
Waktu bergulir tanpa bisa ditahan. Hari-hari penuh pemeriksaan medis, terapi fisik yang melelahkan, dan adaptasi fungsional atas tubuhnya yang baru akhirnya terlewati.
Enam bulan koma memang sempat membuat otot-otot Michaela kaku, namun kedisiplinan dan daya tahan tubuhnya yang luar biasa—tempaan dari tahun-tahun kasarnya di jalanan—membuat proses pemulihannya berjalan jauh lebih cepat dari perkiraan tim dokter.
Hari ini, dia akhirnya menginjakkan kaki di luar dinding putih rumah sakit.
Sebuah mobil sedan mewah hitam dengan sopir pribadi berjas rapi membawa Michaela membelah kawasan perumahan elite di perbukitan Los Angeles.
Ketika gerbang besi raksasa yang dioperasikan secara otomatis itu terbuka, Michaela menahan napasnya.
Di balik dinding batu yang kokoh, berdirilah sebuah bangunan megah bergaya Eropa klasik modern yang luar biasa luas.
Rumah itu tidak bisa lagi disebut rumah; itu adalah sebuah istana tersembunyi yang dikelilingi oleh taman mawar yang dirawat sempurna dan air mancur bertingkat di bagian depannya.
Di pelataran parkir yang luas, berderet beberapa mobil sport mewah berharga jutaan dolar—mulai dari Ferrari merah menyala, Lamborghini hitam legam, hingga Porsche perak yang berkilau di bawah sengatan matahari siang.
Pemandangan itu benar-benar luar biasa.
Michaela terpukau.
Jiwa jalanannya bergejolak hebat, menatap setiap sudut kemewahan itu dengan mata yang tak bisa berbohong.
Namun, dari balik topeng wajah Cecilia yang anggun, dia berusaha mati-matian menekan letupan emosinya.
Dia tidak ingin terlihat seperti orang kampung atau gadis miskin yang baru pertama kali melihat harta karun.
Dia mengepalkan jemarinya di pangkuan, mencoba bersikap setenang mungkin.
Killian, yang duduk di sampingnya sejak tadi, menyadari perubahan ekspresi dan binar mata wanita itu.
Dia menoleh perlahan, menatap sisi wajah Cecilia baru tersebut.
"Kenapa, Sayang?" tanya Killian dengan suara baritonnya yang rendah.
Michaela menoleh, menatap mata elang Killian.
Menyadari bahwa bersikap terlalu misterius atau berpura-pura tahu segalanya justru bisa memicu kecurigaan, Michaela memutuskan untuk menggunakan kartu kejujuran yang tersamarkan.
"Rumah ini... seperti istana," ucap Michaela jujur, suaranya sedikit bergetar halus. "Aku... ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di rumah semewah dan sebesar ini."
Killian menatapnya sesaat, lalu sebuah senyuman tipis—senyuman langka yang terasa hangat—terukir di bibirnya.
Dia meraih jemari Michaela, menggenggamnya dengan lembut.
"Tapi maaf, Sayang. Mansion ini bukan milikku pribadi. Ini milik orang tuaku, Daddy dan Mommy. Mansion masa depan kita sendiri di kawasan pesisir belum sepenuhnya selesai dibangun."
Killian mengusap punggung tangan Michaela dengan ibu jarinya.
"Nanti, setelah kita menikah, kau bebas menata seluruh furniturnya sesuai dengan keinginanmu. Aku menyerahkan seluruh konsep rumah kita padamu."
Michaela terdiam, lidahnya mendadak kelu.
Pikirannya melayang kembali pada percakapan mereka di dalam mobil selama perjalanan menuju mansion ini.
Killian tidak main-main dengan ucapannya di rumah sakit.
Pria itu baru saja menegaskan kembali bahwa pernikahan mereka akan dilangsungkan minggu ini juga.
Sebuah pernikahan privat yang terkesan mendadak, namun dipersiapkan dengan sangat matang oleh keluarga Vale-Knight.
"Maafkan aku kalau ini terasa terlalu mendadak untukmu, Cecilia," begitu kata Killian tadi, nadanya dipenuhi rasa bersalah yang tulus.
"Tapi aku tidak ingin menundanya lagi. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjagamu sepenuhnya secara sah. Mengenai bekas luka tipis di dekat pelipismu akibat kecelakaan itu... kau tidak perlu khawatir. Aku sudah menyewa jasa Make-Up Artist terbaik di Los Angeles untuk meriasmu dan menutupi bekas luka itu di hari pernikahan kita."
Mengingat kembali rentetan perkataan Killian, Michaela diam-diam mengembuskan napas panjang.
Sebuah senyuman senang yang tak bisa dibendung terbit di wajah cantiknya.
Ya Tuhan... ini benar-benar di luar dari harapan gadis miskin sepertiku. Terima kasih banyak, Tuhan! pekik Michaela di dalam hatinya. Dia merasa seolah-olah sedang bermimpi di siang bolong.
...oOOOo...
Beberapa saat kemudian, Michaela sudah berada di dalam kamar tamu mewah yang disiapkan khusus untuknya.
Kamar itu luar biasa luas, dengan ranjang berukuran king-size yang dilapisi sprei sutra putih, lampu gantung kristal yang mewah, dan balkon pribadi yang menghadap langsung ke arah kolam renang di halaman belakang.
Kamar tamu ini terletak di lantai dua, berdekatan dengan kamar pribadi milik Killian.
Setelah para pelayan meletakkan barang-barangnya dan pamit undur diri, Michaela berjalan menuju balkon.
Dia menyandarkan kedua tangannya di pembatas besi, memandangi hamparan pemandangan Los Angeles dari ketinggian.
Dia benar-benar tidak menyangka.
Apa ini hadiah dari Tuhan atas kesabaranku dan penderitaanku selama ini? batinnya lirih, merasakan dadanya mendadak sesak oleh rasa haru yang getir.
Ingatannya kembali berputar pada masa lalunya yang kelam.
Sang ibu kandung membuangnya tanpa belas kasihan saat dia masih remaja, memilih hidup bahagia dan bergelimang kemewahan bersama kakaknya, Gabriella.
Sementara dirinya? Dia ditinggalkan untuk hidup luntang-lantung di jalanan, bertahan hidup bersama seorang ayah yang tukang mabuk, hobi judi, dan sering kali memukulinya tanpa alasan sejak dia masih kecil hingga tubuhnya lebam-lebam.
Hidupnya di San Francisco hanyalah tentang bertahan hidup dari satu penderitaan ke penderitaan lain, bekerja kasar hingga tengah malam, hingga puncaknya dijebak oleh Julian dan dituduh sebagai penculik anak.
Apa ini akhir dari segala penderitaan itu? Apa Tuhan sengaja menukarkan wajahku dengan wajah Cecilia agar aku bisa merasakan bagaimana rasanya dicintai dan dihargai sebagai manusia?
Michaela membatin, setetes air mata kebahagiaan hampir saja jatuh jika dia tidak segera menghapusnya.
Dia berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga identitas baru ini dengan seluruh jiwa dan raganya.
Dia tidak akan membiarkan siapa pun merebut surga yang baru saja dia masuki.
Saat Michaela berbalik dari balkon dan hendak menutup pintu kaca, pandangannya tidak sengaja menangkap pergerakan di koridor lantai dua melalui celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka.
Di sana, tampak Killian sedang berdiri bersama dua orang laki-laki muda.
Michaela mengintip sedikit, matanya menyipit memperhatikan kedua pemuda tersebut.
Luar biasa. Kedua pemuda itu memiliki struktur wajah dan perawakan yang sangat mirip satu sama lain, bahkan kemiripan mereka dengan Killian juga sangat kentara, hanya saja mereka terlihat sedikit lebih muda dan memiliki aura yang lebih santai.
Keluarga ini benar-benar sempurna. Gen mereka luar biasa, pikir Michaela kagum.
Tak lama kemudian, Killian tampak berpamitan dengan kedua pemuda itu dan melangkah menuju kamarnya.
Pintu kamar ketuk perlahan sebelum Killian mendorongnya terbuka dan masuk ke dalam.
"Sayang," panggil Killian lembut. Dia menepi, membiarkan kedua pemuda tadi ikut melangkah masuk di belakangnya.
"Kenalkan, ini adik-adikku, Evander dan Cassander. Mereka juga kembar, sama seperti aku dan Millian. Seperti yang pernah kuceritakan padamu dulu di telepon."
Michaela menata ekspresi wajahnya dengan cepat, menampilkan senyum paling ramah yang bisa dia berikan. "Hallo," ucap Michaela dengan cepat, melambaikan tangannya sedikit.
"Hallo, Kak Cecilia! Senang akhirnya bisa melihatmu keluar dari rumah sakit," ucap salah satu dari mereka—yang Michaela tebak adalah Evander—dengan senyum jenaka yang ramah.
"Ya, Kak. Kak Killian hampir gila selama enam bulan ini karena menunggumu sadar," timpal yang satunya lagi, Cassander, sambil terkekeh pelan, menyenggol lengan kakaknya.
Michaela membalas anggukan mereka dengan sopan.
Dari pengamatannya, dia menebak adik-adik kembar Killian ini berusia sekitar 23 atau 24 tahun—usia yang sebaya dengannya yang asli.
Di dalam hatinya, Michaela berusaha keras untuk tidak terlihat kaget atau bingung.
Terutama saat Killian mengungkit kalimat, "Seperti yang pernah kuceritakan padamu dulu."
Michaela harus ekstra waspada.
Dia tidak tahu apa saja yang sudah diceritakan Cecilia yang asli kepada Killian tentang keluarganya, atau sebaliknya.
Setiap kata yang keluar dari mulutnya sekarang harus dihitung dengan cermat agar tidak bertentangan dengan ingatan Killian.
Setelah berbincang ringan selama beberapa menit tentang kondisi kesehatannya, Evander dan Cassander pamit keluar karena ada urusan di klub olahraga mereka, meninggalkan kembali kedua orang itu di dalam kamar.
Michaela berjalan mendekati sofa, lalu mendudukkan dirinya di sana.
Berusaha mencairkan suasana dan bersikap seperti calon menantu yang perhatian, dia bertanya basa-basi, "Dimana Mommy dan Daddy? Aku belum melihat mereka sejak kita sampai di rumah."
Killian melangkah mendekat, lalu duduk di samping Michaela di atas sofa mewah tersebut.
"Oh, mereka sedang ada pertemuan bisnis penting dengan kolega dari luar negeri di pusat kota. Mungkin baru pulang nanti malam."
Killian menatap lekat-lekat wajah Michaela, menyadari jika wanita itu tampak sedikit cemas sejak menginjakkan kaki di mansion ini.
Dia mengulurkan tangannya, merengkuh bahu Michaela lembut, menarik tubuh wanita itu agar bersandar pada dada bidangnya.
"Apakah kau merasa kesepian berada di sini, Cecilia?" bisik Killian di dekat pelipisnya.
Suaranya yang biasanya dingin kini terdengar begitu protektif. "Kau tidak perlu merasa canggung atau asing. Mulai hari ini, keluargaku adalah keluargamu juga, Sayang. Jangan pernah merasa rendah atau tidak aman di rumah ini. Kau adalah calon istriku."
Killian mengecup puncak kepala Michaela dengan penuh perasaan. "Aku mencintaimu, kau tahu itu, bukan?"
Berada di dalam dekapan hangat Killian, mendengar detak jantung pria itu yang tenang, dan meresapi kalimat pernyataan cinta yang begitu tulus, Michaela hanya bisa memejamkan matanya.
Dadanya bergemuruh hebat.
Di satu sisi, dia merasa sangat beruntung dan bahagia menerima kasih sayang yang luar biasa ini.
Namun di sisi lain, sebuah bisikan dingin di sudut hatinya kembali mengingatkannya pada kenyataan yang kejam.
Pria ini mencintai Cecilia Lynch, Michaela. Dia tidak mencintaimu. Dia mencintai wanita yang tewas bersama bayinya di dalam taksi itu.
Namun, Michaela segera mengeraskan hatinya.
Tidak peduli siapa yang dia cintai pada awalnya. Sekarang, Cecilia Lynch adalah aku. Wajah ini milikku, hidup ini milikku, dan pria ini... juga akan menjadi milikku sepenuhnya.
itu Mischa kenapa muntah? mungkin kah hamil 🤨🤨🤨