Terbangun di masa lalu, tepat sebelum jerat takdir Daniel menjebaknya, Erica menolak menjadi korban untuk kedua kalinya.
Mengubah alur permainan adalah satu-satunya pilihan. Jika Daniel menggunakan nama besar Megantara untuk menghancurkannya, maka Erica akan menduduki takhta tertinggi di keluarga itu.
Ketika bidak catur mulai digerakkan dan rahasia satu per satu terkelupas, siapakah yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana di Balik Gedung
Udara pagi Jakarta di tahun sembilan belas delapan dua belum sepadat beberapa dekade setelahnya.
Angkutan umum tua jenis Morris Minor Traveler 100 lansiran tahun sembilan belas lima puluhan berwarna biru dan mobil Toyota Corolla DX berlalu-lalang di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, menyisakan kepulan asap tipis di antara pepohonan yang masih rindang.
Erica Fiorenza turun dari taksi pelat kuning di depan sebuah gedung berlantai tiga dengan papan nama yang megah yang bertuliskan 'Fiorenza Fashion'.
Erica menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma kota yang familier sebelum melangkah masuk.
Begitu kakinya melewati pintu kaca, aroma khas kain katun premium, lilin pola, dan uap dari setrika arang langsung menyambut indra penciumannya.
Ada rasa rindu mendalam disertai perasaan sesak yang menghantam dadanya.
Gedung inilah yang di kehidupan lalu direbut paksa oleh Daniel dan Shofia setelah mereka memalsukan tanda tangannya di atas kertas segel.
"Selamat pagi, Nona Erica!" sapa beberapa penjahit senior dengan ramah, lengkap dengan pita ukur yang melingkar di leher mereka.
"Selamat pagi semuanya. Selamat bekerja keras untuk hari ini." Erica membalas dengan senyum manis, sebuah senyum tulus yang sudah lama tidak dia perlihatkan.
Erica kemudian melangkah menuju ruang direktur di lantai paling atas. Di sana, seorang pria paruh baya berambut hitam sedikit memutih sedang memeriksa beberapa sketsa gaun pesta.
Beliau adalah Pramono Fiorenza, ayah Erica, sosok yang di kehidupan lalu meninggal karena serangan jantung setelah melihat perusahaan yang dia kembangkan dengan susah payah, berpindah tangan begitu saja.
"Erica? Kamu sudah pulang dari Surabaya, Nak? Bagaimana perjalanan keretanya?" Pramono mendongak, matanya berbinar hangat menatap putri tunggalnya.
Melihat ayahnya masih sehat bugar, setetes air mata hampir saja jatuh dari pelupuk mata Erica. Dia langsung memeluk pria tua itu dengan erat, hingga Pramono sedikit terkejut.
"Eh, ada apa ini? Kamu seperti tidak bertemu Papa bertahun-tahun saja," gurau Pramono sambil menepuk-nepuk punggung Erica.
"Aku hanya merasa kangen, Papa," bisik Erica, sambil sedikit cengengesan.
Di kehidupan ini, aku akan melindungi Papa dan perusahaan ini dengan seluruh jiwaku. batin Erica.
Setelah melepaskan pelukan, Erica langsung mengambil posisi, duduk di kursi kerjanya yang berbahan kayu jati.
Dia menarik beberapa berkas laporan keuangan tahun sembilan belas delapan dua itu dan mulai memeriksanya dengan teliti.
"Pa, aku mau mengubah beberapa strategi pemasaran kita, untuk periode beberapa bulan kedepan," ujar Erica sambil membolak-balik halaman berkas.
"Kita tidak bisa hanya mengandalkan butik di daerah Jakarta dan Surabaya saja. Kita harus melakukan pengembangan ke wilayah pinggiran, bahkan ke daerah-daerah perbatasan luar Jawa di mana komando militer dan dinas pemerintahan baru dibuka. Di sana banyak istri pejabat dan perwira yang membutuhkan busana formal berkualitas."
Pramono pun menaikkan kacamata bacanya, terkesan dengan pemikiran visioner putrinya.
"Itu ide yang bagus, Erica. Tapi masalahnya, wilayah perbatasan biasanya sulit dijangkau logistik, dan kita butuh relasi orang dalam yang kuat agar bisa masuk ke lingkungan di sana." jelas Pramono sembari tersenyum.
"Kalau untuk soal relasi, Papa jangan khawatir. Aku sedang menyiapkannya." Erica tersenyum misterius.
Tepat pukul satu siang, pintu ruangan Erica terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu.
Seorang gadis dengan rambut dikuncir dua dan blus berwarna kuning terang masuk dengan tergesa-gesa. Di tangannya ada sebuah tas jinjing rajut yang penuh dengan majalah mode.
"Erica! Ya ampun. Akhirnya, kamu sudah pulang!"
Jeritnya dengan suara melengking.
Dia adalah Hilya, sahabat baik Erica sejak masa Sekolah Dasar. Hilya yang wataknya riang, jujur, namun sedikit ceroboh dan banyak bicara itu langsung menjatuhkan dirinya ke kursi di depan meja Erica.
"Hilya, pelankan suaramu. Ini kantor, bukan pasar baru," tegur Erica, meskipun matanya berkaca-kaca melihat sahabat yang di kehidupan lalu terus menangisi kematiannya itu.
"Habisnya aku punya gosip maut yang hot banget! Kamu tahu tidak?" Hilya mencondongkan badannya, berbisik heboh.
"Keluarga Megantara, kau tahu 'kan, klan konglomerat yang punya gedung pencakar langit di Thamrin itu! Kabarnya mau mengadakan perjamuan teh besar-besaran di Hotel Mandarin akhir pekan ini!" jelasnya sebelum Erica bertanya.
Jantung Erica berdesir. Ini dia. Waktu yang sudah di tunggu-tunggu.
"Lalu? Apa hubungannya dengan kita?" Erica pura-pura acuh tak acuh.
"Hubungannya adalah, pesta itu diadakan oleh Nyonya Bianca Megantara untuk menyambut adik bungsu suaminya yang baru pulang dari markas militer perbatasan. Namanya Jenderal Eshar Megantara!" suara Hilya memekik.
"Katanya, Jenderal itu ganteng banget, Er! Tapi mukanya sedingin es di kulkas menteri. Dan aku dengar-dengar sih, kedatangan dia ke Jakarta salah satunya untuk mencari calon istri yang mau diajak tinggal di barak militer."
"Semua gadis sosialita Jakarta sekarang lagi sibuk menjahit baju baru demi menarik perhatian si Jenderal!" poin penting pun selesai Hilya beberkan.
Erica bersandar pada kursinya, lalu mengetukkan jemarinya di atas meja kayu jati di hadapannya.
"Jenderal Eshar... berusia tiga puluh lima tahun, penguasa Megantara Corp yang asli, kan?" tebak Erica.
"Hei! Kamu tahu ternyata!" Hilya menepuk meja dengan bersemangat.
"Tapi mending jangan berharap deh. Kabarnya dia itu misterius dan menakutkan. Lagipula, kudengar Shofia Elzi, adik tirimu yang sombong itu, juga mengincar dia. Shofia bahkan pamer kalau dia sudah punya akses jalur belakang lewat kerabat ayah kandungnya untuk bisa berkenalan langsung."
Mendengar nama Shofia disebut, kilat dingin melintas di mata Erica.
Shofia berniat mendekati Eshar?
Tentu saja, di kehidupan lalu, Shofia juga mencoba menarik perhatian pria-pria berkuasa sebelum akhirnya memilih bekerja sama dengan Daniel untuk menjebak Erica.
"Hilya," panggil Erica dengan nada serius yang membuat sahabatnya itu langsung terdiam.
"Bisakah kamu mendapatkan dua kartu undangan ke perjamuan teh itu?" mata Erica terlihat menyedihkan yang di buat-buat
"Kamu mau datang?" Hilya melotot.
"Tapi Er, bukankah minggu lalu kamu bilang, kamu malas berurusan dengan pesta sosialita? Lagipula, kemarin ada cowok bernama Daniel Megantara, keponakan si Jenderal itu yang terus-terusan menelepon ke rumahmu lewat telepon rumah, katanya mau mengajakmu makan malam minggu ini."
Mendengar nama Daniel, tangan Erica yang memegang pulpen mencengkeram begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Daniel ternyata sudah mulai bergerak. Di kehidupan lalu, panggilan telepon inilah yang mengawali segalanya.
Daniel berbicara dengan sangat manis, berpura-pura menjadi pemuda mandiri yang kagum pada bakat bisnis Erica.
"Tolak semua panggilan dari Daniel Megantara. Katakan aku sibuk," ujar Erica dingin.
"Eh? Kenapa? Padahal menurutku dia cukup tampan." Hilya bingung dengan perubahan sikap Erica.
"Tampan tapi beracun tidak ada gunanya, Hil," jawab Erica, menatap langsung ke mata sahabatnya.
"Fokus kita sekarang adalah Jenderal Eshar. Dapatkan undangan itu untukku, bagaimana pun caranya. Fiorenza Fashion membutuhkan sang Jenderal, dan aku... membutuhkan kekuasaannya."
jelas Erica.
Hilya, meskipun bingung dan merasa Erica berubah menjadi jauh lebih dewasa dan dingin sejak pulang dari Surabaya, akhirnya mengangguk patuh karena rasa sayangnya pada sang sahabat.
"Baiklah, sepupuku bekerja di bagian dekorasi Hotel Mandarin. Aku akan memintanya menyelundupkan dua undangan untuk kita."
Setelah Hilya pamit pulang, Erica berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke jalanan ibu kota.
Dia membelai kain sutra merah yang tergantung di patung manekin di sudut ruangannya. Kemudian menoleh ke arah kaca besar di sampingnya.
"Dua hari lagi," gumam Erica pada pantulan dirinya di kaca.
"Aku ingin lihat, seberapa dinginnya sang Jenderal Perbatasan ketika mendengar sebuah penawaran yang menarik untuk kekuasaannya."
😁😁😁😁
kalian udh punya harta masing2 , keluarga masing2 Dan kebahagiaan masing2 ( tu pun kalo bnran punya) ,,,,
Masih aj ganggu hidup org lain ,, Masih aj ngurusin yg bukan hak ny ,,
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
😒😒😒😒😒😒
km slah justru dy pergi krn sedang menyiapkan serangan balasan yg lebih dr kejam ,, 😏😏😏😏😏😏
semangat 💪💪💪
liat kuat imronmun saja pak eshra 🤭🤭
begitulah kalau berhadapan dengan seorang yg berpangkat jendral, apa lagi plis tampan nya ga ketolongan 🤣🤣🤣
awas jangan pingsan 🤭🤭🤭