Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 20 : Ciuman yang Salah Arti
Kemegahan aula utama hotel bintang lima itu seolah menyatu dengan pendar ribuan lampu kristal yang menggantung di langit-langit. Alunan musik klasik dari kelompok orkestra simfoni mengalun lembut, mengiringi percakapan berkelas di antara ratusan tamu penting. Di tengah-tengah kerumunan kaum borjuis tersebut, Nadira berdiri mendampingi Arka dengan keanggunan yang luar biasa.
Segala latihan keras yang ia jalani selama lima hari terakhir terbayar lunas. Ketika beberapa istri komisaris senior mendekat untuk menyapa, Nadira merespons dengan intonasi suara yang tenang, senyuman yang tulus, dan tata krama yang tanpa cela. Ia bahkan mampu mengimbangi obrolan ringan mengenai perkembangan yayasan pendidikan anak tanpa terkesan menggurui.
"Istri Anda luar biasa, Tuan Mahendra. Sangat anggun dan rendah hati," puji salah seorang menteri yang menjadi tamu kehormatan malam itu.
Arka melirik Nadira yang sedang tersenyum sopan di sampingnya. Ada binar kebanggaan yang samar di dalam manik mata hitam pria itu. "Terima kasih, Pak. Dia memang selalu melakukan yang terbaik."
Di sudut ruangan yang berbeda, Selena berdiri dengan segelas sampanye di tangannya. Matanya merah padam, mencengkeram kaki gelas kaca itu hingga hampir retak. Rencana awalnya untuk menayangkan video kebangkrutan keluarga Nadira mendadak gagal total karena Yudha—asisten pribadi Arka—secara ketat memfilter ulang seluruh berkas multimedia sistem digital acara sebelum pesta dimulai.
Melihat Nadira justru menjadi pusat perhatian dan menuai banyak pujian, rasa iri dan kedengkian di dalam dada Selena membakar habis seluruh sisa akal sehatnya. Ia tidak akan membiarkan guru TK miskin itu pulang membawa kemenangan malam ini. Jika ia tidak bisa menghancurkan reputasi Nadira lewat layar digital, maka ia akan melakukannya dengan tangannya sendiri.
---
Saat Arka sedang tertahan untuk berbincang santai dengan beberapa kolega bisnis di area VIP, Nadira meminta izin untuk pergi ke toilet sejenak guna merapikan gaunnya. Koridor menuju area belakang hotel tampak lebih sepi dan temaram, jauh dari hiruk-pikuk aula utama.
Nadira baru saja keluar dari toilet ketika sebuah bayangan melangkah cepat dari arah koridor yang gelap.
*Srett!*
"Ah!" Nadira tersentak ketika sebuah cairan sirup merah kental mendadak tumpah, membasahi bagian depan gaun malam berwarna cokelat susu miliknya. Cairan lengket itu meresap cepat ke dalam serat kain brokatnya, meninggalkan noda besar yang sangat kontras dan mengerikan.
Nadira mendongak dan mendapati Selena berdiri di hadapannya dengan sebuah gelas kosong dan senyuman miring yang penuh kemenangan.
"Oh, maaf ya, Nadira. Saya tidak sengaja. Lantainya agak licin," ucap Selena dengan nada sarkasme yang kental, sama sekali tidak mencerminkan rasa bersalah.
Nadira menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan amarahnya. "Nona Selena, tindakan Anda ini sudah keterlaluan."
"Keterlaluan? Ini belum seberapa dibandingkan caramu merebut Arka dari saya!" desis Selena kejam. Sebelum Nadira sempat membalas, Selena menarik lengan Nadira dengan kasar dan mendorongnya masuk ke dalam sebuah ruang ganti kecil khusus staf yang pintunya sedang terbuka di dekat koridor tersebut.
*Brak!*
Selena membanting pintu kayu tebal itu dari luar, lalu dengan cepat memutar kunci yang menggantung di lubangnya. *Klik.*
"Nona Selena! Buka pintunya!" seru Nadira, memukul permukaan pintu dengan panik.
Dari luar, terdengar suara tawa renyah Selena yang sarat akan racun. "Nikmatilah malammu di dalam sana, Nyonya Mahendra yang terhormat. Mari kita lihat seberapa anggun dirimu saat suamimu menemukanmu membusuk di ruang ganti staf dengan gaun yang kotor."
Langkah kaki sepatu hak tinggi Selena terdengar menjauh, meninggalkan Nadira dalam kesunyian ruangan yang sempit. Lampu di dalam ruangan itu rupanya mati, menyisakan kegelapan yang pekat. Ketakutan Nadira terhadap ruang sempit dan trauma masa lalunya mendadak bangkit. Napasnya mulai memburu, dan keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Ia terduduk di lantai, mendekap kedua lututnya sambil mencoba mengatur napasnya yang kian sesak.
---
Di aula utama, Arka mulai merasa tidak tenang. Waktu sudah berlalu hampir dua puluh menit, namun Nadira belum juga kembali. Firasat buruk yang sempat ia rasakan tempo hari kembali merayap di dadanya. Setelah berpamitan pendek pada koleganya, Arka melangkah cepat meninggalkan aula, menyusuri koridor belakang menuju toilet.
Di tengah jalan, ia berpapasan dengan Selena yang berjalan dengan wajah santai dan angkuh. Arka menangkap kilatan aneh di mata wanita itu. Tanpa membuang waktu, Arka mencengkeram pergelangan tangan Selena dengan kuat.
"Di mana Nadira?" tuntut Arka, suaranya sedingin es batu, memancarkan aura mengintimidasi yang membuat Selena sempat tersentak takut.
"Mana saya tahu, Arka? Saya bukan pengasuhnya," jawab Selena, mencoba melepaskan tangannya.
"Jangan bohong, Selena! Saya tahu apa yang ada di dalam kepala busukmu. Di mana dia?!" bentak Arka, kehilangan kesabarannya.
Melihat amarah Arka yang meledak, Selena akhirnya mendengus kasar dan menunjuk ke arah koridor ujung. "Dia ada di ruang ganti staf. Kamarnya terkunci."
Arka langsung menghempaskan tangan Selena dengan kasar dan berlari cepat menuju ruangan yang dimaksud. Sesampainya di depan pintu kayu tebal itu, ia bisa mendengar suara isakan kecil dan napas yang terengah-engah dari dalam.
"Nadira! Kamu di dalam?!" seru Arka, mencoba memutar knop pintu yang terkunci.
"Pak... Pak Arka? Tolong... di sini gelap..." suara Nadira terdengar sangat lemah dan bergetar di balik pintu.
Tanpa berpikir panjang mengenai tata krama atau kerusakan fasilitas hotel, Arka mundur dua langkah. Ia mengumpulkan kekuatannya, lalu menghantamkan bahu tegapnya ke arah pintu kayu tersebut dengan keras.
*Brak!*
Pada hantaman kedua, grendel kunci pintu itu jebol, terbuka lebar membiarkan pendar cahaya koridor masuk ke dalam ruangan yang gelap. Arka segera melangkah masuk dan mendapati Nadira sedang terduduk lemas di sudut lantai dengan tubuh yang bergetar hebat. Jas kerjanya yang tempo hari dipakai Nadira tidak ada di sana untuk melindunginya, dan gaun indah wanita itu kini telah ternoda merah.
"Nadira!" Arka berlutut di depan istrinya, langsung meraih kedua bahu Nadira.
Nadira mendongak, matanya yang basah oleh air mata menatap wajah panik Arka. Tanpa memedulikan gengsi atau status kontrak mereka, Nadira langsung menghambur ke dalam pelukan Arka, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu sambil terisak. "Pak... terima kasih..."
Arka membeku sejenak, namun perlahan-lahan tangannya bergerak mengusap punggung Nadira dengan lembut, memberikan kehangatan yang menenangkan. "Tidak apa-apa. Saya di sini. Kamu aman."
---
Setelah Nadira mulai sedikit tenang, Arka membantunya berdiri. Ia melepaskan jas tuksedonya dan menyampirkannya ke bahu Nadira untuk menutupi noda besar di gaunnya. "Ayo, kita pulang sekarang. Tidak ada gunanya bertahan di pesta ini."
Mereka melangkah keluar dari ruang ganti tersebut. Namun, di koridor belakang yang menghubungkan ruang ganti dengan lobi samping hotel, petugas kebersihan rupanya baru saja mengepel lantai akibat tumpahan minuman sebelumnya, meninggalkan permukaan marmer dalam keadaan yang sangat basah dan licin tanpa adanya papan peringatan yang jelas.
Nadira yang berjalan dengan langkah yang masih agak lemas dan menggunakan sepatu hak tinggi setinggi sepuluh sentimeter, mendadak kehilangan cengkeraman pada lantainya.
"Ah—"
Kaki kiri Nadira tergelincir hebat ke belakang. Tubuhnya limbung, jatuh bebas ke arah depan.
Arka yang berjalan tepat di sampingnya dengan cekatan langsung berbalik, mengulurkan kedua tangannya untuk menangkap tubuh Nadira. Namun, karena momentum jatuhnya Nadira yang cukup keras ditambah dengan kondisi lantai yang sama licinnya di bawah sepatu pantofel mahal Arka, keseimbangan pria itu pun ikut terganggu.
Tubuh tegap Arka terdorong mundur, membentur dinding koridor dengan pelan, sementara tubuh mungil Nadira jatuh tepat di atas dekapannya.
Dan dalam satu detik yang krusial itu, sebuah kecelakaan geometris yang tak terduga terjadi.
Wajah Nadira yang menunduk jatuh tepat di atas wajah Arka yang mendongak. Di bawah pendar lampu koridor yang remang-remang, bibir lembut Nadira bertemu sempurna dengan bibir kokoh milik Arka dalam sebuah ciuman singkat yang tidak sengaja.
*Deg.*
Waktu seolah berhenti berdetak sepenuhnya. Udara di sekitar mereka mendadak membeku.
Mata jernih Nadira membelalak sempurna, menatap langsung ke dalam sepasang manik mata hitam milik Arka yang berada hanya satu sentimeter di depan wajahnya yang juga ikut melebar karena keterkejutan yang masif. Sentuhan itu terasa begitu hangat, lembut, dan mengirimkan sengatan listrik yang luar biasa dahsyat langsung menuju pusat jantung mereka masing-masing. Kulit wajah mereka berdua seketika memancarkan rona merah padam yang sangat pekat.
Namun, keajaiban keheningan itu tidak berlangsung lama.
*Cret! Cret! Cret! Cret!*
Sebuah rentetan kilatan lampu kilat (*flash*) kamera mendadak meledak bertubi-tubi dari arah ujung koridor lobi samping. Beberapa wartawan hiburan yang sengaja berkeliaran di area belakang untuk mencari skandal para pejabat, secara tidak sengaja menyaksikan momen intim tersebut dan langsung menekan tombol rana kamera mereka dengan beringas.
Arka yang pertama kali tersadar dari keterpukauannya langsung membalikkan tubuhnya, memeluk kepala Nadira dan menyembunyikan wajah istrinya di dalam dadanya guna melindunginya dari jepretan kamera, sementara tangan kanannya teracung tajam menunjuk para fotografer.
"Hentikan! Jangan berani-berani mengambil gambar!" bentak Arka dengan suara baritonnya yang menggelegar penuh amarah bisnis.
Namun, semuanya sudah terlambat. Gambar-gambar mentah itu sudah tersimpan dengan aman di dalam kartu memori para pencari berita.
---
Keesokan paginya, badai informasi yang sesungguhnya meledak di seluruh penjuru negeri.
Sinar matahari pagi yang cerah sama sekali tidak mampu menghalau ketegangan yang membeku di dalam ruang tengah kediaman Mahendra. Di atas meja kaca, bertumpuk belasan surat kabar hiburan dan layar gawai yang menampilkan laman portal berita digital terbesar.
Foto momen di koridor hotel semalam terpampang nyata di halaman utama. Foto yang memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana Nadira berada di dalam dekapan Arka dengan bibir yang saling bertautan, dibumbui oleh jas tuksedo Arka yang membungkus tubuh wanita itu. Judul-judul artikel yang tertera tampak begitu sensasional dan provokatif:
*“Skandal di Balik Pesta Amal: CEO Mahendra Group Tertangkap Kamera Berciuman Intim dengan Istri Barunya di Koridor Sepi!”*
*“Kemesraan yang Menghebohkan Dunia Elite: Arka Mahendra dan Guru TK-nya Tak Mampu Menahan Gairah di The Grand Aurora Gala!”*
Ibu Sarah yang duduk di sofa seberang memijat pelipisnya dengan wajah yang pucat menahan malu. "Arka! Nadira! Apa-apaan ini?! Nama keluarga kita sekarang menjadi bahan rasan-rasan di seluruh arisan sosialita pagi ini! Benar-benar memalukan!"
Nadira duduk diam di sudut sofa dengan kepala yang tertunduk dalam-dalam. Jemarinya meremas kain roknya dengan sangat kuat. Rasa malu, bingung, dan takut berkecamuk hebat di dalam dadanya. Ia merasa seolah-olah seluruh privasi dan harga dirinya sebagai seorang pendidik telah ditelanjangi di depan umum demi sebuah kecelakaan yang salah arti.
"Ma, cukup. Itu hanya kecelakaan karena lantainya licin," potong Arka datar, suaranya terdengar tenang namun sarat akan penekanan yang tidak ingin didebat lagi. Ia berdiri dari duduknya, mengambil jas kerjanya, dan melirik Nadira sekilas sebelum berjalan keluar menuju mobilnya untuk berangkat ke kantor guna meredam pergerakan tim humas.
---
Di dalam kabin mobil SUV hitamnya yang bergerak membelah jalanan kota, Arka menyandarkan kepalanya pada sandaran jok dengan mata terpejam. Tangannya bergerak perlahan, menyentuh bibir bawahnya sendiri yang terasa sedikit hangat.
Pikiran Arka sama sekali tidak tertuju pada saham perusahaan yang mungkin bergejolak akibat berita gosip tersebut. Fokusnya sepenuhnya tertinggal pada sensasi sentuhan bibir Nadira semalam.
Logika dingin Arka mulai melakukan kalkulasi emosional yang baru. Selama ini, ia selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa pernikahan ini hanyalah sebuah transaksi bisnis—bahwa Nadira hanyalah seorang "istri paruh waktu" yang akan melangkah pergi begitu masa kontrak satu tahun selesai.
Namun, ciuman tidak sengaja semalam telah meruntuhkan seluruh kebohongan logikanya. Arka menyadari sebuah fakta yang teramat jujur di dalam sanubari terdalamnya: bahwa sentuhan bibir Nadira sama sekali tidak membuatnya merasa terganggu, risih, atau marah. Justru sebaliknya. Sentuhan itu menyalakan sebuah rasa haus yang teramat sangat di dalam dadanya—sebuah keinginan posesif yang egois untuk menarik wanita itu lebih dekat, mendekapnya lebih erat, dan mengubah status "paruh waktu" itu menjadi sebuah kepemilikan yang mutlak dan abadi untuk seumur hidupnya.
Arka membuka matanya, menatap lurus ke depan dengan kilatan tekad yang baru yang kian mengeras di dalam manik mata hitamnya. Perang melawan ego telah usai, dan kini ia siap menghadapi apa saja demi melindungi wanita yang telah resmi mencuri seluruh hatinya tersebut.