“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”
Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Jangan Menerima Semuanya!
Sinar matahari pagi menerobos masuk ke kamar Arin, menembus jendela yang terbuka lebar. Cahaya itu menyentuh wajahnya yang masih terpejam. Perlahan, Arin membuka matanya, merasakan hawa dingin yang menyelinap masuk sejak tadi malam, jendela itu memang tak pernah ditutup.
Ia hanya terdiam dan tetap berbaring, menatap langit-langit kamarnya yang tertutup plafon kumuh dan sedikit berjamur. Di luar jendela tidak ada pemandangan indah, hanya deretan beton tua, kusam, yang dipenuhi lumut hijau.
"Aku harus cari pekerjaan… dan segera pindah dari tempat ini."
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di dekat bantal. Begitu layarnya menyala, puluhan notifikasi pesan terlihat. Dan seperti biasa, Arin hanya menggulirnya tanpa benar-benar ingin membaca.
Ting!
Satu pesan masuk. Nama pengirimnya sama seperti sebelumnya. Arin menatap layar itu beberapa detik. Enggan. Tapi akhirnya ia membuka pesan itu.
[Sudah tiga bulan kau belum membayar hutang ayahmu. Kau menguji kesabaranku. Jangan sampai aku harus mencarimu, karena kalau itu terjadi kau akan tahu akibatnya. Aku tunggu bulan ini. Jika tidak, aku akan datang sendiri.]
Arin menutup pesan itu tanpa membalas dan kembali meletakkan ponselnya di samping bantal.
Ia kembali membaringkan diri, matanya kembali terpejam bukan untuk tidur, tapi karena kepalanya terasa berat. Nafasnya panjang dan tertahan, otaknya mulai dipenuhi kembali oleh bayangan-bayangan lama. Orang-orang yang membuat hidupnya hancur, dan neraka yang pernah ia tinggali dulu. Lubang hitam yang tak pernah benar-benar bisa ia tinggalkan.
...Flashback ON...
Arin berlari tergesa-gesa menuju kamar Mamanya. Jantungnya berdetak kencang, ketika pintu terbuka matanya langsung menyapu isi ruangan. Beberapa orang asing berdiri di dalam, seorang wanita berseragam perawat dan seorang pria tua, mungkin berusia enam puluhan, mengenakan jas dokternya.
Ia segera mendekat ke ranjang. Di sana, Mama terbaring diam, entah tertidur, entah tidak sadarkan diri, Arin mencoba menerka-nerka. Sedangkan Dokter dan perawat sibuk memeriksa kondisi Mamanya, memasang infus, dan mencatat sesuatu. Arin hanya bisa berdiri di samping ranjang, panik dan kebingungan.
Matanya beralih ke Ayah tirinya, seolah menuntut penjelasan.
"Mamamu jatuh di kamar mandi," ucap pria itu datar, tanpa nada cemas sedikit pun.
Arin menoleh kembali ke arah Mama. Wajahnya pucat, matanya tertutup rapat. Arin segera duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Mama erat-erat.
Dokter menoleh ke arahnya sambil berkata, "Keadaannya stabil. Tidak ada benturan di kepala. Hanya terkilir ringan di kaki, tidak ada memar serius. Semuanya baik-baik saja."
Tapi Arin tak tenang. Air matanya jatuh pelan saat ia menatap dokter itu dengan suara gemetar.
"Mama saya sakit, Dok… Mama saya mengidap kanker. Tolong… tolong bantu Mama saya…"
Dokter itu sempat melirik Ayah tiri Arin, lalu kembali menatap Arin sebentar, tanpa mengatakan apa-apa. Ia hanya mengangguk kecil, kemudian melangkah keluar kamar bersama perawat. Ayah tiri Arin mengikuti mereka dari belakang.
Sesampainya di pintu, pria tua itu hendak masuk ke mobilnya ketika suara ayah tiri Arin menghentikannya.
"Berapa lama lagi dia bisa hidup?" tanyanya pelan dengan nada dingin, seolah-olah yang ia tanyakan bukanlah tentang manusia, melainkan waktu pakai sebuah barang.
"Melihat kondisinya yang sudah sangat buruk… bahkan dengan pengobatan pun peluang hidupnya sangat kecil apalagi tanpa pengobatan. Saya tidak bisa memprediksi secara pasti, tapi kemungkinan... kurang dari satu tahun," ucap dokter itu sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil dan pergi.
Di dalam kamar, Arin masih duduk di samping ranjang Mamanya, menangis dalam diam, saat seorang pria mendekat. Usianya sekitar tiga puluh tujuh tahun. Ia menempatkan tangannya di punggung Arin, lalu tangan kirinya perlahan menyentuh lengan Arin.
"Mamamu akan baik-baik saja," ucapnya pelan.
Arin merasa tidak nyaman. Seketika, ia berdiri dan menatap wajah pria asing itu, alisnya berkerut.
"Ah… jangan takut. Aku pamanmu, adik dari Ayah tirimu," ujarnya sambil tersenyum, lalu melangkah lebih dekat.
Arin spontan mundur satu langkah, gelagat tubuhnya menunjukkan penolakan.
"Jangan ganggu dia," suara Ayah tiri Arin terdengar dari arah pintu. Ia baru saja masuk kembali ke kamar.
"Aku tidak mengganggunya. Hanya berkenalan," jawab pria itu sambil tersenyum lagi. Akhirnya ia berhenti mendekati Arin dan langsung berjalan ke sofa, lalu duduk santai di sana.
"Dia Pamanmu. Mulai sekarang, dia akan tinggal di sini."
...Flashback Off...
Ting!
Suara notifikasi ponsel membuyarkan pikiran Arin. Sebuah pesan dari Intan masuk. Arin segera bangkit dari tempat tidur dan mengambil ponselnya. Setelah membaca isi pesan, ia mengetik balasan cepat:
[Aku sedang siap-siap. Nggak lama…]
Pesan itu terkirim. Lalu, tanpa banyak bicara, Arin langsung masuk ke kamar mandi untuk bersiap.
...*****...
"Ahaa!!"
Teriakan bahagia Intan menggema di dalam kafe, membuat beberapa pengunjung langsung menoleh ke arah mereka. Tanpa ragu, Intan memeluk Arin erat sambil sedikit melompat-lompat kegirangan.
"Semua orang lihat, Tan…" bisik Arin sambil tertawa kecil, wajahnya sedikit memerah karena malu.
"Memangnya kenapa kalau mereka lihat? Aku sangat merindukanmu! Kau! Kau sangat jahat! Apa kau masih menganggapku sebagai sahabat?!" ucap Intan sambil memukul pelan lengan Arin.
"Maaf.. Aku cuma belum siap waktu itu. Makanya aku pergi tanpa banyak berpikir." Arin menggenggam tangan Intan, mencoba menenangkannya dengan tatapan tulus.
Intan mendengus kecil, tapi senyumnya perlahan kembali muncul.
"Baiklah… Baiklah. Itu semua sudah lewat, dan kau juga sudah meneleponku. Jadi, sekarang… apa rencanamu?"
Arin menarik napas sebentar sebelum menjawab. "Entahlah. Tapi aku kepikiran untuk kembali melamar kerja di hotel. Dengan pengalamanku, mungkin aku bisa dapat posisi yang sama."
"Regen Hotel?" tanya Intan cepat.
"Tentu saja tidak. Mereka memecatku, ingat?"
"Ah benar, iya! Kenapa mereka sampai memecatmu?" tanya Intan antusias sambil memukul pelan tangan Arin, matanya berbinar penasaran.
Arin terdiam. "Hm…"
Sebenarnya, ia enggan menjawab. Tapi setelah semua yang terjadi, dan terlalu banyak hal yang ia sembunyikan dari Intan, Arin mulai takut sahabatnya itu akan kecewa jika terus dibiarkan dalam gelap.
"Sudahlah... Kalau kau belum siap menceritakannya, nggak apa-apa. Aku cuma ingin kau tau bahwa aku selalu di pihakmu," ucap Intan tulus, menatap Arin dengan mata yang hangat.
Arin tersenyum tipis. "Tidak.. Aku ingin menceritakannya. Sebenarnya..."
Mendengar semua cerita Arin membuat darah Intan mendidih. Ketidakadilan ini dan kebodohan temannya ini.
Di sisi lain Arin merasa lega setelah menceritakan sedikit bebannya. Walau perasaan itu terasa berat di awal, tapi semakin ia bicara, semakin lega rasanya, seolah beban yang ia genggam erat ini perlahan mulai terangkat.
Brak!!
Intan memukul meja dengan keras, dia bahkan refleks berdiri. Suara pukulan itu cukup nyaring cukup untuk membuat hampir seluruh pengunjung kafe menoleh, termasuk para pelayan yang sedang lewat.
"Intan, duduk… duduk… semua orang melihat kita," bisik Arin pelan sambil menarik lengan baju sahabatnya itu.
"Kau! Kenapa kau membiarkan dirimu dipecat?! Itu bukan salahmu! Kenapa kau tidak melawan?!" seru Intan, suaranya masih tinggi.
Seorang pelayan segera menghampiri mereka, khawatir ada keributan.
"Maaf, Kak. Ada yang bisa saya bantu? Apa terjadi sesuatu?" tanyanya dengan nada sopan tapi waspada.
"Tidak.. tidak ada, kami minta maaf. Temanku hanya terlalu semangat," jawab Arin cepat, memaksakan senyum canggung.
"Baiklah, tapi tolong dijaga ketenangannya ya, Kak. Mohon tidak mengganggu pengunjung lain," ucap pelayan itu sebelum kembali ke tempatnya.
"Intan, tenanglah... ini seperti kau yang dipecat, bukan aku," kata Arin sambil menepuk-nepuk pelan punggung sahabatnya yang masih gelisah.
"Justru itu, Arin! Kenapa kau bisa setenang ini? Kau tidak marah?! Kau bahkan nggak nuntut penjelasan! Kau berhak marah! Kau berhak menuntut jawaban! Kenapa kau terima begitu saja?!" Suara Intan mulai bergetar. Ia tidak percaya bagaimana sahabatnya bisa sepasrah itu.
Arin hanya tersenyum getir. "Kau benar… Tapi, Intan.. yang memecatku adalah Victor Regen. Pemilik Regen Group itu sendiri. Aku bisa apa? Aku cuma... orang kecil." Nada Arin yang merendah, tapi tidak ada air mata di wajahnya. Ini seperti ketenangan yang lahir dari kelelahan.
"Jangan terima semuanya begitu saja... Arin. Setidaknya. Setidaknya kau harus bicara dengan Nathan Regen, Kau sudah beritahu dia? Sudah menemuinya?"
Arin menggeleng pelan.
Melihat itu, Intan menghembuskan napasnya kasar lalu menyandarkan dirinya ke kursi dengan frustasi. Tangannya menutupi wajahnya sebentar.
"Kau ini!" seru Intan lagi, suaranya naik satu oktaf, membuat beberapa pengunjung di kafe kembali menoleh ke arah mereka.
Arin buru-buru berdiri lalu membungkuk kecil, tersenyum canggung ke sekeliling sambil berucap pelan. "Maaf... maaf ya."
"Kita pergi dari sini... ayo," bisik Arin cepat, lalu menarik tangan Intan menuju pintu keluar.
Intan tak melawan, meski ekspresinya masih kesal, ia membiarkan Arin menggenggam tangannya dan membawanya pergi.
Mereka berjalan sebentar, lalu Arin menunjuk satu restoran yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kafe sebelumnya.
"Ke sana saja," katanya sambil menarik Intan masuk.
Begitu sampai dan duduk di dalam, suasana jauh lebih tenang. Intan masih diam, napasnya berat, dan wajahnya belum sepenuhnya lepas dari emosi.
Arin memesan makanan lebih dulu, lalu duduk diam di hadapan Intan, menunggu sahabatnya membuka suara.
Sekitar empat menit berlalu dalam keheningan.
"Kau sudah menemukan hotel tempatmu akan melamar?" tanya Intan akhirnya, suaranya mulai tenang.
"Aku berpikir akan melamar ke Virelle Hotel," jawab Arin.
Intan mengangguk pelan. "Saingan Regen Hotel," gumamnya.
"Awalnya aku sempat kepikiran melamar ke perusahaan korporat, sama sepertimu.. hanya saja aku belum rela meninggalkan bidang ini."
Intan tersenyum tipis. "Kau sudah sangat mahir di bidangmu. Kau pernah jadi hotel manager, posisi yang nggak semua orang bisa capai. Kau juga punya pengalaman, seseorang yang pernah bekerja di Regen Hotel." Ia menatap Arin, serius. "Hotel mana yang nggak bakal tertarik dengan rekam jejakmu?" lanjutnya.
Arin mengangguk setuju. Kalimat itu membuatnya merasa sedikit lebih yakin. Ya mungkin memang masih ada harapan.
"Baiklah. Kita makan dulu, ya." Arin menggeser piring berisi makanan yang baru diantar pelayan ke arah mereka. "Semua akan baik-baik saja. Aku akan segera dapat pekerjaan.. Ini, coba yang ini, ini juga semua makanan kesukaanmu."
Ia juga mendorong minuman dan beberapa hidangan lain ke dekat Intan.
Intan menatap Arin sejenak. Ekspresinya masih sedikit kesal, tapi perlahan ia mulai menyentuh sendoknya.
"Kau selalu tahu cara menenangkanku..." ucapnya, lalu mulai menyantap makanannya.