NovelToon NovelToon
KUTUKAN JARAN GOYANG

KUTUKAN JARAN GOYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Bad Boy / Akademi Sihir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 : Benturan di Sudirman

Pria bertubuh kekar itu mundur satu langkah setelah tangannya ditepis kasar oleh Bagus. Wajahnya yang beringas seketika memerah padam karena merasa dipermalukan di depan umum oleh seorang kurir ojek online. Ia menatap Bagus dari ujung helm hingga ujung sepatu kain usangnya dengan pandangan penuh penghinaan.

"Heh, ojol sialan! Jangan sok jadi pahlawan ya kamu! Gak usah ikut campur urusan orang lain kalau masih sayang nyawa!" bentak pria kekar itu dengan suara menggelegar, mencoba mengintimidasi mental Bagus dengan ukuran tubuhnya yang besar.

Bagus sama sekali tidak bergeming. Berkat pilar Ilmu Tawakalan Ahadi yang didasarkan pada ayat 'Faidza azamta fatawakkal 'alallah', seluruh rasa takut di dalam diri Bagus telah sirna tak berbekas. Jiwanya sudah pasrah sepenuhnya kepada perlindungan Allah, sehingga gertakan dari manusia bertubuh raksasa di hadapannya ini tidak lebih dari sekadar embusan angin kosong yang lewat. Bagus tetap berdiri tegak, memasang badannya menjadi tameng pelindung di depan tubuh Sri yang masih gemetar di belakang punggungnya.

"Saya tidak berniat ikut campur urusan Anda, Bung. Tapi bertindak kasar dan melecehkan seorang wanita di tempat umum adalah perbuatan yang salah. Silahkan Anda pergi dari sini sebelum saya panggil petugas keamanan gedung," jawab Bagus dengan nada suara yang sangat tenang, datar, namun memancarkan aura tekanan batin yang luar biasa dingin.

Mendengar tantangan tenang dari Bagus, pria kekar itu kehilangan kesabaran. Ia mengepalkan tangan kanannya yang besar, lalu dengan kecepatan penuh melayangkan sebuah pukulan mentah yang sangat keras, mengarah tepat ke arah rahang kiri Bagus.

Sri yang melihat pergerakan cepat itu langsung menjerit ketakutan di belakang punggung Bagus. "Mas, awas!" pekiknya sambil memejamkan mata rapat-rapat.

Namun, Bagus tidak sedikit pun menghindar atau panik. Di dalam hitungan sekejap mata, esensi Ilmu Benteng Neroko Jasad yang merujuk pada ayat 'Quu anfusakum wa ahlikum naaro' yang sudah mendarah daging di dalam tubuhnya seketika aktif secara otomatis. Tiga pilar utama Iman, Islam, dan Ihsan yang telah mengunci seluruh sistem sarafnya membuat Bagus tidak lagi digerakkan oleh hawa nafsu amarah atau dendam, melainkan murni untuk menegakkan keadilan dan melindungi sesama.

BUKKK!

Suara benturan keras terdengar menggema di area parkir terbuka tersebut. Tinju besar milik pria kekar itu mendarat telak di rahang Bagus. Namun, sebuah pemandangan yang sangat tidak masuk akal terjadi. Kepala Bagus sama sekali tidak bergeser atau terkilir barang satu senti pun. Ia tetap berdiri kokoh laksana batu karang yang kokoh di tepi pantai. Sebaliknya, begitu kepalan tangan pria kekar itu menyentuh kulit jasad Bagus, aliran energi panas membara laksana api yang sangat dahsyat seketika memantul mematikan dari benteng Neroko Jasad milik Bagus.

"Aaaarrgghh!"

Pria kekar itu langsung menjerit kesakitan yang teramat sangat. Ia menarik kembali tangannya sambil memegangi pergelangan tangannya yang mendadak terasa lumpuh dan kaku, persis seperti baru saja menghantam sebongkah baja panas yang membara di dalam tungku api. Buku-buku jarinya memerah padam dan gemetar hebat menahan rasa linu yang luar biasa menusuk hingga ke tulang sumsumnya. Tatapan beringas di wajah pria itu seketika sirna, digantikan oleh rasa nyeri dan ketakutan yang mendalam saat menatap sosok Bagus yang masih berdiri tenang tanpa luka sedikitpun di depannya.

"Kam... kamu pakai ilmu apa, hah?!" tanya pria kekar itu dengan suara yang terbata-bata menahan sakit dan ngeri.

Bagus tidak menjawab. Ia hanya menatap pria itu dengan pandangan mata yang tajam dan dingin. "Sakit yang Anda rasakan itu hanyalah pantulan dari niat jahat Anda sendiri, Bung. Sekarang, silahkan pergi sebelum energi ini merusak seluruh sendi tangan Anda," ucap Bagus pelan namun penuh ancaman gaib yang nyata.

Tanpa perlu diperingatkan untuk ketiga kalinya, pria bertubuh kekar itu langsung berbalik arah dan lari terbirit-birit meninggalkan area parkiran gedung Sudirman dengan memegangi tangannya yang lunglai. Ketakutan batinnya telah runtuh total oleh tekanan mental dari Bagus.

Setelah suasana kembali aman, Bagus perlahan membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah Sri. Ia melepaskan helm ojolnya, menampilkan wajahnya yang kini tampak jauh lebih dewasa, bersih, dan berwibawa pasca-merantau dari tanah Wetan.

"Mbak tidak apa-apa? Ada bagian tubuh yang terluka?" tanya Bagus dengan nada suara yang sangat lembut, ramah, dan penuh dengan pilar Ihsan yang tulus.

Sri perlahan membuka kedua kelopak matanya yang sempat terpejam. Tepat saat sepasang matanya menatap langsung ke dalam manik mata Bagus, jantung Sri berdegup dengan ritme yang sangat aneh. Getaran halus yang hangat seketika merayap di ulu hatinya. Anehnya, getaran ini tidak membawa rasa cemas, pening kepala, atau rasa sesak yang menyiksa seperti efek pelet Jaran Goyang dulu. Ini adalah sebuah rasa takjub, rasa kagum, dan getaran asmara yang sangat murni, bersih, yang lahir dari lubuk sanubarinya yang paling dalam secara sadar sebagai seorang wanita.

Meskipun ingatan Sri tentang nama 'Bagus' telah dihapus total oleh kemurahan Allah, sukma murninya seolah mengenali ketulusan luar biasa dari pemuda di hadapannya ini. Sri menatap wajah Bagus dengan pandangan mata yang bersinar cerah, penuh binar kehidupan murni manusia.

"Sa... saya tidak apa-apa, Mas. Terima kasih banyak sudah menolong saya," jawab Sri dengan suara yang bergetar lembut, lengkap dengan seulas senyuman tulus yang sangat manis merekah di bibirnya. "Nama saya Sri. Kalau boleh tahu... nama Mas siapa?"

Bagus tersenyum sangat tulus, sebuah senyuman keikhlasan tanpa ada lagi ambisi buta untuk menguasai atau memaksa. "Nama saya Bagus, Mbak Sri. Cuma seorang kurir ojek online biasa."

Di bawah terik matahari siang kawasan Sudirman yang bising, garis takdir resmi merajut kembali benang-benang pertemuan mereka. Kali ini, tidak ada minyak mistis, tidak ada mantra Jawa kuno malam Selasa Kliwon, dan tidak ada paksaan khodam iblis yang merusak jiwa. Jalinan asmara kasih yang baru saja dimulai ini akan tumbuh dengan sangat indah, murni, dan suci, lahir dari frekuensi hati yang sama-sama telah dibersihkan oleh jalan takdir Allah Yang Maha Kuasa.

“Ketika jalinan kasih tak lagi digerakkan oleh paksaan mantra kegelapan, ia akan tumbuh laksana benih suci yang disiram oleh air keikhlasan. Benteng terkuat mu bukan lagi keangkuhan materi, melainkan ketulusan hati yang murni saling mencintai di bawah rida-Nya.”

— Sang Alifas Yang Merumput

1
❤️⃟Wᵃf✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🤎❥␠⃝ ͭ🍁𝓷𝓲ѕ⍣⃝✰
wah mau apa tuh bagus
Wijaya Mandiri Media Studio: mau ke dukun bagus nya hehehe Semar mesem 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!