NovelToon NovelToon
Cinta Tulus Sang Penguasa

Cinta Tulus Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pandangan yang aneh

Sudah genap satu minggu Annisa bekerja di kediaman megah itu. Selama tujuh hari itu, ia menjalani tugasnya dengan sangat hati‑hati, tepat waktu, dan tidak pernah menyimpang dari perintah yang diberikan. Tidak ada lagi kesalahan dalam penyajian kopi, tidak ada barang yang tertinggal berantakan, dan tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya melebihi apa yang perlu dikatakan.

Namun, ketenangan Annisa justru memicu rasa iri di hati para pelayan lain. Di mata mereka, menjadi pelayan pribadi Tuan Chensi adalah posisi yang paling diinginkan sekaligus paling berbahaya. Dan kini posisi itu dipegang oleh seorang wanita asing, pendatang dari negara yang jauh.

Di dapur, saat waktu istirahat tiba, bisikan‑bisikan mulai terdengar.

“Lihat saja dia. Baru seminggu sudah bisa dipercaya melayani Tuan Chensi. Padahal dia orang asing, bukan warga sini,” gumam seorang pelayan wanita bernama Mei dengan nada sinis.

“Siapa tahu dia punya cara sendiri untuk menarik perhatian Tuan. Meskipun terlihat pendiam, bisa jadi dia menyembunyikan sifat aslinya,” timpal yang lain sambil melirik ke arah Annisa yang sedang duduk menyendiri sambil memakan bekalnya.

“Lihat juga pakaiannya yang aneh itu. Selalu tertutup rapat, kepalanya pun terbungkus kain. Mungkin itu hanya trik supaya terlihat berbeda dan lebih sopan dari kita semua,” tambah Mei lagi dengan nada yang makin tajam.

Annisa mendengar semua bisikan itu, namun ia memilih pura‑pura tidak tahu. Ia tahu posisinya lemah, jadi satu‑satunya cara bertahan adalah bekerja lebih baik lagi dan tidak terlibat dalam gosip atau pertengkaran. Ia hanya berdoa agar hatinya tetap tenang dan tugasnya berjalan lancar.

Sementara itu, di sisi lain, fakta bahwa selama seminggu ini Chensi tidak mengeluarkan perintah untuk memecat atau memindahkan Annisa ke bagian lain, menjadi tanda yang jelas. Bahkan lelaki itu sendiri menyadari hal itu. Ia tidak pernah merasa terganggu, tidak merasa dicuri perhatiannya, dan semua keperluannya selalu siap sebelum ia sempat memintanya.

Pagi itu, seperti biasa, Annisa masuk ke kamar utama untuk membersihkan tempat tidur dan mengganti sprei dengan yang baru. Chensi baru saja selesai mandi dan berdiri di depan lemari pakaian, sedang memilih kemeja yang akan dipakainya ke kantor. Namun, matanya tanpa sadar tertuju pada sosok wanita itu.

Annisa berdiri membelakanginya, membentangkan sprei dengan gerakan yang teratur dan cekatan. Tubuhnya tertutup rapat oleh pakaian kerja yang sopan dan panjang, serta hijab yang menutupi seluruh rambut dan lehernya dengan rapi. Tidak ada lekuk tubuh yang terlihat berlebihan, tidak ada kulit yang terbuka untuk dipandang mata orang lain. Semua tertutup, rapi, dan terjaga.

Chensi berhenti bergerak, matanya menatap lekat tanpa sadar. Ia terbiasa melihat wanita‑wanita di lingkungannya yang berpakaian terbuka, memamerkan kecantikan mereka untuk menarik perhatian. Namun melihat Annisa justru terasa berbeda, terasa asing, namun juga memancing rasa ingin tahu yang aneh.

“Aneh juga… pakaiannya tertutup sampai sedemikian rupa. Seolah tidak ingin ada satu pun pandangan lelaki yang sembarangan melihat bagian tubuhnya,” pikir Chensi dalam hati.

Semakin ia amati, terlintaslah sebuah pemikiran yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan di benaknya yang dingin itu.

“Kalau begini caranya, maka tidak ada mata lelaki lain yang bisa menikmati keindahan tubuhnya. Semua itu hanya tersimpan rapi, hanya bisa dilihat dan dimiliki oleh satu orang saja—suaminya nanti. Siapa pun lelaki yang menjadi pasangannya pasti sangat beruntung. Dia mendapatkan wanita yang menjaga dirinya sebaik ini, tidak dipandang orang lain, dan hanya miliknya seorang…”

Pikiran itu membuat Chensi terdiam lebih lama. Ada rasa penasaran yang mulai tumbuh, bercampur dengan rasa kagum yang baru ia rasakan untuk pertama kalinya. Sebelum ia sadari, tatapannya sudah terlalu lama tertuju pada sosok Annisa.

Annisa yang merasa ada pandangan yang terus menempel padanya, akhirnya berhenti bekerja. Ia menoleh perlahan, dan terkejut menemukan Tuan Chensi sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa—bukan tatapan marah, bukan tatapan ketus, melainkan tatapan yang dalam dan penuh pertanyaan.

Wajah Annisa langsung memerah karena gugup. Ia segera menunduk dalam, jari‑jarinya mencengkeram ujung sprei.

“Maafkan saya, Tuan… apakah ada yang salah dengan pekerjaan saya?” tanyanya dengan suara lembut namun tegang.

Suara itu menyadarkan Chensi dari lamunannya. Ia mengerjapkan mata, lalu memalingkan wajah seolah tidak ada apa‑apa, berusaha menyembunyikan pikiran aneh yang baru saja melintas. Suaranya kembali datar, meski tidak setajam biasanya.

“Tidak ada. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Cepat selesai, aku butuh ruangan ini bersih sebelum berangkat.”

“Baik, Tuan.”

Annisa segera kembali bekerja, namun kali ini hatinya berdebar kencang. Ia merasakan ada sesuatu yang berubah, meski ia tidak tahu apa itu. Sementara Chensi melangkah keluar kamar, pikirannya masih terus berkutat pada sosok wanita itu—dan rasa ingin tahu yang mulai tumbuh perlahan, tanpa ia sadari sedang membawanya ke arah yang jauh lebih berbahaya.

Sejak pagi itu, tanpa sadar Chensi mulai sering mencari alasan untuk memperhatikan Annisa. Dulu ia hanya memandang sekilas untuk memeriksa pekerjaannya, kini matanya selalu tergerak mencari keberadaan wanita itu di setiap sudut ruangan.

Jika ia sedang duduk membaca dokumen, matanya akan melirik ke arah Annisa yang sedang menyapu atau menata bunga. Jika ia sedang minum teh, telinganya seolah menangkap setiap langkah kaki lembut yang bergerak di sekitarnya. Semakin ia perhatikan, semakin ia sadari betapa teraturnya gerak‑gerik Annisa: tidak pernah berisik, tidak pernah membuang waktu, dan selalu menjaga jarak yang sopan.

Suatu sore, hujan turun cukup deras disertai angin kencang. Jendela kamar Chensi terbuka sedikit, membiarkan air hujan masuk dan membasahi karpet mahal di lantai. Chensi baru pulang dari kantor, dan saat masuk ia melihat Annisa sudah berlutut di lantai, sedang mengelap sisa air dengan kain lap. Punggungnya sedikit membungkuk, hijabnya tergeser sedikit ke belakang sehingga memperlihatkan sedikit bagian lehernya yang halus dan putih bersih.

Pemandangan itu membuat Chensi berhenti melangkah. Jantungnya yang biasanya tenang tiba‑tiba berdegup lebih cepat. Ia menelan ludah, lalu mendekat dengan langkah pelan.

“Kenapa tidak memanggil pelayan lain saja?” tanyanya dengan suara yang berusaha tetap datar, meski nadanya tidak setajam biasanya.

Annisa terkejut, segera berdiri dan menunduk dalam. “Maaf, Tuan. Saya baru saja melihatnya, jadi langsung saya bersihkan sendiri saja. Tidak perlu merepotkan orang lain.”

Chensi menatap wajah wanita itu yang sedikit memerah karena kedinginan. “Bajumu basah. Nanti sakit.”

“Tidak apa‑apa, Tuan. Saya sudah terbiasa,” jawab Annisa sambil menyembunyikan tangannya yang sedikit gemetar karena dingin.

Chensi terdiam sejenak, lalu mengambil handuk tebal dari lemari dan menyodorkannya ke arah Annisa. “Ambil ini. Keringkan badanmu, lalu ganti pakaian. Saya tidak mau pelayan saya jatuh sakit dan mengganggu pekerjaan.”

Annisa tertegun, tidak menyangka majikannya akan bersikap demikian. “Terima kasih banyak, Tuan.” Ia menerima handuk itu dengan hati‑hati, lalu berjalan keluar dengan langkah tergesa.

Sejak kejadian itu, gosip di antara pelayan lain semakin memanas. Rasa iri mereka berubah menjadi kecurigaan.

“Lihat saja! Baru seminggu sudah diperlakukan istimewa. Apa kataku? Dia pasti punya cara licik,” bisik Mei dengan nada marah saat melihat Annisa lewat di depan dapur.

“Benar. Padahal dia hanya orang asing, tidak punya apa‑apa. Kenapa Tuan Chensi bisa berubah sikap padanya?” tambah pelayan lain.

Namun Annisa hanya mengabaikan semua itu. Ia tahu sikap Chensi belum tentu berarti kebaikan, ia tetap menjaga jarak dan bersikap sehati‑hati mungkin. Ia tidak ingin terjebak dalam situasi yang berbahaya.

Sementara itu, di ruang kerjanya, Chensi duduk termenung. Pikiran tentang Annisa terus menghantuinya. Ia terbiasa mengendalikan segalanya, namun perasaan yang muncul ini baru dan asing baginya.

“Kenapa aku merasa begitu penasaran padanya? Apa yang membuatnya berbeda dari wanita lain yang pernah aku temui?” gumamnya dalam hati.

Terlintas kembali pikiran yang sempat muncul pagi itu. “Tubuhnya tertutup rapat, hanya untuk satu orang saja. Seandainya orang itu adalah aku… pasti akan sangat membanggakan memiliki wanita yang menjaga kehormatannya sebaik ini.”

Pikiran itu membuatnya merasa aneh, namun juga memicu keinginan yang semakin kuat untuk mengetahui lebih banyak tentang Annisa. Keinginan yang awalnya hanya rasa ingin tahu, perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam dan berbahaya.

1
Kasih Bonda
next Thor semangat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Jalanilah hubungan kalian berdua seperti ini dulu, sambil terus berdoa suatu saat jika Tuhan sudah berkehendak kalian untuk bersatu selamanya.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Chensi saat ini mulai tertarik untuk mempelajarinya, siapa tahu suatu saat nanti atas ijin Yang Maha Kuasa Chensi tidak hanya mempelajari saja namun juga memperdalam ilmunya serta meyakini apa yang sudah ditegaskan di dalam setiap ayat-ayatnya.
Naufal Affiq
semoga chensi mendapat hidayah
Naufal Affiq
bagus chensi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
lanjut kak dewi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
seiring berjalannya waktu semoga hubungan kalian.bisa menemukan jalan yang baik
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
asingkan aliin keluar pulau terpencil biar tidak bisa balik lagi 🙄
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
chensi mana mau dengar wong calon cucu sendiri mau di lenyapkan
Naufal Affiq
bagus chensi,buat mereka jera seumur hidup
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Rukun-rukun ya kalian berdua 🥰👍
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
hukuman yg pantas buat kalian bertiga mk nya mikir sebelum bertindak
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
memang pengawal bodo hrsnya konfirmasi dl sm tuanmu , trima sj hukumnya nya skrg
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Akhirnya Aulin menerima hukuman dari Chensi, semoga saja dia benar-benar tak akan mengganggu kehidupan Annisa di kemudian hari 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
kasiann Annisa semoga dia tidak apa apa dan Chensi cepat datang menolong 😟😟
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
bego banget penjaganya mudah percaya ditambah iming iming uang lagi harusnya konfirmasi sendiri sama Chensi mengenai kedatangan Ailin🤧😤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
huaa senangnya mendengar pengakuan kalian sekarang jangan galau lagi Annisa nanti Chansi pasti pulang
Naufal Affiq
chensi cepat pulang,annisa di bawa ailin pergi dari rumah mu,alasan kau yang menyuruhnya.tolong annisa vhensi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!