Bayangan orang-orang untuk status putri tunggal keluarga pengusaha ternama, adalah gadis anggun yang penuh pesona dan wibaya seorang penerus tahta.
Tapi nyatanya, itu tidaklah berlaku untuk Larissa Moretti. Meskipun ayahnya seorang pengusaha kaya raya yang tersohor di Kolombia, serta memiliki ibu yang anggun dan lemah lembut.
Gadis itu sama sekali tidak mewarisi sikap ibunya, gadis itu adalah gambaran gadis jalanan yang urakan, suka membuat masalah hingga membuat sang ayah menggeleng-gelengkan kepalanya yang hampir pecah.
Puluhan bodyguard yang di sewa ayahnya selalu mengundurkan diri bahkan sebelum mereka bekerja satu Minggu mengawal gadis urakan itu.
Hingga untuk terakhir kalinya, sang ayah menyewa bodyguard melewati agensi terbaik di Kolombia, dan menyewa seorang bodyguard yang memiliki reputasi terbaik disana.
Gavin Kingsley, pria berumur 30 tahun dengan perawakan super atletis dan yang paling membuat Larissa tertegun adalah wajahnya yang tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Sabotase Kamar Mandi Pria
...Rasa tidak nyaman yang merayap di tengkuk Fabian akhirnya pecah....
... Teror yang dilakukan Gavin dari balik dinding kaca transparan restoran Gambero Rosso benar-benar menghilangkan seluruh nafsu makannya. ...
...Potongan daging Wagyu mahal di piringnya mendadak terasa hambar bagaikan mengunyah karet....
... Setiap kali Fabian mencoba memandang wajah cantik Larissa, sepasang mata biru cerah di luar kaca seolah siap mencungkil kedua matanya keluar....
..."L-Larissa, Cintaku" Fabian tergagap, meletakkan garpu peraknya dengan tangan yang masih gemetar halus. ...
...Keringat dingin merusak tatanan minyak rambut klimis di pelipisnya....
... "Maaf, kurasa... pendingin ruangan di restoran ini terlalu menusuk. Aku harus ke toilet sebentar untuk membasuh wajah."...
...Larissa, yang sejak tadi menikmati pertunjukan teror bisu tersebut, menopang dagunya dengan tangan kanan....
... "Tentu saja, Fabian. Silakan. Wajahmu memang kelihatan agak... pucat. Seperti orang yang baru saja melihat hantu," sindir Larissa dengan senyuman manis yang sengaja dibuat tanpa dosa....
...Fabian memaksakan sebuah tawa kering sebelum bangkit berdiri dengan langkah gontai....
... Dia buru-buru melangkah meninggalkan area meja VIP, memutar arah menuju koridor remang-remang di bagian belakang restoran tempat toilet pria berada....
...Begitu sosok jas biru muda milik Fabian menghilang di balik tikungan lorong, Gavin yang berada di meja luar ruangan langsung meletakkan pisau dagingnya. ...
...Postur kaku bak patung lilinnya tidak berubah, namun gerakan tubuh tegapnya seringan bayangan. ...
...Dia berdiri, merapikan kancing jas hitam mahalnya dengan tenang, lalu melangkah masuk ke dalam restoran melalui pintu samping....
...Gavin tidak memedulikan tatapan mata Larissa yang terus mengiringi langkah lebarnya....
... Sifat Tsundere-nya menuntut untuk bersikap seolah tindakan ini murni bagian dari prosedur pengamanan. ...
...Namun, di dalam rongga dadanya, ledakan api cemburu gila-gilaan dan posesifnya seorang monster dunia bawah telah mendidih sepenuhnya....
... Fabian telah melanggar batas dengan memanggil Larissa menggunakan sebutan "Cintaku" berulang kali. ...
...Fabian baru saja selesai membasuh wajahnya dengan air dingin di depan wastafel toilet pria yang mewah. ...
...Dia mendongak, menatap pantulan dirinya di cermin besar berbingkai perak, mencoba mengembalikan sisa-sisa harga dirinya yang hancur....
...CEKLEK!...
...KLIK....
...Suara berat dari pintu kayu jati toilet yang ditutup rapat, disusul bunyi besi kunci yang berputar dua kali dari dalam, memecah kesunyian ruangan tersebut....
...Fabian tersentak, refleks memutar tubuhnya. ...
...Jantungnya seolah melompat keluar dari dada saat melihat sosok Gavin yang sejak tadi menerornya kini telah berdiri kokoh di depan pintu keluar toilet....
... Gavin Kingsley menutup seluruh akses ruangan, mengunci ruangan itu dari dunia luar....
..."H-Hei! Apa yang kamu lakukan?!" Fabian berteriak, mencoba memasang wajah galak khas anak pengusaha kaya yang arogan, namun suaranya yang melengking tinggi justru mengkhianati keberaniannya....
..."Buka pintunya! Kamu itu cuma pelayan sewaan keluarga Moretti! Berani-beraninya kamu—"...
...Gavin tidak mengeluarkan sepatah kata pun. ...
...Dia melangkah maju dengan langkah lambat namun penuh tekanan intimidasi. ...
...Sepasang mata biru cerahnya tidak lagi sedingin es batu, mata itu telah berubah gelap, memancarkan aura psikopat yang sangat mematikan. ...
...Hawa dingin yang menguar dari tubuh Gavin seketika meruntuhkan suhu di dalam toilet tersebut, membuat Fabian mundur teratur hingga punggungnya membentur pinggiran wastafel marmer yang keras....
...Sebelum Fabian sempat memproses apa yang terjadi, tangan kanan Gavin melesat maju secepat kilat....
...SRET!...
...Jari-jari kokoh Gavin mencengkeram kuat kerah jas biru muda milik Fabian, mengumpulkannya dalam satu kepalan didepan leher, lalu mengangkat tubuh pria itu hingga ujung sepatu mahalnya sedikit terangkat dari lantai....
...Cengkeraman itu begitu kuat hingga kancing teratas kemeja Fabian terlepas, mencekik saluran pernapasannya seketika....
..."Uhuk! L-Lepaskan... aku!"...
... Fabian mencakar-cakar lengan kekar Gavin yang dilapisi kain jas hitam, namun lengan itu tetap kaku dan tidak bergeser seujung kuku pun, sekeras pilar baja....
...Gavin menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajah tampannya yang sedatar marmer ke arah telinga Fabian yang sudah memucat. ...
...Ketika dia berbicara, suara baritonnya yang sangat rendah, penuh akan rasa posesif yang mengerikan mengalir pelan, menembus langsung ke dalam pusat ketakutan terdalam di otak Fabian....
..."Dengar baik-baik, Tuan Celaya," bisik Gavin dengan nada yang sangat tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat bulu kuduk Fabian meremang hebat. ...
..."Nona Larissa Moretti bukan seseorang yang bisa Anda dekati dengan mulut kotor dan otak mesum Anda. Hak istimewa Anda untuk bernapas di negara ini bergantung sepenuhnya pada seberapa jauh Anda menjaga jarak darinya."...
...Gavin mencengkeram kerah Fabian sedikit lebih erat, memotong pasokan oksigen pria itu selama dua detik yang fatal hingga mata Fabian mulai berair karena rasa horor yang begitu menakutkan....
..."Jika saya melihat Anda berani menyentuh seujung kuku atau selembar rambut milik Nona Larissa lagi, seumur hidup Anda..." Gavin menjeda kalimatnya, memberikan senyuman tipis yang sangat dingin di sudut bibirnya, senyuman khas seorang pembunuh berdarah dingin sebelum mengeksekusi korbannya....
... "Saya akan memastikan nama, keluarga, dan seluruh aset perusahaan Celaya Corp milik ayahmu akan menghilang dari peta Kolombia dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Dan tubuhmu... tidak akan pernah ditemukan bahkan oleh anjing pelacak sekalipun!!?"...
...Ancaman itu bukan sekadar gertakan kosong. ...
...Fabian bisa merasakan aura mematikan yang hanya dimiliki oleh para penguasa tertinggi dunia hitam....
... Pria di hadapannya ini bukan pengawal biasa, dia adalah malaikat maut yang sedang menyamar....
...Fabian mengangguk dengan sangat cepat dan panik, air mata ketakutan mulai mengalir di sudut matanya yang membelalak horor....
... "M-Mengerti... aku mengerti! Lepaskan..."...
...Gavin melepaskan cengkeramannya dengan satu sentakan kasar, membuat Fabian jatuh terduduk di atas lantai toilet yang dingin dalam kondisi terbatuk-batuk hebat sambil meraup udara dengan rakus. ...
...Gavin tidak meliriknya lagi....
... Dia berbalik, merapikan kerah jas hitamnya sendiri dengan angkuh, membuka kunci pintu toilet, lalu melangkah keluar dengan posisi siap sempurna yang kembali kaku, membuang jauh-jauh sikap cemburunya yang ia coba sembunyikan serapat mungkin....
...Tiga menit kemudian, di meja VIP restoran, Larissa sedang asyik memotong daging steaknya ketika dia melihat sosok Fabian berjalan tergesa-gesa kembali ke arah meja....
...Wajah Fabian kini telah berubah sepenuhnya menjadi sepucat mayat, tanpa ada sisa-sisa warna kehidupan sedikit pun di kulitnya....
... Tubuhnya gemetar begitu hebat hingga jas biru mudanya yang berantakan tampak bergoyang....
... Matanya menatap liar ke sekeliling, menolak keras beradu pandang dengan Gavin yang kini telah kembali berdiri tegak lurus tiga meter di belakang kursi Larissa....
...Tanpa menduduki kursinya kembali, Fabian meraih ponsel dan kunci mobilnya di atas meja dengan tangan yang bergetar parah....
..."L-Larissa..." suara Fabian bergetar begitu hebat hingga hampir tidak terdengar....
... "Maaf... aku... ada urusan darurat mendadak di kantor ayahku. Aku... aku harus segera pergi sekarang. Maafkan aku!"...
...Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari Larissa, pria kaya yang beberapa menit lalu bertingkah sangat arogan itu langsung berbalik dan berlari tunggang-langgang keluar dari restoran Gambero Rosso....
... Dia bahkan sempat tersandung kaki meja pelayan dan hampir menabrak pintu kaca saking paniknya ingin melarikan diri sejauh mungkin dari tempat tersebut....
...Larissa menghentikan garpunya di udara, mengerjapkan mata hazelnya beberapa kali menatap kepergian Fabian yang kelewat tidak elit itu....
...Kebingungan sempat melintas di wajah cantiknya selama satu detik, namun detik berikutnya, sepasang mata hazelnya langsung beralih memutar ke arah belakang, mengunci fokusnya tepat pada sosok Gavin yang berdiri kaku bak manekin hidup dengan wajah tanpa riak emosi....
...Sebuah senyuman licik manis yang sangat lebar dan menawan seketika terukir indah di wajah Larissa. ...
...Sifat bar-barnya bersorak puas....
... Dia tidak perlu menjadi seorang detektif untuk mengetahui dengan pasti bahwa hilangnya nyali Fabian dalam waktu singkat ini adalah ulah dari sang pengawal pribadi tsundere yang sedang terbakar cemburu di dalam kamar mandi pria tadi....
... Perang menggoda sang robot pelindung tampaknya makin menyenangkan....
...Aksi posesif Gavin makin tidak masuk akal, dan semakin terlihat nyata di mata Larissa....
...Apakah Larissa akan langsung menuding Gavin di dalam mobil saat perjalanan pulang nanti, atau ada rencana jail baru yang sudah Larissa siapkan?...