NovelToon NovelToon
Dangerous Obsession : Undercover Love

Dangerous Obsession : Undercover Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:110.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hais Tauahh

Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.

Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.

Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 | mulai percaya

Dante membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari bibir Elara. Aroma air kolam yang segar menyatu dengan maskulinitasnya yang tajam. Elara bisa merasakan hawa panas dari tubuh Dante matanya terpejam secara reflektif, detak jantungnya berpacu seolah ingin meledakkan dadanya. Suasana di ruangan itu mendadak begitu berat, terisi oleh ketegangan yang menuntut untuk diselesaikan.

Elara menahan napas, menantikan ciuman yang akan mengubah segalanya. Namun, tepat saat bibir mereka nyaris bersentuhan, Dante tiba-tiba berhenti.

Elara membuka matanya perlahan, bingung, hanya untuk melihat Dante menarik diri dengan gerakan yang sangat tenang. Pria itu tegak berdiri, mengambil handuk putih bersih yang tergeletak di kursi sebelah Elara, lalu melingkarkannya ke bahu lebarnya dengan santai.

"Kau terlihat sangat mengharapkan sesuatu, Letnan, "ucap Dante dengan nada merendahkan yang sangat halus.

Elara tersentak, wajahnya seketika memerah seperti kepiting rebus. Ia merasa dipermainkan dengan cara yang paling brutal. " Kau bajingan," desis Elara, mencoba menyembunyikan rasa malunya dengan kemarahan.

Dante justru tertawa pelan, suara baritonnya memenuhi ruangan. Ia berjalan memutar meja, lalu berhenti tepat di belakang Elara. Tangannya terulur, jemarinya yang dingin menyentuh tengkuk Elara, memaksanya untuk menegang.

"Jangan salah paham," bisik Dante di telinga Elara, napasnya terasa seperti sengatan listrik. "Aku hanya ingin kau tahu bahwa di dunia ini, kau tidak bisa mendapatkan apa yang kau inginkan hanya dengan menunggu. Jika kau menginginkanku, kau harus berani mengambil langkah pertama, bukan sekadar memejamkan mata dan berharap aku yang melakukannya untukmu."

Elara memutar kursinya, matanya berkilat penuh tantangan.

"Aku tidak menginginkanmu. Aku sedang menguji seberapa jauh kau bisa bertindak sebelum kau menjadi membosankan."

Dante menyandarkan tubuhnya ke meja, menatap Elara dengan pandangan yang sulit diartikan—sebuah campuran antara kekaguman dan keinginan untuk menundukkan gadis di depannya.

" Menarik. Kau berani menantangku saat kau sendiri nyaris menyerah tadi."

Dante kemudian berbalik dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Elara yang masih duduk membeku dengan dada yang naik-turun menahan emosi.

"Mandi dan bersiaplah," suara Dante terdengar dari balik pintu kamar mandi yang terbuka. "Seseorang akan datang membawa pakaian untukmu. Kita punya waktu satu jam sebelum kita harus menemui orang-orang yang ingin melihat kita mati. Jangan habiskan waktumu dengan memikirkan ciuman yang tidak terjadi, Elara. Simpan itu untuk saat di mana kau benar-benar siap untuk membakar duniamu sendiri bersamaku."

Elara menatap pintu kamar mandi itu dengan napas yang masih tersengal. Ia baru saja menyadari bahwa berurusan dengan Dante Moretti bukan sekadar tentang nyawa atau misi ini tentang mempertahankan kewarasannya saat pria itu terus-menerus menari di atas garis antara musuh dan obsesi.

Elara menatap pantulan dirinya di cermin. Skinny jeans hitam dan turtleneck tanpa lengan yang diberikan Dante setelah ia menolak mentah-mentah gaun sutra yang kembali disodorkan pria itu terasa jauh lebih masuk akal untuk sebuah pelarian atau pertarungan. Ia tidak berniat menjadi manekin di samping pria mafia itu.

Dante, yang berdiri bersandar di bingkai pintu dengan setelan jas charcoal tanpa dasi, menatap Elara dengan intensitas yang membuat ruangan terasa menyempit.

"Kita tidak kembali ke Washington," ucap Dante datar saat mereka berdiri di depan lift.

Elara mendongak tajam. "Kau berjanji kita akan segera selesai dengan semua ini. Aku punya janji makan malam dengan keluarga Sterling. Tunanganku menungguku, Dante."

Dante melangkah maju, memangkas jarak hingga bahu mereka bersentuhan. "Lupakan Sterling. Makan malam itu tidak akan pernah terjadi, setidaknya tidak sampai aku memastikan tidak ada lagi ancaman yang mengincar hidupmu."

"Kau bertindak seolah kau cemburu," sindir Elara, mencoba menguasai keadaan meski jantungnya berdegup tak beraturan. "Tapi ingat, kau punya Melisa yang sedang menunggu di luar sana untuk memenggal kepalaku."

Pintu lift terbuka dengan denting nyaring. Mereka masuk ke dalam ruangan logam yang sempit itu. Dante menekan tombol lantai paling bawah, lalu berbalik mengurung Elara dengan satu tangannya yang bersandar di dinding lift, tepat di samping kepala gadis itu.

"Melisa hanyalah pion," bisik Dante, suaranya kini terdengar rendah dan penuh ancaman yang tertahan.

"Dan soal kau yang menyebutku cemburu? Mungkin memang benar. Tapi bukankah kau sendiri yang tidak bisa melepaskan matamu dariku sejak pagi tadi?"

Elara mendengus, berusaha terlihat tidak terpengaruh meski aroma parfum maskulin Dante memenuhi paru-parunya.

"Aku hanya memastikan kau tidak mencoba membunuhku dalam tidurku. Jangan terlalu percaya diri."

"Kau sangat pandai berbohong pada diriku, Elara. Tapi kau buruk sekali saat harus berbohong pada dirimu sendiri," Dante tersenyum miring. Ia memajukan wajahnya hingga napasnya menyapu bibir Elara. "Adil, bukan? Kau membenciku, tapi kau masih di sini. Aku tidak menginginkanmu, tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi."

Tepat saat pintu lift terbuka di lobi yang ramai, Dante menarik diri dengan kecepatan yang membuat Elara merasa kehilangan. Ia melangkah keluar lebih dulu, menyisakan Elara yang masih tertegun, mencoba menetralkan suhu tubuhnya yang tiba-tiba melonjak.

Elara keluar dari lift dengan langkah kaki yang dipercepat, berusaha menjauh dari sosok pria itu. Namun, Dante dengan sigap meraih lengan Elara, menggenggamnya dengan cukup kuat untuk memberikan peringatan, namun cukup lembut untuk tidak menyakitinya.

"Jangan pernah melangkah terlalu jauh dariku hari ini," bisik Dante tepat di belakang telinganya saat mereka berjalan melewati lobi yang dipenuhi pengawal berjas hitam. "Karena di luar sana, orang-orang Sterling sedang mengawasi setiap gerak-gerikmu. Jika kau ingin selamat sampai makan malam itu, kau harus tetap menjadi bayanganku."

Elara menatap punggung tegap Dante, menyadari bahwa ia tidak sedang diajak dalam perjalanan bisnis. Ia sedang diajak ke dalam medan pertempuran di mana ia harus memilih antara loyalitas pada agensinya atau ketertarikan yang mematikan pada pria yang seharusnya ia musnahkan.

Mobil berhenti di depan sebuah lahan yang luas dan sunyi. Elara menatap keluar jendela dengan kerutan di dahi. Ini bukan hotel, bukan pula markas mafia, melainkan sebuah kompleks pemakaman kuno yang dikelilingi pagar besi tinggi.

Dante turun tanpa berkata sepatah kata pun. Ia menerima sebuah kotak beludru hitam dari pengawalnya, lalu berjalan masuk ke dalam area makam dengan langkah yang berat dan penuh beban. Elara ragu sejenak, namun dorongan untuk memahami pria ini lebih kuat daripada rasa takutnya. Ia mengikuti Dante dari belakang.

Dante berhenti di depan sebuah nisan marmer hitam yang sangat mencolok di antara makam-makam lainnya. Elara mendekat dan membaca ukiran nama di sana: Sofia Kirana

Dante tidak berjongkok. Ia berdiri tegak, menatap nisan itu dengan sorot mata yang begitu dingin bukan dingin karena kebencian, melainkan dingin karena keputusasaan yang sudah membatu. Ia membuka kotak beludru hitam itu di dalamnya terdapat sebuah replika kecil belati perak yang pernah menjadi simbol pertunangan mereka.

"Dia selalu membenci bunga," suara Dante memecah kesunyian, suaranya parau. "Bunga hanya mengingatkan orang pada kematian. Sofia lebih suka sesuatu yang tajam, sesuatu yang nyata."

Elara terdiam. Ia merasakan atmosfer di sekitar makam itu menekan Paru-parunya. "Bagaimana dia meninggal?" tanya Elara pelan, ia memberanikan diri.

Dante tidak langsung menjawab. Ia menaruh belati itu di atas nisan, lalu berbalik menatap Elara. Wajahnya begitu pucat, kontras dengan setelan jas hitamnya.

"Ayahku, Franco, menginginkan kendali penuh atas perusahaan logistik keluarga kami. Sofia adalah satu-satunya yang memegang bukti bahwa Franco bekerja sama dengan sindikat musuh untuk melenyapkan saingannya," Dante menatap nisan itu dengan tatapan nanar. "Dia tidak hanya membunuhnya, Elara. Dia memaksaku untuk menyaksikan bagaimana Sofia menghembuskan napas terakhir, hanya untuk memastikan aku belajar bahwa di keluarga Moretti, cinta adalah kelemahan yang harus dipotong hingga ke akarnya."

Elara merasa darahnya berdesir dingin. Ia selalu mengira Dante adalah pria yang haus kekuasaan, namun kini ia melihat seorang pria yang dipaksa menjadi monster oleh ayahnya sendiri. Tanpa sadar, Elara melangkah maju dan menyentuh rahang Dante yang kaku. Kulit pria itu sedingin es.

"Kau melihatnya sendiri?" bisik Elara, hatinya mencelos.

Dante mencengkeram tangan Elara yang berada di rahangnya, bukan untuk menyingkirkannya, melainkan untuk mencari pegangan di tengah badai emosinya

" Setiap malam, saat aku memejamkan mata, aku masih mendengar suaranya memanggil namaku sebelum peluru itu menembus dadanya."

Elara menatap Dante dengan pandangan yang penuh empati. Kebenciannya pada Dante sebagai target misi kini benar-benar runtuh, digantikan oleh kesadaran bahwa ia sedang berhadapan dengan seseorang yang jiwanya telah dipaksa mati sejak lama.

"Dante," Elara menangkup wajah pria itu, memaksa Dante untuk menatapnya. "Dia tidak mati karena kau lemah. Dia mati karena dia mencintaimu dan mencoba melindungimu. Jangan biarkan pengorbanannya berubah menjadi alasan bagimu untuk kehilangan kemanusiaanmu sendiri."

Dante menatap mata Elara lekat-lekat. Untuk pertama kalinya, tembok pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun tampak retak. "Jika aku kehilangan kemanusiaanku, Elara maka tidak ada lagi yang tersisa di dalam diriku untuk bisa mencintai siapapun."

Dante menarik tangan Elara dari wajahnya dan menggenggamnya erat, seolah-olah Elara adalah satu-satunya hal nyata di dunia yang penuh kepalsuan ini. Di bawah langit mendung pemakaman itu, Elara sadar bahwa ia telah melangkah terlalu jauh. Ia tidak hanya sedang mengamati targetnya; ia sedang ditarik masuk ke dalam kegelapan yang sama, dan ia tidak yakin apakah ia ingin keluar darinya.

●●●●

1
Anonim
😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍
ada saja
ciee cemburu😍😍😍
ada saja
😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
hmmm 😍😍😍
Anonim
next😍😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
pokoknya😍😍😍
Anonim
lanjut deh
Anonim
lanjut😍😍😍pokoknya
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
makin gemes😍😍😍
Tiara
next😍😍😍
Tiara
lanjut😍😍😍
Tiara
lanjut😍😍😍p0ki🤭
Tiara
lanjut😍😍😍
Anonim
lanjut
Anonim
lanjut😍😍😍pokoknya
Anonim
lanjut😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!