Di bawah langit Las Angeles, Scarlett Langford bertarung melawan kemiskinan dengan kecerdasan dan percaya diri.
Demi mempertahankan harga dirinya di High School, gadis yatim ini nekat menciptakan sebuah kebohongan besar sebagai kekasih rahasia Millian Vale-Knight—Pria yang tak pernah ia temui.
Namun, takdir gemar bercanda.
Saat bekerja paruh waktu sebagai pelayan pesta borjuis, Scarlett terlibat bentrokan sengit dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan bermata heterochromia.
Tanpa rasa takut, Scarlett memaki pria tersebut seraya berteriak bahwa ia hanya takut jika pria itu adalah Millian Vale-Knight .
Scarlett tidak pernah tahu bahwa pria 'brengsek' yang baru saja ia maki di depan mukanya justru adalah Millian yang sesungguhnya.
Ketika tameng kebohongan menabrak realitas, akankah kepalsuan ini berubah menjadi jerat cinta, atau justru menjadi awal dari kehancuran Scarlett?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
Udara pagi yang dingin perlahan-lahan terkikis oleh terik matahari yang mulai naik meninggi, mengusir kabut yang sejak subuh menyelimuti barisan pohon pinus.
Setelah drama noda merah di balik sweater kelabu yang berakhir dengan kepanikan masal di dalam tenda, Scarlett akhirnya bisa bernapas lega.
Berkat bantuan darurat dari Delaney yang meminjamkannya celana training cadangan berwarna hitam pekat, Scarlett kini bisa kembali berdiri tegak dengan taring kepercayaan diri yang utuh.
Saat ini, seluruh mahasiswa baru dari berbagai kelompok telah dikumpulkan di tengah lapangan utama untuk mengikuti agenda kegiatan luar ruangan pertama: orientasi medan dan taktik kerja sama tim.
Para mentor senior berdiri di barisan depan, memberikan arahan mengenai rute peta dan pos-pos tantangan yang harus dilewati.
Namun, fokus Scarlett Langford pagi ini benar-benar terpecah belah menjadi kepingan yang tidak beraturan.
Di barisan depan barisan mentor, sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri, Millian Vale-Knight sedang berdiri dengan melipat kedua tangan di depan dada.
Setelah insiden bertelanjang dada tadi, ia kini telah berganti pakaian menggunakan kaos taktis hitam ketat yang mencetak jelas lekuk tubuh atletisnya, dipadukan dengan kacamata hitam yang bertengger angkuh di pangkal hidungnya.
Pesona bad boy yang melekat kuat pada dirinya memang tidak pernah gagal memikat massa.
Pria itu selalu terlihat menonjol, layaknya sebuah magnet visual yang dirancang khusus untuk menarik perhatian publik.
Namun, alih-alih terlihat garang atau berwibawa seperti mentor lainnya, ada satu pemandangan aneh dari jarak dekat yang tertangkap dengan sangat jeli oleh sepasang mata indahnya Scarlett.
Pria dari klan Knight itu, sejak sepuluh menit yang lalu, tampak sedang sibuk sendiri dengan bibir bagian bawahnya.
Dari kejauhan, Scarlett dapat melihat dengan sangat jelas bagaimana Millian perlahan-lahan menjilati bibir bagian bawah sebelah kanan dengan ujung lidahnya.
Terlihat sekali ia hanya fokus pada tekstur bibirnya sendiri; seakan sedang menerka-nerka sesuatu, pria itu kemudian menggigit sedikit bibir bawahnya dengan gigi kelincinya yang rapi, menahannya selama beberapa detik, lalu melepaskannya untuk kemudian menjilati bagian itu lagi.
Siklus itu berulang terus-menerus. Menjilat, menggigit kecil, mengerucutkan bibir, lalu menjilatnya lagi.
Scarlett memperhatikan aktivitas aneh itu sejak tadi tanpa berkedip.
Entah mengapa, matanya seakan mengkhianati otaknya sendiri; ia jauh lebih tertarik melihat gerak-gerik bibir pria itu daripada mendengarkan arahan mentor kepala yang sedang berteriak menggunakan megaphone di panggung darurat.
"Ada apa sebenarnya dengan orang itu? Apa dia sedang kehilangan akal sehatnya?" gumam Scarlett lirih, menatap bingung ke arah Millian yang tampaknya masih sangat sibuk merasakan sensasi di permukaan kulit bibirnya.
Namun, tepat saat mata Scarlett terpaku pada gerakan bibir tipis Millian yang sedang mengulum bagian bawahnya sendiri, sebuah kilasan memori mendadak menyengat otaknya dengan kejam.
Pikiran Scarlett langsung terlempar kembali pada insiden konfrontasi tengah malam di depan sisa api unggun.
“Jika kau tidak segera menutup mulutmu dan pergi dari sini, aku akan bangun dan menggigit bibirmu yang sangat cerewet itu sampai berdarah.”
Kata-kata Millian semalam bergema ulang di dalam kepalanya, berpadu horor dengan visual mimpi erotis di mana bibir mereka saling bertukar kehangatan dengan begitu intens.
Wah, sialan! Scarlett mengumpat dalam hati, wajahnya mendadak terasa memanas di bawah terik matahari pagi. Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba mengusir bayangan kotor yang mendadak melintas tanpa izin di dalam sirkuit otaknya.
Sebenarnya, apa yang sedang terjadi pada sang pangeran Bel Air itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan fantasi erotis atau kode mesum untuk menggoda Scarlett.
Kenyataan medisnya sangatlah sederhana dan manusiawi: Millian Vale-Knight ternyata sedang mengalami sariawan kecil di bagian dalam bibir bawahnya.
Luka kecil berwarna putih yang perih itu tampaknya muncul akibat gesekan tidak sengaja saat ia berdebat dengan Scarlett semalam, ditambah dengan kondisi tubuhnya yang kekurangan cairan karena menolak minum air mineral subuh tadi.
Rasa perih yang berdenyut-denyut membuat lidahnya secara refleks terus bergerak untuk membasahi dan memeriksa luka tersebut, sementara giginya mencoba menekan rasa sakit dengan gigitan-gigitan kecil.
Di tengah kesibukannya mengurusi sariawan sialan itu, insting tajam Millian mendadak menangkap ada sebuah tatapan intens yang mengarah lurus kepadanya dari arah barisan kelompok B-4.
Pria itu sedikit menurunkan kacamata hitamnya, melirik dari balik lensa gelap, dan berakhir mendapati wajah gadis titisan setan—Scarlett Langford—sedang menatap ke arahnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Menyadari dirinya tertangkap basah sedang bertingkah aneh, Millian dengan cepat menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menyembunyikan rasa perih, lalu pura-pura mengalihkan pandangannya menatap ke bawah tanah, menendang kerikil kecil dengan ujung sepatunya untuk menjaga reputasi angkuhnya.
Namun, di dalam benak sinis Millian, sebuah ide jahil mendadak muncul dan berputar dengan sangat gencar.
Mengingat pengakuan jujur Scarlett di dalam tenda semalam bahwa gadis itu belum pernah berpacaran seumur hidupnya, sebuah kesimpulan nakal langsung terbentuk di otak cerdasnya.
Hahaha... bukankah gadis galak dari San Marino itu juga belum pernah merasakan bagaimana rasanya berciuman yang sesungguhnya? batin Millian, sudut bibirnya ditarik ke atas membentuk senyuman sinis yang tersembunyi.
Dengan sengaja, Millian sengaja kembali menggerakkan lidah dan bibirnya di depan pandangan Scarlett.
Kali ini bukan lagi murni karena sariawan, melainkan sebuah gerakan provokatif yang sengaja ia mainkan untuk memancing emosi dan menguji tingkat pertahanan mental gadis yang mengawasinya itu.
Di seberang lapangan, di dalam pandangan visual Scarlett, tingkah laku musuh bebuyutannya itu justru terlihat semakin tidak masuk akal.
"Pria gila itu... apa dia sekarang sedang melakukan latihan senam mulut secara massal? Atau apa?" bisik Scarlett pada dirinya sendiri, mengerutkan keningnya dengan ekspresi tidak habis pikir.
"Tingkah lakunya benar-benar kekanak-kanakan sekali. Di mana letak wibawa klan Knight yang selalu diagung-agungkan itu?"
Namun, penilaian objektif Scarlett ternyata berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan opini publik di sekelilingnya.
Delaney yang berdiri di sampingnya, bersama dengan beberapa mahasiswi dari kelompok lain, justru tampak menopang dagu mereka dengan kedua tangan.
Mata mereka berbinar-binar penuh dengan pemujaan fiktif.
"Demi Tuhan... ini adalah kesempatan langka yang hanya terjadi sekali dalam seumur hidup," bisik Delaney dengan nada heboh yang tertahan, menyenggol lengan Scarlett dengan antusias.
"Menyaksikan bagaimana seorang Millian Vale-Knight—yang biasanya terlihat sangat bad boy, berandal yang gemar berkelahi di arena balap, dan sering mempermainkan hati wanita—bisa mengeluarkan ekspresi wajah yang terlihat begitu imut dan menggemaskan seperti itu saat melamun!"
Beberapa gadis di barisan belakang bahkan mulai saling berbisik histeris.
"Kau Beruntung , Scarlett! Bukankah dia terlihat sangat sempurna dengan ekspresi gigit bibir seperti itu? Karismanya justru bertambah berkali-kali lipat!"
Mendengar pujian masal yang menurutnya sangat salah kaprah itu, Scarlett langsung mendengus pekat, memutar bola matanya dengan tingkat kejengkelan yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Imut? Sempurna? Kalian semua pasti sudah buta karena silau oleh kekayaannya," cibir Scarlett dengan nada suara yang ketus. "Menjijikkan! Dia menjilati bibirnya sendiri sejak tadi dengan cara seperti itu seakan sedang menjilati..."
Scarlett mendadak menghentikan kalimatnya sendiri di udara.
Pikiran bawah sadarnya hampir saja meluncurkan sebuah analogi vulgar yang merujuk pada adegan mimpi erotisnya semalam. Wajahnya kembali merona merah karena panik.
"Oh, tidak! Maksudku... dia benar-benar terlihat sangat buruk rupa dan aneh dengan tingkah seperti itu!" cetus Scarlett dengan cepat untuk menutupi kegugupannya, memalingkan wajahnya ke arah lain dengan paksa sembari bertekad untuk tidak akan pernah melirik ke arah bibir sariawan Millian Vale-Knight lagi sepanjang hari ini.
apa bisa up yg banyak biar aku semakin mager
pleaseeee
tinggal ketahap talking stage 🤣🤣🤣