Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Yang Panas
"Dasar mandul dan beban! Kenapa cuma liat status aku tapi gak bales, hah? Takut ya, hahaha!"
ucap Imel pas bangun pagi. Tangannya langsung nyambar HP.
Dia buka aplikasi ijo, ngecek siapa tau ada balasan dari kedua iparnya. Nihil.
"Mel, ada apa sih? Bangun pagi bukannya urus sarapan sama anak ke sekolah,
malah sibuk urus HP terus marah-marah gak jelas,"
bilang Ikbal. Dia kaget denger suara istrinya pagi-pagi.
"Aku capek, Mas. Semua kerjaan rumah aku yang urus.
Kamu enak tinggal makan. Emangnya gak bisa bantuin aku apa?"
jawab Imel kesal. Matanya masih merah.
"Oooh, jadi kamu capek ngurus keluarga ini? Aku juga capek cari uang.
Masa udah capek cari uang, aku harus ngurus rumah tangga lagi?
Terus fungsi kamu istri apa, hah?"
jawab Ikbal. Nadanya agak kasar.
"Iya, iya. Ini aku bangun, aku urus semuanya,"
cepet Imel bangun. Dia buru-buru ke dapur.
Dia tau suaminya kadang suka ngalah. Tapi sekali marah, lebih galak dari dia.
Bahkan suka main tangan kalau emosinya udah di ubun-ubun.
Dengan emosi, Imel nyiapin sarapan. Cuma roti panggang oles selai coklat
sama susu putih anget. Itu aja.
Abis itu dia langsung nyuci semua piring kotor di wastafel.
Udah numpuk dari 2 hari lalu. Terus lanjut beresin rumah.
Bukannya bangunin anak-anaknya, dia malah biarin putrinya
yang baru kelas 3 SD ngurus diri sendiri sama adiknya.
*_**_***
Di meja makan rumah Andira, Lia, Rendi, sama Andira lagi nikmatin sarapan.
Nasi goreng buatan Lia. Anak-anak udah berangkat sekolah.
"Mbak, kami pulang aja ya. Kami gak mau ngerepotin Mbak,
apalagi jadi beban," ucap Lia. Kepalanya nunduk.
"Apa karena status Mbak Imel jadi kamu ngerasa kalian beban di hidup aku?
Kalian pulang terus siapa yang nemenin aku? Tolong, aku masih berduka.
Aku butuh temen," ucap Andira. Suaranya getar.
"Enggak, Mbak. Cuma rumah kami udah kosong beberapa hari,"
jawab Lia. Dia bohong. Dia gak enak hati karena status Imel.
"Aku tau, Lia. Bukan rumah yang kosong. Tapi kamu gak enak
karena status Mbak Imel. Dari Mas Renaldi hidup, aku udah nganggep kalian keluarga.
Sekarang Mas Renaldi udah gak ada, aku gak punya siapa-siapa selain kalian,"
ucap Andira. Matanya berkaca-kaca.
"Maafin aku, Mbak. Aku gak bermaksud bikin Mbak sedih.
Tapi aku gak enak hati terus jadi beban buat mba, Mbak buat makan, minum,
bahkan kebutuhan anak kami," bilang Lia lagi. Suaranya pelan.
"Lia, Reno... denger ya. Kalian saudara aku.
Anak-anak kalian juga anak aku. Sampe hari ini aku gak ngerasa direpotin.
Malahan aku seneng bisa beliin kebutuhan Putri sama Tio.
Aku seneng karena akhirnya gaji aku bisa dipake buat beli kebutuhan anak.
Ini gak seberapa," jawab Andira.
"Iya, Mbak. Maafin kami. Kami tetep dampingin Mbak sampe 40 hari
kepergian Mas Renaldi," jawab Rendi kali ini. Dia narik napas.
Ngerasa statusnya gak digubris, Imel langsung ngetik di grup WA keluarga:
"Malu mungkin jadi gak mau nanggapi. Makanya jangan jadi beban.
Ini lagi, mandul sama pembawa sial sok-sokan," tulis Imel.
Pesan itu masuk. Lia, Ikbal, sama Andira milih gak nanggapi.
Tapi tanggapan justru dateng dari suami Imel sendiri, Mas Ikbal:
"Imel, kamu ini sibuk banget cari masalah. Urus rumah tangga kita.
Bersihin rumah yang berantakan. Piring numpuk di wastafel.
Selalu aja sibuk ngurusin kehidupan pribadi adik-adikmu.
Malu dikit sama Renaldi, dong."
Lia sama Rendi di rumah Andira cuma bisa senyum tipis baca chat itu.
Sedangkan Imel makin emosi. Dia banting gelas di tangannya sampe pecah di lantai. "Prak!"
Dia langsung nelpon suaminya. Nada marah.
"Mas... kamu kenapa sih, hah? Apa kamu naksir si mandul itu jadi belain terus?"
"Bukan begitu, Mel. Kamu kakak, seharusnya tunjukin yang baik.
Bukan malah kasar sama ipar-ipar kamu," jawab Ikbal. Suaranya nahan.
"Alesan aja kamu. Bilang aja kamu naksir si mandul itu, kan, Mas?" hardik Imel.
Gak terima dituduh macem-macem, Ikbal akhirnya emosi juga.
"Kalau sampe kamu masih nuduh aku yang macem-macem,
akan aku betulin. Tapi bukan sama Andira.
Uang bulanan kamu akan aku potong sampe kamu berubah,
gak lagi ngurusin orang lain, tuuttt."
Ikbal langsung matiin telpon.
"Siaaalll! Dasar mandul, pembawa sial, beban!"
teriak Imel sejadi-jadinya. Dia tendang kursi dapur.
Pecahan gelas masih di lantai. Dia gak peduli.
Kakinya keiris, darah netes. Tapi dia terus teriak.
Di rumah Andira, Lia denger notif HP. Grup WA rame lagi.
Dia buka, liat chat Ikbal. Terus liat Imel gak bales.
"Mbak, Mas Ikbal belain Mbak," ucap Lia pelan.
Andira geleng. "Udah, Lia. Gak usah dibahas.
Yang penting kita makan dulu. Mas Renaldi pasti gak mau
liat kita ribut gara-gara status."
Rendi nyuapin Andira. "Iya, Mbak. Makan ya.
Biar kuat. 40 hari masih panjang."
Andira makan sesuap. Air matanya jatuh ke nasi.
"Mas, aku dijaga ya sama adik Mas. Makasih, Mas."
Siang itu, Imel gak masak. Anak-anaknya jajan di warung.
Indah, anaknya yang SD, pulang bawa bon.
"Bu, utang dulu ya. Uangnya buat bayar besok."
Imel lagi duduk di sofa, main HP. Liat status Andira.
Andira posting foto Putri sama Tio pake tas baru.
Captionnya: "Alhamdulillah, rezeki anak."
Imel langsung screenshot. Dia kirim ke story WA-nya.
Kasih stiker "minta-minta".
Tapi gak ada yang bales. Lia udah arsipin chat Imel.
Andira udah blokir Imel.
Imel makin panas. Dia ngetik di notes HP:
"Nanti malem aku bikin status lagi. Yang lebih nyakitin."
Tapi malemnya, Ikbal pulang bawa plastik. Isinya piring baru.
Gantiin yang pecah tadi pagi.
"Mel, ini piring. Jangan dipecahin lagi.
Sayang duitnya. Mending buat beli buku Indah," ucap Ikbal datar.
Imel diem. Dia ambil piring itu. Taruh di meja.
Tangannya gemetar. Dia malu. Tapi gengsi minta maaf.
Jam 10 malam, Andira gak bisa tidur.
Dia ke ruang tamu. Nemu Lia masih lipetin baju.
"Mbak, kok belum tidur?" tanya Andira.
Lia senyum. "Nunggu Mbak tidur dulu, Mbak.
Takut Mbak kebangun, gak ada air putih."
Andira langsung peluk Lia dari belakang.
"Makasih ya, Lia. Udah jadi adik yang Mas Renaldi mau."
Lia balik peluk. "Mbak juga udah jadi kakak yang aku gak punya."
Mereka diem lama. Cuma denger suara jangkrik.
Di kamar, Rendi bisik ke anaknya, Putri:
"Nak, sayang Tante Andira ya. Tante lagi sedih."
Putri angguk. "Iya, Yah. Putri sayang Tante.
Nanti Putri doain Om di sekolah."
Tio yang denger ikutan, "Tio juga doain Om biar cepet ke surga."
Rendi peluk anak-anaknya. Dadanya sesek.
Adiknya pergi, tapi ninggalin istri yang dijaga semua orang.
Jam 11 malam, HP Andira bunyi. Chat dari nomor gak dikenal lagi:
"Janda mandul, numpang hidup, sok dermawan."
Andira blokir. Terus dia buka galeri.
Foto terakhir dia sama Renaldi pas ulang tahun pernikahan ke-6.
Renaldi nyuapin dia kue.
Andira cium layar HP. "Mas, aku dijaga ya.
Aku gak sendirian. Aku janji gak bales Mbak Imel.
Biar Mas gak malu di sana."
Dia tulis di diary:
"Hari ke-8 Mas pergi.
Pagi ini Mbak Imel teriak-teriak mandul beban.
Siangnya Mas Ikbal belain aku di grup.
Sorenya Putri bilang sayang Tante.
Malemnya Lia jagain aku tidur.
Mas, aku ngerti sekarang.
Keluarga itu bukan yang sedarah aja.
Tapi yang mau duduk pas kita jatuh.
Mbak Imel mau statusnya se-viral apapun,
aku tetep pilih diem.
Bukan karena takut. Tapi karena aku sayang Mas.
Aku gak mau nama Mas jelek karena istri Mas tukang ribut."
Andira tutup diary. Peluk guling Renaldi.
Kali ini dia tidur lebih nyenyak.
Di rumah Imel, dia masih melek. Scroll WA Andira.
Gak ada status baru. Gak ada story.
"Dasar sombong. Janda mandul," gumamnya.
Tapi jarinya berhenti ngetik.
Karena di ruang sebelah, Ikbal ngorok sambil peluk guling.
Di kamarnya, anak-anaknya tidur pake selimut tipis.
Imel liat itu, dadanya tiba-tiba sesek.
Tapi dia cepet-cepet buka TikTok. Biar gak mikir.
Sementara di rumah Andira, lampu kamar dimatiin satu-satu.
Sisa lampu teras yang anget.
Andira, Lia, Rendi, Putri, Tio.
5 orang di rumah kecil.
Gak ada anak kandung. Gak ada darah daging.
Tapi ada cinta yang bikin rumah itu gak pernah sepi.
Dan di luar sana, Imel masih teriak di statusnya.
Teriakan yang gak akan pernah nyampe ke hati mereka lagi.
Karena Andira udah mutusin:
Diem. Kerja. Sayangin keluarga yang masih ada.
Itu balasannya. Yang paling nyakitin buat Imel.