NovelToon NovelToon
Ambil Saja Suamiku, Kak

Ambil Saja Suamiku, Kak

Status: tamat
Genre:Dokter / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Romantis / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:3.7M
Nilai: 4.7
Nama Author: Puji170

Riana pikir kakaknya Liliana tidak akan pernah menyukai suaminya, Septian. Namun, kecurigaan demi kecurigaan membawanya pada fakta bahwa sang kakak mencintai Septian.

Tak ingin berebut cinta karena Septian sendiri sudah lama memendam Rasa pada Liliana dengan cara menikahinya. Riana akhirnya merelakan 5 tahun pernikahan dan pergi menjadi relawan di sorong.

"Kenapa aku harus berebut cinta yang tak mungkin menjadi milikku? Bagaimanapun aku bukan burung dalam sangkar, aku berhak bahagia." —Riana

Bagaimana kisah selanjutnya, akankah Riana menemukan cinta sejati diatas luka pernikahan yang ingin ia kubur?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

“Hadeh... Riana, kakak modelan begitu masih aja kamu temui! Aku kalau punya kakak modelan si Kokom itu, udah aku racun pakai sianida,” ujar Nisa dengan nada kesal, matanya masih menyipit mengingat kejadian di taman rumah sakit tadi.

Nisa masih ingat jelas, karena Alif tidak ingin melihat Riana malu di depannya, lelaki itu memintanya segera menghampiri Riana, khawatir terjadi sesuatu. Namun sesampainya di sana, Nisa justru mendengar Septian merendahkan Riana, seolah wanita itu bakal datang untuk memohon kembali padanya.

"Riana nggak akan memohon balik sama lelaki kayak kamu. Kalau kamu yakin dia yang salah, di sini ada CCTV, silakan cek!" bentak Nisa beberapa jam yang lalu, membuat suasana taman seketika hening. Beberapa orang bahkan menoleh penasaran, sementara Riana hanya bisa menunduk menahan perih yang menyesakkan dada.

Kini, di sebuah kafe kecil di sudut kota, Riana hanya menarik sudut bibirnya samar, mencoba menutupi luka yang belum benar-benar sembuh.

“Udah, Kak Nisa… jangan dibahas lagi. Aku cuma pengin semuanya cepat selesai,” ujarnya pelan sambil memutar cangkir kopinya yang sudah mulai dingin.

Nisa menghela napas panjang, menatap wanita yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya, kini tampak jauh lebih rapuh dari biasanya.

“Cepat selesai gimana? Kalau kamu terus ngalah begini, dia bakal pikir kamu masih bisa dia injak. Kamu bisa dianggap wanita bodoh, Riana.”

Riana terdiam. Tatapannya kosong menembus jendela, mengikuti warna senja yang mulai memerah di langit. Hening sejenak sebelum suaranya terdengar pelan namun tegas,

“Mungkin orang lain akan menganggapku lemah dan bodoh. Tapi kalau aku melawan, mereka akan bilang aku masih berharap padanya. Lagipula, untuk apa aku menghabiskan tenaga membela diri di depan orang yang bahkan sudah tidak ingin mengharapkanku.”

Ia kemudian menatap Nisa yang terdiam. Sebuah senyum tipis muncul di wajah Riana saat ia mengangkat selembar kertas dari dalam tasnya.

“Yang penting, surat ini sudah ia tandatangani. Dan itu artinya… aku sekarang bebas.”

Nisa mendekat lalu merangkul pundak Riana, suaranya melembut, “Kamu benar… mungkin ini jalan terbaik buat kamu.” Ia tersenyum tipis, meski matanya masih menyiratkan kekhawatiran. “Tapi janji, setelah ini kamu nggak boleh sendirian terus. Dunia nggak berhenti cuma karena dia.”

"Tentu saja," sahut Riana.

"Masih banyak lelaki yang baik, contohnya seperti Alif," cetus Nisa.

"Apa sih—" Riana belum selesai dengan ucapannya dari kejauhan terlihat sosok Alif yang kini mulai mendekat ke arah mereka.

Saat tubuh Alif sudah berada tak jauh darinya, riana menyenggol Nisa dan bertanya, "Kenapa ada dia?"

Nisa menahan tawa, menatap Riana yang kini tampak panik dengan ekspresi lucu.

“Lah, kamu nanya aku? Mana aku tahu, kali aja semesta kasihan liat kamu sendirian terus,” bisiknya menggoda sambil menyenggol balik.

Riana berdecak pelan, buru-buru merapikan rambut dan duduk lebih tegak, meski wajahnya jelas memerah. Ia bahkan sempat melirik ke arah jendela, seolah berniat kabur kalau sempat.

“Kamu menatap jendela terus, mau kabur, ya?” goda Nisa dengan nada jahil. Belum sempat Riana menjawab, Nisa sudah menambahkan cepat, “Aku sengaja nelpon dia, soalnya sebentar lagi suamiku datang jemput. Aku nggak mau kamu sendirian.”

Riana menyelipkan rambut ke telinga, berusaha menahan diri agar wajahnya tidak menunjukkan apa pun. Nisa berbicara begitu polos karena belum tahu, kalau sejak semalam, ia dan Alif sebenarnya berada di bawah atap yang sama.

Alif yang sejak tadi hanya menahan senyum sambil memperhatikan mereka akhirnya membuka suara, suaranya tenang tapi terdengar menggoda, “Nis, nggak perlu repot-repot begitu. Aku dan Riana sudah—”

“Dokter Dito mana? Katanya mau jemput kamu,” potong Riana cepat, suaranya sedikit meninggi karena panik.

Nisa sontak menatap keduanya bergantian, pertama ke Riana yang tiba-tiba gugup, lalu ke Alif yang malah tersenyum samar tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Alis Nisa terangkat curiga. “Tunggu... ‘sudah’ apa, ya?” tanyanya, nada suaranya setengah menggoda, setengah penuh tanda tanya.

Riana pura-pura sibuk merapikan sendok di atas meja, sementara Alif justru menyandarkan diri santai di kursi, menatap Nisa dengan ekspresi tak terbaca.

“Kamu ini, Nis, suka salah paham,” ujar Riana buru-buru, pipinya memanas. “Maksudnya, sudah kenal baik, kan.”

Alif hanya terkekeh pelan, membuat Riana semakin salah tingkah.

“Kenal baik sampai tinggal serumah, mungkin?” celetuk Nisa dengan senyum nakal, membuat Riana dan Alif nampak canggung.

Belum keduanya menetralkan detak jantung masing-masing. Dito yang baru datang langsung menepuk pundak Alif dan berbisik, "Ingat bro, dia baru proses janda belum benar-benar janda, jangan dianu dulu."

***

Di ruang rawat yang sunyi, hanya suara detak jam dinding dan hembusan lembut pendingin ruangan yang terdengar. Septian duduk di kursi samping ranjang, tatapannya kosong menembus lantai. Sejak kembali dari taman tadi, pikirannya tak pernah berhenti memutar ucapan Nisa.

'Riana nggak akan memohon balik sama lelaki kayak kamu. Kalau kamu yakin dia yang salah, di sini ada CCTV, silakan cek!'

Kalimat itu menghantui pikirannya. Jika memang Riana tidak bersalah, kenapa dia diam? Kenapa tidak sedikit pun mencoba menjelaskan?

“Dengan sifatnya selama ini, Riana nggak mungkin diam begitu aja,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Atau jangan-jangan…”

Pikirannya belum sempat menuntaskan kalimat itu ketika suara langkah pelan terdengar dari arah kamar mandi. Liliana muncul dengan wajah pucat, rambutnya masih lembap, dan gerakannya tampak ragu. Ia memperhatikan Septian yang sejak tadi duduk dengan ekspresi tegang.

Liliana tahu pasti Septian sedang memikirkan kejadian di taman tadi. Sebelum Septian mencari kebenarannya ia harus melakukan sesuatu.

“Tian…” panggil Liliana lirih sambil mendekat. “A—aku… minta maaf.”

Septian menoleh, keningnya mengerut. “Minta maaf? Untuk apa, Lili?”

Liliana menunduk, suaranya bergetar. “Tadi waktu di kamar mandi, aku berusaha mengingat semuanya. Dan aku baru sadar…” Ia menarik napas, pura-pura mencoba menahan tangis. “Waktu itu, sebenarnya kakiku terkilir duluan sebelum aku jatuh. Bukan Riana yang mendorongku.”

Ruangan itu langsung sunyi. Hanya suara langkah perawat yang samar di lorong luar.

Septian menatapnya tajam, suaranya rendah, nyaris tak terdengar. “Kamu sadar, apa yang kamu bilang barusan? Lili kenapa kamu menambah masalahku dengan Riana? Dan sekarang aku—”

Suara Septian berhenti, ingatannya langsung meluncur pada kertas yang sudah ia bumbui dengan tanda tangannya.

Liliana menunduk dalam. “Aku tahu… dan aku minta maaf. Tapi Tian bukannya ini bagus, kamu mau menikah denganku jadi—”

Suara Liliana terhenti saat kursi tempat Septian duduk bergeser keras. Ia berdiri, meraih jasnya tanpa sepatah kata pun, lalu berjalan menuju pintu.

“Ti… Tian, kamu mau ke mana?” suara Liliana terdengar cemas, nyaris bergetar.

Septian berhenti di ambang pintu. Bahunya tegang, tatapannya kosong tapi penuh amarah yang ditahan.

“Mencari Riana!"

Pintu kamar tertutup dengan suara keras. Liliana menatap kosong ke arah pintu, wajahnya memucat. Napasnya tersengal, dada terasa sesak, "Riana, Riana! Wanita sialan!"

1
Kelinci_Bulan (月兔)
Karena dia dulu selalu di perhatikan, saat sudah tidak ada, merasa aneh dan kehilangan, karena dia tidak menghargai apa yang ada. akhirnya menyesal, 🤣
Lina Mei
bagus
Dari Bekasi
thor, jujur ya.... ini pake AI ga si? gaya bahasa ini dan bbrp penulis pek ketiplek sama persis. bukan isi ceritanya, tapi gaya bahasanya.
akukaya
perasannya aku pernah baca bab² lepas, Septian ada adik kan? ke aku silap baca?😄
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: gak punya adik dia kak, anak satu2nya
total 1 replies
Amiera Syaqilla
kayaknya gue gak negeri deh... mengapa sih dlm setiap pernikahan itu ada aja pasangan2 yg selingkuh? cowok ataupun cewek. apa mmg gak bisa setia pada yg satu aja gitu? sedih banget🥲
Muhammad Arifin
sek ta....walaupun dalam pandangan sosial tetep gak boleh tanpa hubungan tinggal satu rumah woi...
Muhammad Arifin
ojok goblok2
Muhammad Arifin
Paleng kelon ambek mbakne 😏😏😏
Muhammad Arifin
wong ipar kok tidur bareng....gitu harus percaya klw Ndak punya rasa 😏😏😏
Ipur
satu kata dasar istri goblok dan lemah... hati SDH tersakiti tp bertahan dan menangis hadehh BKIN emosi
Sri Endang
Abay kan Septi. tnk. 😄😄
Sri Endang
mulai deh drama nya. Musnah kan. 🤣🤣🤣🤣
Sri Endang
cepatan deh di Halal kan.
Sri Endang
lelaki yg tdk tau mencintai. pilih lah Cinta mu...... Cintai lah Pilihan muu. biar hidup Aman dan Damai. 🤭🤭🤭
Sri Endang
spesies Mak lampir, Pelakor. 🤭🤭🤭 yg licik.
Sri Endang
lelaki yg malang,Hodop di peliharaa. kena getah nya dink. 🤣🤣🤣
Sri Endang
ya Ampun, nenek lampir ber aksi. 😄😄😄 tau rasa lah kau Septi.
Sri Endang
biar deh si Septi tnk, dapat karmanya. dpt baru kali.
Sri Endang
suami bego, yg zolim. 🙏🙏
Sri Endang
minta berbagi Suami, gila 2 dlm Islam turun ranjang. tapi tunggu Istri nya Alm. alias mati. 🤭🤭🤭Haram berbagi Suami kk dan adk. kandung.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!