Apakah tidak ada pilihan lain?
kenapa sakalinya bertransmigrasi malah ke tubuh Antagonis,lucu sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon okolele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk Sekolah
( Kita panggil tokoh Elsa Dui yang masuk ke raga Malika, Malika aja biar gak ribet).
Malika menuruni tangga dengan malas, menuju meja makan. Menarik kursi lalu menudukan bokongnya di situ.
Malika hari ini tak seperti biasanya karena jika biasanya ia menggunakan make-up tebal maka hari ini tidak, dia hanya memakai lipbalm di bibir saja
Wajah Madona berkerut tak suka yang sangat kentara saat melihat malika. Sementara itu Cuba Ayah Malika tengah mengunyah roti, menatap Malika penuh minat.
"Nanti ke sekolahnya sama Papa atau di antar sopir Mali ?."
"Bawa mobil sendiri aja deh pah, Mali mau nyetir".Saut Mali sembari memperagakan tanganya seolah menyetir.
"Nyetir?.
" Iya kenapa emang gak boleh?. "
"Kamu emang bisa nyetir Mali tapi, papa masih belum mau ngelepas kamu ke jalanan. Bahaya Mali!. "
"Papa ku yang paling guanteng izinin Mali ya ya ya. " Mali mengeluarksn jurus terakhirnya puppy eyes pada tuan Cuba.
"Mali kamu ga biasanya seperti ini loh sayang, biasanya Mali itu nurut banget sama Papa. "
"Aduh pi Mali udah mau telat nih, mana kuncinya mali mau berangkat please Pi percaya sama mali. "
Dengan berat hati tuan Cuba memberikan Kunci mobil itu pada Malika.
Sementara gadis itu malah Jingkrak-jingkrik karena terlalu terbawa euphoria.
Mendekati ayahnya lalu mencium kening ayahnya "Mali suka deh Papi gini, papi makin ganteng. Tapi, tapi, tapi kegantengan Papi jadi minus dikit gegara si lampir, Mali doakan Semoga Papi cepat duda Amin. Mali pergi dulu see you. "
Belum sempat tuan Cuba menyemprotkan dakwahnya, Mali sudah berlari cukup jauh.
Tapi sebelum keluar ia layangkan flying kisses pada ayahnya saat Tuan Cuba menunduk Ia menjulurkan lidah pada ibu tirinya.
Di bawah carport, sebuah sedan berwarna hitam metalik terparkir rapi,Ia berjalan ke arah kendaraan itu, lalu Jemarinya menyentuh gagang pintu. Bunyi pelan terdengar ketika sistem pengunci terbuka.
Setelah ia masuk ia Menarik pintu hingga tertutup rapat, kemudian meletakkan tas sekolah di kursi penumpang.
Bunyi klik sabuk pengaman terdengar pelan ketika ia memasangnya.Malika menginjak pedal rem sebelum menekan tombol Start/Stop Engine.mesin mobil menyala.
Jarum pada panel instrumen bergerak perlahan, sementara layar di dashboard menampilkan berbagai informasi kendaraan.
Kedua telapak tangannya menggenggam kemudi, mencoba memastikan jaraknya terasa pas
Setelah memastikan tidak ada kendaraan maupun pejalan kaki yang melintas, Malika memindahkan tuas transmisi ke posisi D, melepaskan rem tangan, kemudian mengangkat kakinya perlahan dari pedal rem.
Mobil mulai bergerak membelah jalanan canada.
_______
Memakan waktu sekitar 20 menit hinggga ia sampai di sekolahnya dan untungnya saja dia tidak terlambat.
Gerbang besi yang menjulang tinggi perlahan terbuka, memperlihatkan halaman luas yang telah dipenuhi para siswa. Tawa mereka saling bersahutan, berpadu dengan suara mesin kendaraan yang terus berdatangan.
Malika memperlambat laju mobilnya. Ia memberi jalan kepada sekelompok siswa yang sedang menyeberang, lalu membelokkan kemudi menuju area parkir.
Mobil berhenti dengan sempurna.
Ia memindahkan tuas transmisi ke posisi P, menarik rem parkir, kemudian mematikan mesin.
Dengusan halus terdengan dari bibirnya, dia
Malika menatap bangunan sekolah di balik kaca depan selama beberapa detik.
Dia terdiam cukup lama.
"Gue pernah mati tragis tapi setidaknya gue gak konyol kaya Malika sampe rela mati karena Cinta, Gue ga mau ambil resiko untuk sekarang gue harus tahu siapa-siapa aja tokoh yang mungkin bisa jadi ancama pokoknya gue harus jauh-jauh dari mereka. "
Entah mengapa, ada perasaan ganjil yang mengusik dadanya pagi itu. Sulit dijelaskan, seolah udara membawa firasat yang tak mampu ia terjemahkan.
Ia menggeleng pelan, menganggapnya hanya perasaan sesaat,sabuk pengaman dilepaskan,Tas sekolah diraih.
Pintu mobil terbuka, hembusan angin pagi kembali menyapa wajahnya, membuat beberapa helai rambut bergoyang lembut. Malika menutup pintu mobil, menguncinya, lalu melangkah menuju gerbang sekolah.
"Northcrest Academy ya, Elite semua Cok yang sekolah di sini muridnya juga banyak So bukan hal yang sulit buat ngehindar. "
Ia mengayunkan tungkainya menuju ke dalam Gedung sekolah, baru beberapa saat suara sorakan terdengar menggema dari murid lain.
Malika melihat sumber yang memicu suara gaduh itu teryata di sana Soren terlihat gagah postur tubuh tinggi tegap, wajah menawan yang memancar kan aura tegas satu kata dari Malika Mantap.
"Eh busett Pemeran utamanya se cogan ini pantas Si Mali jadi bulol, tapi mines sih gantang-ganteng sikopet. Mendingan Jimin humoris eak, tipenya Mali Kaya cuek gitu orangnya, gue gak sanggup, kalau gue ngajak bercanda juga pasti gak nangkap. "
________
Di kelas Malika di hujami tatapan bingung semua murid,ia yang di tatap malah cengo.
"Annyeong, kalian kenapa natap gue gitu, gue mirip Jisoo Blackpink ya. " Ujarnya
"Kamu siapa, murid baru ya? ".
Salah satu murid pria menimpali sembari mendekat ke arah Malika.
" What the hell bro, I'am Malika"
"M-malika?. " bagaimana bisa seorang malika yang di kenal angkuh, haus validasi, suka menempel pada soren Cs dan suka ber make-up tebal itu secantik ini? mereka menolak untuk percaya.
"Ya gue Malika, udah kan sekarang minggir gue mau duduk. "Dengan ketus dia melewati para murid tadi dan duduk di bangkunya dan menyiapkan peralatan tulisnya.
"Mali?,Lo kerasuka makhluk astral ya? ." Seorang gadis memegang bahunya dan mengguncang tubuhnya.
Malika sempat terdiam beberapa saat, setelah itu tubuhnya berhenti diguncang dan gadis itu menatap malika lekat.
Malika mengedip-ngedipkan matanya.Gadis itu yang melihat Ekspresi bingung di wajah Malika pun merasa aneh.
"Ini langka setelah sekian abad, akhirnya gue ngeliat lo gini Li, maafin kami dua Ruka ya waktu itu kami kebawa emosi. Itu karena lo ga mau denger masukan kami Li".gadis itu menunduk sembari menggenggam salah satu tangan Malika.
'oh ini Aira Khazalea salah satu sahabat gue
kalo gini mah gue gak perlu repot-repot buat ngebujuk'.
"Gue maafin, bukan salah kalian berdua juga ko. Gue juga salah karena gak dengerin kalain berdua padahal kan kalian gitu karena kalian perduli sama gue. " Malika balik menggenggam tangan Aira sembari tersenyum hangat padanya.
Aira yang melihat itu terlihat haru di matanya karena Malika belum pernah seperti ini padanya. Malika tidak pernah menatapnya seperti itu.
Matanya mulai berembun tanda-tanda akan mengeluarkan bulir air mata
"Lo ga papa kan Li?. " Tanyanya lagi mencoba memastikan.
"Emangnya aku kenapa Ra?" Malika menjawab.
"Lo kan gak sekolah kemaren, karena kepala lo kepentur bola,mimisan,sama lo pingsan Li jadinya lo dipulangin".Mendengan itu Malika mengertit bingung pantas saja kepalsnya terasa sakit kemaren.
" Ruka sampe marah sama Soren dan teman-temanya dia juga marah Sama Rara karena Soren yang lempar tu bola baskes ke arah lo keras banget Li, gara-gara lo nyenggol bahunya Rara. Aira menjelaskan para Malika dengan wajah kesal yang kerntara.
'Aira sama Ruka sebaik ini sama lo, lo buta Malika seandainya temen gue di kehidupan sebelunya itu mereka gue bersyukur.lo gak pernah di hianatin temen lo aja lo seharusnya bersyukur'. Malika menatap Aira dengan cengiran.
"Gue ga papa kok santai aja, oh ya Ruka di mana? . "
"Loh Li, lo lupa Kelas Ruka sama kita beda. " Jawab Aira dengan bingung.
"Oh mungkin efek pala gue kena bola makanya gue lupa,amnesia dikit. " dia tertawa cengengesan.
Tak lama Soren masuk bersama dengan Rara
terlihat Rara yang menempel bak lintah darat pada Soren.
Soren dan Rara berhenti tepat di samping Malika dan Aira, membuat Malika was-was ada apa gerangan.
"Loh Malika kamu duduk di sini?. "Rara bertanya pada Malika dengan nada pelan yang menguatkan sikap sok polosnya itu.
" Iya, memangnya kenapa kalau gue duduk di sini, ada masalah?. "Timpal Malika tanpa sedikitpun menoleh ke arah Soren.
" Lo bisa gak sih ga usah caper ke gue"Mendengar penuturan Soren Malika semakin bingung.
Awalnya sih ingin diam saja tapi jiwa-jiwa ingin menempeleng Soren sangat besar
"Seriusan lo ngomong gitu, lo siapa anjir?. Siapa lo sampe gue harus caper sama lo jangan mentang-mentang gue pernah suka sama lo. Lo seenaknya ngomong gitu!. " dengan napas menggebu-gebu ia menunjuk wajah Soren.
"Malika kamu jangan gitu, Soren bilang gitu karena kursi aku kamu dudukin. Tempat kamu duduk itu kursi aku sama Soren".Rara mencoba menjadi penengah antara keduanya.
"Malika bener loh Rara, kan kalian bisa bilang baik-baik sama Mali, tapi kalianya malah ngegas sama bilang dia caper ya jeleas dia marah. " Aira membela Malika dengan wajah tidak sukanya.
" Oh ini kursi kalian berdua, si paling couple. Kan bisa ngomong baik-baik ke gue gak perlu lo nuduh gue caper shibal,ayo Ra pindah. "
Malika lansung mengambil tasnya dan berjalan sembari menggandeng tangan Aira ke bangku lain yang kosong tanpa sedikitpun menoleh pada Soren.
'Apa itu strategi baru untuk bermain tarik ulur denganku, ck aku tidak akan tertarik dengannya. 'Soren bermonolog dalam hati.
"Soren kamu terlalu keras sama Malika, Malika kan ga ada niat jahat dia cuma salah paham Soren. "tutur Rara.
" Kamu jangan percaya siasatnya dia itu licik, dan bisa lakuin banyak cara agar berhasil menarik perhatianku".
_________
See you guys
for you luv🌺.