Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.
Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.
Namun, kematian itu hanyalah awal.
Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.
Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?
Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 5 : Ruang Interogasi
Ruangan itu dingin banget, bukan cuma dari AC nya yang emang disetel rendah, tapi dari cara temboknya dicat abu abu polos tanpa jendela satupun, kayak sengaja dibikin biar orang yang duduk di situ ngerasa kecil, ngerasa nggak ada harapan.
Damar duduk di kursi besi yang dinginnya nembus sampe ke tulang, tangannya masih ada bekas merah dari borgol semalem, dan matanya udah bengkak banget saking capeknya nangis sama nggak tidur. Di depannya, ada meja panjang, dan di seberang meja itu duduk dua orang penyidik yang wajahnya Damar bahkan nggak apal namanya, soalnya dari tadi mereka nggak sekalipun ngenalin diri dengan sopan.
"Kami cuma butuh Anda tanda tangan ini," salah satu penyidik bilang, nyodorin selembar kertas ke arah Damar, "biar prosesnya cepet."
Damar ngambil kertas itu, matanya masih agak buram, tapi dia paksain baca. Dan makin dia baca, makin dia ngerasa perutnya diaduk aduk lagi.
"Ini... ini kayak pengakuan," Damar bilang, suaranya bergetar, "di sini ditulis saya 'mengetahui adanya risiko pada sistem panel sebelum kejadian' dan 'tidak melaporkan hal tersebut'. Ini... ini bukan yang saya bilang kemaren!"
"Itu cuma rangkuman dari keterangan Anda," penyidik satunya jawab, nadanya datar banget, kayak lagi baca resep masakan, "Anda tinggal tanda tangan aja, nanti bisa diklarifikasi lagi di pengadilan."
"Enggak, ini beda, ini beda banget sama yang saya omongin kemaren! Saya bilang saya nggak pernah dikasih tau ada masalah di panel itu, bukan saya tau tapi nggak lapor, itu beda maknanya, itu beda banget!"
Salah satu penyidik nyender ke kursinya, ngeliatin Damar dengan tatapan yang bikin bulu kuduk berdiri, tatapan yang kayak, oh, jadi kamu mau berantem soal kata kata gitu ya, padahal nasib kamu udah ditentuin dari awal, kamu tinggal ikutin aja jalannya.
"Pak Damar," dia bilang, pelan, tapi ada nada mengancam yang kesamar di baliknya, "semakin lama Anda menolak tanda tangan, semakin lama juga proses ini, dan semakin lama juga Anda di sel tahanan yang, ya, Anda tau sendiri lah, nggak senyaman rumah."
Damar diem. Tangannya gemeteran megangin pulpen yang disodorin ke dia, dan dia mikir, kalo aku tanda tangan ini, aku ngasih mereka senjata buat ngancurin aku lebih jauh lagi, tapi kalo aku nggak tanda tangan, siapa yang bakal bela aku, siapa yang mau denger versi ceritaku.
Pintu ruangan itu tiba tiba kebuka, dan Made Surya masuk, terengah engah, kayak abis lari dari lorong sana.
"Tunggu dulu," Om Made teriak, suaranya nggak biasanya kayak gitu, biasanya dia selalu tenang, tapi sekarang dia keliatan panik banget, "klien saya berhak didampingi pengacara sebelum menandatangani apapun!"
"Bapak siapa," salah satu penyidik nanya, ketus.
"Saya kuasa hukum keluarga Hartono, dan saya kuasa hukum untuk Damar Aditya Wijaya, dan saya menuntut proses ini dihentikan sampai saya diberi akses penuh untuk mendampingi!"
Ada perdebatan kecil yang berlangsung lumayan lama, Om Made ngotot, penyidik penyidik itu awalnya coba nolak, sampe akhirnya, entah karena capek atau karena emang udah dapet apa yang mereka mau dari cara lain, mereka ngalah, bilang "baik, kami beri waktu," dan keluar ruangan sambil bawa berkas itu, yang belum ditanda tangani Damar.
Begitu mereka keluar, Om Made langsung deket ke Damar, megang bahunya erat erat, "kamu nggak apa apa? Mereka nyakitin kamu?"
"Enggak, Om, cuma... cuma capek banget," Damar jawab, suaranya udah kayak orang yang abis lari maraton, "Om, mereka maksa aku tanda tangan sesuatu yang bukan yang aku omongin. Kalo aku tanda tangan itu, itu kayak ngaku aku emang tau ada masalah tapi sengaja diemin."
"Jangan tanda tangan apapun tanpa aku baca dulu," Om Made bilang, tegas, "aku tau ini berat, Damar, tapi kamu harus kuat. Aku lagi kumpulin bukti bukti, tapi butuh waktu, dan waktu ini yang paling nggak kita punya banyak banyak."
Damar ngeliatin wajah Om Made, wajah yang udah dia kenal sejak kecil, wajah yang biasanya bikin dia tenang, tapi sekarang, di balik ketenangan yang dipaksain itu, Damar bisa liat ada rasa takut yang beneran, rasa takut yang bikin Damar makin ngerti, ini emang bukan urusan main main.
"Om," Damar bisikin, "kenapa semua ini kejadian ke aku? Aku nggak pernah nyakitin siapa siapa, aku nggak pernah minta jadi bagian dari perusahaan ini, aku cuma... aku cuma pengen bantu keluarga yang udah ngangkat aku."
Om Made nggak jawab langsung. Dia cuma meluk Damar sebentar, pelukan yang canggung soalnya mereka berdua nggak biasa begitu, tapi pelukan itu tulus banget, dan Damar ngerasa, buat pertama kalinya sejak ledakan itu, ada satu orang yang beneran di pihak dia.
Om Made pergi nggak lama kemudian, katanya harus buru buru urus surat surat, dan Damar dibawa balik ke sel tahanan sementara, ruangan kecil dengan satu ranjang besi dan toilet yang baunya bikin mual.
Besok paginya, dia denger dari sipir yang jaga, orangnya nggak terlalu galak, malah agak baik, sempet ngasih Damar segelas teh anget pas nganterin sarapan.
"Pak," sipir itu bilang, sambil naro nampan makanan di celah pintu sel, "denger denger, besok bakal ada saksi kunci yang mau ngomong ke penyidik. Katanya bisa nentuin arah kasus ini banget."
Damar berdiri, deket ke jeruji besi, "saksi kunci? Siapa?"
Sipir itu ngangkat bahu, "saya juga nggak tau persis, Pak, cuma denger denger dari obrolan penyidik pas lagi ngopi tadi pagi. Katanya orangnya deket sama Bapak."
Deket sama dia. Siapa. Broto? Sasha? Atau...
Damar berdiri di situ, jantungnya berdebar debar kenceng banget, dan begitu sipir itu pergi, dia langsung duduk lagi di ranjang besi, kepalanya penuh sama pertanyaan yang nggak ada jawabannya.
Terus, sore harinya, ada yang ngasih dia koran, dan begitu dia baca headline nya, dia ngerasa dunia kayak runtuh lagi sekali lagi.
"Damar Aditya Wijaya Menolak Bertanggung Jawab, Sumber Internal Sebut Ia Sudah Ketahui Risiko Sejak Awal", judulnya, lengkap sama kutipan dari "sumber yang enggan disebutkan namanya" yang isinya persis kayak apa yang ada di kertas pengakuan yang tadi dia tolak tanda tangan.
Berkas yang belum ditanda tangan itu, yang bahkan belum resmi jadi apa apa, udah bocor ke media, seolah olah itu emang pengakuan resminya.
Damar remes koran itu, matanya panas banget, dan dia mikir, siapa yang bocorin ini, penyidik? Atau ada orang lain yang lebih deket, yang punya akses ke berkas berkas kayak gini, yang punya kepentingan buat bikin dia keliatan makin bersalah di mata publik.
Dan besok, ada saksi kunci yang katanya deket sama dia, yang bakal ngomong sesuatu yang bisa nentuin nasib dia sepenuhnya.
Damar nggak bisa tidur malem itu, bukan cuma karena ranjangnya keras kayak papan, tapi karena kepalanya penuh sama bayangan, siapa yang bakal berdiri besok di depan penyidik, dan ngomong apa tentang dia, dan apa itu bakal jadi paku terakhir di peti mati reputasinya, atau justru jadi celah kecil yang bisa nyelametin dia dari semua ini.