NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29

Malam ini, Valeska dijemput oleh Anaya dan kedua temannya. Dia memutuskan berangkat terlebih dahulu karena ada beberapa hal yang harus diurus sebelum dia tampil di acara prom night.

"Huh! Rasanya udah lama banget ya, kita nggak ketemu," ujar Valeska yang duduk di antara temannya.

"Iya nih, kita juga sebenarnya mau nyamperin lo, ke rumah. Tapi, kita mikir beberapa kali karena takut ganggu waktu istirahat lo,"

"Padahal santai aja, gue juga di rumah cuman tiduran doang kayak orang sakit ... tapi emang beneran lagi sakit hehe," jawab Valeska, diakhiri dengan candaan.

"Kalian kangen gue'kan? Sini peluk," lanjutnya sembari merentangkan tangannya.

Dengan senang hati, ketiga temannya pun masuk ke dalam dekapan Valeska. Mereka saling membenamkan wajahnya, begitupun dengan Valeska yang meraup habis wangi dari tubuh teman-temannya seakan menikmati momen ini, karena takutnya tidak bisa terulang kembali.

"Hari-hari kalian amankan?" tanya Valeska, pada mereka.

Ketiga temannya tidak langsung menjawab pertanyaan itu, rasanya sangat sulit untuk mengutarakannya.

"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Valeska, perhatian.

"Hampa," lirih Anaya, tapi masih di dengar oleh Valeska.

"Nay, nggak boleh gitu. Kalian harus happy, meski nggak ada gue di samping kalian, mau nggak mau, kalian harus terbiasa dengan ini semua,"

"Nggak bisa," lanjut Prisha, dengan nada yang begitu pelan.

Valeska menatap mereka satu per satu. "Hei, kalian nggak boleh mikir kayak gitu. Kalau gue sampai nggak ada di dunia ini, kehidupan kalian akan tetap berjalan. Please, jangan bikin gue sedih."

Isak tangis Laksha mulai terdengar. Dengan suara bergetar, ia berkata, "Kita nggak mau kehilangan lo, Val. Kita cuma pengen lo sembuh."

Valeska menghapus air mata Laksha dengan lembut. "Laksha yang gue kenal nggak cengeng. Kalau kalian sesedih ini, apa kabar sama gue yang berjuang ngelawan penyakit ini dari dulu? Gue juga pengen sembuh, buat kalian, buat keluarga gue. Jadi, tolong, jangan bikin gue merasa lebih sakit."

Ketiganya terdiam. Prisha akhirnya berkata, "Maaf, Val. Kita terlalu egois ..."

Valeska tersenyum kecil. "Gue nggak akan ke mana-mana. Kalau kalian kangen, datang aja ke rumah. Lagian rumah gue selalu terbuka buat kalian."

Setelah suasana mencair, Valeska melontarkan ide. "Gimana, kalau habis prom night, kalian nginep di rumah gue? Kayaknya bakal seru banget,"

"Tapi Tante Delina lagi mengandung, Val. Kita takut merepotkan," ujar Anaya ragu.

"Nggak akan merepotkan. Ini permintaan gue. Masa kalian mau nolak?" Valeska tersenyum manis, membuat ketiga temannya tak bisa menolak.

"Serius?" tanya Anaya masih tak percaya.

"Iya, gue nggak bohong."

Setelah menyetujui itu semua, mereka pun kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Begitupun dengan Valeska, dia sibuk merias wajahnya yang pucat, memakai beberapa aksesoris karena prom night malam ini temanya kerajaan.

Di dalam ruangan, Valeska mencoba berdiri tanpa meminta bantuan dari siapa-siapa. Valeska menatap dirinya dari pantulan cermin, terlihat lebih cantik dan berkharisma. Saat ini, dia sedang mengenakan kostum ratu perpaduan warna biru dan gold. Benar-benar sempurna layaknya putri di kerajaan.

"Masih kelihatan pucat," ujarnya kemudian menambahkan blush on di pipi kanan dan kirinya, tak lupa, dia juga menambahkan lipstik di bibir kecilnya dengan warna terang. Dirasa sudah cukup, Valeska pun berniat menghubungi keluarganya. Beberapa saat kemudian, sambungan telpon sudah terhubung dengan sang papa.

"Halo Papa, kalian udah siap untuk berangkatkan? Ini adek udah siap buat tampil malam ini, kalian jangan telat datang ya, kalau telat, adek mau marah dan ngunci pintu kamar selama tujuh hari satu malam,"

Di sebrang sana, Valeska mendengar kekehan ringan dari abangnya yang kebetulan ada di samping sang papa.

"Udah siap dong, Dek. Ini kita udah di depan rumah, nunggu mobil di keluarkan dari garasi, tunggu sebentar ya sayang,"

"Mama ikut'kan?"

"Ini Mama, Dek. Masa putrinya mau tampil Mama nggak ikut, pasti ikut dong. Mama udah nggak sabar lihat cantiknya Mama pake gaun ala kerajaan itu, pasti cantiknya nggak ada tanding,"

"Dengarkan apa kata Mama? Udah ya, kita mau berangkat dulu, bye sayangnya Papa,"

"Ah, kalian bisa aja, ya udah hati-hati. Bawa mobilnya jangan ngebut, sampai ketemu dia sekolah,"

"Pa, ayok. Nanti kalau telponan terus, yang ada kita telat." Teriak Kaivandra dari arah depan.

Di tempat lain, Valeska menyunggingkan senyuman saat mendengar teriakan dari abangnya. Sepertinya, ini termasuk momen indah selama mereka bersama.

***

Masih ada waktu 15 menit, untuk Valeska meredakan rasa nyeri di bagian kepalanya. Dia buru-buru mengambil beberapa obat dari dalam tas, kemudian meminumnya dengan cepat. Seperti biasa, penyakitnya selalu datang di waktu yang tidak tepat. Valeska butuh beberapa menit untuk meredakannya sembari menunggu obat bereaksi di dalam tubuh kecilnya itu.

Valeska terduduk lemah di dalam ruangan sembari menundukkan kepalanya ke atas meja rias, dia juga memegang kepalanya yang terasa nyeri, sementara perutnya terasa tidak nyaman. Begitu dia mengangkat kepala, pandangannya terasa berkunang-kunang, dengan kondisi kepala yang terasa ditusuk beribu jarum tanpa henti.

Valeska meneguk air minum, berusaha menetralkan rasa sakitnya. Menutup mata beberapa saat, dengan harapan rasa sakitnya segera berakhir. 10 menit telah berlalu, sebelum ke luar, Valeska menatap dirinya dari pantulan cermin. Miris, satu kata untuk saat ini. Wajah yang semula ceria, kini berubah suram dan tampak lelah.

***

"Gue perhatiin, cermin gue ada di tangan lo terus," keluh Anaya sambil melirik Prisha, yang sejak tadi sibuk mematut dirinya di cermin kecil itu.

"Namanya juga minjem, Anaya. Gue udah bilang, kan? Kenapa sewot banget sih? Lo, nggak ikhlas?" balas Prisha dengan nada defensif, tak sedikit pun mengalihkan perhatian dari cermin.

"Halah! Mau bercermin sampai ratusan kali juga, wajah lo tetap aja begitu," ejek Anaya dengan nada sarkas, sembari melipat tangannya di dada.

Prisha melirik sekilas, kemudian tersenyum tipis. "Ya setidaknya, di antara kita, gue yang lebih cantik," balasnya dengan santai, sambil kembali merapikan rambut untuk kesekian kalinya.

Laksha, yang sejak tadi duduk di samping mereka, mulai kehilangan kesabaran. "Berisik," ujarnya dingin, lalu menatap mereka berdua dengan tajam.

"Lo kan mau tampil, Val. Kalau boleh tahu, mau nampilin apa?" tanyanya, mengalihkan perhatian pada Valeska yang terlihat sibuk dengan gaunnya.

Valeska tersenyum kecil, lalu menjawab. "Tunggu aja nanti. Kan kejutan," jawabnya singkat.

Ketiga temannya hanya mengangguk, tak mau memaksanya bicara lebih jauh.

"Guys, acaranya udah mau mulai. Kita ke sana, yuk," ajak Anaya dengan penuh semangat, dia pun bangkit dari tempat duduknya.

Di lain sisi, ada Prisha yang segera menarik tangan Anaya, sementara Laksha dan Valeska berjalan di belakang mereka. Aula besar itu memancarkan kemegahan, dihiasi lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya temaram, menciptakan suasana seperti istana di negeri dongeng.

Ketika mereka menduduki barisan depan, perhatian tamu langsung tertuju pada mereka, terutama pada Valeska. Dengan gaun perpaduan biru dan emas, ia tampak sederhana namun memancarkan aura yang tak bisa di abaikan.

"Meskipun kostumnya nggak heboh, Valeska tetap yang paling bersinar," bisik Laksha, menyuarakan apa yang dirasakan semua orang.

Anaya dan Prisha hanya mengangguk setuju. Malam itu, Valeska tidak hanya terlihat seperti seorang ratu, tapi ia juga menjadi pusat perhatian yang tak terbantahkan.

"Halo, selamat malam semuanya! Apakah kalian sudah siap menyaksikan beberapa penampilan luar bias ayang akan menutup malam ini dengan kesan tak terlupakan?" seru pembawa acara dengan semangat membara, menyuarakan suasana.

Acara pun mengalir dengan begitu lancar. Dari sambutan hangat bapak kepala sekolah hingga berbagai penampilan mengagumkan lainnya yang memikat hati. Kini, tibalah saat yang dinanti-nantikan, penampilanp enutup dari seorang Valeska.

"Tak terasa, kita sudah sampai di penghujung acara. Malam ini penuh kehangatan, tawa, dan kekaguman. Kini, mari kita sambut penampilan terakhir yang spesial dari Valeska Delina Putri, siswa kelas sepuluh IPA 1. Beri tepuk tangan yang paling meriah!" seru sang pembawa acara.

Gemuruh tepuk tangan dan soraka nmenggema memenuhi aula, mengiringi langkah Valeska yang perlahan menaiki panggung dengan sisa energi yang ia kumpulkan.

"Halo, selamat malam semuanya," ujar Valeska dengan senyum lembut, suaranya menyapa hati setiap orang yang hadir.

"Perkenalkan, nama saya Valeska Delina Putri. Malam ini, izinkan saya berbagi tentang apa yang sedang saya rasakan. Barangkali, ada di antara kalian juga yang berada dititik yang sama. Ini adalah tentang menjadi tenang, versi saya."

Suasana hening, hanya suara lembut Valeska yang terdengar, siap menyentuh hati setiap orang yang mendengarnya.

"Pertama, jadilah manusia yang sederhana. Karena dalam kesederhanaan, kita lebih mudah menemukan kebahagiaan sejati. Jika kita terus-menerus membiarkan ego menguasai, percayalah, kita hanya akan lelah sendiri. Kedua, berhentilah menipu diri. Jika sakit, katakanlah sakit. Jika tidak mampu, jujurlah pada diri sendiri. Jangan terus-terusan memakai topeng, karena sejujurnya, kita semua sudah terlalu sering melakukannya."

Suaranya mulai bergetar, tetapi ia terus melanjutkan. "Ketiga, perjuangkan tujuanmu. Jangan mencari alasan atau menyalahkan keadaan. Hidup ini penuh warna, ada gagal, ada berhasil, ada sakit, dan ada sembuh. Semua itu adalah bagian dari proses. Jangan biarkan keadaan menjeratmu, karena semakin kita menyalahkan, maka akan semakin berat langkah kita."

Valeska menarik napas, menenangkan dirinya sebelum mengucapkan pesan terakhir. "Dan yang keempat, buanglah ketakutan yang tak beralasan. Terkadang, ketakutan itu hadir tanpa alasan yang jelas, menghantui pikiran tentang masa depan yang bahkan belum tentu terjadi. Pergi atau menetap, biarlah itu menjadi misteri waktu. Yang penting, kita berusaha sebaik yang kita bisa. Jangan pernah menyerah, dan ingatlah, tidak semua beban harus kamu panggul sendirian."

Setelah menyampaikan pesan itu, Valeska tersenyum kecil, menatap audiens yang memandangnya dengan takjub.

"Itulah yang ingin saya sampaikan. Apakah kalian paham?" tanyanya pelan.

"Paham!" jawab mereka serentak dengan semangat.

"Semangat terus, Valeska! Kamu pasti bisa sembuh!" suara-suara dukungan mulai terdengar dari setiap sudut ruangan.

"Terima kasih untuk motivasi malam ini!" seru yang lain, menyentuh hati Valeska.

Ia tersenyum tulus, mengedarkan pandangannya ke seluruh aula. Lalu, pandangannya berhenti pada sudut, tempat keluarganya duduk. Matanya membelalak kecil saat menyadari semua anggota keluarga menatapnya penuh haru. Senyuman hangat merekah di bibirnya, begitu indah, seolah menjadi penutup yang sempurna untuk malam itu.

Valeska menarik napas panjang, perlahan membuangnya saat suara musik mulai mengalun lembut memenuhi ruangan. Ia memejamkan mata, membiarkan keheningan sejenak menyelimuti, sebelum suara merdunya memecah kesunyian.

...Kehilanganmu, lagu Shanna Shannon....

Hening tak bersuara bagaikan hatiku, terdiam bisu kehilangan dunia.

Kuharap semua tak nyata, menyadarimu tlah jauh.

Kubagaikan langit yang tiada hujan, mungkin tlah kering air mata ini.

Kehilanganmu aku tak sanggup, meniti jalan di dunia.

Kini ku tak akan pernah bisa merelakan dirimu, janjiku kan tetap selalu bersama dirimu.

Meski kau jauh danterpisahkan waktu.

"Semuanya ... mari kita nyanyikan bersama." Tangis tertahan mulai terdengar dari sudut-sudut ruangan, tapi perlahan, suara audiens menyatu, melengkapi lantunan Valeska.

Lagu itu kini menjadi koor penuh emosi, menggema hingga ke sudut hati terdalam.

Hatiku tak akan pernah bisa merelakan dirimu, ke mana kuhidup bila kau tak di sisiku.

Karna hatiku tlah terlanjur berlabuh, di hatimu.

Kubagaikan langit yang tiada hujan, mungkin telah kering air mata ini.

Kehilanganmu aku tak sanggup, meniti jalan di dunia.

Setiap kata yang dilantunkannya seakan memeluk hati siapa pun yang mendengar. Dengan suara bergetar, Valeska terus bernyanyi, sementara tetes demi tetes air mata sudah jatuh membasahi pipinya.

Saat lagu usai, ruangan itu dipenuhi keheningan yang hanya dipecahkan oleh isakan pelan. Bahkan para guru, yang selama ini menjaga wibawa, tak kuasa menahan tangis. Penampilan Valeska begitu menggetarkan, terutama karena semua tahu perjuangan yang ia lalui untuk bisa berdiri di panggung ini.

Valeska menunduk ke segala arah, memberikan penghormatan kepada semua yang hadir. Tatapannya kemudian berhenti pada satu titik, yaitu keluarganya. Ia melihat mamanya menangis terisak, dan senyumnya yang sempat menghilang perlahan kembali, meski getir. Sebelum turun dari panggung, ia melangkah maju, mengambil mikrofon sekali lagi.

"Sebelum saya mengakhiri, izinkan saya menyampaikan sesuatu. Saya memohon tambahan waktu, hanya sepuluh menit."

Pembawa acara mengangguk pelan, memberi izin. Semua mata kini tertuju padanya. Valeska menggenggam mikrofon erat, tangannya yang lain terangkat, perlahan melepaskan wig yang menutupi kepalanya.

Degh!

Semua tertegun. Beberapa mulut menganga, tak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Kepala Valeska yang kini tanpa rambut mengungkapkan kenyataan yang selama ini ia sembunyikan.

"Siang tadi, Mama, Papa, dan Abang masih melihat rambut yang menutupi kepala ini. Tapi sekarang ... semuanya sudah tiada." Suaranya bergetar, menyapa keluarganya yang kini larut dalam tangis.

Kemudian, Valeska menatap ketiga temannya, yang duduk di barisan depan, air mata mereka jatuh tanpa henti.

"Kalian ... maaf ya. Kanker ini sudah banyak memakan tubuhku. Tapi terima kasih, karena kalian, aku jadi merasakan hidup sepenuhnya. Kalian membuatku merasa berarti."

Ia melepaskan wig yang dipegangnya, membiarkannya jatuh ke lantai panggung.

"Mama, Papa, Abang ... adek capek. Bolehkah adek menyerah sekarang?"

Tangis keluarga pecah. Kalimat yang selama ini mereka takuti akhirnya terucap begitu lantang, menghantam hati tanpa ampun. Mama Valeska, yang tengah mengandung, terisak dalam pelukan suaminya.

"Pa, ini mimpi, kan? Anak kita pasti sembuh. Dia anak kuat. Tolong yakinkan dia, Pa," isaknya penuh kepedihan.

Valeska menatap ke arah mereka, senyum getir terlukis di wajahnya. "Mulai detik ini, Mama dan Papa akan selalu ada di sisi abang. Adek nggak ingin abang merasa sendirian lagi. Kepergian adek nanti akan tergantikan oleh adik kecil yang sekarang Mama kandung."

Ruangan itu kini penuh dengan isakan. Tidak ada satu pun yang mampu menahan air mata, bahkan mereka yang tak mengenal dekat Valeska pun turut larut dalam haru.

"Abang, lihat mereka. Mama dan Papa sudah di sini, menyaksikan putri mereka yang kini seperti ini. Adek bangga pada kalian. Tapi, kalau boleh jujur, adek lelah."

Valeska perlahan terduduk, tubuhnya yang lemah tak lagi mampu menahan beratnya beban yang ia pikul. Napasnya mulai terdengar berat, pandangannya kabur, namun senyumnya tetap bertahan.

"Terkadang, keinginan kita tak sejalan dengan takdir semesta. Tapi nggak apa-apa. Setidaknya, aku sempat merasakan hangatnya sebuah keluarga, meski tubuh ini perlahan rapuh."

Kalimat itu menjadi penutup yang memilukan. Valeska, gadis yang semangatnya begitu kuat, kini menyerahkan segalanya pada Sang Pemilik Takdir. Seluruh ruangan tertunduk, tak mampu berkata apa-apa, hanya doa yang terselip di hati untuknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!