Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.
Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.
Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Dila mengangkat kedua tangan. "Bukan aku. Sungguh, kali ini bukan idenya aku."
Salah seorang ibu maju sambil membawa buket bunga. "Selamat, Bu Nadia."
Nadia menerima bunga itu dengan wajah kikuk.n"Terima kasih... tapi... selamat untuk apa?"
"Untuk babak baru dalam hidup Ibu."
"Iya, Bu. Hari ini bukan kami merayakan perceraian."
"Melainkan merayakan keberanian Ibu keluar dari hubungan yang sudah tidak sehat."
Nadia tersenyum canggung. "Tapi... rasanya aneh. Masa perceraian dirayakan?"
Seorang ibu tertawa kecil. "Kalau perceraian karena ego, tentu tidak pantas dirayakan."
"Iya. Tapi kalau perceraian justru menyelamatkan seseorang dari penderitaan yang berkepanjangan, kami rasa itu layak disyukuri."
"Ibu sudah terlalu lama berjuang sendirian. Sekarang, semoga hidup Ibu jauh lebih tenang."
Mata Nadia mulai berkaca-kaca. Ia tak pernah menyangka orang-orang yang dulu hanya dikenalnya sebagai sesama orang tua murid kini begitu peduli padanya.
"Kami nggak punya hadiah mahal," ujar ibu yang lain sambil mengangkat kotak nasi. "Adanya tumpeng kecil sama doa."
"Dan... sedikit es teh," sahut ibu lainnya, membuat semua tertawa.
Suasana kontrakan yang biasanya sepi mendadak dipenuhi obrolan hangat. Di tengah tawa para ibu, Nadia masih sesekali menggeleng pelan. "Seumur hidup, baru kali ini aku datang dari pengadilan... malah disambut pesta."
Dila menyenggol lengannya sambil terkekeh. "Ya anggap saja ini grand opening hidup barumu."
"Ish, kamu ini." Tawa pun pecah memenuhi kontrakan sederhana itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah kecil itu terasa begitu hidup, bukan karena kemewahan, melainkan karena dipenuhi orang-orang yang tulus ikut bersyukur melihat Nadia akhirnya memperoleh kesempatan untuk memulai kembali.
***
Malam itu, setelah Kian tertidur, Nadia duduk sendirian di ruang tamu kontrakannya. Sebuah buku tulis, pensil, dan kalkulator sederhana tergeletak di hadapannya. Ia mulai menuliskan rencana hidupnya. "Target bulan ini, menambah penghasilan. Mencari toko yang mau menerima desain pakaianku. Menabung untuk biaya sekolah Kian."
Nadia memandangi beberapa sketsa pakaian yang selama ini hanya tersimpan di dalam map. Selama ini ia hanya menjahit berdasarkan pesanan pelanggan. Keuntungan memang ada, tetapi jumlahnya terbatas. "Kalau aku mulai menawarkan desain sendiri ke butik dan toko pakaian, mungkin pasarnya bisa lebih luas," gumamnya.
Ia mencatat nama-nama toko yang ingin didatanginya satu per satu. Saat itulah ia teringat ucapan Dila siang tadi. "Nad, kenapa nggak jualan online saja? Ceritamu lagi viral. Banyak netizen pasti mau mendukung usahamu."
Nadia hanya tersenyum saat mengingatnya. "Jualan online..." Ia mengambil ponselnya lalu membuka media sosial. Akun itu tampak begitu sepi. Unggahan terakhir berisi foto Kian saat pertama kali belajar bersepeda. Sebelumnya ada video Kian meniup lilin ulang tahun. Lalu foto tangan mungil Kian ketika baru lahir.
Sejak awal, Nadia membuat akun media sosial bukan untuk mencari pelanggan ataupun menjadi kreator konten. Ia hanya ingin memiliki album digital yang menyimpan setiap momen tumbuh kembang putranya. Tak ada foto makanan. Tak ada promosi. Tak ada siaran langsung. Hanya jejak-jejak kecil perjalanan seorang ibu bersama anaknya.
Nadia mengusap layar ponselnya pelan. "Aku benar-benar nggak pandai bermain media sosial." Ia menghela napas.
Meski kisahnya sedang menjadi perbincangan banyak orang, ia belum siap memanfaatkannya untuk berjualan. Baginya, kepercayaan pelanggan harus dibangun lewat kualitas hasil karyanya, bukan semata karena rasa iba. "Pelan-pelan saja," bisiknya pada diri sendiri. Yang penting aku terus bekerja."
Dengan tekad baru, Nadia kembali membuka map berisi desain-desain pakaiannya. Mungkin jalannya memang lebih lambat. Namun ia percaya, langkah kecil yang diambil dengan jujur akan membawanya menuju kehidupan yang selama ini ia impikan, kehidupan yang layak untuk dirinya dan Kian.
***
Keesokan sorenya, Dila kembali datang ke kontrakan Nadia dengan wajah berbinar. Baru saja duduk, ia langsung mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan deretan pesan yang sejak pagi memenuhi kotak masuknya. Beberapa di antaranya berasal dari sebuah stasiun televisi swasta yang ingin mengundang Nadia sebagai narasumber dalam program inspiratif. Ada pula undangan dari sejumlah podcast dan kanal YouTube yang sedang populer. Rupanya, kisah perjuangan Nadia masih menjadi perbincangan hangat di media sosial sehingga banyak pihak ingin menghadirkan sosoknya secara langsung.
Namun, respons Nadia jauh di luar dugaan Dila. Tanpa berpikir lama, ia menggeleng pelan. "Aku menolak."
Dila menatap sahabatnya dengan heran. Menurutnya, kesempatan seperti itu tidak datang dua kali. Banyak orang memimpikan bisa tampil di televisi atau diundang dalam podcast terkenal. Apalagi dengan wajah Nadia yang cantik dan pembawaannya yang tenang, bukan tidak mungkin perhatian publik akan terus bertambah. "Sayang sekali, Nad. Siapa tahu ini bisa jadi jalan kamu menjadi artis. Biasanya banyak yang berhasil meraih pundi-pundi uang setelah viral. Apalagi kamu cantik," ujar Dila setengah bercanda.
Nadia hanya tersenyum tipis. Baginya, semua undangan itu memiliki satu tujuan yang sama, mengorek kembali kisah rumah tangganya bersama Reno. Ia tidak ingin duduk di depan kamera lalu menceritakan bagaimana dirinya disakiti, dikhianati, atau ditinggalkan. Semua itu sudah menjadi masa lalu yang ingin ia tutup rapat.
Ia juga tidak ingin Kian kelak tumbuh besar lalu menemukan begitu banyak rekaman yang membahas keretakan rumah tangga orang tuanya. Bagi Nadia, luka tidak perlu dipertontonkan agar orang lain percaya bahwa ia pernah menderita. Yang ia inginkan kini jauh lebih sederhana. Ia ingin dikenal karena kerja kerasnya, bukan karena tragedinya.
Kalau suatu hari namanya dikenal banyak orang, Nadia berharap itu terjadi karena desain pakaiannya dipakai di berbagai kota, karena kualitas jahitannya diakui pelanggan, atau karena usahanya berhasil berkembang. Bukan karena kisah perceraian yang sempat viral.
Melihat keteguhan sahabatnya, Dila akhirnya tidak lagi memaksa. Dalam hati, ia justru semakin kagum. Tidak semua orang mampu menolak kesempatan menjadi terkenal ketika pintu itu terbuka lebar. Namun Nadia memilih jalan yang lebih panjang dan lebih sulit, karena ia percaya bahwa penghargaan yang lahir dari karya akan bertahan jauh lebih lama daripada ketenaran yang datang dari sebuah sensasi.
***
Sementara itu, keadaan Reno semakin memburuk dari hari ke hari. Gelombang boikot yang semula ia anggap hanya akan berlangsung sesaat ternyata terus berlanjut. Seluruh cabang Cafe Setia mengalami penurunan omzet yang sangat drastis. Meja-meja yang biasanya dipenuhi pelanggan kini lebih sering kosong. Beberapa pemasok mulai meminta pembayaran dipercepat karena khawatir usaha Reno tidak lagi mampu bertahan. Sejumlah karyawan mengajukan pengunduran diri setelah gaji mereka beberapa kali terlambat dibayarkan. Telepon dari bank, investor, hingga rekan bisnis terus berdatangan, bukan untuk menawarkan kerja sama, melainkan menagih kepastian. Tekanan demi tekanan membuat Reno sulit tidur. Berat badannya turun, wajahnya tampak kusut, dan maghnya semakin sering kambuh.