NovelToon NovelToon
AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13 - Orang Dalam

Suara notifikasi dari ponsel Raka memecah keheningan ruang periksa.

Ia membaca pesan itu sekali lagi.

**Ada orang dalam yang membocorkan semua pergerakan kita. Jangan percaya siapa pun.**

Raka mengunci layar ponselnya tanpa mengubah ekspresi.

Namun, di dalam kepalanya, berbagai kemungkinan mulai tersusun.

Kalau benar ada orang dalam...

Berarti setiap langkah yang mereka ambil selama ini sudah diawasi.

"Raka?"

Suara Alea membuyarkan lamunannya.

"Kamu baik-baik saja?"

Raka mengangguk singkat.

"Ya."

Alea tahu itu bukan jawaban yang sebenarnya. Sejak mereka menikah, Raka selalu mengatakan dirinya baik-baik saja, bahkan ketika wajahnya jelas menunjukkan hal sebaliknya.

Ia memilih tidak mendesak.

"Boleh aku bicara dengan Nadira berdua sebentar?"

Raka menatap keduanya bergantian.

"Aku tunggu di luar."

Begitu pintu tertutup, hanya Alea dan Nadira yang tersisa di dalam ruangan.

---

Beberapa saat, tak ada yang bersuara.

Hanya terdengar detak jam dinding dan suara hujan yang belum juga reda.

Alea menarik napas panjang.

"Kenapa?"

"Kenapa kamu tidak menghubungiku lebih cepat?"

Air mata Nadira kembali mengalir.

"Aku ingin."

"Sering sekali."

"Tapi setiap kali aku mencoba, Arga selalu tahu."

Alea mengernyit.

"Maksudmu?"

"Dia mengambil ponselku."

"Mengawasi semua orang yang kutemui."

"Bahkan... dia pernah mengancam akan mencelakai keluargaku kalau aku membocorkan apa yang sebenarnya terjadi."

Alea terdiam.

Ia mengenal Arga sebagai pria yang lembut dan penyabar.

Sulit dipercaya pria yang sama bisa berubah sejauh itu.

"Lea..."

Nadira menggenggam tangan Alea.

"Aku tidak minta kamu memaafkanku."

"Aku hanya ingin kamu tahu..."

"Aku benar-benar menyesal."

Tatapan Nadira dipenuhi rasa bersalah yang selama ini tidak pernah Alea lihat.

Perlahan, Alea menarik napas.

"Aku belum bisa memaafkanmu."

Nadira menunduk.

"Tapi..."

"Aku juga tidak ingin terus hidup dengan kebencian."

Kalimat itu membuat Nadira menangis semakin keras.

Alea tidak memeluknya.

Belum.

Lukanya masih terlalu dalam.

Namun setidaknya, ia tidak lagi memandang Nadira sebagai musuh.

---

Di luar klinik...

Raka berdiri di bawah atap sambil memandangi hujan.

Tak lama kemudian, Adrian datang mengendarai mobil berwarna abu-abu.

"Kita harus bicara."

Mereka berjalan menjauh agar pembicaraan tidak terdengar dari dalam klinik.

"Ada perkembangan?"

Adrian menyerahkan sebuah amplop cokelat.

"Kami memeriksa rekening Arga."

"Sebagian uang perusahaan ternyata tidak pernah masuk ke rekening pribadinya."

Raka membuka amplop itu.

Di dalamnya terdapat salinan mutasi transaksi.

Nominalnya mencapai puluhan miliar rupiah.

"Uangnya dialihkan ke perusahaan cangkang."

"Pemiliknya?"

"Itu masalahnya."

Adrian menghela napas.

"Nama direkturnya palsu."

"Tapi..."

Ia mengeluarkan satu lembar foto.

"Pemilik manfaatnya diduga seseorang yang sangat berpengaruh."

Raka melihat foto itu.

Wajahnya berubah serius.

"Itu..."

"Ya."

Adrian mengangguk pelan.

"Orang yang sama pernah muncul dalam penyelidikan lima tahun lalu."

---

Sementara itu...

Dari seberang jalan.

Seorang pria mengenakan jaket hitam duduk di dalam mobil yang kacanya dilapisi kaca film gelap.

Di tangannya terdapat kamera dengan lensa panjang.

Klik.

Klik.

Beberapa foto Raka dan Adrian berhasil ia ambil.

Pria itu tersenyum tipis.

Lalu mengirim semua foto tersebut melalui aplikasi terenkripsi.

Tak sampai satu menit, balasan datang.

**Terus awasi mereka. Terutama perempuan itu.**

Pria itu mengangkat pandangannya ke arah pintu klinik.

Perempuan itu.

Alea.

Tanpa sadar, ia sedang menjadi pusat dari permainan yang bahkan belum ia pahami.

---

Menjelang malam, mereka akhirnya kembali ke rumah.

Bibi Maya yang sejak tadi mondar-mandir di ruang tamu langsung menghampiri Alea.

"Ya Tuhan... kamu tidak apa-apa?"

"Aku baik, Bi."

"Raka bilang cuma ada sedikit masalah."

Alea melirik suaminya.

Raka hanya tersenyum tipis.

"Kalau diceritakan semua, Bibi pasti tidak bisa tidur."

"Dasar anak itu."

Bibi Maya menggeleng sambil mencubit pelan lengan Raka.

"Apa pun masalahmu, jangan dipikul sendiri."

Ucapan sederhana itu membuat Raka terdiam sesaat.

Sudah lama ia tidak mendengar seseorang mengkhawatirkannya seperti itu.

---

Malam semakin larut.

Alea berdiri di balkon kamar.

Pikirannya dipenuhi banyak hal.

Arga.

Nadira.

Flashdisk.

Dan Raka.

Ia mengeluarkan flashdisk dari dalam tas.

Benda kecil itu terasa begitu berat di tangannya.

"Apa sebenarnya yang kamu sembunyikan...?"

gumamnya.

Tepat saat itu, Raka keluar ke balkon sambil membawa dua cangkir teh hangat.

"Kamu belum tidur?"

Alea menggeleng.

Lalu mengangkat flashdisk itu.

"Aku ingin kita melihat isinya."

Raka membeku.

Ia tahu, setelah flashdisk itu diputar...

Tidak akan ada lagi jalan untuk kembali ke kehidupan mereka yang tenang.

Karena semua rahasia yang selama ini terkubur...

Akan mulai terbuka.

**Bersambung...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!