Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.
Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.
Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.
Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.
Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?
"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham...
Varren membawa Alvaro memasuki asrama miliknya. Alvaro menatap kagum asrama milik Varren. "Wadai. Ini kenapa kamar kalian gede plus bagus banget gilak? Mana ada ruang tamunya lagi. Woy kamar kalian dipisah-pisah, yang kami nggak. Nggak adil banget." ujarnya berseru heboh menatap kagum bilik-bilik yang terlihat.
"Wah mana AC-nya dua lagi. Kami cuma pake kipas baling-baling." ujarnya berseru.
Varren menggeleng menarik Alvaro ke kamarnya. "Gue ajak loe ke sini bukan buat review kamar. Tapi loe harus cek data atas nama Ikhsan anak dari Hakim Lee. Coba loe cek deh. Terakhir gue cek kebanyakannya rumor tentang Hakim Lee itu dia jahat dan banyak yang nggak suka sama dia." ujar Varren pelan.
Alvaro belum tahu jika dirinya masuk ke dalam kelompok mafia milik Alvino. Jadi ia melirik Varren dengan tatapan bingung. "Memang kenapa loe cari tau tentang dia Ren?" tanyanya pelan menduduki kursi yang berada di depan komputer.
Varren mengambil posisi berdiri di belakangnya. "Gue ada perlu." ujarnya segera membuka situs yang kemarin dirinya buka. "Dari beberapa situs ini tu kebanyakan hasilnya dari minusnya Hakim Lee." Ia sudah mencari tau tentang Hakim Lee. Dan semua data yang dirinya dapat agak bertolak belakang sama Alvino.
Alvaro menatap lamban data-data yang dirinya dapatkan. Melirik Varren. "Ren, loe dapat situs ini dari mana? Dari link atau bener-bener data dari keluarga itu? Loe ngeretas?" tanyanya pelan. "Kemaren gue dikirim sama Alvino data dan selulernya." ujar Varren tenang.
"Loe percaya sama Alvino? Eh tunggu, itu artinya ini kerjaan loe sama Alvino." ujar Alvaro pada Varren. Varren diam menatap Alvaro.
Alvaro melebarkan matanya. "Jangan bilang Ikhsan itu lumpuh gara-gara loe karena ditugasin. Oh may good. Loe masuk ke dalam situs Alvino. Loe anggota mereka sekarang?" ia berseru heboh hingga kesimpulan yang dirinya dapatkan memukul telak ucapan yang baru saja hendak keluar.
Varren di sana diam meliriknya dengan lirikan tak tahu harus bicara apa. Alvaro mengusap pelan kepalanya. "Ren, loe tau kan kalo kelompoknya Alvino itu licik. Sekali loe masuk, loe nggak akan bisa keluar. Kalo loe keluar itu tandanya loe siap mati." jelasnya tegas kepada Varren.
Varren menghela napas pelan. Sesak rasanya jika harus menjelaskan semuanya. "Tong. Mau loe ngomong gitu nggak guna. Soalnya gue udah masuk, dan yah Ikhsan begitu karena gue. Karena itu gue minta tolong sama loe buat retas akun dia. Kayaknya situs keluarga itu udah dilindungin dari perangkat gue. Bisa jadi Alvino sendiri yang nutupinnya." jelas Varren pelan.
Alvaro mendengarnya menggeleng. "Situs yang loe buka itu salah, semuanya dikamuflase. Karena seluler asli nggak bakal selengkap ini Ren. Bentar kita coba retas di bagian data milik kantor dia aja." ujar Alvaro.
Alvaro memang sangat pandai dalam komputer, internet. Dirinya sangat pandai dalam hal-hal meretas, karenanya Varren meminta bantuannya. Varren bisa, hanya saja dirinya tidak terlalu pandai.
Varren memilih duduk di kasurnya dan menguap menatap Alvaro yang masih sibuk dengan komputernya. "Masih lama wey?" tanya Varren.
Alvaro mengangguk. "Sabar Ren. Mendownload data. Loe pikir mudah apa?" ujarnya sinis dan malas pada Varren.
Varren menguap pelan dan berdehem. "Gue mau bobok dulu kalo gitu yah." gumamnya dan menjatuhkan diri di kasurnya.
Alvaro melebarkan matanya. "Nggak ada yah Ren. Gue bantuin loe, loe malah enak-enakan tidur. Dipikir aja sama loe. Bangun Ren. Mending loe buatin gue minuman atau makanan." ujar Alvaro menghentikan Varren yang hendak tidur.
Varren menunjuk kulkas mini di sebelah meja komputer. "Tu di sana ada. Kemaren gue juga beli camilan minuman. Tinggal ambil sendiri lah. Biar gue tidur bentar." gumam Varren dan menjatuhkan dirinya ke alam mimpi.
"Ye si anak nggak tau diri. Gue sibuk bikin ini dia malah molor." ujar Alvaro melirik Varren kesal. Tapi pelan-pelan ia ambil minuman dan juga camilan.
Matanya memicing melihat isi kulkas mini. "Cemilaan apaan, isinya buah semua. Cemilan dikit doang. Dikira gue monyet apa sama Varren." gumamnya. Ia mengambil buah persik, membilasnya sebentar di wastafel, lalu memakannya. "Mayan manis." gumamnya.
Alvaro membuka situs yang lebih mudah dijangkau, menatap dalam dan lamban dari file yang dirinya kelola dan retas secara bersamaan. Menatap berkas kasus yang Varren beri tadi.
"Korupsi lima ratus M. Gilak aja." gumam Alvaro menghentikan kunyahannya.
"Kalo gue jadi Hakim Lee, gue tembak mati aja itu manusia. Masa uang rakyat miskin mau dimam juga." gumamnya kesal.
Itu kasus yang di babat oleh Varren. Dimana yang mengaku tersakiti dan Hakim Lee disogok makanya memberi hukuman yang sangat tidak masuk akal. Tapi rupanya sama sekali tidak. Itu murni dan Hakim Lee berada di tengah-tengah.
Dia adil dan semua ketentuan dan kebenaran sudah ada semua. "Gila-gila. Nyaris seluruh informasi yang diberikan Alvino dipelintir." gumam Alvaro menggeleng pelan menatap semua berkas yang dirinya dapat. Jauh berbeda dengan data yang diberikan Alvino.
Empat jam ia habisi untuk meretas dan Varren menghabiskan waktunya untuk tidur. Alvaro menguap pelan melihat semua data yang sudah dia dapatkan. Pelan-pelan ia mendekati Varren dan menidurkan dirinya di sebelah Varren.
"Ya kali sekali bolos sekalian aja bolos sampai pulang. Selagi alasannya sama Varren, bebas gue." gumam Alvaro tersenyum dan memilih tidur karena lelah.
---
Plak.
"Weh Varren udah pulang?" suara Tavian menatap sepatu yang dirinya taruh di rak sepatu, menatap sepatu Varren memicing.
"Ini sepatu buluk siapa?" gumamnya lagi melihat sepatu asing dan tak enak dipandang di sebelah sepatu Varren. Itu aneh juga dimatanya, sepatu berwarna hitam namun sudah pudar.
Di sebelahnya Reja yang tidak menggunakan sepatu menggeleng. "Nggak tau. Temennya Varren mungkin." ujarnya kepada Tavian bingung.
"Tapi merknya cuy. Bagus." ujar Reja menatap dalam sepatu yang buluk di depannya.
Sylas di sana menarik sepatu di sebelah sepatu yang kosong. Menatap keduanya dengan bingung. "Yaudah yuk masuk. Capek gue." ujar Tavian. Keduanya mengangguk memilih duduk di kursi yang berada di ruang tamu, menyenderkan diri dan menghidupkan AC. Benar-benar lelah.
Sylas di sana melirik kamar milik Varren tenang, diam mendekatinya.
Toktok.
"Ren, loe udah pulang?" tanya Sylas.
Tavian dan Reja melirik ke arahnya. Tak ada sahutan membuat Sylas penasaran. Pelan-pelan ia membuka pintu dan menatap ke dalam.
Matanya melebar menatap Varren yang tidur di pelukan laki-laki yang tidak ia kenal. Segera ia tutup lagi pintunya, ia mengerjap pelan.
"Kenapa? Ada Varren-nya?" tanya Tavian pada Sylas.
Sylas berdehem pelan. "Dia tidur, mungkin kecapean." ujar Sylas berusaha tenang. Ia memilih memasuki kamarnya saja, dalam pikirannya yang entah kemana.
Bersambung...